Peringatan!
Ini adalah postingan curhat!
Beban di kepala sudah mulai
berkurang. Tidur sudah mulai normal (tidak kebanyakan). Daku pun mulai bisa
berpikir jernih. Pun mempraktekkan saran dari konselor untuk menarik napas
panjang dan mengembuskannya lewat mulut.
Memangnya kenapa sihh? Daku habis
melewati fase burnout yang terjadi
selama lebih dari sebulan. Hidup dalam survival
mode dan berasa di dalam labirin, ke mana-mana bingung sendiri. Lantas apa
yang terjadi setelah pulih kembali?
Menyadari
Penyebab Burnout
Mengapa bisa burnout? Karena memang ada banyak badai yang harus kulewati. Orang tua
sakit bersamaan, sedangkan daku tidak bisa tiap hari menengok dan menjaga
mereka (karena harus bertanggung jawab di rumah sendiri). Pekerjaan belum
didapat. Ada job freelance tapi berasa
di-prank karena kalau mau dapat
proyek harus ikut tes lagi, dan wajib bisa bahasa pemrograman.
Padahal
lowongan itu boleh dimasuki oleh sarjana dari segala keilmuan. Daku sudah ikut
2 kali tes, speaking, listening, dll.
Ketika lolos masih harus belajar cara kerja app chatting yang membingungkan, pakai aplikasi timer yang ternyata berbayar! Alamakkk!
Akumulasi
dari beban-beban kehidupan, ditambah dengan gejolak emosi Saladin yang sudah
remaja, membuatku burnout parah. Sampai
harus ke konselor dan psikolog sekaligus. Beneran, enggak enak banget, mau
ngapa-ngapain tidak semangat, pengen tiduran saja.
Akhirnya daku menyadari
penyebab-penyebab otak ‘konslet’ dan berusaha memperbaiki. Menyadari bahwa
tidak semua hal bisa kita dapatkan. Jika dunia berasa tidak adil maka kejar
akhirat terlebih dahulu.
Mengerem
Ambisi
Walau sudah tidak menjadi penulis
konten seperti 2 tahun lalu, daku berusaha terus menjaga pace otak dengan mewajibkan beberapa hal yang berkaitan dengan
literasi. Pertama: membaca buku / ebook minimal 50 lembar per hari. Kedua:
mengisi blog setidaknya 5-6 postingan per bulan. Itupun jauh banget karena speed menulisku adalah 2.000 kata per
hari.
Apa yang terjadi saat memaksakan
untuk membaca dan menulis padahal hati sedang berantakan? Akhirnya lihat
aplikasi perpustakaan online saja
malas. Ponsel digunakan untuk menonton saja. Membacanya kapan-kapan, apalagi
menulis?
Rupanya daku harus mengerem ambisi
seperti ini. Memang ada banyak draft artikel
dan naskah buku yang mau diselesaikan. Namun jika tidak bahagia saat
melakukannya, buat apa??
Memberi
Waktu untuk Diri Sendiri
Ketika bertemu dengan konselor,
beliau berkata bahwa yang harus diselamatkan adalah diriku sendiri. Baru ketika
tenang akan bisa mengasuh Saladin dengan bahagia. Bagaimana caranya?
Salah
satunya adalah dengan memberi waktu untuk diri sendiri. Sebenarnya me time tidak harus mahal. Yang penting
daku bisa melepas penat sejenak, misal dengan maskeran di rumah, atau menonton
film kesukaan.
Burnout bagaikan
virus yang bisa merusak kebahagiaan manusia. Apalagi bagi orang tua dengan anak
ADHD sepertiku, lebih mudah untuk error karena dinamika si bocah yang kadang
tidak terduga. Semoga kita semua sehat secara mental, dan jangan takut untuk
konsultasi ke psikolog jika memang butuh saran dan pertolongan.
kadang-kadang kita terlalu sibuk bertahan sampai terlupa yg diri sendiri juga perlukan rehat
BalasHapussemoga lepas lalui fasa burnout ni akan ada lebih byk ruang untuk berehat, memulihkan diri serta menikmati perkara2 kecil dlm hidup...
chaiyok chaiyok!