Rabu, 16 Oktober 2019

Super Busy Mom

Kemarin saya mengirim WA ke teman yang menguruskan domain blog ini dan alhamdulillah ternyata expired-nya baru Januari. Kata-kata teman masih terngiang, katanya sayang sekali blog ini sudah TLD tapi jarang diisi.

OK, saya akui memang belum jago membagi konsentrasi. BLog ini terbengkalai karena pekerjaan utama sebagai penulis di media lain, job menerjemahkan artikel, mengedit buku, dan tentu saja kerjaan utama saya adalah mengurus Saladin.

Belum lagi kalau mau nulis malah mikir dulu, keywordnya apa? Nulis apa biar viral? Akhirnya batal update blog, padahal sudah nyimpan banyak ide. Harusnya ditulis sekarang ya biar ada stok tulisan untuk blog. Eh sekarang malah wajib nulis minimal 2.000-an kata sehari buat sebuah proyek.

Kapan ngurus blognya atuh?

Blog belum beres urusannya, masih pengen nulis di Kompasiana, di media lain, wkwkwk. Banyak maunyaa. Ngerjain yang mana dulu? Belum lagi kudu beresin tugas nulis untuk 2 kelas yang diikuti.

Sabar, sabaar. Tahun depan Saladin pulang sekolah jam 2 siang. Jadi lebih banyak waktu nulis dan semoga selalu istiqamah untuk ngisi blog ini. Dulu nichenya gado-gado, sekarang mau beralih ke parenting saja. Ada banyak kejadian yang dialami Saladin yang mau dibagi di sini.

Tiba-tiba jadi ingat perkataan seorang kawan. Dia nulis di blog untuk dibaca dirinya di masa depan.

Tulisan spontan dan random gak pakai riset dan cari gambar, bikinnya cepet banget. Wkwkkww.

Cheers!


Selasa, 30 Juli 2019

Ayo Sekolah! Asyiknya Belajar di Alam Bebas


‘Mama, aku mau sekolah!’
Ucapan anakku di malam itu menarikku dari lamunan. Ah, akhirnya ia betah di sekolah barunya. Saladin belajar di tempat baru, setelah sempat dikeluarkan di sekolah lamanya – baca di sini-. Di mana sih sekolahnya, kok ia merasa betah, padahal baru masuk selama sehari? Apa harus pindah ke sekolah alam di Kota Malang, tempat kami tinggal?

Sekolah alam adalah jawaban untuk anak kinestatik seperti Saladin. Di sana, ia bisa lebih bebas belajar sambil mengeksplorasi alam sekitar. Jika ada sesi belajar di kelas, maka murid akan duduk di tempat yang tembok luarnya hanya ada setengah, jadi ruangannya semi terbuka.



Pertemuan kami dengan sekolah alam sebenarnya tidak sengaja. Awalnya, jika Saladin tidak dapat sekolah ya sudahlah, homeschooling saja di rumah. Saat buka Instagram, saya browsing dengan tagar sekolah alam, ternyata ada satu yang menarik hati. Apa nama sekolahnya?

Jawaban dari doa-doa kami itu bernama SANHIKMAH, salah satu Sekolah alam di kota Malang. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota, kalau naik motor kira-kira butuh waktu 30 menit . SANHIKMAH berada di sebuah perumahan yang berada di lereng gunung. Kalau mau ke sana ya, anggap saja mau piknik, karena melewati sawah dan pepohonan jati.


Di hari pertama sekolah, Saladin langsung tertarik dengan ayunan dan jungkat-jungkit yang ada di sana. Ini kan gedung SD, kok ada mainannya seperti di TK? Ternyata untuk anak kinestatik, sebaiknya mereka beraktivitas dulu sebelum belajar. Setelah puas, mereka akan lebih siap menyerap pelajaran. Well, ini bukan kata saya sih, tapi kata salah satu kawan yang mengajar di sebuah SD swasta dan punya beberapa murid kinestatik.

Saladin masuk di hari rabu, jadwalnya olahraga. Ada beberapa ban mobil bekas di sekolah. Saladin belajar cara menggelindingkan ban itu, lalu ia berlomba dengan teman-temannya. Senang rasanya melihat ia kembali tersenyum. Apakah olahraganya hanya seperti itu? Ternyata tidak.

Murid-murid yang bermain di sekolah alam di Kota Malang itu,  lalu diajak untuk ke mushola, salat dhuha dulu, baru mereka berangkat ke lapangan. Kami berjalan menuju salah satu lapangan yang ada di perumahan tersebut. Bagaikan mendaki gunung lewati lembah, jalannya naik turun dan ada yang terjal. Belum pelajaran olahraga udah keringatan :D.

Semua kelelahan terbayar dengan udara sejuk yang berembus di lapangan. Pagi yang cerah, matahari bersinar malu-malu. Saladin berkeliling sambil didampingi bu guru. Murid lain ada yang bermain sepakbola, lompat tali, ada yang naik gawang. Tak ada yang melarang mereka memanjat, yah namanya juga anak alam. Saat itu, saya langsung ingat tayangan Si Bolang.

Setelah olahraga, kami kembali ke sekolah. Murid-murid langsung selonjoran, ada yang ambil air putih dari dispenser, ada yang membaca buku di perpustakaan. Dalam hati saya bertanya, kapan belajarnya?


Ternyata kurikulum di sekolah alam memang beda. Tidak sekaku sekolah konvensional. Ada saat murid belajar di kelas, ada sat belajar langsung.  Misalnya belajar membuat gelembung sabun dari bahan yang ada di sekitar, belajar mengenal abjad dengan menggoreskan sisa bata di lapangan, dan lain-lain.

Salah satu yang membuat kami tertarik untuk menyekolahkan Saladin di SANHIKMAH adalah fasilitasnya, ada aquaponik,  kambing, dan tentu saja lokasi sekolahnya yang sejuk. Selain itu, guru-gurunya sangat ramah dan perhatian, dan kadang mengirim materi parenting lewat WA.


Tebak berapa yang harus saya bayar untuk menyekolahkan Saladin ke sana? Yang jelas, jauh lebih terjangkau daripada sekolah swasta lain. Jika belum punya seragam berupa kaos olahraga, pakai baju biasa juga tidak apa-apa.

Semoga Saladin betah belajar di SANHIKMAH, Sekolah alam di Kota Malang yang keren. Semua  pengalaman baru saat belajar di alam akan memperkaya pengetahuannya.


Senin, 29 Juli 2019

Saat Anakku Dikeluarkan Dari Sekolah, Rasanya ....

“Saladin tidak bisa diam di kelas dan tidak mau menuruti perintah guru. Dia juga tidak mau diajak berdoa sebelum pulang, lalu menangis dan menggigit tangannya sendiri. Maaf Bu, saya tidak sanggup menghadapinya.” 

Perkataan bu guru itu bagai palu godam di telinga. Anakku yang usianya 6 tahun 8 bulan ternyata belum bisa tertib seperti teman-temannya di kelas 1. Apakah aku memasukkan dia ke sekolah terlalu awal? Dia sepertiku, lahir di akhir tahun,  jadi saat akan daftar sekolah, umurnya nanggung.

Kenanangan terlempar ke hari pertama sekolah, Saladin merengek untuk minta ditemani saat upacara. Dia lalu bosan, menguap, jongkok, dan ... berlari kepadaku yang berbaris di sebelahnya, minta gendong. Kepalanya dimasukkan ke dalam kerudungku. Kurasa ini hanya sindrom hari pertama sekolah, jadi wajar kalau dia manja. Sayangnya, di hari kedua dan ketiga –menurut pengakuan gurunya- dia sering menangis dan tidak mau duduk diam di bangku.

Esoknya aku bertemu dengan ibu kepala sekolah. Kepsekpun berkata, “Maaf, sepertinya ananda Saladin belum siap emosinya untuk belajar di kelas 1. Dia terlalu banyak bergerak dan suka membikin gaduh di kelas. silahkan tarik berkasnya ’ Itu adalah ucapan halus dari ‘dikeluarkan’. Oh, tidaak! 

Rencanaku, Saladin akan kukembalikan untuk bersekolah di TK, tapi kata bu guru TK-nya sepertinya kemungkinan kecil ... Apa yang harus kulakukan, masih adakah masa depan baginya? 

Kutatap seragam merah putih yang melambai di jemuran. Ah, baju itu hanya sempat dipakai selama beberapa hari. Tangisku meledak. Kulihat sosok anak perempuan yang sedang tertunduk di pojokan, ketakutan di hari pertamanya sekolah. Ia berpura-pura sakit dan ingin pulang. Masa belajar di SD bukan waktu yang menyenangkan. Anak itu adalah ... diriku sendiri.


Mengapa pengalaman ini terulang, bahkan Saladin tidak betah sekolah di tempat yang konvensional? Yah, kutarik napas dan berpikir, mungkin dia memang belum siap secara mental. Jika tidak bisa sekolah lagi di TK, homeschooling saja lah.  Awal tahun depan baru cari sekolah lain yang kiranya cocok untuk anak tunggalku.

Ada wacana juga untuk memindahkannya ke sekolah alam, tapi hampir semua sekolah swasta sudah tutup pendaftarannya. Apakah harus ditunda setahun, baru dia bisa merasakan duduk di bangku SD? Semoga ada jalan terbaik.

Minggu, 14 Juli 2019

We Don't Know If We Don't Try

Kemarin saya mencoba bumbu instan terbaru dari suatu merek dan ternyata ... opornya pedas. Selain membeli bumbu, saya juga membeli mi instan dengan bonus keripik kentang dan rasanya juga pedas. Tuntas sudah rasa penasaran saya, walau lidah ini harus menyesuaikan diri dengan cabai bubuk yang mengigit.

Saat mencoba produk baru, kita bisa punya 2 kemungkinan: enak atau zonk. Kalau zonk seperti yang saya alami ya, disyukuri saja. Alhamdulillah si kecil Saladin tidak ikut mencicip karena belum kuat makan pedas. Ada alarm di dalam tubuh yang mengatakan kalau saya harus lebih teliti atau minimal mencari ulasannya di internet, sebelum mencoba produk baru.

Apakah setelah itu saya takut untuk mencoba produk baru? Jawabannya tidak. We don't know if we don't try. Rasa "takut gak enak", "takut pedas", dan lain-lain akan menggerogoti keberanian. Bukankah hidup lebih berwarna jika kita sering mencoba hal baru?

Kenangan saat saya berolahraga di lapangan Rampal muncul lagi dalam ingatan. Saat kuliah dulu, seorang kawan mengajak saya senam pagi di sana. Minggu pagi yang biasanya saya habiskan di dapur, akhirnya berganti jadi rutinitas berpeluh keringat sambil menyegarkan pikiran. Di sana bahkan saya bisa berkenalan dengan beberapa instruktur senam yang terus menyemangati untuk berolahraga, padahal sebelumnya saya merasa tidak pintar dalam cabang olahraga apapun. Saya tidak bisa berenang, main voli, atau tenis meja.

Saat menemukan senam aerobik sebagai olahraga favorit, saya merasa "ah, akhirnya aku juga bisa berolahraga." Jika saja saya tetap menonton televisi di minggu pagi atau mencoba resep baru, dan menolak ajakan kawan itu untuk senam, mungkin hidup akan begitu-begitu saja. Statis dan membosankan.

Ketika mencoba kegiatan baru, atau produk baru, sebenarnya kita sudah menaklukkan rasa penasaran dan memperkaya pengalaman. Jangan takut untuk mencoba hal baru, karena hidup akan jadi berwarna. Akhir minggu akan tersa lebih manis jika Anda memasak resep baru atau sekadar mencoba berbelanja di minimarket yang baru dibuka di dekat rumah.