Jadi tukang cuci
piring? Iyaa klean enggak salah baca karena ini yang daku kerjakan selama Ramadan
2026. Bekerja menjadi kang cuci piring di dapur masjid habis maghrib. Bagaimana
ceritanya?
Jadii kan daku diundang
pengajian RW (sekitar 2 bulan sebelum Ramadan) dan kala itu istri ketua takmir
cerita kalau ada buka bersama di bulan puasa. Akan tetapi, beda dengan
tahun-tahun sebelumnya, 2026 diadakan bukber dengan menu nasi (biasanya hanya
kue dan minuman manis).
Jika ada menu nasi maka
otomatis butuh tenaga cuci piring. Daku mengajukan untuk menempati posisi
tersebut dan Alhamdulillah langsung di-ACC. Mungkin karena yang lain belum ada
yang mau.
Serunya Menjadi Kang
Cuci Piring
Beberapa hari sebelum Ramadan
daku sudah persiapan: membeli sabun cuci piring ukuran besar dan celemek baru. Lantas
di hari pertama bukan puasa, sekitar jam 5 sore daku sudah bersiap-siap (karena
maghribnya jam 6 petang). Selain membawa mukena dan sajadah, daku juga
memasukkan sabun dan celemek ke dalam tas.
Setelah berbuka dengan
menu nasi soto maka kami salat berjamaah. Habis itu daku langsung melepas
mukena, menyimpannya di dalam tas, dan memakai celemek. Bersiap untuk’tempur’
di dapur.
Sebelum mencuci piring
maka harus bantuin juga untuk membereskan piring kotor (yang ditaruh jamaah di
meja dekat area makan). Juga mempersiapkan tas kresek besar untuk menampung
botol dan gelas kosong (bekas air mineral) dan sisa-sisa nasi. Kudu gercep
karena waktu yang tersedia hanya kurang-lebih 1 jam (antara maghrib dan isya’).
Ternyata piring yang
dicuci lumayan banyak karena hari itu jamaah yang datang untuk buka bersama ada
sekitar 100 orang. Belum lagi gelas dan sendok kotor yang juga harus
dibersihkan. Maka daku cuci secara ekspress, yang penting cepat dan bersih.
Alhamdulillah pas cuci
piring banyak yang bantuin. Di dapur masjid ada 2 bak cuci piring jadi daku
bekerja di bak kiri dan di bak kanan ada petugas (di hari pertama petugasnya
dari RT 1, jadi gantian gituu per RT). Kami berkenalan dan mencuci piring
sambil saling menyemangati.
Tapi Ada Sedihnya
Meski senang karena
bekerja di dapur yang ramai (karena ada petugas lain yang membantu membersihkan
dapur) tapi juga ada sedihnya. Hari pertama saja langsung mewek karena ada yang
menyisakan banyak nasi di piring. Alasannya porsi nasi terlalu banyak, atau
mereka sudah kenyang duluan makan kue (takjil).
Beneran sedih karena
daku ingat larangan untuk membuang makanan. Tapi ya gimana lagi, kita kan tidak
bisa mengatur orang lain. Yang bisa dikendalikan adalah diri kita sendiri. Alhamdulillah
dari tim petugas masak memberi solusi: porsi nasi dikurangi dan ditakar sehingga
meminimalisir jamaah membuang sisa nasi / lauknya.
Meski setelah cuci
piring baju nyaris basah (karena aliran keran yang kencang dan menembus
celemek) dan pinggang nyut-nyutan, tapi daku tetap menikmati pengalaman jadi
tukang cuci piring di masjid. Mengapa begini?
Daku tidak malu bekerja
‘kasar’ karena niatnya memang membantu jamaah. Malah senang karena jadi lebih
kenal jamaah dari RT lain, dan tim masak juga sering membungkuskan 2-3 porsi
sayur/soto ekstra untuk kubawa, jadi bisa buat stok makan sahur. Intinya adalah:
Alhamdulillah atas semua rezeki ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar