Tampilkan postingan dengan label a day in my life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label a day in my life. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2026

A Day in My Life: Semangkok Mie Ayam dan Segunung Harapan

 

            Halo, kembali lagi di konten a day in my life episode kesekian. Cerita hari minggu, tanggal 6 September 2026, ketika mudik lokal alias ke rumah ortu yang ‘hanya’ selemparan permen. Karena jaraknya hanya 2,5 kilometer, hehehee.

            Hari minggu diawali dengan ngantuk karena sabtunya, Saladin baru tidur jam 1 pagi. Daku menemani melekan (walau ‘nabung’ tidur dulu setelah isya’). BTW Saladin ADHD ya dan memang rata-rata anak ADHD susah tidur.

                                                  Gnerated by ChatGPT

            Kami berencana naik taksi online dan berjalan sebentar ke minimarket (biar titik gampang ditemukan oleh driver). Tapi apa yang terjadi saudaraa-saudaraaaa? Aplikasi taksi telah dihapus oleh Saladin!

Hampir Saja

            Daku pun ngomel, kok bisa Saladin menghapus salah satu aplikasi penting di HP? Kemudian daku download app tersebut. Tapi ketika dibuka kok susah, sepertinya sinyal sedang tidak stabil.

Saat sedang asyik lihat HP (kami duduk di depan minimarket, di bangku yang disediakan), tiba-tiba ada MOBIL BOKS yang parkir! Astaghfirullah! Sopirnya itu gak mencet klakson dulu biar kami minggir. Jarak dari bagian depan mobil ke Saladin hanya satu meter!


                                                      Generated by ChatGPT

Untung saja parkirnya akurat, jadi Saladin tidak keserempet / kenapa-napa. Kalau saja Saladin kena maka daku bakal ngamuk berat, gak peduli sopirnya berbadan lebih besar. Lantas untuk menenangkan diri maka kami ngadem sebentar di dalam minimarket, sambil beli minuman.

Akhirnya Sampai

            Untung di dalam minimarket malah sinyal cukup bagus, dan dapat driver taksi online. Kami cepat-cepat membayar dan keluar lagi. Tak sampai 5 menit pak supir sudah sampai.

            Karena jarak dekat maka hanya 10 menit sampai ke rumah orangtuaku. Saladin langsung salim mbahnya dan ngacir ke lantai 2 (kamarku semasa gadis). Sementara daku naruh tas dan mengeluarkan bawaan berupa…singkong.

                                  By Ferdian W , Vecteezy

            Kamu suka singkong atau keju? Kebetulan kemarin lusanya suami dikasih buanyaaak singkong, jadi sebagian dijadikan kolak. Sedangkan sisanya dibawa saja ke rumah ortuku untuk dimasak di sana.

            Daku langsung gercep kupas dan potong singkong lalu mengukusnya, dan setengah bagian direbus dengan bumbu. Ini bumbunya, mirip kalau mengungkep ayam: bawang putih, garam, kunyit, dan ketumbar. Setelah empuk baru ditiriskan dan rencananya baru akan digoreng di sore hari.

Semangkok Mie Ayam di Siang Hari

            Jam 12:30 tiba-tiba ada tamu yakni sahabatku A, dan doski ngajak untuk makan bersama. Saladin kupamitin dan kami pun meluncur ke sebuah warung yang menjual mie ayam dan bakso. Letaknya cukup dekat dari rumah ortu, dan Alhamdulillah siang itu karnaval belum mulai. FYI, di Malang raya, karnaval dan sound horeg berlangsung sejak Agustus sampai Desember.


                                                  Pexels

            Sembari makan mie ayam ceker (A makan sepiring tahu campur) kami curhat-curhatan. BTW, A ini single mom yang sangat tangguh, dan daku sangat kagum akan semangat kerjanya. Benar-benar memotivasi dan menimbulkan harapan baru. Malah daku dapat tawaran jadi shadow teacher untuk anak ADHD tapi minta izin suami dulu lahh.

Read: A day in my life: belajar batik

            Setelah kenyang maka kami langsung cabut, tapi tidak pulang ke rumah ortuku. Melainkan lanjut ngobrol di rumah A sahabatku, sambil makan eskrim. Cuaca Malang di bulan September sedang panas-panasnya.

Goreng Singkong

            Sekitar sejam kemudian daku pamitan karena takut Saladin mencari bundanya. Alhamdulillah dia anteng, dan happy banget karena dikasih oleh-oleh eskrim 3 rasa. 



Seperti biasa dia request minta dibikinkan nasi goreng yang delicious, dengan bumbu: bawang merah, bawang putih, garam, saus tiram, margarin, kecap manis, dan sedikit minyak wijen.

Read: A day in my life: mudik dadakan

            Bikin nasi goreng sudah, saatnya mencuci panci bekas mengukus singkong, memanaskan ayam kecap (masakan mamaku), lalu menggoreng singkong. Urusan dapur beres dan adikku (yang masih bujang dan tinggal serumah dengan ortu) langsung happy. Kalau kakaknya datang dia pasti dibikinkan nasi goreng dan camilan juga.

            Masih ada waktu sebelum pulang jadi daku buka laptop dan blog walking sekejap. Namanya freelancer, mudik pun wajib bawa perangkat kerja. Bahkan dulu waktu masih WFH di sebuah agency, daku sudah menulis lagi di tanggal 2 Syawal, gas aja mah!

            Hari itu ditutup dengan pamitan ke ortu, naik motor (dibonceng adik) dan untung cuacanya cukup sejuk. Alhamdulillah Saladin tidak tantrum. Biasanya dia ngambek karena tidak mau pulang, kerasan di rumah mbah yang banyak makanan dan ada fasilitas water heater plus WIFI, hahahaha!

Selasa, 04 Agustus 2026

A Day in My Life: Nano-Nano Mudik

 

Akhir minggu klean ngapain aja? Kalau kami tiap sabtu atau minggu selalu mudik local alias mengunjungi rumah orang tuaku, yang masih satu kota, bahkan jaraknya hanya 2,5 kilometer. Saking dekatnya, Saladin pernah kuajak mudik jalan kaki dan dia enjoy aja.

Kembali ke cerita mudik. Tanggal 1 Agustus rencananya kami berangkat naik taksi online jam 7 pagi, karena jam 9 ada janji dengan seorang kawan. Jadi Saladin akan dititipkan sebentar ke rumah mbahnya. Tapi ternyata perjanjian itu batal dan akhirnya berangkat mudiknya geser jam 9:30.



Saladin selalu antusias saat mudik karena dia adalah cucu pertama di keluarga besar, dan selalu mendapatkan kasih-sayang yang lebih dari cukup. Malah sebenarnya dia minta untuk menginap juga, tapi tidak kukabulkan. Nanti sajalah di pertengahan bulan.

Mama Sakit

Ketika mudik kemarin maka daku shock karena mama terbaring lemas, beliau sedang sakit. Akhirnya dengan semangat daku menuju dapur untuk bantu masak dan menghasilkan: capcay ayam, ayam kecap, tumis terong, dan nasi goreng. Ternyata masak terong lumayan lama yaa dan memang daku sebenarnya tidak terlalu mahir masak sayur.

Saat semua sudah matang maka saatnya menyapu rumah, dan jam 12:30 baru bisa istirahat sebentar untuk makan siang. Baru saja ambil nasi eh Saladin keluar rumah sambil bawa HP-ku. Rupanya ada tukang jual susu keliling dan ia ingin beli, tapi….



Tapi entah kang susu cosplay jadi pembalap, ada suaranya tak ada orangnya. Saladin terus mengejar, berlari, dan daku ikutan panik. Untung ada kakeknya Saladin yang langsung mengejar dengan menggunakan sepeda motor dan Alhamdulillah nih bocah tertangkap. FYI Saladin ADHD yaa….

Daku mencoba untuk tetap tenang dan tidak ke-trigger karena sebelumnya Saladin sudah beberapa kali kabur dan ‘menghilang’. Memang punya anak ADHD itu  dar-der-dor. Sejutaa rasanya.

Dan Terjadi Lagi

Ini baru yang pertama karena ada lagi kelakuan Saladin di rumah kakeknya. Senja hari saat mau packing dan pulang, dia malah sembunyi di kamar omnya (adikku yang masih bujang). Padahal pintu kamar lagi error (harus diganti handle-nya).

Jadi sebenarnya pintu kamar tidak boleh ditutup rapat tapi karena kebiasaan di rumah, Saladin jadi menutupnya. Otomatis dia terkunci di dalam. Padahal sudah mau maghrib! Bagaimana ini?



Untung kunci kamar omnya tergantung di pintu kamar lain jadi bisa dipakai untuk membuka pintu. Saladin pun terselamatkan dan kami tidak jadi mendobrak pintu. Ada-ada saja bocah! Mana sudah mau maghrib!

Akhirnya kami pulang setelah maghrib dan Alhamdulillah Saladin tidak tantrum. Biasanya dia tuh ngambek, tidak mau pulang. Mengapa anak-anak selalu betah di rumah kakeknya? Ada yang tahu penyebabnya?

Sabtu, 25 Juli 2026

A Day in My Life: Belajar Membatik dan Saladin yang Anti Berisik

 

Sabtu pagi klean biasanya ngapain aja? Nah hari sabtu tanggal 24 Juli 2026, daku mendampingi Saladin MPLS di PKBM-nya. FYI, PKBM itu sekolahan tapi informal ya, dan akan dapat ijazah paket B (karena tahun lalu doi sudah lulus dari SD Alam).

Kembali ke topik a day in my life. Sabtu kemarin Saladin MPLS (walau sudah kelas 8 tapi wajib ikut). Alhamdulillah MPLS-nya enggak aneh-aneh (dipelonco), tapi diisi dengan kegiatan yaitu: mengenal batik. Jam 9 pagi kami sudah sampai di PKBM di daerah Blimbing, Kota Malang.

Ngambek

Namun apa yang terjadi saudara-saudaraaa? Saladin malah mutung dan tidak mau ikut kegiatan di dalam kelas. Dia lari dan sembunyi di gazebo tingkat yang terletak di dekat kelas. Memang sebagai anak ADHD dia sensitive banget terhadap suara, dan pagi tadi juga agak ngambek karena habis ditegur ayahnya.



Yaa bagaimana ini? Akhirnya daku yang masuk kelas dan kegiatannya sudah dimulai. Di screen diperlihatkan motif-motif batik dari Jawa Timur. Ternyata selain batik Madura ada juga batik khas Tuban dan Sidoarjo.

Belajar Motif Batik Jawa Timur

Kemudian para murid diberi buku tulis (khusus untuk kegiatan keterampilan) dan selembar kertas HVS ukuran A5. Mereka dipersilakan menggambar batik dengan mencontoh yang ada di screen atau bisa dikreasikan sendiri.

Daku langsung ambil pensil dan meniru desain Sidoarjo (dengan sedikit modifikasi). Motifnya rame banget dan ada ciri khasnya: gambar ikan dan udang. Penyebabnya karena di kota itu merupakan produsen ikan dan udang (serta produk turunannya).



Ternyata asyik juga menggambar lagi, sekalian ngelemesin tangan. Teringat zaman SD dulu daku suka bikin gambar anime dan bikin komik meski hasilnya yaa begitulah. Daku jadi pengen mengisi akun sosmed dengan gambar-gambar bikinan sendiri, dan berkreasi seperti ini bisa jadi coping mechanism yang sehat.

 

Mengunjungi Rumah Mertua

Setelah kegiatan selesai apakah kami pulang? Tidak, Ferguso! Dengan semangat 45 kami berjalan menuju rumah mbah uti Saladin (ibu mertuaku). Tapi Saladin yang sudah terlanjur berlari setelah melewati gerbang PKBM malah salah, harusnya belok kiri malah belok kannan, untung dia dengar teriakanku lalu belok lagi.

Menerjang panas di daerah Blimbing, kami berjalan dengan cepat, dan jarak dari PKBM ke rumah mertua sekitar 1 KM. Namun ada kejutan lagi, Saladin tiba-tiba meyebrang jalan sendiri. Hampir saja tertabrak motor! Ya Allah, untung selamat, tapi pengendara motornya marah-marah. Maaf yaa! Habis ini kudu briefing lagi SOP cara menyebrang jalan dengan tertib.

                              Ilustrasi rumah mertua, generated by ChatGPT
                 

Ketika sudah sampai di rumah mertua, lega banget, apalagi di sana adem banget. Banyak sekali pohon dan tanaman koleksi tanaman beliau yang bikin sejuk secara alami. Saladin langsung cemberut, ternyata lapar tapi tidak mau makan nasi.

Mama, Saladin Mau Burger!

Akhirnya kami jalan lagi sekitar 100 meter menuju warung burger langganan. Walau baru sekelas burger kampung tapi rasanya enak, dan yang penting tempatnya bersih. Saladin memesan burger tanpa saus sambal dan tanpa sayur, serta segelas minuman dingin. Semua hanya 12.000 rupiah.



Ketika sudah balik ke rumah mbahnya, Saladin langsung salim ke mbah kung dan mbah uti. Iyaa tadi mbah uti masih tidur siang jadi belum mengetahui kedatangan kami. Beliau lalu pamit lagi untuk jaga warung (karena berjualan pisang), lalu menawari Saladin lemet dan jemblem. Sungguh kue tradisional yang menggoda selera.

Beneran ibu mertuaku baik banget, daku dipersilakan makan dengan lauk sambal goreng kentang campur ampela. Masakan beliau enaaak karena memang pernah buka warung nasi. BTW daku sudah lumayan bisa duplikasi resep-resep mama, tapi entah mengapa belum bisa meniru resepnya ibu mertua.

                              Sampai rumah langsung tidur siang, di Malang lagi dingin udaranya

Akhirnya kami pulang sekitar jam 1 siang dan Alhamdulillah masih diberi sangu berupa 2 sisir pisang ambon. Makasih banyaaak! Meski Saladin belum berhasil membatik karena tak tahan teman-temannya yang berisik, yang penting dia sudah bahagia karena bisa bertemu dengan mbah uti dan mbah kung tercinta.

Kalau klean weekend ngapain aja?

Senin, 22 Juni 2026

A Day in My Life: Rapotan Anak ADHD yang Dar-Der-Dor

 

Kembali lagi ke cerita a day in my life episode kesekian. Kali ini daku mau berkisah tentang rapotan Saladin, tanggal 20 Juni 2026. Lokasi di kantor PKBM dan acaranya istimewa karena tidak hanya melihat nilai selama semester 2. Namun juga ada pertunjukan drama musikal dan live cooking.

Haah, memasak? Iyaa, ada proyek akhir semester berupa memasak berkelompok dan bahannya pisang. Saladin dan teman-temannya akan bikin “pisang barongko”, snack khas Makassar. Dia bertugas bawa balloon whisk dan pisau (dan memang bapaknya Saladin kan pande besi, jadi pas banget, sekalian lah dibuatkan pisau baru).

                                                     Saladin

Kembali ke cerita rapotan. Habis subuh tiba-tiba ada dar-der-dor bagian pertama: bapaknya Saladin bilang kalau ada acara mendadak ke luar kota. Baiklaah, kami naik taksi online saja kalau gitu (karena lokasi kantor PKBM sekitar 5 KM dari rumah).

Setelah siap-siap tapi masih saja molor (jangan ditiru). Untung dapat taksi online dengan segera, dan kami datang di sana jam 8:19 pagi (padahal undangan jam 8 pagi). Alhamdulillah ternyata acara baru dimulai. Tapi….

Saladin Kumat

            Tapi Saladin malah naik ke berbagai permainan. Yaa, ini kantor PKBM yang masih satu yayasan sekolah alam, dan ada TK-nya. Jadi dia main di terowongan besi, panjat-panjatan, dll. Boleh lah main sebentar buat pemanasan, lalu dia kuajak untuk turun, karena acara rapotan di kebun belakang sekolah. 




 

Kami berjalan beberapa meter, lalu setelah menaruh pisau dan balloon whisk ke meja tempat lokasi masak, ternyata Saladin malah naik ke gazebo bertingkat! Jadi di sekolah alam (SD) memang belajarnya di gazebo. Aduh, bukannya berkelompok lalu bikin pisang barongko, malah kabur begini.

                                   barongko pisang

Untung saja ada dispensasi dari bu guru. Tapi lelah juga karena daku jadi naik dan turun gazebo, beneran takut karena tangganya terbuat dari kayu (saat itu daku pakai gamis). Lalu Saladin malah pindah ke mainan lingkaran hamster dan ndeprok di sana.


Daku akhirnya masuk ke kantor PKBM untuk mendengarkan penjelasan dari para guru. Lalu acara selanjutnya adalah drama musikal yang ternyata diadakan di bagian luar. Habis itu kami dipersilakan makan snack pisang yang dibuat oleh anak-anak. Tapi di mana Saladin?

                                                Saladin

Ternyata dia lari ke gedung bagian depan. Jadii PKBM ini kantornya satu kompleks dengan TK (seperti yang sudah kuceritakan tadi). Saladin ke gedung itu, naik tangga, dan dia ingat karena pernah diajak ke sana (waktu baru daftar kejar paket B). Segera kususul, beneran takut dia nekat jalan kaki sendiri ke rumah mbahnya (mertuaku) karena sudah hafal rutenya.

Acara inti adalah menerima rapor dan alhamdulillah Saladin naik kelas. Beneran daku takut dia tidak naik kelas (karena di kelas 7 banyak merajuknya). Walau nilainya rata-rata, tidak apa-apalah. Semoga di kelas 8 lebih baik lagi hasilnya.

Blessing in Disguise

Setelah rapotan akhirnya kami jalan kaki sekitar 1 KM, menuju rumah mertua. Ibu mertua kaget banget, kok kemringet? Kok enggak naik ojek saja? Memangnya tidak ada aplikasinya?

Daku bilang, “Dekat kok Bu!”. Alhamdulillah Saladin juga enjoy aja berjalan kaki walau panas-panasan, jam 12 siang. Akhirnya kami dipersilakan makan dengan menu nasi rawon yang enaaak (dan mertua memang jago masak, beliau pernah buka warung nasi). Setelah makan lalu selonjoran dan nonton TV, Alhamdulillah lagi ada film india.



Jam 2 siang daku mau pamitan tapi buka HP dulu lalu ada tetangga yang mengabari kalau di perumahan listrik mati! Enggak jadi balik lah, wkwkkw. Benar-benar blessing in disguise. Berlama-lama di rumah mertua, terselamatkan dari tragedy listrik mati.

Blessing in disguise terjadi lagi karena sorenya hujan deraaas. Coba kalau seperti rencana awal: diantar dan dijemput suami naik motor, bisa kehujanan di jalan. Namun karena naik taksi online jadi aman dan selamat sampai rumah, sekitar jam 18:00.

Read: Rapotan Semester 1 Kelas 7

Disayang Mertua

Benar-benar bersyukur walau ada dar-der-dor hari itu, daku merasakan kasih-sayang mertua. Habis makan rawon malah diminta untuk tidur siang. Tidak pernah tuh daku disuruh ngepel, nyapu, dll.

                                          Saladin dan mbah utinya (mertuaku)

Mertua juga belikan telur agar Saladin mau makan nasi goreng telur (walau akhirnya Cuma dimakan 3 SDM). Beliau yang menenangkanku ketika mau ngamuk, karena Saladin ogah-ogahan makan, dan dia disuruh mengisi baterai HP malah tidak mau.  Benar-benar rezeki punya ibu mertua baik hati.

Banyak Rezeki

Setelah dar-der-dor muncul rezeki beruntun, pertama hidangan makan siang di kantor PKBM, berupa nasi, tempe goreng, telur dadar, dan sop ayam. Padahal perut masih agak kenyang makan barongko, jadi ambil nasi dikit aja lah. Eh habis itu malah makan rawon di rumah mertua. Masih disuruh makan kolak lagi, gimana enggak chubby akutuu wkwkwk.



Ketika kami mau pulang, ibu mertua bawakan oleh-oleh 2 kresek isi pisang dan singkong. Banyak bangeeet, untung pulang naik taksi online jadi enggak bingung bawanya. Tapi ada drama juga karena 2 kali di-cancel oleh driver.

Akhirnya kami dapat driver dan Alhamdulillah beliau baik banget. Saladin yang mewek karena baterai HP mau habis, malah dipinjami charger HP yang ada di mobil. Beliau juga menyetel lagu-lagu top 40 mulai dari lagunya Backstreet Boys sampai Bruno Mars. Berasa naik carpool karaoke hahahaa.

Sampai rumah, baru 10 menit, ternyata bapaknya Saladin datang. Alhamdulillah dapat rezeki lagi karena beliau ngasih 2 botol minuman kemasan dan 2 macam snack. Horeee! Benar-benar dar-der-dor tapi penuh keberuntungan. Sama seperti motto-ku: every single day is my lucky day.

Jumat, 05 Juni 2026

Idul Adha 2026 yang Campur-Aduk

 

Sudah makan berapa tusuk sate kambing nih?

Idul adha identik dengan sate dan berbagai olahan daging lainnya. Namun kali ini daku tidak mau cerita tentang resep sate. Melainkan hari idul Adha yang jatuh tanggal 27 Juli 2026 (teringat peristiwa bersejarah gak sih?)



Salat ied dimulai jam 6 pagi dan sesaat sebelumnya ada pengumuman yang mengejutkan. Salah satu imam masjid di tempat kami meninggal dunia beberapa jam sebelumnya. Jadi setelah salat dan ceramah, jamaah diminta untuk menyalatkan beliau terlebih dahulu. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, al fatihah.

Karena masih dalam suasana berduka (dan membantu keluarga almarhum mengurus pemakaman) maka proses penyembelihan jadi agak mundur. Entah mengapa cuaca agak mendung pada hari itu mendukung kegalauan dari para jamaah, dan terutama bagi keluarganya. Namun kami harus tetap tegar dan melanjutkan kegiatan yang sudah lama direncanakan.

Membantu Panitia Idul Adha

            Sama seperti tahun sebelumnya, daku bantu-bantu panitia idul adha di masjid. Nah, panitianya memang tak hanya para bapak tapi juga ibu-ibu. Jadi yang laki-laki menyembelih sapi dan kambing. Sementara para wanita memasak (untuk makan bersama) dan membantu menimbang daging kurban.



            Kerja sama seperti ini menyenangkan bukan? Akan tetapi ayahnya Saladin tidak jadi juru sembelih. Sebagai master blacksmith alias pande besi, tugas khusus beliau adalah membawa gerinda duduk dan mengasah aneka pisau dan golok.

Sementara itu, daku sibuk di dapur, menggoreng bala-bala. Sungguh ya para panitia dijamin kenyang, karena selain bala-bala, ada singkong goreng, kacang rebus, bahkan disediakan nasi pecel untuk sarapan. Sementara itu ada ibu lain yang memanaskan soto dan kare untuk hidangan makan siang. Pokoknya kompak deh, dijamin kenyang!

Saladin yang Mondar-Mandir

            Saladin tidak mau diajak (dan memang lebih baik di rumah), karena dia pernah melihat ayahnya menguliti kambing, lalu tantrum dan guling-guling di tanah. Tapi satu jam sekali daku menengok ke rumah (sambil bawa es dan jajanan untuknya).



            Saladin Alhamdulillah nurut, mau jaga rumah, tapi….Kadang dia nongol gitu aja di masjid. Menunggu kapan bundanya pulang. Memang acaranya cukup lama, dari jam 9 pagi hingga 4 sore.

Masak Apa Nih?

            Daging kurban akhirnya dibagikan ke para jamaah habis ashar dan daku langsung membersihkannya. Lemak-lemak dibuang, lalu jeroan, tulang, dan daging dipisahkan. Kemudian jeroan direbus dengan daun jeruk dan jahe agar mengurangi aromanya.

            Nahh daku pernah diajari oleh emak (ART mama) kalau menyimpan daging kurban sebaiknya direbus dulu (sebentar aja). Jadi daging direbus sekali (dan dibuang airnya karena memang kotor). Baru dipotong dan direbus lagi, dan disimpan.



            Biasanya mamaku masak krengsengan tapi kali ini daku mau bikin bulgogi (ada saus instannya di minimarket). Daging dicincang lalu dibumbui dengan bawang putih, saus bulgogi, dan diberi air secukupnya. Ini mah bukan seperti bulgogi yang original karena kucampur dengan tahu putih, wkwkkwk, yang penting enak.

Saladin sudah request minta dibikinkan pizza dan daku memang sudah belanja tepung terigu protein tinggi, ragi instan, margarin, saus tomat, keju, dll. Kalau klean masak apa aja pas libur idul adha? Atau dagingnya malah masih tersimpan di freezer?

 

Minggu, 31 Mei 2026

A Day in My Life: Pizza Gosong

 

Siapa suka makan pizza? Nah kali ini daku mau cerita ‘a day in my life’ pada tanggal 30 Mei 2026. Hari yang lucu, seru, sekaligus capek tapi senang banget. Karena kala itu daku dan Saladin mudik alias ke rumah ortuku yang hanya selemparan botol (karena jaraknya sekitar 3 kilometer aja).

Hampir jam 10 pagi kami baru berangkat naik taksi online karena kudu nyiapin isi dapur dan beberes dulu. Untung perjalanan hanya butuh 10 menit. Saladin selalu excited ketika mudik karena berarti dia bisa pinjam PC milik omnya (adik bungsuku – yang barusan berangkat merantau). BTW Saladin ‘pemegang tahta’ tertinggi di keluargaku karena dia anak pertama, cucu pertama, keponakan pertama, cicit pertama.



Ketika baru sampai rumah ortu, daku langsung menaruh tas dan bawaan lain (memang sengaja bawa masakan – kentang dan daging bumbu kari – mau dijadikan isian samosa). Lalu apa yang terjadi?

Papaku langsung request untuk bikin pizza! Haaah, masaknya kan lama? Tapi baiklah, demi menyenangkan ortu maka daku segera cuss ke toko dan minimarket untuk beli terigu protein tinggi, susu, ragi instan, saus, keju, dll. FYI mamaku dulu pernah jualan pizza jadi masih ada Loyang-loyang bekas jualan di dapur.

Kehebohan di Dapur

            Setelah bahannya lengkap maka daku segera menghangatkan susu, mencampurnya dengan ragi, lalu diaduk. Tapi kok tidak berbuih? Habis itu cek di Google, ternyata lupa tidak ada gulanya, makane ragi tidak mengembang! Segera dikasih gula dan susu dihangatkan lagi, lalu dibiarkan sampai berbuih.

            Sambil menunggu ragi maka mari bikin samosa dulu. Daku tuh kalau beli samosa mesti kepedesen, makanya bikin versi sendiri yang tidak pedas. Dengan bumbu kari (kare ala Jawa- dan syukurlah harganya murah), lebih cocok di lidah. Kulit pangsit diisi campuran kentang dan daging kari lalu direkatkan dan dibentuk segitiga.



            Saat menggoreng samosa juga harus hati-hati, jangan sampai gosong! Untung jadinya kecokelatan dan cantik. Kemarin daku sudah bikin tapi hari itu bikin lagi karena khusus menyenangkan Ocha (adikku yang nomer 2) biar dia bisa makan juga.

            Bagaimana dengan pizzanya? Cerita lengkap-e di bawah….

Pizza yang Gosong

            Campuran susu, gula, dan ragi sudah mengembang, lalu dikasih sebutir telur. Karena tidak ada margarin maka diberi minyak goreng saja. Lantas terigu dituang dengan campuran tersebut tapi….

Lupa tidak dikasih garam! Untung adonan masih ada di baskom jadi bisa disusulkan. Ini pakai resep no knead jadi tidak usah diuleni.

Mari kita tunggu proofing adonan sambil melipat kulit pangsit lagi. Ada kelebihan kulit pangsit, simpan saja di freezer. BTW bisa lho pakai kulit lumpia (yang dibagi 2 dan dilipat jadi segitiga).



Habis itu apa bisa leha-leha? Tentu tidak, pemirsa! Daging sapi rebus dicincang dan dibumbui dengan saus spaghetti, bawang putih, dan sedikit garam. Ini juga bisa buat campuran spaghetti.

Setelah adonan pizza mengembang, dibagi 2 lalu dimasukkan ke Loyang. Adonannya lembek jadi tidak usah digilas. Tinggal diberi topping lalu dipanggang (oven dipanaskan dulu). Mana pakai adegan kesetrum karena kabel sudah dicolokin tapi daku memindahkan rak portable di oven dengan tangan kosong. Tapi…



Setelah 35 menit, pizzanya GOSONG! Pakai oven listrik punya adik, ternyata panas buanget kalau loyangnya ada di rak paling atas. Sementara pizza yang dipanggang di rak oven paling bawah Alhamdulillah aman. Tapi lengket, padahal sudah dioles minyak!



Walau ada tragedy gosong, papa tetap menghibur dan bilang kalau pizza gosong tetap akan dimakan. Untung yang hitam Cuma bagian pinggir dan rasa daging serta kejunya masih kerasa. Walau agak nyesek ya mengingat harga bahan mentahnya yang lumayan.

Read: Cooking Class: Belajar Bikin Pizza

Well, sepertinya daku error gini karena terlalu lelah, memasak marathon dari hari rabu sampai sabtu. Tapi tidak apa-apa, membahagiakan keluarga kecilku dan kedua ortu (serta adik) lewat makanan enak. Bagaimana libur ldul Adha klean semua?

 

 

 

Sabtu, 04 April 2026

Curhat ke AI, Yay or Nay?

 



Belakangan ada banyak AI dan kegunaannya juga beragam. Tidak hanya untuk browsing tapi juga untuk curhat! Beneran kaget karena ternyata ada banyak netizen yang memilih untuk tak Cuma sekadar ngobrol, tapi mencurahkan perasaan ke AI.


Mengapa banyak yang akhirnya curhat ke AI? Alasan netizen adalah murah jika dibandingkan harus ke psikolog atau psikiater. Tinggal chat di HP atau laptop, bisa dapat solusi dan pandangan baru dari AI


Validasi Perasaan

Lantas bolehkah manusia terus-menerus mencurahkan isi hatinya ke AI? Sebenarnya ini tidak terlalu bagus karena ada AI yang didesain untuk memvalidasi perasaan penggunanya. Jadi jika ia curhat maka dijawab sesuai dengan keinginannya. Malah tak baik karena jarang bisa menyelesaikan masalah.


Muncul Batasan

Salah satu AI memberi peringatan kepada netizen. Muncul tulisan ‘anda menggunakan AI ini selama lebih dari 45 menit’. Bahkan dari pihak pembuat dan pengembang AI sendiri menerapkan batasan durasi mengobrol. Tujuannya agar netizen tidak keterusan curhat sampai berjam-jam.


Apakah Curhat ke AI Berbahaya?

Klean merasa curhat ke AI itu berbahaya? Selain memvalidasi perasaan netizen, terlalu lama menatap layar gadget juga tidak bagus (untuk kesehatan mata). Jadi saranku jangan terlalu sering lah, nanti malah kecanduan.


Ingatlah bahwa AI bukan manusia. Mereka hanya mesin yang tidak punya real soul. Daku pernah tanya ke AI dan yang dihasilkan adalah rangkuman jawaban dari beberapa website terkenal. Tapi bisa jadi jawaban tersebut tidak valid karena sekali lagi mereka bukanlah makhluk hidup.


Daku sendiri menggunakan AI untuk ngobrol iseng, bukan untuk curhat yang serius. Cuma nyebelinnya kadang si AI tidak mengerti apa bercandaan yang kusampaikan. Namanya juga mesin!


Jangan sampai klean keasyikan mengetik dan bercakap-cakap dengan AI, tapi lupa akan realitas di dunia nyata. Itu namanya pelarian dan tidak bagus, ya! Jika memang hampir mencapai ketidakwarasan padaku, lebih baik melepas penat sekejap dengan traveling atau kegiatan lain yang mengasyikkan.


Jadi, kalau klean punya masalah berat, lebih baik cari psikolog, konselor, atau psikiater. Ada beberapa psikolog muda (baru lulus) yang memasang tariff tidak terlalu mahal, jadi bisa coba untuk konsultasi ke dia. Sekali lagi daku bilang, AI hanya mesin, bukan tempat curhat yang akurat.


 



Selasa, 23 Desember 2025

A Day in My Life: Ulang Tahun dan Air Mata yang Mengembun

 

Hari jumat tanggal 19 Desember menjadi hari yang istimewa. Bukan hanya karena daku ultah tapi juga karena Saladin rapotan. Bagaimana rasanya menerima rapor anak SMP untuk pertama kalinya?

Pagi menjelang, daku bangun dengan penuh rasa syukur. Di usia yang bertambah ini Alhamdulillah hati dipenuhi cinta dari keluarga, sahabat, dan banyak orang. Saladin sudah hafal ultah bundanya, tapi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun adalah papaku.





Waktu berlalu begitu cepat, dan daku harus gercep untuk mandi, bersiap-siap, dan memasak dengan kilat karena Saladin menerima rapor jam 9 pagi. Acara diadakan di kantor PKBM (sekolah Saladin) yang berada di daerah Blimbing, Malang. Mumpung deket, sekalian mau ke rumah utinya Saladin alias ibu mertuaku.

Teman-teman sudah tahu PKBM (pusat kegiatan belajar masyarakat)? Jadi istilah lamanya adalah “kejar paket” dan karena Saladin sudah SMP, dia ambil pendidikan paket B. Intermezzo dulu ya.



Daku memilih gamis warna merah dengan kerudung yang aslinya adalah syal, dengan warna yang sama. Saladin sudah bangun juga lalu dia mandi, dan kami sarapan nasi goreng+lele goreng. Beneran ni bocah dibikinin nasi goreng hampir tiap hari pun tak bosan.

Rapotan yang Padat

Jam 8:30 kami berangkat naik sepeda motor, Alhamdulillah cuaca cerah. Di perjalanan daku terus berdoa, bismillah jangan hujan dulu ya, soalnya mau ke rumah mertua. Beneran deh ketika awal desember ada banjir besar di daerah Sutoyo (sekitar 4 KM dari tempat mertua) daku jadi takut kalau ada hujan plus banjir.



Syukurlah matahari bersinar dengan terik. Saladin masuk ke kantor PKBM, ke kebun belakang tempat berlangsungnya acara. Sebelum acara inti alias rapotan, foto-foto dulu lalu menyaksikan teman-teman Saladin yang sedang presentasi.

Yaa, ada tugas akhir berupa karya seni atau sains dan dipresentasikan di depan semua wali murid. Saladin mengumpulkan kacamata yang terbuat dari kardus bekas dan gambar yang dibuat pakai aplikasi Paint. Bangga sekali karena dia mengerjakannya sendiri.

Sambil menunggu giliran, Saladin duduk di luar (karena di dalam ruangan sudah penuh). Alhamdulillah ada banyak camilan yang disajikan seperti sosis solo, roti unyil, dan martabak telur. Pas panas dan habis ngemil jadi haus, eh ada booth yang jual es kopi. Harganya Cuma 8.000 pula.

Guru Saladin sempat khawatir, apa dia ngambek / tantrum karena situasi yang ramai? BTW anak ADHD memang sensitif sekali pendengarannya. Ternyata kali ini aman, karena ada banyak jajan yang jadi slimuran, wkkwwk.



Setelah itu rapor dibagikan jam 10:50 pagi dan buru-buru karena mau jumatan. Tapi kami ke rumah mertuaku dulu, niatnya sih jalan kaki aja, eh ternyata dijemput kakanda. Di tengah perjalanan tiba-tiba beliau berhenti di depan warung jajanan. Kok tahu anaknya lagi haus? Kami pun beli beberapa kotak susu UHT.

Berbahagia Bersama Saudara Sepupu

Sampai di rumah mertua, Saladin langsung minum susu dan kuingatkan untuk membagi susu yang lain ke sepupunya. Ada 3 adik sepupu (anak adik ipar – yang masih serumah dengan mertuaku) dan 1 kakak sepupu yang sebenarnya seumuran (anak mbak ipar). Mereka pun main bersama.



Bahagianya adalah ketika Saladin bisa main bareng adik bayi (sepupunya yang baru berusia 13 bulan), dan minta foto bareng. Tapi dia tidak mau kalau punya adik sendiri, hehehhe. BTW semua cucu mertua laki-laki dan ada 11 orang, bisa langsung main sepakbola.

Jam 13:30 kami pamit pulang karena cuaca sudah mendung dan ayahnya Saladin ada acara lagi. Alhamdulillah masih disanguin pisang oleh mertua. Bisa jadi pisang bakar atau pisang goreng.

Bahagia yang Mengembun

Beneran deh, tak disangka bisa merayakan ulang tahun secara tak sengaja di acaranya Saladin. Karena pas setelah para murid presentasi, mereka semua maju, membawa bunga artifisial (buatan sang guru) lalu menyanyikan lagu “Kasih Ibu”. Setelah itu baru memberi bunga ke masing-masing ibunya.



Jadi Saladin memberi bunga itu dalam rangka hari ibu dan kuanggap sebagai birthday present.



Kebahagiaan mengharu-biru, melihat dia makin besar dan paham bagaimana cara menyayangi orang tuanya. Beginilah a day in my life kala ulang tahun ke-30+ yang sangat berkesan.