Siapa suka lagu November Rain? Tak sekadar lagu karena iramanya mengingatkan akan
salah satu bulan favoritku: November, karena saat itu Saladin Al Ayyubi Lahir.
Iyaa, tahun 2026 ini dia berusia 14 tahun.
Beneran yaa, waktu berjalan begitu
cepat. Rasanya baru kemarin dia lahir di sebuah RSIA, hari kamis, jam 8:15
pagi. Ternyata bayi yang dulu mungil tapi bisa tengkurap di usia 1,5 bulan;
sudah tumbuh besar menjadi remaja. Sekarang Saladin tingginya 164 cm, berat 45
kg (agak underweight yaa), dan ukuran
sepatu 41.
Perjuangan
Mengasuh Bayi
Syukur Alhamdulillah Saladin tumbuh
dengan normal, dan perkembangan fisiknya lebih cepat daripada anak lain. Makan
MPASI juga lahap dan ASI juga mengucur deras sekali. Tak lupa dia sudah
divaksinasi lengkap, baik di posyandu maupun di Puskesmas, sebagai usaha
meningkatkan imunitasnya.
Ketika Saladin bayi dan balita
benar-benar jadi masa yang menguras tenaga dan mentalku. Daku berjuang agar dia
bisa ASI 2 tahun (dan menolak tawaran sufor). MPASI juga bikin sendiri, mulai
dari puree buah, bubur jagung, kentang tumbuk, dll. Satu lagi yang bikin daku
jadi bunda macan: menolak keras MPASI dini dan menyembunyikan dia di kamar agar
tidak disuapi pisang, saat usianya masih 3 bulan.
Masa
Remaja yang Dar-Der-Dor
Fast
forward, Saladin sudah tumbuh jadi remaja yang tingginya hampir sama
denganku (Selisih 1 cm saja). Di masa remaja ini sungguh berbeda dengan
kanak-kanak karena daku harus lebih memperbesar rasa sabar seluasss samuderaa
karena ada lonjakan emosi yang luar biasa. Ada saja yang dilakukan remaja ADHD
dan bikin hidup jadi dar-der-dor.
Karena marah dia menjadikan
barang-barang korban bantingan. Seram! Terpaksa menguras dompet demi
memperbaiki atau membeli lagi. Tapi memang kita harus melihat sisi positifnya:
hal ini berarti Saladin punya tenaga yang begitu besar.
Ketika energinya tinggi maka Saladin
harus mengeluarkannya dengan cara olahraga. Nah, saat berangkat dan pulang
sekolah dia jalan kaki, dan jaraknya 800 meter dari rumah. Sedangkan hampir
tiap sore dia latihan dance sekaligus
peregangan di rumah, di bawah bimbinganku.
Kemandirian
Saladin
Namun kita juga harus melihat sisi
positif anak: Saladin Alhamdulillah sudah relative mandiri. Sejak TK dia bisa
pulang sendiri (kebetulan gedung sekolahnya hanya berjarak 500 meter dari rumah
nenek). Saking mandirinya, dia beberapa kali pergi ke rumah neneknya sendiri
(dengan jalan kaki plus setengah berlari), padahal jarak dari rumah ke sana
hampir 3 kilometer.
Untuk urusan dapur, Saladin sudah
bisa bikin mie instan dan teh sendiri. Bahkan pernah bikin telur dadar tapi dia
lupa tidak memberi garam, wkwkw. Ayahnya yang mengajari untuk mematikan dan
menyalakan kompor.
Kreativitas
dan Prestasi Saladin
Klean yang sudah beberapa kali baca
blogku pasti sudah tahu kalau Saladin hyperlexia
dan suspect gifted karena dia
sejak usia 3,5 tahun bisa baca-tulis-hitung tanpa kuajari. Hanya dengan
beberapa kali menonton video, dia praktek sendiri dan bisa alphabet plus
hijaiyah. Setelah itu otaknya berkembang dengan sangat cepat, usia 5 tahun
belajar huruf Rusia dan India, lanjut huruf Korea, Yunani, dll.
Prestasi Saladin benar-benar
membanggakan karena dia tidak hanya mahir di bidang bahasa. Namun dia juga suka
coding (belajar via scratch). Saladin juga suka menggambar, bahkan pernah
mendesain animasi sederhana pakai program power point.
Penerimaan
jadi Orang Tua Anak ADHD
Punya anak ADHD membuat hidupku
berasa naik roller coaster. Di satu
sisi pusing saat dia tantrum dan ngambek. Namun di sisi lain, Saladin punya
prestasi yang sangat membuatku bahagia. Hal ini membuatku menerima bahwa anakku berbeda dan itu tidak apa-apa, daku akan
selalu menyayanginya.
Daku berusaha untuk tidak
membandingkannya dengan anak lain yang neurotropical (normal) karena Saladin
adalah anak neurodivergent (berkebutuhan khusus). Jika ada kekurangan pada
anakku maka adalah hal yang biasa, manusia mana yang sempurna? Pun daku juga
menahan diri untuk tidak membandingkan Saladin dengan anak neurodivergent lain
(misalnya yang autism atau lambat belajar), agar dia tidak sombong.
Perayaan jadi Ibu
Last
but not least, di momen ulang tahun Saladin ini daku merayakan kebahagiaan menjadi ibu. Hei Avizena Elfazia Zen, kamu
hebat karena telah membesarkan anak ADHD dengan segala dinamikanya. Kamu telah
sabar dan telaten dalam mengajarinya, dan begitu menyayanginya tanpa terlalu
memanjakannya.
Ketika anak ultah maka yang harus
diapresiasi adalah ibunya, bukan?









