Sabtu, 06 Desember 2014

Geng Gossip Girl

Bukan mau ngomongin serial gossip girl. Tapi mau nulis tentang fenomena yang ada di setiap kampung maupun kelurahan yaitu ibu ibu yang BERGOSIP. Ada orang lewat, digosipin. Eh dia kok tambah gemuk ya? (padahal yang ngomongin orang juga gemuk). Eh motornya baru, cincin emasnya nambah..Dan sebagainya..dan sebagainya.

Kalau anda lewat di depan pos ronda perumahan ABCD (tempat dirahasiakan), jangan kaget ya. (Eh kok saya juga ngomongin mereka, jadi ngegosipin mereka xixixi). Para ibu bergerombol, sekitar jam 9 pagi sampai adzan dzuhur. Mengobrol topik A sampai Z, mulai dari kesehatan anak sampai masa depannya.

Menurut cerita satu narasumber yang pernah dipaksa jadi geng itu, wah ngomongnya selangit banget. Kalo membicarakan masalah kuliah udah kayak profesor aja (padahal pendidikannya paling banter SMA). Pengen anaknya kuliah disini, disitu, suaminya udah survei ke kampus-kampus swasta. Padahal biasanya yang usaha anaknya sendiri kan, dan milih ptn dibanding pts. Pernah juga mereka bikin warga blok B (saya di blok B, mereka di blok A) berang karena menggosipkan para pemuda yang sedang jaga malam. Katanya meronda sambil mabuk-mabukan. Lha mana ada barang bukti botol miras, kok seenaknya begitu. Akhirnya kami menggunakan jasa satpam saja untuk jaga malam.

Lucunya, ada yang belum selesai masak, tapi tak ingin ketinggalan gosip terbaru. Jadi dia bawa sayur plus pisau dan talenannya, motong motong di pos ronda. Hahaha! Kadang ada bapak-bapak yang nimbrung. Sampai-sampai mbak Sul, pemijat langganan saya, heran. Kok ada laki-laki model begini. Dan dia berkata, kalau suaminya kayak gitu pasti dijewer dan disuruh pulang saja.

Salah seorang teman pernah bercerita, suaminya ingin ia bekerja agar hidupnya tak kosong. Ya, kalau dipikir-pikir para gossiper itu hanya bisa mengobrol karena tak ada kegiatan selain mengurus rumah tangga. Tiap hari menyapu-mengepel, dan lain lain, monoton. Hiburan selain televisi ya bergosip. Ngomong ngalur ngidul sembari membunuh waktu.

Alhamdulillah ada beberapa anggota geng itu yang sudah hampir pensiun. Ada yang mengurus 2 cucunya, jadi jarang kumpul. Ada yang berjualan nasi di kantin.

Eh tapi kalo ibu-ibu modern bergosipnya pindah ke facebook ya, hahaha. Kadang bergosip itu
perlu, untuk sekedar sosialisasi dengan tetangga. Tapi jangan keterusan, sampai ada yang terganggu ya..Peace..

Senin, 01 Desember 2014

Plus Minus Full Day School

Menyekolahkan anak di full day school kini telah menjadi trend di masyarakat. Walaupun biayanya sangat mahal, full day school tetap menjadi pilihan daripada sekolah biasa, karena berbagai fasilitas menarik yang ditawarkan. Fasilitas itu antara lain pemberian bahasa ketiga ( bahasa arab atau mandarin) dan  tersedianya dokter spesialis anak dan ahli gizi. Kebanyakan full day school memiliki kolam renang dan perpustakaan audio visual yang lengkap dengan koneksi internet. Full day school juga memiliki ekstra kulikuler yang cukup bervariasi, seperti pramuka, karate, wushu, menggambar, basket, karya ilmiah, jurnalis, sepakbola, dan lain lain.

Full day school juga menjadi pilihan utama sebagai tempat menimba ilmu bagi anak yang ayah dan ibunya sama-sama sibuk bekerja. Orangtua pun tak lagi was-was jika meninggalkan anak di rumah sendirian atau dengan pembantu rumah tangga. Lebih baik anak bersekolah hingga sore, dan mendapatkan pelajaran agama yang lebih banyak.
Kemudian, ada perbedaan mencolok antara SD biasa dan SD full day school. Di SD full day school, satu orang guru mengajar satu mata pelajaran. Kurikulum di SD full day school juga bisa desesuaikan dengan zaman modern, sehingga murid tidak melulu belajar di dalam kelas. Selain itu, prestise orang tua akan 杯erangkat・karena biaya bersekolah di sana bisa mencapai jutaan rupiah.

Namun di balik semua kelebihan yang ditawarkan oleh full day school, tetap saja para orangtua patut menyimpan kekhawatiran. Tujuan full day school adalah membuat anak sibuk belajar di sekolah sehingga mereka tidak bermain dan keluyuran di luar rumah sepulang sekolah. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah anak sudah sangat kelelahan saat sampai di rumah.

Sehabis maghrib mereka merasa capai setelah seharian bersekolah, dan seringkali langsung tertidur lelap. Sehingga, waktu bercengkrama dengan orangtua yang sangat terbatas di malam hari tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Hal ini bisa mengakibatkan hubungan antara orangtua dan anak  menjadi kurang harmonis, karena kurangnya komunikasi.

Selain itu, ada tipe anak pembosan yang tidak tahan berlama-lama di sekolah. Anak-anak itu sibuk mencari cara agar guru-guru dan teman-teman memperhatikan mereka. Tapi, seringkali penyampaian cara itu negatif sehingga mereka dicap sebagai anak nakal dan biang onar. Orangtua yang salah mengartikan tingkah laku anak ini pun menjadi marah. Mereka telah mengeluarkan sejumlah besar uang untuk menyekolahkan anak di fullday school, tapi si anak dianggap menyia-nyiakannya. Anak pun menjadi stress, depresi dan akhirnya membenci sekolah.

Menyekolahkan anak di full day school memang masih menjadi pro dan kontra di masyarakat. Jika anda berniat untuk menyekolahkan anak di full day school, pastikan bahwa kondisi mental anak benar-benar siap untuk bersekolah sehari penuh. Jangan paksakan anak bersekolah di full day school hanya karena mengejar gengsi. Cocokkan juga kurikulum di full day school, apakah sesuai dengan visi anda sebagai orangtua atau tidak.

Artikel ini dimuat di harian SURYA, jum誕t 20 februari 2009