Rabu, 25 Maret 2026

Pengalaman Jadi Tukang Cuci Piring Selama Ramadan

 

Jadi tukang cuci piring? Iyaa klean enggak salah baca karena ini yang daku kerjakan selama Ramadan 2026. Bekerja menjadi kang cuci piring di dapur masjid habis maghrib. Bagaimana ceritanya?

Jadii kan daku diundang pengajian RW (sekitar 2 bulan sebelum Ramadan) dan kala itu istri ketua takmir cerita kalau ada buka bersama di bulan puasa. Akan tetapi, beda dengan tahun-tahun sebelumnya, 2026 diadakan bukber dengan menu nasi (biasanya hanya kue dan minuman manis).

Jika ada menu nasi maka otomatis butuh tenaga cuci piring. Daku mengajukan untuk menempati posisi tersebut dan Alhamdulillah langsung di-ACC. Mungkin karena yang lain belum ada yang mau.

Serunya Menjadi Kang Cuci Piring

Beberapa hari sebelum Ramadan daku sudah persiapan: membeli sabun cuci piring ukuran besar dan celemek baru. Lantas di hari pertama bukan puasa, sekitar jam 5 sore daku sudah bersiap-siap (karena maghribnya jam 6 petang). Selain membawa mukena dan sajadah, daku juga memasukkan sabun dan celemek ke dalam tas.

Setelah berbuka dengan menu nasi soto maka kami salat berjamaah. Habis itu daku langsung melepas mukena, menyimpannya di dalam tas, dan memakai celemek. Bersiap untuk’tempur’ di dapur.

Sebelum mencuci piring maka harus bantuin juga untuk membereskan piring kotor (yang ditaruh jamaah di meja dekat area makan). Juga mempersiapkan tas kresek besar untuk menampung botol dan gelas kosong (bekas air mineral) dan sisa-sisa nasi. Kudu gercep karena waktu yang tersedia hanya kurang-lebih 1 jam (antara maghrib dan isya’).

Ternyata piring yang dicuci lumayan banyak karena hari itu jamaah yang datang untuk buka bersama ada sekitar 100 orang. Belum lagi gelas dan sendok kotor yang juga harus dibersihkan. Maka daku cuci secara ekspress, yang penting cepat dan bersih.

Alhamdulillah pas cuci piring banyak yang bantuin. Di dapur masjid ada 2 bak cuci piring jadi daku bekerja di bak kiri dan di bak kanan ada petugas (di hari pertama petugasnya dari RT 1, jadi gantian gituu per RT). Kami berkenalan dan mencuci piring sambil saling menyemangati.

Tapi Ada Sedihnya

Meski senang karena bekerja di dapur yang ramai (karena ada petugas lain yang membantu membersihkan dapur) tapi juga ada sedihnya. Hari pertama saja langsung mewek karena ada yang menyisakan banyak nasi di piring. Alasannya porsi nasi terlalu banyak, atau mereka sudah kenyang duluan makan kue (takjil).

Beneran sedih karena daku ingat larangan untuk membuang makanan. Tapi ya gimana lagi, kita kan tidak bisa mengatur orang lain. Yang bisa dikendalikan adalah diri kita sendiri. Alhamdulillah dari tim petugas masak memberi solusi: porsi nasi dikurangi dan ditakar sehingga meminimalisir jamaah membuang sisa nasi / lauknya.

Meski setelah cuci piring baju nyaris basah (karena aliran keran yang kencang dan menembus celemek) dan pinggang nyut-nyutan, tapi daku tetap menikmati pengalaman jadi tukang cuci piring di masjid. Mengapa begini?

Daku tidak malu bekerja ‘kasar’ karena niatnya memang membantu jamaah. Malah senang karena jadi lebih kenal jamaah dari RT lain, dan tim masak juga sering membungkuskan 2-3 porsi sayur/soto ekstra untuk kubawa, jadi bisa buat stok makan sahur. Intinya adalah: Alhamdulillah atas semua rezeki ini.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar