Pernah enggak sih klean
lihat iklan WFH di sosial media? Ketika banyak orang yang menawarkan kelas remote working dan memaparkan bayarannya
yang tinggi (bisa ratusan dollar per proyek), siapa yang tidak ngiler? Tapi kenyataannya
WFH (work from home) tidak semanis
ucapan content creator.
Klean jangan heran
karena daku sudah berpengalaman WFH sejak tahun 2017, jauh sebelum masa pandemi
(ketika banyak yang mempraktekkan kerja dari rumah). Walau baru level agen
lokal tapi ternyata seru banget. Akan tetapi daku akan menguak sisi gelap dari
WFH yang belum banyak diketahui orang awam:
Butuh
Modal
WFH ibarat orang
berdagang yang butuh modal untuk memulainya. Pertama tentu saja harus ada
jaringan internet, lalu HP dan laptop yang memadai. Bahkan ada lho agen yang
mensyaratkan pekerja freelance untuk
memakai laptop merk tertentu dan keluaran terbaru (biasanya kalau bidangnya IT).
Lalu bagaimana kalau
spesifikasi laptop masih pas-pasan? Sebenarnya bisa diakali. Misalnya kalau mau
wawancara online tapi kamera laptop
sudah burik, pasang saja web cam tambahan. Nanti sebagian
pendapatan ditabung dan digunakan untuk membeli gadget yang lebih bagus dan canggih.
Pressure
Ketat
Kalau sedang WFH ya
sebenarnya sama saja dengan bekerja di kantor pada umumnya alias ada deadline dari atasan. Daku dulu freelance di media online jadi dituntut dalam sehari menulis 2.000-3.000 kata dan
harus disetorkan sebelum jam 20:00. Dengan pressure
yang ketat maka juga harus tahan mental dan tidak baperan.
Harus
Mahir Bahasa Inggris?
Kalau WFH apa harus
pintar berbahasa inggris? Bisa iya dan bisa tidak. Jika agennya lokal maka
tidak semua mensyaratkan harus mahir English.
Akan tetapi kalau kantornya di luar negeri, ada tes-tes bahasa inggris yang
harus dilalui (reading, listening,
grammar) plus tes logika. Jadi belajarlah dari sekarang, jangan malas ya!
Pengaturan
Waktu Kerja
Jika WFH maka harus
dilihat dulu persyaratan dari kantornya. Bisa jadi mereka minta freelancers untuk online pada jam yang ditentukan (biasanya 8 jam kerja). Akan tetapi
lihat lagi perbedaan jam antara di Indonesia dengan di sana. Pastikan klean
bisa bertahan karena bisa jadi harus melek sampai tengah malam.
WFH
vs Mengatur Rumah Tangga
Salah satu tantangan
WFH pada wanita adalah bagaimana cara menyeimbangkan peran antara jadi freelancer atau jadi IRT? Jangan sampai
keasyikan di depan laptop malah lupa belum masak, gawat! Atau anak-anak rewel
karena merasa tidak diperhatikan mamanya.
Jadi perlu target dan
strategi agar semuanya berjalan dengan lancar. Misalnya untuk memasak bisa
langganan katering, atau memasak langsung untuk 3-4 hari dan disimpan di freezer. Nanti saat akan makan baru
dipanaskan.
Baju bisa dimasukkan ke
laundry atau beli mesin
cuci+pengering, jadi sudah langsung bersih, kering, dan tinggal disetrika. Atau
yang disetrika seragam saja. Jangan terlalu ingin sempurna tapi malah stress
sendiri, kerja di rumah pakai kaos kusut tidak apa-apa, kan? Kalau meeting dengan klien secara online baru ganti baju yang lebih rapi.
Waspada
Penipuan
Harus sangat hati-hati
jika klean mencari pekerjaan online, jangan
sampai terkena scam. Ciri khasnya
adalah digiring untuk klik yang nyambung ke aplikasi tertentu. Sedangkan ciri
lain adalah pekerjaannya gampang (misalnya mengetik ulang) tapi bayaran tinggi
(sampai ribuan dollar).
Pekerjaan
Per Proyek
Tidak semua freelancer harus online 8 jam sehari. Akan tetapi ada modelan pekerja per proyek,
jadi ya WFH pas dikasih project saja.
Kalau klean dapat yang gini ya kudu rajin cari proyek agar dapur tetap ngebul.
Atau cari pekerjaan lain, misalnya nulis ebook lalu dijual di platform.
Pesanku untuk newbie freelancer jangan tergoda gaji
besar tapi ternyata scam (misalnya
harus deposit uang dalam nominal tertentu dulu). Klean juga harus pintar
mengelola uang karena bisa jadi yang didapatkan per bulan tidak sama. WFH bisa
sangat manis asal tahu caranya.











