Minggu, 02 Agustus 2026

Penulis Have vs Haven’t

 

Penulis have? Apa pula ituu? Daku juga baru tahu dari sosmed. Jadii ada istilah anak gen Z, kalau have itu maksudnye orkay alias orang kaya. Sementara kalau haven’t kebalikannya.

Ada satu content creator yang bikin postingan tentang penulis have. Katanya mereka itu kalau riset setting tempat novel langsung datang / terbang ke tempat tersebut. Mengetiknya di kafe yang mahal dan memakai laptop yang harganya selangit. Untuk promosi juga ada timnya sendiri.

                                  Generated by ChatGPT
                         

Sementara, penulis haven’t itu risetnya cukup pakai AI. Menulis juga di atas kasur, dan menggunakan gadget seadanya. Mereka juga berpromosi sendiri dan berjuang untuk mendapatkan pembaca (karena berkarya di platform novel).

What About Me?

            Spontan daku terusik dan berkomentar: entah masuk golongan mana. Yang jelas selama ini menulisnya di rumah saja (atau di rumah mama). Karena memang jarang nulis di kafe atau perpustakaan.

            Saat menulis juga berteman air mineral atau kopi sachetan (yang dibeli di warung tetangga). Riset via buku, jurnal, atau mbah Google. Menulisnya juga pakai laptop yang usianya sudah lumayan. Tapi kenyataannya dengan keadaan seperti ini, daku sudah mendapatkan uang (karena menulisnya untuk agency).

Apakah Harus Pakai Gadget Mahal?

            Dulu, ada seorang penulis senior yang pernah berkata kalau seseorang mau jadi penulis tapi syaratnya harus pakai laptop bagus, harus ini dan itu, maka sama saja seperti berenang di kolam air hangat. Daku termangu dan teringat nasehat beliau. Apakah jadi penulis harus pakai laptop puluhan juta?

                             Generated by ChatGPT

            Daku juga teringat lagi akan jawaban dari kakak online yang profesinya penjual laptop. Menurut beliau, gadget terbaik bukanlah yang paling mahal (alias yang seharga mobil). Melainkan gadget yang paling cocok dengan kondisi / pekerjaan pemakainya.

            Dipikir-pikir benar juga. Kalau misalnya daku butuh buat menulis dan editing foto / konten sederhana, tidak usah pakai laptop spek gamer yang mihil.

Menjual Skill

Lagipula menulis juga tidak harus selalu pakai laptop kan ya? Ada salah satu friend efbe yang menulis naskah novel memakai HP android spek ‘kentang’ dan berhasil diterbitkan. Sementara daku pernah nulis pakai buku tulis karena HP error dan laptop dipakai Saladin untuk belajar (karena dia semi-homeschooling).

            Daku berpesan untuk semua kawanku yang ingin jadi penulis, jangan tersekat oleh anggapan penulis have atau haven’t. Bahkan sekelas JK Rowling dulu pernah menulis di atas tisu, saat beliau masih merintis karir sebagai penulis buku. Bukankah yang penting adalah skill menulis, bukan alat atau hartanya?

            Penulis juga butuh ketekunan, jangan hanya menulis sehari lalu besok dan lusanya mager. Bayangkan kalau klean bisa menulis seribu kata sehari, maka dalam 2 bulan akan menghasilkan novel sepanjang 60.000 kata. Banyak, kaan?

                                       Generated by ChatGPT

            Selain itu, salah satu ‘senjata’ saat menulis adalah tekad kuat. Jangan gampang mutung. Ditolak penerbit sekali langsung nangis tujuh bulan. Dikomentari negative oleh pembaca langsung ngambek dan tidak mau menulis untuk selamanya. Apakah kamu bermental tempe?

            Akhir kata, jadikan menulis sebagai kegiatan yang positif, bermanfaat, dan menyenangkan. Jadi nulisnya tidak usah terbebani dan mengalir saja, tentu disertai dengan kegiatan seperti membaca buku dan riset ke library. Kecuali kalau memang klean jadi penulis dengan deadline ketat (hanya hitungan per jam) dan ini butuh mental yang 1.000 kali lebih kuat.

 

Klean sudah menulis apa saja hari ini?

1 komentar: