Rabu, 22 April 2026

Work From Home Tidak Semudah Itu

 

Pernah enggak sih klean lihat iklan WFH di sosial media? Ketika banyak orang yang menawarkan kelas remote working dan memaparkan bayarannya yang tinggi (bisa ratusan dollar per proyek), siapa yang tidak ngiler? Tapi kenyataannya WFH (work from home) tidak semanis ucapan content creator.

Klean jangan heran karena daku sudah berpengalaman WFH sejak tahun 2017, jauh sebelum masa pandemi (ketika banyak yang mempraktekkan kerja dari rumah). Walau baru level agen lokal tapi ternyata seru banget. Akan tetapi daku akan menguak sisi gelap dari WFH yang belum banyak diketahui orang awam:

Butuh Modal

WFH ibarat orang berdagang yang butuh modal untuk memulainya. Pertama tentu saja harus ada jaringan internet, lalu HP dan laptop yang memadai. Bahkan ada lho agen yang mensyaratkan pekerja freelance untuk memakai laptop merk tertentu dan keluaran terbaru (biasanya kalau bidangnya IT).


Lalu bagaimana kalau spesifikasi laptop masih pas-pasan? Sebenarnya bisa diakali. Misalnya kalau mau wawancara online tapi kamera laptop sudah burik, pasang saja web cam tambahan. Nanti sebagian pendapatan ditabung dan digunakan untuk membeli gadget yang lebih bagus dan canggih.

Pressure Ketat

Kalau sedang WFH ya sebenarnya sama saja dengan bekerja di kantor pada umumnya alias ada deadline dari atasan. Daku dulu freelance di media online jadi dituntut dalam sehari menulis 2.000-3.000 kata dan harus disetorkan sebelum jam 20:00. Dengan pressure yang ketat maka juga harus tahan mental dan tidak baperan.

Harus Mahir Bahasa Inggris?

Kalau WFH apa harus pintar berbahasa inggris? Bisa iya dan bisa tidak. Jika agennya lokal maka tidak semua mensyaratkan harus mahir English. Akan tetapi kalau kantornya di luar negeri, ada tes-tes bahasa inggris yang harus dilalui (reading, listening, grammar) plus tes logika. Jadi belajarlah dari sekarang, jangan malas ya!

Pengaturan Waktu Kerja

Jika WFH maka harus dilihat dulu persyaratan dari kantornya. Bisa jadi mereka minta freelancers untuk online pada jam yang ditentukan (biasanya 8 jam kerja). Akan tetapi lihat lagi perbedaan jam antara di Indonesia dengan di sana. Pastikan klean bisa bertahan karena bisa jadi harus melek sampai tengah malam.

WFH vs Mengatur Rumah Tangga

Salah satu tantangan WFH pada wanita adalah bagaimana cara menyeimbangkan peran antara jadi freelancer atau jadi IRT? Jangan sampai keasyikan di depan laptop malah lupa belum masak, gawat! Atau anak-anak rewel karena merasa tidak diperhatikan mamanya.

Jadi perlu target dan strategi agar semuanya berjalan dengan lancar. Misalnya untuk memasak bisa langganan katering, atau memasak langsung untuk 3-4 hari dan disimpan di freezer. Nanti saat akan makan baru dipanaskan.

Baju bisa dimasukkan ke laundry atau beli mesin cuci+pengering, jadi sudah langsung bersih, kering, dan tinggal disetrika. Atau yang disetrika seragam saja. Jangan terlalu ingin sempurna tapi malah stress sendiri, kerja di rumah pakai kaos kusut tidak apa-apa, kan? Kalau meeting dengan klien secara online baru ganti baju yang lebih rapi.

Waspada Penipuan

Harus sangat hati-hati jika klean mencari pekerjaan online, jangan sampai terkena scam. Ciri khasnya adalah digiring untuk klik yang nyambung ke aplikasi tertentu. Sedangkan ciri lain adalah pekerjaannya gampang (misalnya mengetik ulang) tapi bayaran tinggi (sampai ribuan dollar).

