Kamis, 05 Februari 2026

Review Buku Madicken, Indahnya Masa Kecil di Zaman Dulu

 


Siapa suka baca bukunya Astrid Lindgren? Penulis asal Swedia ini terkenal akan karyanya Pippi Longstocking. Tapi Madicken juga tak kalah bagusnya.

Judul: Madicken

Penulis: Astrid Lindgren

Penerjemah: Listiana Srisanti

Tahun: 1981

Syahdan di Swedia, ada seorang gadis kecil bernama Madicken. Nama aslinya adalah Margaretha tapi dia lebih suka dipanggil Madicken. Dia hidup bahagia bersama mama, papa, dan adik perempuannya yang bernama Lisabet.

Kala itu, anak-anak di Swedia baru bersekolah di usia 6 tahun. Madicken sangat antusias karena akan belajar di tempat baru (sementara Lisabet sangat iri). Dia happy karena sudah punya baju baru, sepatu, dan batu tulis (sabak). Iyaa ini kuno banget (kok pakai sabak bukan buku tulis), sepertinya setting cerita sebelum tahun 1980-an.

Hari-Hari Madicken di Sekolah

Walau sangat antusias, Madicken juga kena masalah di sekolah. Dia bertengkar dengan temannya, sampai adu pukul. Sepatunya pernah hilang, bajunya sobek. Ada saja yang terjadi tiap hari, tapi dia menyalahkan sang teman. Ketika dicek oleh mamanya, ternyata tidak ada teman itu yang mengerjainya, tapi merupakan imajinasi Madicken sendiri.

Madicken yang Sangat Aktif

Walau anak perempuan, Madicken sangat aktif (dan pergaulannya tidak terlalu dibatasi oleh sang papa). Dia dan adiknya pernah pergi ke peternakan yang jauh sekali dari rumahnya sampai membuat empunya tempat itu sangat kaget. Ada dua gadis kecil yang berjalan berkilo-kilo meter di tengah suhu yang dingin (dikira nyasar).

Madicken juga pernah usil, piknik di atas genteng bersama Lisabet. Ketika ada temannya yang memanggil malah dilempar bakso (jadi ingat Swedish meatball yang dijual di toko furniture).

Setelah itu Madicken uji nyali dengan turun dari genteng dengan naik payung, karena ingin merasakan sensasi terbang. Untungnya dia tidak meninggal, hanya cedera fisik dan gegar otak ringan.

Kritik di dalam Buku Anak

Ketika baca buku Madicken maka daku menemukan beberapa kritik yang ditulis oleh Astrid Lindgren (dan penyampaiannya sangat halus sampai hampir tidak terasa). Di antaranya, Madicken diajak ke gereja oleh sang mama. Akan tetapi papanya tidak mau beribadah ke sana (walau hanya setahun sekali).

Kritik sosial yang diselipkan di dalam buku ini sangat mengena karena Astrid paham, yang membaca buku Madicken bukan hanya anak-anak, tapi juga orang tuanya. Bisa jadi penulis ingin menyentil orang dewasa lewat karya sastra.

Pembaca akan sangat puas baca buku Madicken karena terjemahannya bagus sekali dan ternyata penerjemahnya adalah almarhumah Bu Listiana Srisanti. Iyaa, beliau yang pernah menerjemahkan buku-buku Harry Potter! Bu Listiana termasuk penerjemah kelas atas yang karyanya sangat apik. BTW kamu sudah pernah baca bukunya Astrid Lindgren?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar