Kamis, 20 Maret 2025

Trauma Membuatku Posesif pada Anak tapi Itu Tidak Sehat!

Tiap ibu pasti sayang anaknya. Tapi rasa sayang kadang menjàdi berlebihan dan posesif. Anak jadi susah bergerak, sering dilarang beraktivitas, tidak boleh keluar rumah, dll. Dan ternyata ibu itu adalah daku....

                                        Daku dan Saladin

 Bagaimana bisa terjadi seperti ini? Keposesifan muncul karena trauma yang ada sampai bertahun-tahun. Penyebabnya karena tahun 2019, saat Saladin masih TK B, dia pernah kabur dari rumah (neneknya) selama beberapa jam.

 

Kronologi Saladin Kabur dari Rumah

 

Kala itu Saladin masih hobi berlari dan memanjat. Dia lari seenaknya sendiri lalu naik ke atap mobil, loncat turun, dan lari ke arah TK-nya. Akhirnya daku dan kakek-neneknya panik mencari. Omnya Saladin memeriksa ke supermarket dekat rumah, ternyata zonk.

 

                                  Saladin di hari lain, saat memanjat pagar rumah  

Daku dibonceng kakeknya Saladin dan dengan sepeda motor kami keliling perumahan. Masih tidak ada. Sekitar satu jam kemudian, ada tetangga yang kasih informasi kalau Saladin ditemukan di perumahan sebelah.

 

Rasanya jantungku mau copot. Saladin ketemu dan untuk daku masih bisa mengendalikan diri untuk tidak histeris atau menangis di depan umum. Dia malah senyum-senyum karena makan kue, dan baru nyelonong masuk ke toko kue di perumahan sebelah!

 

Mau kasih keterangan dulu ya. Saladin adalah anak kinestetik dan over aktif (dulu sudah pernah konsultasi ke psikolog anak). Sudah pernah terapi perilaku. Tapi kadang kumat usilnya dan mungkin saat itu dia cari perhatian sehingga memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan.

                              Saladin di sekolah

 

 Akan tetapi peristiwa itu membuatku trauma. Akhirnya Saladin lebih sering dikurung di rumah. Pintu dan pagar dikunci dan kuncinya disembunyikan (kalau kuncinya ada pasti sudah diambil bocah lalu dipakai untuk membuka pintu). Tapi dia lebih banyak akal dengan loncat jendela. Untung di lantai satu dan lekas ketahuan. 

 

Saladin Beraksi di Rumah Baru

 

Beberapa bulan setelah kejadian kaburnya Saladin, kami sekeluarga pindah ke rumah sendiri (sebelumnya serumah dengan ortuku). Daku ternyata masih trauma dan mengurungnya di rumah. Saladin mulai gelisah ingin jalan-jalan, lalu loncat keluar jendela. Sampai akhirnya jendela dipaku oleh sang ayah.

 

 
                                    Sejak balita hobi memanjat

Di lain hari, daku kaget karena Saladin berteriak minta tolong. Saat keluar kamar ternyata dia sudah ada di halaman belakang, memanjat tembok dan posisinya ada di atas atap rumah tetangga. Memang rumah belum direnovasi sehingga halaman belakang masih semi terbuka.

 

Tak kuduga ternyata Saladin bisa memanjat setinggi itu. Bisa jadi dia memanfaatkan tumpukan pasir di pojok halaman belakang untuk tempat awal memanjat, lalu dengan lincah beraksi seperti Spiderman. Akan tetapi begitu kusuruh turun, dia malah ngacir dan meloncat lagi. Untungnya tidak patah tulang!

 

Bagaimana bisa daku mengenyahkan trauma jika punya anak seperti Saladin? Haruskah dia ikut terapi perilaku lagi? diri ini hanya bisa menangis sambil memeluknya.

 

Terkurung Karena Pandemi

 

Beberapa bulan kemudian pandemi melanda seluruh dunia. Saladin makin terkurung di dalam rumah. Tapi akhirnya dia terbiasa berkegiatan di dalam ruangan, paling hanya manjat sampai ke atas lemari.

 

Setelah pandemi mulai mereda (tahun 2021-2022) dan masyarakat boleh berkegiatan di luar ruangan (walau harus pakai masker), kami agak bernafas lega. Kala itu, akhirnya daku menyadari kesalahan: jika Saladin terus dikurung dan daku semakin posesif maka dia tidak bisa belajar bergaul dengan lingkungan sekitar.

                                           Belajar di Rumah
 

Saladin mulai bosan di rumah saja, apalagi masa school from home-nya lebih dari setahun. Dia hanya asyik menonton film kartun lalu saat bosan main air di kamar mandi. Maaf ya, nak!

 

Lalu bagaimana cara mengatasi keadaan ini? Tidak mungkin terjadi bertahun-tahun sampai dia dewasa, jadi anak kurungan. Saladin memang anak tunggal oleh karena itu daku lebih posesif. Apalagi trauma masih terus membayangi.

 

Belajar Mindfulness

 

Rasa trauma memang tidak enak dan bisa menghantui seumur hidup. Akan tetapi daku terus berjuang untuk hidup normal. Jangan terpaku pada masa lalu yang membelenggu karena rasanya tidak enak, dan berpengaruh buruk pada Saladin karena dia jadi tidak berkembang (karena jarang bergaul ke luar rumah).

 

              Trauma membuat sebagian kewarasanku tekurung

Salah satu cara untuk melepas trauma adalah dengan belajar mindfulness untuk meningkatkan kesadaran di masa kini dan melepaskan diri dari ikatan masa lalu. Dipandu oleh seorang konselor keluarga, daku disarankan untuk lebih sering grounding (jalan tanpa alas kaki) dan menghirup udara segar. Alhamdulillah pelan-pelan traumanya mulai pudar.

 

Belajar Mempercayai Anak

 

Daku harus berani mempercayainya untuk bergaul dan keluar rumah sendiri. Ini terjadi sekitar tahun 2022. Pertama, Saladin kuajak untuk bermain di lapangan dekat rumah. Awalnya kutemani. Akhirnya dia berani sendiri, dan kembali ke rumah dengan bahagia. Mungkin karena merasa sudah dipercaya oleh orang tuanya.

 


                                                           Saladin


Kemudian Saladin juga kuajak ke toko kelontong di RT sebelah. Dia kupersilakan untuk memilih snack dan eskrim kesukaannya. Sambil kuajari cara belanja sendiri. Dia sangat senang karena bisa jajan secara langsung (sebelumnya daku yang membelikan jadi banyak stock di rumah).

 

Alhamdulillah ibu pemilik toko sangat baik. Bahkan beliau cerita kalau dulu putra sulungnya ABK (autis). Akan tetapi sudah melewati berbagai terapi sehingga si mas tersebut bisa sekolah dan kuliah dengan normal, dan tidak tampak kalau waktu kecil autis.

 

Kembali ke Saladin. Daku sering memeluknya dan minta maaf karena terlalu sering melarang dan posesif. Bahkan saat dia sudah berusia 10 tahun pun kalau ke toko masih kutemani, takut kabur lagi. Rasa trauma ternyata masih mengakar.

 

                                       Foto berdua

Akhirnya daku terus mengajari Saladin untuk berani belanja sendiri. Apalagi dia sudah mahir hitungan ribuan dan paham untuk bertransaksi. Dia jadi bisa ke toko sendiri tanpa ada drama.

 

Alhamdulillah Saladin sudah berani jalan kaki dan belanja sendiri ke toko (di dalam perumahan). Bahkan dia juga mau dimintai tolong untuk membelikan kecap dan barang-barang kebutuhan dapur, asal bawa kertas catatan belanja dan tentu saja uang. Betapa senangnya punya asisten pribadi cilik, dan dia juga bangga karena dipercaya.

 

Melepaskannya untuk Kemping

 

Salah satu momen untuk “melepas” dan mempercayai Saladin adalah dengan membiarkannya ikut kemping di sekolah. Pasca pandemi, tiap tahun SD-nya Saladin mengadakan Ramadan camp selama 3 hari. Awalnya daku takut dia menangis karena gelap, padahal dia sudah mengantisipasi dengan bawa senter!

                                     Kemping dengan bahagia

 

Ternyata Saladin lebih berani dari yang kuduga. Kekhawatiranku tidak terjadi sama sekali. Saladin bisa kemping dengan bahagia di sekolah dan bergaul dengan teman-temannya. Bahkan dia ingin ikut kemping lagi.

 

Melepaskan Diri dari Ikatan Trauma

 

Jadi, untuk melepaskan trauma memang butuh usaha. Orang tua yang trauma sepertiku dulu bisa melakukan hal yang menyebalkan (menurut anak) misalnya dengan bersikap posesif. Padahal mereka melakukannya karena sayang tapi berlebihan. Pastikan orang tua menerima bahwa kejadian itu sudah lama berlalu, dan konsultasi ke konselor keluarga, psikolog, atau psikiater.

 

Pesanku, jangan terpaku pada masa lalu dan yakinlah bahwa anak akan berkembang. Memang ada masa di mana anak selalu menggoda orang tuanya dan bersikap seenaknya, padahal sudah diajari baik-baik di rumah. Nanti pelan-pelan dia akan belajar tertib dan tumbuh menjadi lebih baik lagi.

 

 

Review Novel Online Kos Horor Mimi, Siapa Berani Tinggal di Tempat yang Menyeramkan?

Apa kalian suka baca cerita horor? Nah kali ini daku mau bikin ulasan novel online berjudul Kos Horor Mimi. Penulisnya adalah Mbak Dewi Rieka, yang lebih terkenal dengan panggilan Dedew.

Ceritanya ada gadis bernama Mimi yang kuliah di Semarang. Dia mencari tempat kos yang murah karena hanya dibekali sedikit uang oleh uminya. Dapatlah kos di tempat Bu Tinah yang harga sewanya hanya 250.000 per bulan.

Sebenarnya sahabat Mimi, Kay, sudah melarangnya untuk tinggal di kos itu karena berasa masuk rumah hantu. Akan tetap Mimi ngotot memilihnya karena memang uangnya terbatas. Umi dan Abinya Mimi sedang dalam masa prihatin sehingga dia harus hemat.

Kay sebenarnya baik, mau ditebengi Mimi di kamar kosnya, bahkan merayu Mimi untuk tinggal berdua di apartemen. Tapi Mimi menolak karena merasa tak enak dan ingin lebih mandiri.

Kengerian di Kos Bu Tinah

Setelah Kay pergi, Mimi baru merasa aura horor di kos-kosannya. Mulai dari ibu kos yang datang tiba-tiba, teman kos yang penampilannya pucat mirip kuntilanak, sampai pemandangan di jendela kamar yang seram. Ternyata kos ini memang horor karena bersebelahan dengan kuburan!



Mimi harus tabah karena sudah terlanjur bayar kos hingga 3 bulan. Saat ada penguburan, dia ikut terbawa suasana seram. Apalagi ada irama gending yang terdengar, yang menyetel itu manusia atau makhluk jadi-jadian?

Berhasilkah Mimi bertahan selama 3 bulan di kos horor? Mengapa Kay menyembunyikan fakta ketika ada yang memberi tahu bahwa kos itu bekas orang suicide? Apakah teman kos Mimi manusia atau hantu yang menyamar? Baca sendiri ahhh, kagak mau spoiler, nanti enggak seru.

Kesanku setelah baca Kos Horor Mimi

Pas baca bab 1 belum terasa aura horornya, malah ketawa gara-gara penamaan tokohnya. Mimi itu panggilan dari Miyako (berasa pengen ambil nasi jadinya). Sementara nama sahabatnya adalah Kay Alutista (apakah dia berasal dari keluarga besar militer?)

                            Penulis Kos Horor Mimi, Mbak Dedew   

Tapi daku suka cerita Kos horor Mimi karena berhasil menggambarkan cerita menyeramkan tanpa kengerian yang berlebihan seperti adegan berdarah, pencekikan, dll. Jadi masih aman dibaca sore-sore sambil ngabuburit, atau jika ingin lebih menghayati, bacanya pas hujan deras biar terasa aura horornya. Awas ada yang mengawasi di belakang! Wkwkwk.

Novel online Kos Horor Mimi juga tidak menampilkan hantu yang tiba-tiba datang dan mengagetkan pembaca. Jadi bukan modelan cerita horor klasik yang bikin merinding dengan menampilkan banyak hantu gentayangan. Ceritanya ini lebih modern dan bisa dinikmati oleh remaja sampai dewasa.

Alur di novel Kos Horor Mimi lancar dan tak ada plot hole. Pembaca akan dibawa ke kosnya Mimi yang beraura suram, menikmati nuansa spooky yang bikin penasaran. Kadar seramnya pelan-pelan meningkat dari bab per bab. Jumlah totalnya ada 32 bab.



Yang daku suka dari tokoh Mimi adalah dia seorang yang tabah dan pekerja keras. Mimi mau tinggal di kos yang horor demi menghemat uang kiriman uminya. Ketika butuh uang tambahan, dia memilih untuk buka jasa bersih-bersih dan kurir (mirip Santo Suruh). Padahal temannya sudah menyarankan untuk buka jasa pacar sewaan, tapi dia menolak mentah-mentah.

Jadi, apa kalian suka baca novel horor? Yuk baca cerita Kos Horor Mimi di aplikasi KBM. Dijamin kisahnya bikin merinding disko tapi ada kocaknya. Khas penulisnya sih yaa karena sebelumnya Mbak Dedew terkenal sebagai penulis buku komedi. Tapi ternyata beliau lihai juga bikin cerita horor.

#KosHororMimi

 

Rabu, 19 Maret 2025

Pelajaran Parenting dari Doraemon

 Siapa yang masih suka baca komik Doraemon? Si robot kucing yang lucu dan ada saja alat yang keluar dari kantong ajaib. Dulu waktu kecil, kita mengkhayal, seandainya ada pintu ke mana saja atau baling-baling bambu.

Akan tetapi ketika membaca ulang komik Doraemon, daku menemukan perspektif yang berbeda. Betapa Fujiko F Fujio (alm) membuat komik yang futuristik (karena ada beberapa alat Doraemon yang akhirnya benar-benar ada). Beliau juga menunjukkan bahwa tiap orang tua bisa belajar dari cerita Doraemon.

                                              Wikipedia

Yaa, walau ini cerita buat anak kecil tapi ada pelajaran parenting yang bisa dipetik. Misalnya begini nih:

Jangan Jadikan Anak Pemalas

Nobita terkenal sebagai anak pemalas, disuruh bantu belanja ibunya malah nyuruh Doraemon. Diminta belajar malah baca komik. Akibatnya dia sering dapat nilai nol. Kalau terjadi di dunia nyata mungkin sudah tidak naik kelas berkali-kali, ya?

                                            Wikipedia

Mengapa Nobita jadi pemalas? Apa karena dia anak tunggal? Bisa jadi Nobita pemalas karena terlalu banyak ditolong oleh Doraemon.

Jadi, anak memang harus dididik untuk rajin dan bantu pekerjaan rumah tangga. Jika dia sudah mau SMP tapi tidak bisa menyapu atau minimal menaruh piring kotor sendiri, bisa gawat! Kemalasan akan menjadi-jadi, jangan jadikan dia calon orang dewasa yang mageran dan tidak produktif.

Anak Butuh Dimotivasi

Anak juga butuh dimotivasi agar terus semangat belajar. Misalnya saat anak nilainya jelek, jangan dimarahi terus (seperti Nobita). Akan tetapi bisa dikasih saran dan sugesti bahwa dia pasti bisa meraih prestasi dan mendapatkan nilai bagus.

                                   Unsplash

Alih-alih marah, orang tua bisa memberi motivasi dengan cara memberi tahu manfaat suatu pelajaran. Misalnya saat anak malas belajar matematika, maka ceritakan bahwa matematika itu penting untuk menghitung uang belanja, membuat rangka bangunan, dll. Sementara pelajaran bahasa inggris penting karena jika kelak liburan ke luar negeri, bisa berkomunikasi dengan lancar.

Motivasi dan temani anak belajar sehingga dia makin semangat. Bukannya dimarahi, disuruh belajar, tapi tidak dibelikan buku dan ensiklopedia, tidak dicarikan guru les, dll. Anak akan stress karena merasa tidak diperhatikan orang tua, tapi dituntut terus-menerus.

Jangan Terlalu Memanjakan Anak

Mengapa Nobita selalu malas? Penyebabnya karena dia terlalu dimanjakan oleh doraemon. Merengek sedikit, keluar deh pintu ke mana saja atau alat lain dari kantong ajaib. Doraemon kan robot, bukan manusia, jadi mungkin tidak diprogram untuk memahami efek negatif di balik penggunaan alat ajaib yang berlebihan?

                                    Unsplash

Efek negatifnya tentu saja Nobita jadi makin manja. Dia terlalu tergantung Doraemon dan dikit-dikit minta tolong. Bayangkan kalau hal ini terjadi di keluarga kita. Apakah anak akan terus merengek sampai permintaannya dituruti?

Padahal dampak negatif dari pemanjaan yang berlebihan itu ada banyak. Anak jadi terlalu mengandalkan pihak lain (misalnya orang tua atau kakaknya). Dia jadi kurang percaya diri dan tidak mandiri.

Ingat ya ibu-ibu, memberi kasih-sayang bukan berarti harus memanjakan. Anak harus sadar bahwa tidak semua keinginannya harus dipenuhi.

Ibu Selalu Galak?

Digambarkan ibunya Nobita adalah wanita yang galak dan sering marah. Memang wajar kalau beliau marah karena anaknya sering dapat nilai nol. Akan tetapi dengan kegalakan ini apakah berakibat baik atau buruk?

                                  FP Meme Comic Indonesia

Parenting ala VOC tidak selamanya baik karena anak akan menjauh dari orang tuanya. Jika dia dipanggil akan lari karena mengira akan disuruh atau dimarahi. Apakah kalian mau punya anak yang begini? Yang tidak mau didekati karena takut?

Jadi ibu-ibu, jangan galak-galak yaa! Pastikan anak bisa hidup dengan tenang dengan melihat ibunya tersenyum bahagia. Kalau misalnya dia gagal saat ulangan (di bawah KKM) yaa sudahlah. Percuma dimarahi, yang penting adalah usaha untuk memperbaiki nilai dengan cara belajar lebih rajin.

Perlunya Pendidikan yang Tegas

Tadi katanya disuruh jangan terlalu galak ke anak? Tegas berbeda dengan marah / galak ya. Sesekali anak perlu ditegasi. Misalnya saat terlalu manja (seperti Nobita ke Doraemon) maka harus diarahkan untuk lebih disiplin. Coba ajak bicara dari hati ke hati, bahwa disiplin akan membawanya menuju kesuksesan.

                                   Unsplash

Dulu daku pernah baca buku bagus berjudul Mendidik Anak dengan Hati. Penulisnya memberi tahu bahwa untuk mengajari anak, tak perlu disuruh-suruh, apalagi diteriaki. Akan tetapi hanya butuh pertanyaan.

Maksudnya gini: kalau kamarnya berantakan, maka ibu bertanya, “Kira-kira kamarnya kalau rapi akan lebih bagus ya?” Nanti otomatis akan akan merapikannya sendiri. Atau begini: “Sudah menyiram tanaman?” Kemudian anak akan ingat kewajibannya menyiram kebun mini di samping rumah setiap sore.

Dengan metode bertanya maka komunikasi antara orang tua dan anak akan lebih bagus. Anak akan belajar disiplin dan orang tua juga bisa tegas tanpa harus main tangan. Tolong ya, jangan pernah cubit atau pukul anak karena efeknya bisa sampai puluhan tahun ke depan. Tegakah kalian membuat luka di hati anak?

Mencari Solusi dari Setiap Masalah

Jika anak mulai malas-malasan atau nilainya buruk (seperti Nobita) maka yang harus dicari adalah solusinya. Misalnya dengan ikut les, latihan setiap hari, ditemani belajar, atau dicarikan metode belajar baru yang lebih menyenangkan (dengan nonton video). Anak akan senang karena orang tua fokus ke pemecahan masalah, bukan mengungkit nilai buruknya.

Ketika anak diungkit terus kesalahannya atau nilai buruknya, maka dia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri. Dia akan terpaku pada hal negatif. Padahal seharusnya orang tua mencontohkan hal yang positif, bukan?

Perhatikan Pergaulan Anak

Di komik dan film doraemon digambarkan Nobita bergaul dengan Takeshi (Giant). Masalahnya, si Giant ini galak dan suka memaksa. Nobita dan kawan-kawannya sering disuruh duduk dan mendengarkan dia menyanyi (konser mini gituu). Padahal suaranya jauh dari kata bagus.

                                        Wikipedia

Di hari lain, Giant juga marah-marah dan kadang memukul Nobita. Lahh, kalau daku jadi ibunya Nobita pasti ngamuk balik ke ibunya Giant. Punya anak dibesarkan dan disayang kok malah dijadikan samsak oleh temannya?

Oleh karena itu sebagai orang tua kita harus memperhatikan pergaulan anak. jangan sampai dia dijadikan bahan bullying atau dipukul gara-gara hal sepele. Pastikan ada komunikasi yang bagus antara ibu, ayah, dan anak, jadi bocah bakal senang bercerita dan orang tua paham bahwa anaknya jadi korban perundungan.

Cerita Doreamon memang hanya fiksi tapi memiliki banyak pelajaran yang berharga, terutama dari segi parenting. Orang tua bisa belajar bahwa anak yang malas seperti Nobita hadir karena dia terlalu sering dimanja. Anak tidak pernah diajari kenyataan hidup, tapi terus-menerus disuapi dan dididik dengan uang. Akibatnya sangat fatal karena dia bisa menggampangkan cari uang dengan cara yang negatif.

                                                 Unsplash

Orang tua juga wajib mengawasi pergaulan anak, jangan sampai punya teman yang toxic seperti Giant, atau yang tukang pamer seperti Suneo. Memang mendidik anak butuh usaha keras, ya? Tapi anak adalah anugerah sehingga harus diajari dan dipantau agar tidak salah jalan.

Selasa, 18 Maret 2025

Jika Anak Dibandingkan dengan yang Lain, Rasanya….

 Setelah Ramadan maka otomatis lebaran ya. Rasanya happy karena bisa bertemu lagi dengan keluarga besar. Akan tetapi momen ini bisa menjadi horor karena banyak orang yang membanggakan anak atau cucunya, lalu membandingkannya dengan anak lain.

                                                 Pexels
                                      

Apakah kalian jadi sedih ketika anaknya jadi bahan perbandingan dan akhirnya di-bully massal? Misalnya dulu Saladin pernah dibandingkan dengan anak lain, karena sempat speech delay. Memang anakku baru bisa bicara di usia 3,5 tahun.

Akan tetapi sebuah kelemahan bukan berarti membuat anak jadi bahan bullying dan dibandingkan dengan anak lain. Kalian merasa sedih juga gak, sih? Sudah membesarkan dan merawat anak dengan sekuat tenaga, pikiran, dan perasaan, eh malah dibandingkan dan dihina dengan dalih “bercanda”. Ngenes banget, gak?

                                          Saladin

Sebaliknya, anak menjadi bahan perbandingan oleh orang lain karena rupa atau prestasinya. Nahh dulu tuh daku kaget banget karena saat bertamu, ada orang yang memanggil anaknya dengan sebutan “ireng” (hitam). Dia lantas memuji Saladin yang kulitnya lebih putih.

Daku pun tak enak hati dan memutuskan untuk cepat berpamitan. Dalam perjalanan, daku berharap semoga anak yang dipanggil “ireng” oleh ibunya sendiri tidak trauma atau sakit hati. Kok bisa ya seperti itu?

Silaturahmi yang Mengetes Kesabaran

Saat lebaran dan bersilaturahmi memang mengetes kesabaran. Awalnya memang basa-basi, tanya kabar terbaru, kesehatannya bagaimana, dll. Sambil menikmati kue kering, bisa ngobrol dengan hangat.

Akan tetapi lama-lama keadaan jadi ngeselin karena ada perbandingan antar anak. Mentang-mentang masih berstatus kerabat dekat jadi ngomong seenaknya. Padahal baru saja bermaaf-maafan, sudah kepengen ngomel dalam hati saking sebalnya.

                                    Pexels

Beneran deh, kalau ada yang suka membanding-bandingkan dan mulai nyinyir ke anak, mending segera berpamitan. Daripada situasi makin panas lalu ada kerusuhan di momen lebaran. Kita pergi bukan karena kalah, tetapi mencari kewarasan.

Mereka yang Mencari Validasi

Apa yang ada di pikiran orang yang suka membandingkan anak? Daku bukan psikolog ya tapi mengamati fenomena ini yang hampir terjadi di setiap hari raya. Pertama, orang yang suka membandingkan biasanya dulu jadi korban. Maksudnya, dia pernah dibandingkan dengan orang lain dan menganggap itu sebagai hal biasa, lalu melakukannya ke orang lain.

                                                  Pexels              

Kedua, orang yang suka membandingkan anak biasanya hanya mencari validasi dari orang lain. Misalnya saat anaknya tidak picky eater maka dia akan membandingkan dengan anak lain yang susah makan. Validasi dia butuhkan demi keunggulan diri sendiri.

Penyebabnya apa? Orang yang haus validasi biasanya memang jarang diapresiasi oleh lingkungannya. Jadi saat ada yang mulai beraksi dengan membandingkan anaknya dengan anak Bunda, biarkan saja. Malah kasihan jatuhnya karena sebenarnya dia ingin dipuji.

Apakah Harus Menolak Perbandingan dengan Tegas?

Belajar sabar dan mengontrol diri memang diperlukan jika berhadapan dengan mahkluk “ajaib” alias yang suka membandingkan anak dengan orang lain. Bisa saja kita balas dengan kata-kata pedas atau menggebrak meja. Akan tetapi hal ini bisa merusak silaturahmi dan membuat hari raya jadi peperangan antar keluarga.

Ingat pepatah Jawa zaman dulu “sing waras ngalah” (yang sehat mentalnya yang mengalah). Jadi tidak usah membalas tingkah orang yang hanya haus validasi. Saat kita membela anak dan kelepasan ngamuk, bisa jadi orang yang hobi membandingkan malah senang, karena dia berhasil memancing emosi.

                                     Pexels

Akan tetapi kalau memang sudah terlanjur kesal (dengan perbuatannya di masa lalu), kita punya pilihan untuk tidak berkunjung ke rumahnya. Lebih baik tidak kontak dengan manusia toksik daripada makan hati. Untuk sosial medianya juga bisa diblokir sekalian.

Menyuntikkan Rasa Percaya Diri ke Anak

Sayang sekali yang jadi korban dari perbandingan anak adalah anak itu sendiri. Dia jadi minder karena merasa sepupunya lebih tinggi, berprestasi, dll. Akibatnya, anak malas diajak ikut acara keluarga dan memilih untuk mengurung diri di kamar.

                                          Pexels 

Tugas kita sebagai orang tua adalah menyuntikkan rasa percaya diri. Peluk anak dengan hangat dan bisikkan bahwa ibu dan ayah menyayanginya, walau dia belum mendapatkan nilai 100 di semua pelajaran. Anak akan perlahan punya rasa percaya diri karena merasa dicintai tanpa syarat.

Kemudian, hormati pilihan anak saat dia tidak mau diajak ke acara keluarga. Kita saja yang orang dewasa malas kalau bertemu orang-orang “error” (yang toksik). Apalagi anak-anak yang perasaannya lebih halus. Biarkan mereka bebas di rumah (tentu sambil dijaga PRT atau bibinya) jika tidak mau diajak ke acara keluarga.

Jangan Ikut Murung

Saat anak dibanding-bandingkan, jangan ikut murung dan menyalahkan diri sendiri. Kita juga sudah berusaha keras untuk mendidik anak di rumah, memilihkan sekolah yang bagus, mengajarinya sopan-santun, dll. Jika anak memang terlihat kurang dibanding dengan kerabatnya, bukan berarti salah ibunya.

Anak sudah cukup berusaha di sekolah, bukan? Jadi ibu juga jangan galau berkepanjangan. Nilai bagus masih bisa dikejar. Tinggi badan anak juga bisa dinaikkan dengan cara minum susu dan olahraga. Berhenti menyalahkan diri sendiri dan murung sepanjang hari karena tidak ada gunanya.

Tiap Anak Unggul dengan Segala Keunikannya

Ingatlah bahwa tiap anak itu unik dan memiliki keunggulan tersendiri. Misalnya ada anak yang nilai matematikanya biasa saja. Akan tetapi dia mahir menggambar. Ada juga anak yang harus berusaha keras dalam pelajaran yang butuh hafalan, tetapi lebih berbakat merajut dan keterampilan lain.                                                                                                                                                                                                                              

                                      Pexels
                                                                                                                         

Prestasi anak tak hanya di sekolah (akademik) tapi juga non akademik. Jadi jika anak punya hobi di bidang kesenian, lalu dibandingkan dengan anak lain yang pintar matematika, biarkan saja. Penyebabnya karena manusia punya 8 jenis kecerdasan dan jangan hanya dilihat berapa nilai IQ-nya.

