Layar itu berpendar
selama berpuluh menit. Kosong. Tidak ada satu kata pun, bahkan satu tanda baca,
di dalamnya. Sementara tangan masih diam, sorot mata sayu, mata termangu.
Ke
Mana Semangat Menulisku?
Mungkin klean yang membacanya
akan merasa aneh. Pasalnya blog ini selalu update
setidaknya 7-8 kali sebulan. Namun sejak awal tahun 2026 produktivitasku
menurun. Bahkan berpikir akankah berhenti menulis dan mencari pekerjaan lain?
Iyaa iyaa ini lagi
curhat. Sejak beberapa bulan lalu rasanya emosi tergerus oleh perubahan
aktivitas dan konsentrasi yang menumpuk ke keluarga. Kalau dulu Saladin diantar
dan dijemput oleh ayahnya (waktu SD), saat ini dia kuantar (karena SMP-nya
dekat rumah), dan pulangnya dia jalan sendiri (tapi kadang minta dijemput
juga).
Habis antar jemput
bocah masih harus beberes, memasak, mencuci, dll. Rasanya sudah capek duluan.
Apalagi saat Saladin lagi bad mood dan
harus dibujuk (dia ADHD). Rasanya mood jelek
jadi menular dan keinginan untuk menulis jadi ambyar.
Dibayar
Atau Tidak?
FYI, dulu daku
produktif sekali dalam menulis. Tahun 2017-2023, tiap hari menulis setidaknya
2.000 kata. Bahkan libur lebaran hanya 2 hari, habis itu gas kerja lagi.
Penyebabnya karena aku memang work from
home di salah satu agensi kepenulisan, dan artikelnya nampang di salah satu
koran online.
Akan tetapi, akhir
tahun 2023 kontrak diputus secara sepihak. Habis itu kelimpungan karena belum
ada pekerjaan tetap lagi. Kalaupun ada juga kepentok usia (35+).
Akhirnya aku balik
ngeblog lagi tapi belakangan lelah karena fokus terpecah dan sempat kepikrian,
ngapain sih nulis di blog pribadi tapi belum ada bayarannya? Lagipula job juga tidak sesering dulu. This is sad but true.
Lantas mikir,
sebenarnya menulis ini hobi atau pekerjaan? Jika aku menganggapnya sebagai hobi
maka lakukan saja. Namanya juga hobi, jadi happy
saja.
Akan tetapi jika switch dari hobi ke pekerjaan maka ada
perubahan. Tak selamanya kutuliskan topik yang kusuka. Kadang harus riset dulu
dan baca artikel-artikel sumber yang njelimet.
Dibayar memang tapi lebih banyak sukanya daripada dukanya.
Konsekuensinya, aku
jadi money oriented dan merasa semua
tulisanku harus dibayar. Padahal tidak semua artikel harus dimonetasi, bukan?
Lagipula tujuan ngeblog juga bermacam-macam, selain untuk menyimpan memori juga
untuk portofolio online.
Menulis
Ebook
Karena merasa mentok
ngeblog akhirnya aku memutuskan untuk menulis ebook. Namun membuat buku
elektronik tak semudah bikin artikel. Pertama, tulisannya tentu jauh lebih
banyak. Kedua, harus bisa bikin sampul dan layout
ebook sendiri (biar hemat), jadi otodidak belajarnya.
Menulis ebook juga
harus diiringi dengan promosi. Jadi seorang content
creator yang menjual buku elektronik, wajib belajar ilmu marketing. Promosi
di mana-mana, tentu dengan cara yang halus (bukan hard selling apalagi memaksa).
Pada
Akhirnya
Pada akhirnya aku
memutuskan untuk terus menulis, baik di blog maupun bikin ebook. Daku akan
tetap menulis baik dibayar maupun tidak dibayar. Sebenarnya uang menjadi
memusingkan karena ketika ditarget untuk monetasi, yang ada hanya writer’s block.
Tahukah klean? Salah
satu motivasi untuk menulis lagi adalah sohibku yang tinggal di lain provinsi.
Kala itu dia minta ide menu bekal untuk anaknya. Daku kebetulan punya draft ebook berisi daftar menu bekal,
dan langsung kuketik ulang dan kukirim via email.
Setelah itu daku mikir
lagi, ternyata menulis untuk menolong orang lain menyenangkan juga. Jadiii
untuk mencari uang sebagai tujuan menulis memang bagus. Namun alangkah baiknya mindset-ku diperbaiki dulu. Menulis
untuk membantu memecahkan masalah orang lain, untuk menghibur netizen, dll.
Membuat karya yang bagus dan berguna, yakinlah nanti uangnya datang sendiri.
Akankah klean lanjut
menulis?






