Rabu, 17 Juni 2026

Ketika Ibu Tak Tahu Apa yang Dia Inginkan Karena Terbiasa Tidak Diutamakan

 

One day daku membuka akun social media. Ada satu utas yang menarik, isinya adalah sebuah pertanyaan: Jika kamu (seorang ibu) diberi uang 100.000 rupiah, apa yang akan dibeli? Syaratnya harus dihabiskan sendiri, tidak digunakan untuk keperluan anak / keluarga.

            Jawabannya sangat beragam dan bikin kaget bangeeet. Ada yang ingin makan jajanan tertentu. Ada yang mau ngebakso tapi sambil bawa anak. Ada juga yang terang-terangan ingin beli pakaian dalam, karena yang lama sudah jelek dan hampir rusak.



Astagaa, banyak yang trenyuh karena kebutuhan pokok manusia seperti sandang (underwear) bahkan tidak mampu dibeli oleh seorang ibu. Saking mereka terlalu mengutamakan keluarga. Jadi uangnya untuk kebutuhan sehari-hari dst.

Memangnya Tidak Bekerja?

Lantas muncul satu pertanyaan lagi dari netizen, memangnya sang ibu tidak bekerja? Kok uang untuk jajan saja tidak punya? Halooo, tidak semua rumah tangga sama ya! Ada wanita yang memang jadi IRT karena tak punya support system (tidak ada yang dititipi anak / daycare mahal).

Ada juga ibu yang working mom tapi gajinya mepet UMR. Jadi uang yang didapat hanya ‘numpang lewat’ karena memang kebutuhannya banyak. Di tempat lain, ada pula wanita yang bekerja tapi jadi sandwich generation alias membiayai orang tuanya.

Mengutamakan Keluarga

            Yang daku pikirkan adalah ketika ibu diberi rezeki dadakan dan disuruh jajan, tapi kok malah dibuat makan bersama anak-anak? Ternyata ini karena sejak dulu seolah-olah ada tuntutan ibu adalah makhluk yang selalu mengalah. Keluarga adalah yang utama (sampai ibu setengah menderita karena beli jajan aja susah). Aduh!

Tuntutan sosial seperti ini ngeri banget sih. Padahal jajan dan me time adalah sebuah hak ibu yang harus diberikan. Mengapa ada yang kejam dan menyuruh seorang ibu untuk terus mengalah, sampai seolah-olah me time itu terlarang?

Me Time Itu Gini Lho

Sungguh daku tak habis pikir kenapa ada yang berpendapat kalau me time itu egois. Ketika seorang ibu hanya ngopi seminggu sekali, dicela berhari-hari. Padahal di balik peristiwa itu dia sudah berusaha keras untuk mengasuh anak, merapikan rumah (tanpa asisten rumah tangga), dll.

Ada juga yang salah kaprah dan bilang kalau me time versinya adalah bisa menyeterika, mencuci, dll dengan tenang. Penyebabnya karena si anak (yang masih kecil) dijaga oleh ayahnya. Padahal me time tidak seperti itu. Kegiatan ini harus dilakukan sendirian dan dalam keadaan rileks, bukan sambil beberes.

Ketika ibu me time maka dia melakukan keinginannya sendiri. Sesederhana bisa belanja di minimarket tanpa digelandoti anak dan menikmati waktu bebas. Atau ngeteh dan makan kue dengan tenang, bisa dilakukan di teras rumah, di kafe, atau tempat lain.

Korban Patriarki

            Setelah riset ke beberapa sumber maka daku menemukan fakta bahwa wanita yang terlalu sering mengalah itu karena dia terjebak dalam tuntutan social. Kemudian ibu yang mengutamakan orang lain itu adalah korban patriarki. Karena disuruh untuk selalu mengutamakan suami (dan biasanya anak laki-laki).

Sedih sekali ketika di era teknologi informasi, masih ada korban-korban patriarki. Bahkan seorang netizen berpendapat agar wanita jangan terlalu banyak belanja alat rias dan skincare. Penyebabnya karena (menurut dia) percuma cantik tapi anak dan suami tidak terawat. Daku Cuma bisa bengong dong bacanya.

Read:  Ibu Harus Bahagia

Ada juga kisah korban patriarki di mana suami makan paket ayam goreng dengan lahap. Tapi istrinya makan satu paket bertiga (dengan anak-anaknya). Astaga, kok bisa ketelen itu ayam? Sudah suaminya patriarki, pelit lagi!

Belanja dan Jajan

Jadi, ladies, jangan terlalu sering mengalah dengan anggapan anak dan suami lebih butuh. Sesekali kita boleh kok beli lipstick baru, baju yang bagus, atau me time dengan beli kue favorit. Yang namanya kebutuhan rumah tangga bisa tiada habisnya, dan jangan merasa ‘berdosa’ ketika beli sesuatu untuk diri sendiri.

Jangan mau jadi korban patriarki dan sejak awal jangan mau dekat dengan cowok pelit. Amit-amit jabang baby! Wanita berhak untuk bahagia dan jangan dengarkan suara-suara sumbang di luar sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar