Siapa suka baca bukunya
Astrid Lindgren? Penulis asal Swedia ini terkenal akan karyanya Pippi
Longstocking. Tapi Madicken juga tak kalah bagusnya.
Judul: Madicken
Penulis: Astrid
Lindgren
Penerjemah: Listiana Srisanti
Tahun: 1981
Syahdan di Swedia, ada
seorang gadis kecil bernama Madicken. Nama aslinya adalah Margaretha tapi dia
lebih suka dipanggil Madicken. Dia hidup bahagia bersama mama, papa, dan adik
perempuannya yang bernama Lisabet.
Kala itu, anak-anak di
Swedia baru bersekolah di usia 6 tahun. Madicken sangat antusias karena akan
belajar di tempat baru (sementara Lisabet sangat iri). Dia happy karena sudah punya baju baru,
sepatu, dan batu tulis (sabak). Iyaa ini kuno banget (kok pakai sabak bukan
buku tulis), sepertinya setting cerita
sebelum tahun 1980-an.
Hari-Hari Madicken di
Sekolah
Walau sangat antusias,
Madicken juga kena masalah di sekolah. Dia bertengkar dengan temannya, sampai
adu pukul. Sepatunya pernah hilang, bajunya sobek. Ada saja yang terjadi tiap
hari, tapi dia menyalahkan sang teman. Ketika dicek oleh mamanya, ternyata
tidak ada teman itu yang mengerjainya, tapi merupakan imajinasi Madicken
sendiri.
Madicken yang Sangat
Aktif
Walau anak perempuan,
Madicken sangat aktif (dan pergaulannya tidak terlalu dibatasi oleh sang papa).
Dia dan adiknya pernah pergi ke peternakan yang jauh sekali dari rumahnya
sampai membuat empunya tempat itu sangat kaget. Ada dua gadis kecil yang
berjalan berkilo-kilo meter di tengah suhu yang dingin (dikira nyasar).
Madicken juga pernah
usil, piknik di atas genteng bersama Lisabet. Ketika ada temannya yang
memanggil malah dilempar bakso (jadi ingat Swedish meatball yang dijual di toko
furniture).
Setelah itu Madicken
uji nyali dengan turun dari genteng dengan naik payung, karena ingin merasakan
sensasi terbang. Untungnya dia tidak meninggal, hanya cedera fisik dan gegar
otak ringan.
Kritik di dalam Buku
Anak
Ketika baca buku
Madicken maka daku menemukan beberapa kritik yang ditulis oleh Astrid Lindgren
(dan penyampaiannya sangat halus sampai hampir tidak terasa). Di antaranya,
Madicken diajak ke gereja oleh sang mama. Akan tetapi papanya tidak mau
beribadah ke sana (walau hanya setahun sekali).
Kritik sosial yang
diselipkan di dalam buku ini sangat mengena karena Astrid paham, yang membaca
buku Madicken bukan hanya anak-anak, tapi juga orang tuanya. Bisa jadi penulis
ingin menyentil orang dewasa lewat karya sastra.
Pembaca akan sangat
puas baca buku Madicken karena terjemahannya bagus sekali dan ternyata
penerjemahnya adalah almarhumah Bu Listiana Srisanti. Iyaa, beliau yang pernah
menerjemahkan buku-buku Harry Potter! Bu Listiana termasuk penerjemah kelas
atas yang karyanya sangat apik. BTW kamu sudah pernah baca bukunya Astrid
Lindgren?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar