Sudah
tinggal dengan nyaman di Prancis tapi kok malah pulang ke Indonesia? Bisa jadi
itu salah satu pertanyaan para pembaca ketika membaca buku-buku Bu NH Dini.
Sayang beliau sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu, jadi tidak bisa tanya
secara langsung. Namun beliau menjawabnya di buku “Dari Rue Saint Simon ke
Jalan Lembang”.
Ini
data bukunya:
Penulis : NH Dini
Tahun : 2012
Bisa
dibaca gratis di Ipusnas.
Kehidupan di Prancis tidak selalu
glamour, itu yang dipaparkan di awal bagian buku ini. Bu Dini bercerita tentang
pekerjaannya sebagai pendamping seorang pria tua, dan tugasnya adalah menemani
mengobrol, memasak, dll. Walau mendapat gaji lumayan tapi beliau tetap
berhemat, caranya dengan menjahit baju dan membuat rajutan sendiri.
Lantas
di mana keluarganya? Kala itu NH Dini sudah berpisah dengan ex suaminya (tapi
belum resmi divorce). Lantas Lintang
dan Padang (anak-anaknya) ikut sang papa. Akhirnya beliau memutuskan jalan lain
karena tidak tahan dengan sifat ex yang pelit dan emosional.
Kita
kembali ke cerita di buku. Menjadi pendamping pria tua ternyata ada tidak
enaknya. Walau alat-alat dapur sudah modern dan pekerjaannya tidak terlalu
berat, tapi NH Dini mulai risih karena majikannya genit. Kondisi kesehatan Bu
Dini juga menurun (bleeding) sehingga
beliau memantapkan diri untuk resign.
Kembali
ke Indonesia
Akhirnya Bu Dini kembali ke
Indonesia, setelah berdiskusi dengan beberapa sahabat. Yang unik adalah ada
salah satu tokoh yang bilang kalau “Indonesia adalah negeri sulapan”. Namun
beliau yakin akan kembali, karena salah satu sahabat bilang kalau Indonesia
kekurangan penulis perempuan, sedangkan di Prancis sudah banyak.
Walau
dapat banyak tawaran untuk tinggal di rumah sahabat-sahabatnya, tapi Bu Dini
tetap menuju Jl. Lembang, rumah bibinya. Di sana beliau disambut dengan sangat
baik, bahkan akan dibuatkan kamar sendiri. Kebaikan hati sang bibi dan
sepupu-sepupunya sangat luar biasa.
Perjalanan
ke Sumatra
Ketika
kembali ke Indonesia maka NH Dini ditawari oleh banyak majalah wanita untuk
menjadi anggota redaksi. Namun beliau menolak karena ingin bekerja secara
mandiri. Kejutan datang dari sebuah lembaga: beliau diminta untuk datang ke
Sumatra dan menulis liputan.
Kala
itu (tahun 80-an) ada operasi “giring ganesha” (jadi ingat mantan vokalis band
gak sih?). Para gajah yang ada di Sumatra dipindah ke tempat lain yang lebih
aman. Bu Dini dikawal oleh sejumlah aparat, dan merasa waswas karena di hutan
masih ada ular. Untung operasi ini sukses besar dan semua orang selamat.
Menyepi
di Kalimantan
Selain
Sumatra, NH Dini juga berkesempatan untuk mendatangi Kalimantan. Seorang kawan
lama (yang seniman patung) memintanya untuk jadi kepala pengurus dapur. Para
seniman akan membuat kaligrafi raksasa, yang berbahan kayu Kalimantan.
Pengerjaan memang dilakukan di sana agar kayunya tidak rusak.
Selama
sebulan lebih NH Dini ternyata betah. Tugas beliau tidak berat
karena tidak memasak, karena ada tukang masak. Tapi hanya mengatur menu dan
menyimpan bahan masakan. Namun yang paling menarik adalah satwa-satwa liar yang
asyik untuk diamati, dan kehidupan di sana yang jadi inspirasi buku.
Pernikahan
Lintang
Setelah kembali dari Kalimantan dan
beradaptasi lagi dengan kehidupan cepat di Jakarta, Bu Dini terkejut karena
Lintang (putri sulungnya) memberi kabar baik: dia akan menikah. Walau sang papa
tidak memberi restu tapi Lintang yakin mamanya memberi izin. Bu Dini tentu saja
bahagia dan menghadiri pernikahan itu, bahkan mempersiapkan hidangannya.
NH Dini emang jago banget dalam storytelling dan digambarkan berbagai
makanan saat pernikahan Lintang: sup ikan ala Vietnam, sate, dll. Diceritakan
juga bagaimana pakaian beliau yang selalu serasi. Klean yang belajar storytelling wajib baca buku-buku
beliau.
Parenting
ala NH Dini
Di buku “Dari Rue Saint Simon ke
Jalan Lembang digambarkan parenting ala
NH Dini: mendukung dan mendidik anak. Lintang memilih calon suaminya sendiri
(tidak disyaratkan harus kaya-raya). Sementara Padang saat berkunjung ke
Indonesia, diajak wisata alam, ke Bromo, Meru Betiri, dll.
Motivasi
Menulis
Apa
hal yang paling kusukai dari buku ini? Motivasi
menulis. Kamu sudah punya laptop dan HP tapi kalau diminta menulis malah
alasan melulu. Tapi coba bayangkan puluhan tahun lalu, Bu Dini mengetik memakai
mesin ketik, bahkan menulis dengan tangan, dan dilakukan tiap hari. Yang
penting tekad untuk menulis, bukan?
Dari
Rue saint Simon ke Jalan Lembang bukanlah novel, tapi merupakan penggalan dari
biografi NH Dini. Beliau memang sengaja menulisnya jadi belasan bagian karena
kisah hidupnya panjang. Apa judul buku NH Dini favoritmu?








.jpg)
