Lantas mengapa masih ada orang yang usil dan suka membandingkan anak? Sabar dulu, bisa jadi mereka memang tidak faham kalau anak punya keunggulan masing-masing. Mereka masih terpaku di zaman dulu, ketika IQ tinggi menjadi standar kesuksesan, padahal hidup sudah berubah begitu cepat.

Kesimpulan

Jadi, kesimpulannya ketika kita bersilaturahmi atau bergaul dengan banyak orang, tidak bisa menghindar dari perbandingan. Jangan lekas emosi jika anak dianggap lebih buruk daripada anak lain,. Penyebabnya karena bisa jadi orang itu hanya asal nyeplos atau mencari validasi.

Daku pernah baca (maaf lupa di mana) sebuah quote yang isinya kurang lebih seperti ini: kita  punya dua tangan untuk menutup telinga tapi hanya ada satu tangan untuk menutup mulut orang lain. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan, yakni emosi diri sendiri saat anak dibandingkan dengan yang lain.

                                      Pexels

Yakinlah bahwa anak sudah melakukan yang terbaik, terus belajar, berkreasi, dan nurut pada kedua orang tuanya. Jadi ketika ada pihak lain yang sibuk membandingkan, biarkan saja. Anggap sebagai angin lalu dan tidak usah dipikirkan sampai bikin over thinking dan sakit hati.

Senin, 17 Maret 2025

Punya Anak Memang Semahal Itu?

 Kemarin daku melihat selebaran berisi biaya SPP dan uang gedung di sebuah sekolah. Setelah meneliti angka-angka itu rasanya langsung keselek. Penyebabnya karena uang gedung mencapai puluhan juta rupiah, sedangkan SPP-nya hampir 8 juta rupiah.

                                          Unsplash

Biaya sekolah memang semakin naik-naik ke puncak gunung, ya! Belum termasuk untuk beli seragam, sepatu, ongkos transportasi, dll. Ini baru untuk sekolah (yang wajib dipersiapkan orang tua dalam jangka panjang ketika baru punya anak).

Orang tua juga wajib memikirkan biaya lain sejak ananda masih bayi: untuk beli baju, popok, topi, gendongan, baby box, tisu basah, dll. Juga masih ditambah uang untuk syukuran aqiqah yang nominalnya lumayan.

Kebutuhan Anak yang Semakin Banyak

Ketika anak lahir maka orang tua sibuk membelikan benda yang khusus untuknya. Misalnya piring plastik yang satu set dengan sendok dan gelas. Ada pula celemek yang dipakai saat makan, stroller, baby walker, dan blender untuk menghaluskan bahan MPASI (makanan pendamping ASI), dll.

                                      Unsplash

Saat anak sudah balita maka kebutuhannya juga bertambah banyak. Mulai dari baju baru (karena pertumbuhannya pesat), sepatu, buku bantal, dll. Kalau dulu anak memakai baju lungsuran dianggap wajar, sekarang sudah jarang, karena memang tidak punya kakak / sepupu.

Kebutuhan anak yang semakin banyak itu dirasa wajar karena demi kenyamanan hidup. Apalagi zaman juga berubah sehingga standar kehidupan juga tidak bisa disamakan dengan 20-30 tahun lalu. Misalnya dulu kalau bikin MPASI cukup pakai saringan kawat dan ulekan, maka sekarang peralatannya makin beragam seperti blender, slow cooker, dll.

Akan tetapi, apakah punya anak memang mahal banget dan berbiaya puluhan juta rupiah per bulan? Gaji setara UMR belum cukup untuk membesarkan seorang anak karena memang dia menyedot biaya tinggi?

Punya Anak Itu Sangat Mahal?

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari 2 orang selebgram yang bercerita kalau anaknya itu “mahal”. Selebgram A bilang kalau anaknya butuh puluhan juta rupiah per bulan karena ikut les gymnastic, bahasa asing, dan sekolah di TK elit. Sementara selebgram B juga bercerita kalau anaknya kursus matematika dan pelajaran lain dengan biaya jutaan rupiah.

                                                       Unsplash

Anak zaman now (walau bukan dari keluarga artis) juga mulai ikut les padahal masih piyik, misalnya les calistung dan bahasa inggris. Malah sekarang orang tua berlomba-lomba membelikan anaknya gadget terbaru. Alasannya karena kita ada di era teknologi informasi.

Jangan kaget kalau sekarang biaya masuk TK (atau playgroup) eksklusif bisa lebih mahal daripada biaya kuliah orang tuanya dulu. Bahkan ada penasehat keuangan yang menyarankan orang tua untuk menabung saat baru menikah. Jadi ketika anaknya masuk sekolah sudah punya “pegangan” uang.

                                   Unsplash

Kebutuhan anak yang dianggap wajar akhir-akhir ini adalah baju branded dan mainan impor. Apalagi kalau orang tuanya eksis di media sosial. Anak butuh outfit yang keren walau harganya menguras kantong.

Akhirnya banyak orang yang beranggapan kalau punya anak itu sangat mahal. Penyebabnya karena anak butuh biaya (di luar sekolah) dan nominalnya lebih dari 10 juta rupiah. Itu baru satu anak, kalau anaknya 2 atau 3 berarti tinggal dikalikan saja.

Keracunan Standar Sosial Media

Pertanyaannya, dengan kebutuhan anak yang semakin banyak, apakah tiap orang tua mampu membelikannya? Padahal jumlah orang kaya di negeri ini tentu lebih sedikit daripada masyarakat kelas menengah (atau menengah ke bawah). Berapa sih orang tua yang mampu membelikan anaknya 10 lego per bulan dengan alasan “sayang anak”?

                                     Unsplash

Jadi ibu-ibu, jangan keracunan standar sosial media. Kalau ada selebgram yang mengikutkan anaknya les gymnastic jangan ikutan FOMO (fear of missing out). Pertama, anak belum tentu cocok dengan kegiatan tersebut. Minatnya bahasa tapi dipaksa les coding dan robotik. Akibatnya anak jadi stress berat karena dipaksa.

Kedua, jika memaksakan diri maka akan membuat kantong bolong. Jangan sampai gara-gara berprinsip “anak harus mendapatkan yang terbaik” dan keracunan standar sosial media maka situasi keuangan keluarga jadi kacau-balau. Demi sekolah dan les yang mahal maka bela-belain berutang. Apalagi kena p1Nj0L, amit-amit, jangaan!

Mahal Belum Tentu Cocok

Ingat ya, standar anak “mahal” pada keluarga lain belum tentu cocok diterapkan ke keluarga sendiri. Mahal belum tentu cocok karena sekolah dan kursus anak seharusnya disesuaikan dengan minat dan bakatnya. Jadi, lebih baik konsultasi ke psikolog dulu sebelum memasukkan anak ke suatu sekolah dan kursus.

                                                 Koleksi pribadi


 Anak yang tipe belajarnya kinestatik (seperti Saladin) lebih cocok belajar di sekolah alam yang banyak praktek daripada teori. Jadi daku tidak memaksanya masuk ke sekolah elit karena memang tidak cocok.

Begitu juga dengan anak yang lebih fokus jika belajarnya semi privat. Jangan masukkan ke SD yang jumlah siswanya sampai 30 orang per kelas. Dengan alasan sekolah itu mentereng.

Anak Tidak Butuh Kemewahan

Lantas apakah anak juga harus pakai barang branded setiap hari? Sebenarnya bayi atau balita belum mengerti perbedaan antara baju bermerek atau yang biasa saja. Jangan beli baju impor demi kelihatan keren, karena gengsi orang tuanya. Yang penting fungsinya, bukan harganya, bukan?

                                   Unsplash

Punya anak sebenarnya tidak semahal itu karena anak tidak butuh kemewahan. Toh mereka juga tidak tahu-menahu kalau foto dan videonya dijadikan konten demi kelihatan keren di sosial media. Mereka akan tetap ngiler dan gumoh di baju branded, dan semahal apapun pakaian itu akan kotor tanpa sengaja.

Sesuaikan dengan Kebutuhan

Lantas apakah berarti anak tidak butuh sekolah dan kursus yang mahal? Bukan begitu maksudnya. Sesuaikan saja dengan kebutuhan anaknya, jadi orang tua wajib mengobservasi tiap hari.

Jika anak sudah menunjukkan minat pada kitab suci maka bisa dimasukkan ke sekolah tahfidz. Kalau anaknya suka bahasa asing maka cari sekolah yang bilingual atau internasional. Tapi pastikan biaya sekolahnya masih sesuai dengan gaji orang tua.

                                      Pexels        

Begitu juga dengan kursus. Pastikan anak enjoy mengikuti les karena sebenarnya dia juga sudah capek (sekolahnya sampai sore, kan?). Memasukkan anak di 1-2 jenis kursus (misalnya berenang dan bahasa asing) kurasa sudah cukup, dan lagi-lagi pastikan biayanya masih on budget.

Ajarkan Sendiri

Alternatif lain, orang tua bisa mengajarkan sendiri ke anak. Misalnya untuk bahasa inggris diajari oleh sang ibu, mengaji diajari oleh ayah, dll. Jadi anak tetap dapat pengetahuan di luar sekolah tanpa membebani keuangan keluarga.

                                 Unsplash

Apakah orang tuanya harus expert? Sebenarnya tidak karena ilmu itu bisa dipelajari. Toh ada banyak tutorial di internet. Jadi orang tua bisa membuat kurikulum khusus saat mengajari anaknya bahasa asing dan pelajaran lain.

Kesimpulannya, punya anak memang butuh biaya banyak tapi tidak sampai menjulang. Banyak atau sedikitnya uang yang dikeluarkan oleh orang tua, demi mereka, sebenarnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan ananda. Orang tua juga jangan FOMO dan terlalu teracuni standar sosial media, yang bisa merusak keseimbangan neraca keuangan keluarga.