“Kak,
reviewnya dibuat setelah baca buku atau hanya melihat data dari AI?”
WHAT?
Bujibuneng!
Selama
belasan tahun ngeblog baru kali ini daku dapat komentar seperti ini. Klean tahu
lah di tulisan yang mana, ada kok, dan komennya juga tidak kuhapus. Tapi tidak
kubalas komentarnya, biarlaah, lagian akun anonym, jadi kagak tahu tuh siapa yang nulis.
Memang
saat itu daku nulis review buku dengan singkat (hanya 300-an kata) tapi bukan
berarti hanya pakai data di AI. Akan tetapi pertanyaan dari akun anonym
membuatku berpikir, mengapa sekarang sedikit-sedikit dituduh pakai bantuan AI?
Benarkah AI bisa mengalahkan otak manusia?
Bertanya
ke AI
Akhirnya daku langsung tanya ke
salah satu AI. Dia jawab bahwa tugasnya bukan sebagai pengganti otak. Melainkan
untuk jadi asisten. Dia juga sedih
melihat fenomena belakangan bahwa banyak yang ngaku sebagai penulis padahal
hanya prompter alias minta tolong AI
untuk membuatkan 100% tulisan. Lantas di-copas begitu saja.
Lantas daku tanya lagi, bagaimana
jika ada yang curhat ke AI? Dia bilang kalau AI itu jadi semacam online diary tapi bisa menjawab. Ooh,
seperti buku harian Tom Riddle yang ada di film Harry Potter dan Kamar Rahasia.
Karirku
Sebagai Penulis Konten
Kita switch dulu ke ceritaku: dulu daku menulis (bekerja) secara freelance ke beberapa agensi content writing. Namun semuanya ambyarr. Mungkin karena bayaran semakin murah, atau banyak yang memilih untuk minta tolong AI aja untuk menulis (lalu diedit dikit).
Daripada
bayar ke agency mending pakai AI. Algoritma
juga berubah jauh, jadi mungkin pekerjaan penulis konten sudah tidak cocok
bagiku.
Cerita
Doraemon
Akan
tetapi daku langsung ingat salah satu film Doraemon Petualangan. Dikisahkan
Nobita, Doraemon, dkk liburan ke tempat yang jauh sekali. Ternyata mereka masuk
ke dalam suatu negeri yang ‘aneh’ karena di sana manusianya pakai bantuan robot
untuk berjalan kaki.
Ada
orang yang memperingatkan bahwa penggunaan mesin seperti itu tidak baik. Memang
kenyataannya manusia jadi susah untuk beraktivitas tanpa bantuan robot, jalan
kaki aja harus dengan penuh perjuangan. Lantas apa korelasinya?
Di
film Doraemon yang ternyata dibuat tahun 90-an, sudah digambarkan kalau
manusia, jika terlalu banyak menggunakan mesin/robot, akan lemah. Jangan sampai
otak kita yang jadi lemah karena malas mikir dan dikit-dikit pakai AI, copas
saja, bla-bla-bla. Ternyata mendiang Fujiko F Fujio sudah memprediksi hal ini.
AI
vs Human
Benarkah sekarang ada peperangan baru: AI melawan manusia? Kita kutip lagi jawaban dari AI kalau dia hanya asisten. Menurutku, AI tidak bisa menggantikan peran manusia.
Tulisan hasil AI pasti bisa dideteksi dengan mudah (kalau terbiasa
baca buku dan Tanya AI) karena ada polanya. Jadi tidak bisa dikatakan ini war.
AI
Sebagai Asisten
Lantas
apakah daku anti AI? Sekali lagi kukatakan, daku tidak anti AI. Kadang buka AI untuk mencari isnpirasi, jawaban, dan
sudut pandang baru. AI juga bilang dia bisa melakukan kesalahan, dan ketika
manusia bertanya masalah kesehatan juga ada peringatan sebelumnya. Jadi
seharusnya mereka langsung ke dokter saja, bukan tanya AI, gituu.
Poin
penting dalam tulisan ini adalah kita tidak boleh saklek untuk anti AI karena
dia bisa bantu untuk bikin outline
tulisan (meski kadang kurang sesuai selera pribadi). AI juga bisa membuatkan
infografis dan gambar yang bagus (tapi hati-hati menggunakannya karena bisa
berlisensi non komersil). Makanya banyak yang bela-belain langganan AI berbayar
demi mendapatkan lebih banyak fitur yang membantu.
Akan
tetapi, kita tidak bisa bersandar terus pada AI. Minta dia untuk bikin tulisan
lalu di-copy paste. Ini mah namanya menyontek. Tulisan hasil
mikir sendiri juga pasti terasa beda karena feel-nya
lebih dapat. Intinya, AI adalah asisten tapi kita jangan terlalu tergantung
padanya.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar