Tampilkan postingan dengan label marriage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marriage. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2026

Lima Belas Tahun Pernikahan dan Memahami Bahasa Cinta Pasangan

 

            September ceria! September selalu jadi bulan yang ditunggu-tunggu. Bukan wake me up when September ends. Tapi beneran September ceria karena bulan ini wedding anniversary dan beneran enggak kerasa, sudah 15 tahun pernikahan!

                          Generated by ChatGPT

            Cukup lama ya? Daku saja merasa masih pengantin baru, hahaha! Beginilah kalau menikah modal taaruf, pacarannya ya  setelah akad. Manis dan asam dinikmati bersama. Eh tapi walau taaruf sebenarnya kami sudah kenal karena sama-sama jadi anggota English Club di Malang, tapi belum ‘dekat’ aja sebelum khitbah.

Memahami Bahasa Cinta

            Akan tetapi jika ditanya apa resep awet sehingga bisa mempertahankan pernikahan sampai 15 tahun? Maka daku malah bingung sendiri. Penyebabnya karena tidak ada resep saklek. Yang penting saling menyayangi dan meningkatkan ketaatan kepada Tuhan YME.

                                    Generated by Gemini

            Apakah masih saling cinta? Masih dong! Daku selalu memanggil suami dengan sebutan SAYANG. Sementara beliau saving nomorku di HP dengan nama: Tweety, wkwkwk. Itu panggilan sayangku.

            Setelah melalui 15 tahun bersama, maka ada satu yang daku sadari: perbedaan bahasa cinta. Daku lebih ke Untuk macam-macam bahasa cinta klean cari sendiri sajalah di Google!

Words of Affirmation

Bahasa cintaku adalah words of affirmation. Tak heran Saladin selalu dipanggil ‘sayang’ atau ‘cah bagus’, atau ‘halo orang kaya!’ Bisa jadi love language ini meniru papa, yang bahkan beliau sudah menikah selama 42 tahun dan masih mesra saat memanggil mama.

                                                Gnerated by ChatGPT

Suami mungkin awalnya kaget saat dipanggil dengan sebutan ‘sayang’ (Setelah kami menikah). Bisa jadi karena beliau berasal dari keluarga yang terlalu blak-blakkan. Lucunya, pernah daku memanggil dengan sebutan ‘sayang’ eh Saladin dan ayahnya menengok bersamaan. Siapa nih yang dimaksud? Satuu duaa tigaa sayang semuanyaaa.

Act of Service

            Akan tetapi ayahnya Saladin memiliki bahasa cinta yang berbeda yakni act of service. Daku sempat bingung beliau cinta apa enggak sih? Kok di awal pernikahan senyum-senyum tapi jarang banget memuji istrinya?

                                    Generated by ChatGPT

            Ternyata love language-nya memang berbeda. Beliau mengekspresikan kasih-sayang dengan action. Misalnya membuatkan rak buku dan meja kerja ketika kami pindah ke rumah baru. Beliau juga langsung membetulkan saluran air dan membetulkan lantai beberapa bulan sebelum rumah itu dihuni, sehingga membuatku merasa nyaman. Bahkan kemarin juga ada manga podang dari kebun mertua, karena tahu itu buah kesukaanku.

Kesimpulannya Adalah

            Salah satu cara untuk memahami suami / istri adalah mengetahui bahasa cintanya. Tidak usah ngambek kalau memang merasa tidak dicintai, siapa tahu memang love language berbeda. Kalaupun belum paham coba deh konsultasi ke psikolog atau konselor pernikahan.

Resep Awet Pernikahan

            Tambahan: ini beberapa tips dari kami agar pernikahan berlangsung dengan awet:

Jujur, meningkatkan ketaatan kepada-Nya, sabar, dan saling memahami. Jika memang ada yang kurang sreg maka bisa dibicarakan baik-baik. Bukan dengan cara ngambek atau kabur-kaburan. Tambahan: tips dari Uni Dian Onasis, kalau kesal dengan pasangan, coba ingat kebaikannya.

            Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar tapi kalau dijalani bersama kok rasanya cepat aja, hahahah. Kami sudah menghuni 3 rumah di 3 area yang berbeda (meski masih satu kota). Bertahan dengan satu anak (karena alasan kesehatanku). Beliau mengajari bahwa cinta bukan hanya dikatakan tapi juga dilakukan alias walk the talk.

Minggu, 19 Oktober 2025

14 Tahun Menikah Tanpa Tepuk Sakinah

 

Tepuk sakinah? Lagi viral di sosial media dan kalau mau lihat gerakan di videonya, cari sendiri ya. Tapi kali ini daku bukan mau cerita tepuk sakinah, melainkan perjalanan selama 14 tahun+ nikah dengan ayahnya Saladin. Meski agak telat karena wedding anniversary udah September kemarin. Enggak apa-apa kan, better late than never.

Kalau dihitung sejak 2011 sampai 2025 berarti 14 tahun bersamanya, dan sebelum nikah enggak pacaran. Lama juga ya? Bener-bener enggak nyangka sudah lebih dari satu dekade dengan beliau. Padahal dulu tak pernah mikir kalau punya suami sepertinya.

Up and Down

Namanya hidup pasti ada pasang surutnya, anggap saja naik roller coaster. Kami sudah pernah mengalami beberapa tahun tinggal di rumah ortuku, di rumah ibu mertua, dan Alhamdulillah sejak tahun 2019 tinggal di rumah sendiri, cash keras tanpa bingung mikir setoran bulanan. Namun petualangan belum selesai.



Namanya punya suami pengusaha ya ada naik turunnya. Tapi daku ikut berjuang juga, bantu mengiklankan pisau dan produk lain yang dibikin oleh suami. Hampir sama seperti dulu saat kami punya bisnis percetakan, beliau di bagian produksi dan daku bagian pemasaran.

Menanggulangi Masalah Berdua

Lantas apa yang terjadi selama 14 tahun dan ada gelombang yang menerjang? Jika manusia hidup pasti ada masalah. Yang penting tenang dan berusaha diatasi berdua. Jadi jangan pernah merasa sendiri, dan kalau diterjang bersama-sama, masalah pasti akan selesai.

Intinya jangan mudah emosi dan malah bertengkar saat ada masalah. Bukannya menyelesaikan problema malah tambah runyam. Sabar, sabarr, sabarrr, kalau ada problema jangan dikit-dikit ngadu ke mertua.

Memikirkan yang Tak Kupikirkan



Salah satu nasehat dari kakak online adalah selalu mengingat kebaikan suami. Lalu mikir, oh ternyata beliau selalu mengalah dalam hal makanan (ngasih jatah nasi kotak / jumat berkah ke daku dan Saladin). Beliau juga mikir masa depannya Saladin misalnya dengan mencarikan guru les (padahal daku enggak pernah kepikiran gini, karena terlalu yakin kalau bocah bisa belajar sendiri).

Memperbaiki yang Tak Bisa Kulakukan Sendiri

Apa fungsi suami ketika beliau work from home? Salah satunya adalah memperbaiki rumah. Karena ini hunian sudah lama berdiri maka wajib direnovasi. Beliau juga yang inisiatif memperbaiki pintu, tempat cuci piring, dll.

Memang bahasa cinta kami berbeda. Daku lebih ke words of affirmatinon dan giving. Sementara beliau act of service. Nah, memperbaiki rumah ini salah satu bentuk perhatiannya. Jadi emang enggak boleh ngambek karena merasa suami tidak romantic, padahal love language-nya beda, dan harus dipahami.

Mengatasi Berbagai Perbedaan

Dengan berbagai perbedaan yang ada maka tercapai satu pemahaman dan kesepakatan. Jika ada perbedaan maka tak perlu jadi bahan pertengkaran (kecuali dalam hal penting seperti religion). Kecuali hal yang tidak bisa ditoleransi (misalnya istri orangnya ‘lurus’ sementara suami berbuat kriminal), ngeri beudd dah.

Jadiii, inti dari pernikahan selama ini adalah SABAR. Beneran deh. Daku berkaca dari nenek dan kakekku yang menikah selama hampir 60 tahun. Benar-benar sampai maut memisahkan.

Senin, 14 Oktober 2024

Jangan Jadikan Istrimu Pelayan

 Beberapa hari lalu daku baca salah satu utas viral di media sosial. Sengaja tidak di-upload screenshot utasnya karena belum izin ke pengirimnya. Inti dari utas begini: apakah masih ada suami yang tiap hari disiapkan baju dan keperluannya untuk kerja? Suami yang menahan lapar karena istri masih belum pulang kerja dan menunggu untuk dimasakkan?

Reaksiku: haaah hari gini? Di era modern dan high tech masih ada suami yang menuntut istri untuk melayani dirinya. Emangnya suami tidak bisa ambil baju sendiri sebelum berangkat ke kantor?

                                                  Pexels

Well, sebenarnya judul awal tulisan ini adalah: Istri yang Dituntut untuk Melayani Suami dan Suami yang Tidak Bisa Apa-Apa saat Ditinggal Istri. Namun kuganti karena terlalu panjang. Mari kita kembali ke topik awal.

Lantas kalau istri tidak ada, suami tidak inisiatif beli lauk di warung atau beli nasi goreng. Jadi kalau istrinya datang bisa langsung makan bersama. Atau minimal masak nasi dan bikin telur dadar, toh menanak nasi pakai rice cooker juga gampang.

Sebatas Mana Melayani Suami?

Gara-gara utas yang viral itu daku jadi mikir memangnya sebatas apa istri yang melayani suami? Tiap rumah tangga beda-beda aturannya ya, jadi memang  tergantung kesepakatan.

                                                 Pexels

Tapi menurutku kalau suami menuntut untuk dimasakkan istri, sementara istri bekerja dan tidak disediakan khadimah (asisten rumah tangga) atau tidak ditransfer uang elektronik buat beli lauk, ya ngenes….

Bab melayani suami ini daku baru belajar tahun 2011 alias langsung diajari oleh ibu mertua. Aturan pertama: mengambilkan nasi untuk suami, yang kedua bikinkan kopi tiap pagi. Yang ini menurutku masih wajar karena memang suami lebih suka nasi dingin.

                                    Pexels

Akan tetapi kalau ada tipe suami yang minta apa-apa dilayani istri kok jadi gimana gitu. Seperti contoh yang disebut di awal (istri yang nyiapin baju suami). Mosok kalah dengan anaknya yang masih SD? Yang sudah relatif mandiri dan bisa ambil baju seragam dan menyiapkan tasnya sendiri?

Istri Adalah Ratu Rumah Tangga

Jangan lupa kalau istri itu ratu rumah tangga. Walau istri ibu rumah tangga atau wanita karir, tapi dia RATUnya. Jangan terlalu menuntut istri untuk melayani sampai segitunya. Apalagi jika uang belanja masih pas-pasan.

Ingat yaa, KALAU MAU SUAMI DIRAJAKAN ISTRI HARUS DIRATUKAN. Beneran gemessss sampai capslock jebol gini.

                                   Pexels

Jika mau dirajakan?  Sediakan ART untuk meringankan tugas istri. Kalau tidak mau ada ART dengan alasan privacy? Belikan robot vacuum cleaner, mesin pencuci piring, dan perangkat lain yang bisa meringankan tugas istri. Atau langganan katering dan laundry.

Suami yang ‘Lumpuh’ saat Istrinya Tiada

Setelah baca utas yang bikin gemes, daku baca utas lain (yang dibuat oleh netizen lain). Ceritanya, ada suami yang baru saja kehilangan istri untuk selamanya. Suami sedih, linglung, dan  bingung karena sebelumnya urusan rumah di-handle oleh istri.

                                                       Pexels

Jadi ketika istri meninggal, suami tidak bisa apa-apa. Tidak tahu jadwal pelajaran anaknya, seragam sekolahnya yang mana dan untuk hari apa, tak tahu urusan dapur sama sekali, dll.  Nah kan, kalau istri sudah tiada dan suami terbiasa dilayani, jadi bingung sendiri.

Mendidik Anak Laki-Laki untuk Mandiri

Memang betul ya kalau anak, terutama anak laki-laki, harus diajari untuk mandiri  sejak dini. Jadi ketika dia dewasa dan menikah, tidak akan merepotkan istri. Dia bisa bekerja sama dengan baik dan tidak menuntut untuk dilayani.

Anak laki-laki yang biasa menyapu dan mengepel sejak kecil, akan melakukannya sampai dewasa. Toh rumah yang dihuni kan milik bersama, dan si boy yang kini sudah dewasa bebersih karena memang tanggung jawabnya. Bukannya main perintah ke istri, padahal istrinya sedang repot menyusui atau melakukan kegiatan lain yang lebih urgent.

                                                   Pexels

Ingat ya, Pak! Melakukan tugas rumah tangga seperti menyiram tanaman atau menyapu teras itu bukan hal yang tabu. Bukankah menikah adalah cara untuk bekerja sama bukannya tuntutan dan penyiksaan untuk istri? Jangan sampai menyesal ketika istri tiada lalu tidak bisa apa-apa….

 

Senin, 16 September 2024

13 Tahun Bersamanya

 Lebih dari 1 dekade kami mengarungi pernikahan. September ini, tepatnya tanggal 16, menjadi momen pengingat. Bahwa 13 tahun lalu kami mengucap janji suci di depan penghulu. Ijab Kabul yang menggetarkan kalbu sekaligus membuatku hampir tak percaya, mengapa daku secepat ini menikah dengannya?



Apa yang ingin kuungkapkan bukan mengenai pernikahan jalur taaruf. Namun ke pengalaman selama 13 tahun. Iya, tidak terasa, 13 tahun? Dan masih bertahan sampai sejauh ini?

Naik dan Turun Selama 13 Tahun

Jika pernikahan menjadi gerbang bernama “kehidupan yang sebenarnya” maka daku bisa berkata iya. Belajar me-maintain uang dengan baik. Belajar merawat anak sendiri.



Anak yang spesial dan bikin daku ingin nyanyi lagu poco-poco alias Cuma ngana suka bikin pusing.

Read: Tuhan, Mengapa Anakku Berbeda?

Namun tak apa-apa. Jika daku tidak punya anak ‘ajaib’ seperti Saladin, mungkin tidak akan belajar sabar. Tidak akan belajar mengenai pengendalian emosi, mindfulness, belajar aksara (karena dia hobi belajar bahasa dan huruf asing), belajar masak, dll.

Pernikahan dan Patriarki

Kembali ke topik pernikahan. I’m not a feminist tapi kurang setuju dengan patriarki. Namun apa yang terjadi? Malah dapat ‘kuliah’ dari para tetua mengenai cara melayani suami.



Mulai dari mengambilkan makan (lengkap dengan lauknya) sampai memperlakukannya dengan baik. OK, daku berkaca dari mama dan papa (yang sudah menikah lebih dari 30 tahun). Walau mama tidak makan tetapi tetap menemani papa makan sambil mengobrol.

Read: Menikah Adalah Cara Kehilangan Diri Sendiri?

Akhirnya daku bikin peraturan untuk diri sendiri. Selain membuatkan kopi tiap pagi, juga mengambilkan nasi untuknya (karena beliau suka nasi dingin). Untungnya ya selera kami sama (dan mungkin kurang lazim bagi sebagian orang) karena sama-sama tidak suka pedas, pete, duren, dan jengkol. Jadi untuk masalah lauk, aman.

Read: 12th Wedding Anniversary

Apakah ini yang dinamakan patriarki? Well, sebenarnya ini caraku untuk me-maintain kasih sayang. Bahwa segala yang kulakukan untuknya adalah demi merawat pernikahan. Bukan karena takut atau disuruh orang lain.



Jika daku mencintainya karena Tuhan, maka daku berusaha dengan baik. Lagu Cintai Aku Karena Allah bukan sekadar lagu. Namun ada makna yang dalam sekali.

Sudah, sekian cerita wedding anniversary-nya. Jika ada yang bilang bahwa menikah adalah seni mengalah maka daku bilang, ‘sama-sama mengalah’ alias jangan hanya istri yang disuruh ngalah. Kalau ini sih seringnya suami yang mengalah, alias kalau dapat 1 nasi kotak, maka dikasihkan ke daku dan Saladin.

Satu lagi pesan dari seorang kawan, “Kalau kesal dengan suami, ingat-ingat kebaikannya”. Pernikahan memang kompleks tapi jika dijalani dengan ikhlas maka akan terasa ringan. Semoga kita selalu bahagia, apapun kondisinya.

Senin, 19 Agustus 2024

Menikah Adalah Cara untuk Kehilangan Diri Sendiri? Jangan ya Dek!

 Belakangan viral screenshot komentar netizen mengenai pernikahan. Intinya kalau menikah, wanita harus siap kehilangan diri sendiri. Enggak bisa bebas berekspresi seperti dulu.

Masak sih? Hari gini? Eeeh apa ini korban patriarki. I am not a feminist tapi jelas menentang patriarki yang merugikan. Kalau kamu?



Kembali ke topik semula. Apa benar dengan menikah maka wanita jadi kehilangan jati diri? Kalau dipikir-pikir, setelah nikah nama juga berubah. Namaku berubah jadi Bu Aji (mengikuti nama suami).

Sementara setelah punya anak daku juga punya nama panggilan lain yakni Bunda Saladin. Yang terkenal anaknya bukan bundanya wkwkkw. Kalau nama blog dan IG emang pakai Bunda Saladin karena jujur nama asliku susah Avizena Elfazia Zen.



Setelah punya 2 nama baru lantas mikir daku tuh siapa? Apa hanya pantas menjadi istri atau ibu seseorang? Jangan sampai kehilangan diri sendiri, ah!

Pentingnya Memilih Suami yang Tepat

Oleh karena itu, seorang gadis wajib memilih calon suami yang tepat sebelum terlanjur akad nikah. Jika suaminya baik dan demokratis maka akan memperbolehkan istrinya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan di luar (dalam konteks yang positif) atau mendukung istrinya untuk kuliah lagi. Mau kursus masak, baking, kursus rias, juga boleh.

Read: Suami Jago Masak

Pertanyaan untuk Calon Suami

Lantas bagaimana cara memilih calon suami yang tepat? Well, menikah bukan seperti memilih kucing dalam karung ya karena maunya kan bersama dia sampai maut memisahkan. Makanya wajib untuk selektif dan teliti dalam menyelidiki calon suami. Tujuannya untuk melihat apa dia punya bibit-bibit posesif atau justru demokratis sehingga istri tidak merasa kehilangan diri sendiri.



Makanya wajib kasih banyak pertanyaan ke calon suami. Visi dan misi hidup, apa istri dibolehkan kerja? Nanti anak dimasukkan daycare atau hire babysitter, dll. Jangan sampai visi dan misi hidup beda jauh sehingga pernikahan malah jadi asem, enggak manis sama sekali.

Baca: Pilih Daycare atau Babysitter

Kalau sudah kenal dekat ya kita main detektif-detektifan aja. Lihat semua sosial medianya, apa ada status yang bikin ilfil? Apa pernah berbuat kejahatan / a-su-sila? Bisa dilihat sebenernya kalau dia itu red flag atau bukan.

Bagaimana Jika Sudah Terlanjur Menikah?

Kalau sudah kadung nikah gimana? Yaa kadang ada sifat-sifat suami yang baru ketahuan setelah akad. Nyesek? Mau enggak mau kudu sabar dan adaptasi, selama tidak melanggar aturan ya wajib ditaati.



Kalau sudah terlanjur maka yang dilakukan adalah merayu. Hahhaaa pakai jurus rayuan biar suami luluh dan mengizinkan istrinya untuk berkegiatan. Karena dengan cara ini istri tidak akan kehilangan diri sendiri dan tetap enjoy meski harus menjalani rutinitas (sebagai IRT atau wanita karir).

Jalankan Hobi agar Tetap Menjadi Diri Sendiri

Kesimpulannya, istri harus tetap menjalankan hobi dan ikut kegiatan yang dia suka. Tujuannya agar tidak kehilangan diri sendiri. Oleh karena itu jadi suami tuh kudu tahu diri eh maksudnya wajib demokratis. Kasihan istri kalau merasa terkekang sehingga kehilangan dirinya sendiri dan merasa pernikahan adalah awal dari penderitaan.

Rabu, 19 Juni 2024

Suamiku Tidak Peka, Aku Harus Bagaimana?

 Pernah gak sih merasa suami kurang peka?

 

Sekujur badan terasa sakit, kepala pusing, perut pun begah. Rasanya tubuh rontok karena PMS. Namun, suami bukannya memijati, malah asyik main game di HP. Bunda, pernah merasakan hal ini? Lantas bertanya-tanya, mengapa suamiku tidak peka, mengapa dia enggak memahamiku?

 
                                        Pexels

 

Sebenarnya, Bunda juga wajib paham jika laki-laki itu lebih memakai logika daripada perasaan. Jadi, amat wajar kalau mayoritas suami kurang peka terhadap keadaan istrinya. Sabar ya. Daripada ngambek berhari-hari, lebih baik Bunda melakukan beberapa hal di bawah ini.

 

1. Bicara Terus Terang

 

Kalau Bunda ingin agar suami mengerti, mengapa tidak bicara apa adanya? Kalau sedang lelah, bisa minta tolong dipijit dan dibuatkan teh hangat. Sementara kalau uang belanja hampir habis, lebih baik minta baik-baik. Daripada cemberut lalu banting piring, lebih baik ngomong to the point, bukan?

 

Ingat bahwa suami bukan cenayang yang tahu mengapa istri tiba-tiba bikin sambal super pedas lalu manyun seharian. Bicara terus terang ke suami sendiri kan tidak ada salahnya. Setelah ngomong, perasaan akan lega karena Bunda sudah mengutarakan isi hati.

 

2. Cari Waktu yang Tepat untuk Bicara

 

Kapan waktu yang tepat untuk bicara dengan suami? Bunda jangan merepet saat beliau sedang buru-buru berangkat kerja atau kelelahan saat pulang lembur. Nanti bisa ada perang dunia ketiga di dalam rumah. Harus lihat-lihat situasinya, ya.

 

Bunda bisa bicara dengan suami saat dalam keadaan santai. Misalnya setelah makan malam, saat minum teh sore, atau sebelum tidur. Bicara sebelum tidur alias pillow talk ampuh untuk mengeratkan kembali hubungan antara suami dan istri. Coba deh praktekkan dan rasakan relationship yang lebih erat.

 

3. Kirim Surat

 

Kalau Bunda malas ngomong, lebih baik mengungkapkan perasaan dalam sepucuk surat. Di zaman modern ini, tidak ada salahnya menulis surat ke suami sendiri. malah dalam surat, bisa mengungkapkan apa saja yang ada di dalam lubuk hati yang terdalam. Suami akan kaget karena mendapat surat cinta dari istri tersayang dan membacanya karena penasaran.

 

4. Berbalas WA

 

Bagaimana kalau Bunda capek menulis manual? Kirim saja pesan melalui WA ke suami, nanti kan beliau baca dan membalasnya. Dengan mengirim WA, maka beliau akan tahu sebenarnya Bunda ingin apa, tidak suka hal tertentu, dll. Akhirnya jadi clear dan bebas dari miskomunikasi antara suami dan istri.

 

5. Memberi Tahu dengan Memuji Terlebih Dahulu

 

Bunda, pernah dengar istilah bahwa ‘ego laki-laki itu tinggi’? Coba bicara baik-baik dengan memujinya terlebih dahulu. Misalnya saat mesin cuci rusak dan berkali-kali diperbaiki, tetapi kumat lagi. Puji suami dengan sebutan ‘si ganteng’, baru utarakan keinginan untuk beli mesin cuci baru. Yakin deh, nanti beliau akan membelikannya dengan senang hati.

 

6. Buang Gengsi Jauh-Jauh

 

Saat akan ngomong dengan suami, Bunda wajib membuang gengsi jauh-jauh. Bicara itu untuk komunikasi, agar menjauhkan dari kesalahpahaman. Mengajak bicara terlebih dahulu bukan berarti harga diri jadi turun. Bagaimana suami tahu keinginan Bunda jika tidak diungkapkan? Gengsi? No way!

 

Sebenarnya, memiliki suami yang tidak peka itu merupakan 90% masalah dari para istri. Karena mereka memang berbeda dari wanita yang perasaanya lebih halus. Saat suami kurang peka, jangan malah banting pintu atau membuatkan kopi hitam tanpa gula. Namun, Bunda bisa mencoba untuk bicara baik-baik, atau menulis surat tentang apa saja yang mengganjal di dalam hati. Yuk kita belajar komunikasi positif.

 

 

Jumat, 15 Maret 2024

Mengapa Harus Ibu yang Mengalah?

 

 “Mengapa harus aku yang slalu mengalaaah?”

Bacanya sambil nyanyi wkwkkw. OK, back to the topic. Pernah enggak sih klean yang berstatus ibu merasa capek karena…mengalah lagi dan lagi.



Bagaimana tidak capek kalau mau buka puasa aja eh malah digelendotin ama bocil. Baru minum, anak merengek-rengek. Akhirnya terpaksa gantian dengan ayahnya alias nunggu beliau selesai makan dulu, baru bisa berbuka.

Ibu yang Terus-Menerus Mengalah

Contoh lain adalah saat di rumah ada beberapa potong lauk. Ayah sebagai kepala keluarga biasanya milih dada ayam yang ukurannya paling besar. Anak-anak makan bagian sayap atau paha.



Sementara ibu? Lagi-lagi ibu dipaksa untuk mengalah dan hanya makan ceker atau brutu. Huaaa, padahal dia yang masak?

Situasi ini relatif ‘normal’ di keluarga yang hidup di tahun 1980-an atau sebelumnya. Amatlah ngenes kalau di tahun 2024 masih ada yang begini. Ibu adalah cahaya di keluarga, bukan pembantu yang Cuma dapat makanan sisa!

Suami Kudu Sadar Diri

Lalu bagaimana cara mengatasi situasi buruk alias ibu yang jadi sakit hati karena terus-menerus mengalah? Kuncinya ada di peranan suami. Oleh karena itu jangan sampai salah pilih pria untuk dijadikan suami yaa.



Seorang wanita butuh laki-laki yang mendukungnya, yang selalu menomorsatukannya. Suami yang sadar diri akan tanggap lalu gantian menjaga anak (yang masih kecil atau bayi) ketika istrinya akan makan. Suami yang waras tidak akan egois, misalnya makan sampai kenyang tetapi istrinya masih kelaparan.

Utamakan Kesehatan Ibu

Ketika ibu yang sudah mengorbankan tenaga, waktu, pikiran, dan segala kasih-sayangnya untuk keluarga, maka jangan sampai ia dipaksa untuk mengalah. Tolong lah, kalau enggak ada ibu, semua berantakan, bukan? Jadi ibu wajib diutamakan terutama untuk kesehatannya.



Kesehatan fisik ibu tentu sangat penting, oleh karena itu pastikan suami dan anak-anak paham dan mengutamakan sang ibu. Jika ibu lapar maka silakan makan, sementara anak-anak sudah terlatih untuk mengambil piring dan nasi sendiri. Jangan semuanya dikit-dikit minta dilayani.

Me Time Bukan Egois

Lalu bagaimana dengan kesehatan mental ibu? Salah satu cara menjaganya adalah dengan me time rutin. Yaa sebenernya versi me time seseorang itu beda-beda yaa.



Ada wanita yang suka nonton bioskop sendirian, ngopi sendirian, beli buku atau ke perpustakaan. Ada juga yang me time dengan perawatan di salon atau spa. Sebenarnya, me time cukup 1-2 jam dan setelah itu pikiran jadi segar.

Ibu Bahagia, Anak Juga Bahagia

Mengapa ibu harus bahagia dan dilarang untuk terus-menerus mengalah? Karena ibu yang bahagia akan membuat anak-anak juga bahagia. Begitu juga dengan ayahnya.



Jangan sampai ibu disuruh mengalahh terus dengan alasan ayah sudah capek mencari uang (padahal jadi ibu juga tak kalah capeknya). Kalau ibu stress dan sakit (secara fisik dan mental) maka akibatnya buruk. Ibu akan terus marah-marah dan akhirnya anak yang kena getahnya.

Oleh karena itu please deh, jadi suami yang aware akan kesehatan (fisik dan mental) istrinya. Istri adalah RATU RUMAH TANGGA bukan PRT gratisan yang bisa disuruh-suruh dan dipaksa ngalah terus. Kalau memang ada lelaki yang belum bisa mengalah dan memuliakan wanita, mending jangan nikah dulu.

 

Sabtu, 10 Februari 2024

Siapa Bilang Istri Gak Boleh Manja?

 Kemarin daku terperanjat ketika ada berita mengenai seorang artis ehh youtuber sihh diaa. Katanya dia dijauhi karena suka manja dan ngambek ke suaminya. Siapa sih? Cari sendiri ahh di Google eh ada clue di bawah ini:



Daku bukan mau ngomongin artis itu tapi lebih menitikberatkan ke kata manja. Sepertinya yang bikin berita itu cowok deeeh dan dia anti banget lihat cewek manja. Lahh belum tahu dia kalau istri tuh BOLEH BANGET manja.

Ketika Daku Diketawain Karena Manja

Beberapa tahun lalu daku pernah diketawain ama seseorang. Penyebabnya karena saat itu daku minta tolong suami untuk membukakan rambutan. Lahh buah rambutan kan agak susah dibuka (kecuali kalau pakai pisau ya), dan jalan ninjanya adalah minta tolong ke hubby.



Kok bisa malah diketawain dan dianggap manja? Yaa sudahlah mungkin dia tidak bisa bersikap manja ke pasangannya sendiri atau lagi capek aja. Lahh daku tuh terbiasa manggil paksuami dengan sebutan sayang, bahkan di depan umum lho. Bukan berarti terlalu manja, kan?

Istri Boleh Manja, Asal….

Istri boleh manja? Boleh! Manja bukan salah satu tanda kelemahan, dear. Istri yang manja, yang minta dipeluk, suka nggelendot, bisa jadi dia punya bahasa cinta physical touch.



Istri yang manja, yang minta diantar ke mana-mana (padahal bisa bawa motor atau mobil sendiri). Yang minta ditransfer pulsa atau saldo dompet elektronik. Yang minta dibawain barang belanjaan, minta tolong diangkatin gallon air, itu SANGAT NORMAL.

Istri boleh manja asal ke suami sendiri bukan ke orang lain.

Waspada Jika Istri Hilang Kemanjaannya

Justru ketika istri sudah bisa ke mana-mana sendiri, bisa ganti gas sendiri, lalu gak pernah manja ke suaminya itu wajib diwaspadai. Haduuh, gimana?

Iyaa lah kalau suaminya gak mau bantu apa-apa di rumah, gak mau antar jemput istrinya, gak mau manjain dengan alasan istrinya sudah mandiri maka berbahayaa. Keadaan kayak gini bisa bikin ilfil lho. Buat apa punya laki kalau gak bisa dimintain tolong?



Bukaan, bukan marahin ama istri yang mandiri. Cuma sebagai wanita pasti ada sisi manjanya, pasti ada momen minta tolongnya. Please deh laki-laki kalau memang tidak bisa sensitif dengan keadaan wanita, minimal bilang IYA ketika istrinya minta tolong, saat dia gelendotan ya dicium lah. Jangan malah dimarahin dengan alasan istri gak boleh manja (minta digetok pakai palu).

What do you think?

Sabtu, 07 Oktober 2023

Review Film Hati Suhita, Ketegaran Seorang Wanita Muda

 Judul: Hati Suhita

Sutradara: Archie H

Pemain:

Nadya Arina (sebagai Alina Suhita), Omar Daniel (sebagai Gus Birru), Anggika (sebagai Rengganis), Ibrahim Risyad (sebagai Dharma), Dessy Ratnasari (sebagai Umi – ibu mertua Suhita), David Chalik (sebagai ayah mertua Suhita), Widyawati (sebagai nenek Suhita)

Penata musik: Tya Subiakto

Diadaptasi dari novel karya Khilma Anis

 

film Hati Suhita

Siapa yang udah baca novel Hati Suhita?

Begitu tahu novelnya dibikin film, daku langsung antusias. Namun sayangnya baru bisa nonton di bulan Oktober ini.

Hati Suhita menceritakan kisah yang sebenarnya klasik yakni perjodohan tetapi latar belakangnya pesantren sekaligus budaya Jawa.

Jadi, Suhita adalah nama ratu di kerajaan Jawa kuno. Alina Suhita diharap menjadi wanita Jawa yang tangguh dan memenangkan peperangan. Tetapi sekaligus patuh karena ia dibesarkan di pesantren (ayahnya seorang ulama).

Hati Suhita Khilma Anis

 

Sejak remaja Suhita sudah dijodohkan dengan Gus Birru. Perjodohan ini disengaja karena ortu dan mertua Suhita sama-sama pemimpin pesantren, dan diharap Suhita kelak (ketika lulus mondok) bisa menjadi pemimpin pesantren.

Kok yang mimpin wanita?

Pesantrennya emang beda karena mengajarkan persamaan hak antara pria dan wanita. Lagipula Gus Birru, anak tunggal sang kiai di pesantren, lebih tertarik berbisnis (punya kafe) dan aktif di pergerakan di luar lingkungannya.

Suhita yang Cerdas

Sejak awal film diperlihatkan Suhita yang jadi kesayangan orang tuanya, kakek-neneknya, serta kedua mertuanya. Umi (ibu mertuanya) menganggap Suhita seperti anak kandungnya sendiri. Sedangkan bapak mertuanya senang sekali dengan masakan Suhita.

Alina Suhita


 

Suhita diplot jadi pemimpin pesantren karena memang cerdas. Dia tak hanya pintar mengaji, menguasai kitab kuning dan kitab-kitab lain. Tapi juga ingin memajukan pondok pesantren dengan modernisasi dan ditambah dengan perangkat pendukung.

Gus Birru yang ‘Menggemaskan’

Tapii sayangnya Suhita belum bisa mengambil hati Gus Birru (Gus adalah sebutan untuk anaknya kiai). Si Birru ini ganteng, pintar, pebisnis, dan dari keluarga baik-baik. Suami idaman lahh.

Birru tidak mau mencintai Suhita karena ia sebenarnya memiliki kekasih bernama Rengganis. Mereka sama-sama aktif di pergerakan. Gus Birru protes, dia sering menyuarakan kebebasan berpendapat, tetapi tidak bebas memilih istrinya sendiri. Dia terpaksa dijodohkan demi mematuhi orang tuanya.

Gus Birru

 

Akhirnya Suhita dicuekin sejak malam pertama. Bahkan di hari lain, ketika dia sengaja menggoda (pakai baju seksoy) Birru juga tetap dingin.

Kasian banget yaa. Ajaibnya Suhita  enggak marah atau protes. Dia tetap menghadapi suaminya dengan sabar. Berakting (di depan mertuanya) seolah semuanya baik-baik saja.

Gus Birru Mulai Melunak

Titik balik dari hubungan Suhita – Gus Birru adalah ketika si Birru sakit parah, ternyata kena tipes. Suhita bergegas membawa suaminya ke RS. Di sana ia menunggui dan menyuapi dengan sabar banget, walau Gus Birru masih ‘dingin’ (sekaligus ngeselin).

Tapi Gus Birru lama-lama paham mengapa Suhita yang dijodohkan dengannya. Karena ia wanita yang benar-benar cerdas dan memahami hampir semua buku yang ada di perpustakaan pribadinya. 

Suhita dan Gus Birru

 

Awalnya tuh si Birru nuduh Suhita mau-mau aja dijodohkan demi kekuasaan (karena otomatis dia jadi pemimpin pesantren setelah nikah). Astagaaa! Kok bisa pikirannya kayak gitu!

Padahal Suhita yang berhasil mendamaikan Gus Birru dengan ayahnya. Kedua mertuanya diajak ke kafe milik Birru lalu sang ayah sadar bahwa anaknya telah jadi orang sukses, dan tidak meninggalkan misi akhirat. Karena di kafe juga ada tempat solat-nya.

Rengganis yang Galau

Penonton dibikin gemas dengan Rengganis yang masih belum rela Gus Birru menikah dengan wanita lain, dan sering menelepon. 

Rengganis

 

Gus Birru juga masih ngarep dan ngajak ketemuan, bahkan bekerja sama membuat majalah. Di film ini ditampakkan Rengganis selalu memakai kerudung merah  (sebagai tanda antagonis?)

Ada Dharma

Ada lelaki bernama Dharma yang sepertinya diam-diam naksir Suhita. Jadi ini bukan cinta segitiga tapi segi-empat. Apakah Suhita  mempertahankan Gus Birru meski dicuekin? Atau melepaskannya lalu menerima Kang Dharma? Nonton sendiri yuk!

Peranan Para Artis Senior

Di film Hati Suhita ada beberapa artis senior seperti Widyawati, Dessy Ratnasari, dan David Chalik. Acting Teh Dessy bagus banget dan bisa beradaptasi sebagai ibu-ibu Jawa (meski bukan orang Jawa). 

Dessy Ratnasari Suhita

 

Sedangkan David Chalik sukses berperan sebagai bapak mertua yang sabar tapi tegas. Terakhir kali daku nonton Mas David di film Ranah 3 Warna sebagai bapaknya Alif (yang orang Padang). Tapi di film Hati Suhita beliau juga berhasil acting jadi kiai di Jawa.

Novel vs Film

Nahh karena merupakan film adaptasi maka ada sedikit perbedaan antara novel dan filmnya. Daku udah baca setengah novelnya dan merasa kalau di buku, Gus Birru lebih ngeselin. Jadi Suhita lebih makan ati.

Sinopsis film Hati Suhita

 

Tapi yaa namanya film adaptasi, wajar kalau ada perbedaan, dan kalau tidak melenceng dari inti cerita ya gakpapa sih. Kalau klean mau baca tentang film adaptasi coba deh meluncur ke blognya Bang Raja Lubis karena beliau pernah menulis tema ini.

Apresiasi daku berikan ke Mbak Tya Subiakto karena telah menata musik di film Hati Suhita dengan begitu bagusnya. Sesuai banget dengan filmnya (drama). Daan daku baru lihat di IG plus tahu info, kalau yang memainkan biola di beberapa scene di film ini adalah Haloterong alias Nahla. Ada yang pernah main ke blognya Nahla? 

Jadi gimana, masih mau nonton film Hati Suhita? Atau cukup baca bukunya?