Pekerjaan Per Proyek

Tidak semua freelancer harus online 8 jam sehari. Akan tetapi ada modelan pekerja per proyek, jadi ya WFH pas dikasih project saja. Kalau klean dapat yang gini ya kudu rajin cari proyek agar dapur tetap ngebul. Atau cari pekerjaan lain, misalnya nulis ebook lalu dijual di platform.

Pesanku untuk newbie freelancer jangan tergoda gaji besar tapi ternyata scam (misalnya harus deposit uang dalam nominal tertentu dulu). Klean juga harus pintar mengelola uang karena bisa jadi yang didapatkan per bulan tidak sama. WFH bisa sangat manis asal tahu caranya.

Selasa, 21 April 2026

Tips Menulis Review Film, Mudah Banget!

 

Siaapa nih yang movie goers? Menonton film memang asyik dan bisa jadi alternatif kegiatan yang menyenangkan di akhir minggu. Akan tetapi apakah menulis ulasan film semudah menonton?

Sebenarnya menulis itu sangat-sangat mudah asal tahu caranya. Termasuk membuat review film. Manfaatnya, kita tuh jadi mengingat pernah menonton movie apa saja dan sekalian melatih otak untuk berpikir (setelah relaksasi sejenak saat nonton). Lantas bagaimana caranyaa?

Jangan Memberi Tahu Ending

Satu rule paling penting dalam membuat review film adalah no spoiler alias jangan pernah membocorkan akhir cerita kepada para pembaca. Nantinya mereka akan malas untuk menonton. Mending baca review daripada menyimak langsung, walah, malah memusingkan!

Pastikan Ejaan Nama Benar

Kalau habis nonton, pastikan menuliskan nama-nama pemain (juga sutradara dll) dengan benar. Jangan sampai salah ejaan atau salah tulis. Misalnya nama ‘Janet’ malah ditulis ‘Jeanette’. Cek ejaan dan ketikan di Google, gampang banget to?

Data yang Lengkap

Ketika membuat review film jangan hanya menuliskan ringkasan ceritanya. Namun beri juga data-datanya. Film ini keluaran tahun berapa, siapa saja aktris dan aktornya, siapa sutradara dan produsernya. Jangan lupa juga tulis durasi filmnya, sehingga pembaca bisa tahu apa ini film yang panjang (dan butuh lebih banyak snack untuk teman nonton) atau yang pendek.

Jangan Terlalu Detail

Selain spoiler, jangan juga menulis cerita film terlalu detail sampai ada penggambaran scene to scene. Pertama, review akan terlalu panjang (sebaiknya maksimal 700-800 kata saja). Kedua, jika terlalu detail maka akan terasa sangat membosankan dan membuat pembaca malas meneruskan blogwalking di blogmu.

Beri Kesan dan Pesan

Setelah menuliskan intisari cerita, beri sedikit kesan dan pesan (bisa 1-2 paragraf) setelah klean menonton film tersebut. Di sini klean bisa memberi opini, masukan, atau kritik. Tentu harus hati-hati sekali dalam menuliskan kritik (jangan sampai terlalu kasar) karena takut kena UU ITE.

Bagaimana, mudah untuk menulis review film, bukan? Jangan lupa juga untuk tag / mention sutradara film tersebut karena biasanya doi senang ketika ada netizen yang mengulas film yang doi garap.

 

Senin, 20 April 2026

Review Film How to Train Your Dragon

 Siapa suka nonton film animasi? Alhamdulillah di aplikasi Prime Video ada banyak film jenis ini. Salah satunya How to Train Your Dragon. Ceritanya fantasi dan asyik untuk dinikmati.

Kala itu, di daerah sekitar Eropa Utara, ada masyarakat yang kelimpungan. Pasalnya, ternak mereka (domba) sering dimangsa oleh para naga. Oleh karena itu tiap anak dilatih untuk menjadi ksatria yang akan melawan naga, termasuk Hiccup.



Akan tetapi Hiccup berbeda jauh dengan ayahnya yang gagah dan berani. Dia cenderung cungkring, fisiknya lemah, dan tidak terampil dalam melawan naga. Saat akan berusaha berperang pun langsung disuruh masuk rumah oleh banyak orang.

Perlawanan Hiccup

Hiccup selama ini hanya berkutat di belakang layar dengan menjadi pande besi dan membuat berbagai senjata untuk melawan naga. Kemudian dia juga belajar dengan tekun dan melihat buku berisi jenis-jenis naga dan ciri-cirinya.

Akan tetapi Hiccup bingung ketika melihat satu jenis naga yang ternyata tidak ada di dalam buku. Naga itu hitam dan tidak punya gigi. Hiccup menamainya toothless.

Hiccup dan toothless menjadi akrab, apalagi setelah dia membuatkan sayap tambahan di bagian belakang sang naga. Dia juga rutin memberinya ikan segar. Sebagai tanda terima kasih, toothless seakan takluk dan mau ditunggangi.

Being a Hero

Dari pemuda culun, Hiccup menjadi seseorang yang percaya diri berkat kedatangan toothless. Bahkan si naga ini pernah disembunyikan di rumahnya. Apakah sang ayah tahu?

Ketika semua terbongkar, sudah terlambat. Teman-teman Hiccup juga diberi tahu cara menjinakkan, melatih, dan mengendarai naga. Ternyataa…..

Ternyata selama ini masyarakat di sana salah paham terhadap naga. Hewan itu bukan makhluk ganas yang sembarangan memangsa domba. Mereka ternyata lebih suka makan ikan, dan jika diberi perlakuan bersahabat akan tunduk dan mau menjadi peliharaan yang setia.

Hiccup dan kawan-kawan bekerja sama untuk menumpas monster besar yang menyeramkan. Sanggupkah dia membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bisa? Akankah dia menang atau tidak selamat? Nonton yuuk, ceritanya cukup ringan dan menghibur.

Kesanku Setelah Nonton How to Train Your Dragon

Film ini animasinya bagus dan ceritanya menyentuh. Di mana penonton diajak berpikir bahwa sebenarnya tiap manusia punya kelebihan. Hiccup memang kurus tapi dia terampil dalam menjinakkan dan mengendarai naga. Jadi kita tidak boleh menghina fisik seseorang karena bisa jadi dia punya keunggulan yang lain.


Jumat, 17 April 2026

TOLONG! SALADIN KABUR LAGI!

 

Judulnya memang sengaja dibuat besar untuk menampakkan kepanikan. Bagaimana daku tidak pusing dan sedih kalau Saladin, 13 tahun, berlari menerobos hujan sendirian? Apalagi saat itu ayahnya sedang keluar kota sehingga tidak ada yang membantuku. Begini cerita lengkapnya.

Hari minggu tanggal 12 April 2026. Daku ada 2 rencana: menghadiri arisan PKK RT jam 16:00 dan mengunjungi rumah ibu mertua jam 18:00 (kami tinggal di satu kota). Saladin sudah kuberi tahu jauh-jauh hari dan dia mau untuk ikut arisan (biasanya begitu, nempel bundanya, modus minta kue juga wkkwkwk).



Jam 16:00 kami datang ke rumah tetangga yang jadi host arisan. Saladin makan beberapa jenis snack tapi dia kaget karena undangan yang datang semakin banyak. Dia pun izin pulang duluan. Di sinilah kesalahanku karena membiarkannya bawa HP-ku (untuk menonton).

Kecemasan Dimulai

Sekitar 10 menit kemudian, hujan turun dengan deras. Saladin tiba-tiba datang sambil bawa tas ransel dan payung. Apa dia menjemput? Segera kususul tapi dia malah lari, menuju gerbang perumahan. TOLOOOONG, ANAKKU KABUR!

Saladin malah makin cepat larinya ketika kupanggil namanya. Dia belok kanan ke arah sekolahnya (yang letaknya dekat, sekitar 800 meter dari rumah). Akan tetapi di pertigaan dia malah belok kanan. Kalau belok kiri ke arah rumah ortuku, dan kalau kanan berarti ke rumah mertua.



Daku semakin kencang berlari, untung tidak kepeleset, padahal waktu itu hujan deras. Karena panik maka tidak sempat pinjam payung. Ada beberapa orang yang membantu untuk menangkap Saladin tapi gagal.

Kemudian ada seorang pria yang jadi penyelamat. Beliau, yang nongkrong di depan barbershop, kumintai tolong untuk membantu. Akhirnya si-mas membawa motor dan mencari Saladin (kuberi tahu clue-nya: anak laki-laki pakai payung). Eh ternyata….

Saved by Skatepark

Saladin malah belok ke sebuah skatepark dan dia memperlambat jalannya. Alhamdulillah akhirnya tertangkap. Ternyata dia numpang mau ke toilet di area skatepark tersebut.


Dengan gemetar dan keringat bercucuran, kupeluk Saladin erat-erat. Kupinjam HP yang ada di tangannya lalu memesan taksi online. Alhamdulillah ada driver yang mau ambil order-an padahal hujan semakin deras.

Sekitar 10 menit kemudian mobil taksi online datang. Alhamdulillah lagi pak sopirnya baik, tidak keberatan walau kala itu gamisku dalam keadaan basah. Setelah itu kulihat aplikasi peta dan ternyata…jarak dari rumahku ke rumah mertua adalah 6,8 kilometer!

Gara-Gara Hujan

Kok bisa Saladin punya ide untuk jalan kaki ke rumah neneknya? Itu karena salahku juga. Kubilang kalau misalnya hujan, tidak jadi berangkat tidak apa-apa ya? Karena rencananya kami berangkat diantar oleh adikku (naik motor) tapi pulangnya naik taksi online.

Mungkin Saladin takut tidak jadi berangkat makanya dia nekat jalan sendiri (dan menghemat uang). Padahal kebahagiaan anak lebih berharga daripada ongkos taksi (karena kami sudah cukup lama tidak bertandang ke rumah neneknya juga). Tidak apa-apa, penyesalan memang selalu ada di belakang, dan daku jadi belajar untuk lebih menepati janji (juga mengajari anak untuk lebih sabar).



FYI mengapa dia impulsive? Bagi klean yang baru pertama baca blog ini, Saladin adalah remaja ADHD dan kadang kumat macam begini. Makanya dia kuat jalan kaki, bahkan berlari, karena ketangguhan fisiknya jauh di atas rata-rata. Tentu saja daku harus mengarahkan agar kekuatannya untuk menolong orang lain, bukan untuk menyakiti, apalagi untuk kabur.

Rabu, 15 April 2026

Review Film Uptown Girls, Kisah Nanny Dadakan

 

Kalau dengar dua kata ‘uptown girls’ apa klean langsung ingat lagunya Westlife? Tapii ini bukan tentang Westlife. Melainkan film yang berjudul Uptown Girls.

Judul               : Uptown Girls

Sutradara         : Boaz Y

Pemain            : Brittany Murphy (alm), Dakota Fanning

Durasi              : 1 jam 30 menit

Tahun              : 2003

Dikisahkan seorang gadis cantik bernama Molly Gunn yang sedang berulang tahun. Dia berpesta di night club bersama teman-temannya. Di acara itu dia naksir berat vokalis yang sedang tampil, namanya Nael.



Sahabat-sahabat Molly sudah menegaskan, Nael susah dikejar karena hanya fokus bermusik. Tapi Molly tetap berusaha agar mereka bisa dekat. Akhirnya Nael mau pacaran, bahkan meminjamkan jaket kulitnya.



Namun beberapa hari setelah pesta, Molly kena surat peringatan karena belum membayar berbagai tagihan. Dia ditipu oleh akuntan mendiang ayahnya, yang melarikan uang warisannya. Molly yang bingung akhirnya tinggal bareng Ing, sahabatnya.

Akan tetapi Molly tetap butuh pekerjaan untuk bertahan hidup. Setelah nyaris gagal garage sale barang-barangnya, akhirnya dia punya pendapatan dari satu sumber: menjadi nanny alias pengasuh anak. Masalahnya si anak ini nyebelin banget!

Molly vs Rae

Rae adalah anak perempuan berusia 9 tahun. Dia pernah bertemu dengan Molly di pesta ulang tahun. Lho kok bisa anak kecil masuk ke klub malam? Soalnya dia terpaksa dititipkan ke salah satu sahabat Molly, yang merupakan karyawannya Roma (ibunya Rae). Sedangkan Roma sibuk banget dan belum punya nanny baru.



Di pertemuan pertama saja Rae sudah menyentil Molly yang mengenakan sepatu kekanak-kanakan. Dia juga terlalu cerewet, strict, rutin minum pil, dan perfeksionis banget. Sampai di rumah Roma, Molly ternganga karena kamar Rae sangat rapi dan bersih.

Kepribadian Rae tentu bertolak belakang dengan Molly. Meski dia sudah dewasa tapi sangat berantakan, childish, seenaknya sendiri gitu deh. Rae pusing menghadapi nanny yang kurang dewasa. Sementara Molly juga mumet karena Rae terlalu berharap semuanya sempurna.

Kehilangan Lagi

Molly dan Rae akhirnya perlahan-lahan mulai akrab. Apalagi ketika Rae diberi peliharaannya Molly yakni….seekor babi! Akan tetapi semua berakhir.



Ayah Rae, yang sudah lama koma, meninggal dunia. Rae tentu shock berat. Roma memecat Molly dengan sepihak (dan membuatnya mencak-mencak). Apalagi Roma tidak sedih (mungkin karena suaminya bertahun-tahun koma sehingga dianggap ‘mati’.)

Yang bikin Molly marah adalah Roma tidak memperhatikan Rae sama sekali. Rae diam saja dan itu dianggap normal. Kok bisa anak tidak dipeluk dan dihibur ketika sedih? Dia manusia, bukan robot!

Molly sudah kehilangan pekerjaan dan sekali lagi dia kehilangan pacar. Nael, yang menuduhnya berantakan, ternyata memilih untuk jadi sugar baby-nya Roma! Karena wanita itu adalah salah satu produser musik ternama. Nggilani!



Bagaimana cara Molly bertahan hidup, tanpa pacar, tanpa pekerjaan? Dia juga terancam kehilangan Ing karena sahabatnya marah, ketika Molly membatalkan janji untuk menemani ke acara minum teh. Nonton yuuk, ini komedi-drama dan mudah dicerna ceritanya.

Anak vs Pekerjaan

Di film Uptown Girls, penulis skenario memperlihatkan bahwa parenting Roma sangat salah. Memang dia menjadi wanita karir yang sukses. Tapi dia lupa kalau anak adalah permata hati dan 100 persen dipasrahkan kepada nanny.

Sesibuk-sibuknya ibu, apa susahnya membacakan cerita setiap malam? Memeluk anak dan berkata bahwa ibu sangat mencintainya? Di sini daku menyorot ke cara pengasuhan yang salah dan membuat Rae terlalu dewasa sebelum waktunya.

Molly, meski childish, lebih waras dan perhatian ke Rae. Di sini dia memang berhak marah ke Roma karena terlalu mengatur anaknya. Juga tidak mengasuh Rae seperti anak pada umumnya. Nah, klean apa pernah melihat sosok anak yang tingkahnya terlalu dewasa?

Jumat, 10 April 2026

Akankah Aku Berhenti Menulis?

 

Layar itu berpendar selama berpuluh menit. Kosong. Tidak ada satu kata pun, bahkan satu tanda baca, di dalamnya. Sementara tangan masih diam, sorot mata sayu, mata termangu.

Ke Mana Semangat Menulisku?

Mungkin klean yang membacanya akan merasa aneh. Pasalnya blog ini selalu update setidaknya 7-8 kali sebulan. Namun sejak awal tahun 2026 produktivitasku menurun. Bahkan berpikir akankah berhenti menulis dan mencari pekerjaan lain?

Iyaa iyaa ini lagi curhat. Sejak beberapa bulan lalu rasanya emosi tergerus oleh perubahan aktivitas dan konsentrasi yang menumpuk ke keluarga. Kalau dulu Saladin diantar dan dijemput oleh ayahnya (waktu SD), saat ini dia kuantar (karena SMP-nya dekat rumah), dan pulangnya dia jalan sendiri (tapi kadang minta dijemput juga).

Habis antar jemput bocah masih harus beberes, memasak, mencuci, dll. Rasanya sudah capek duluan. Apalagi saat Saladin lagi bad mood dan harus dibujuk (dia ADHD). Rasanya mood jelek jadi menular dan keinginan untuk menulis jadi ambyar.

Dibayar Atau Tidak?

FYI, dulu daku produktif sekali dalam menulis. Tahun 2017-2023, tiap hari menulis setidaknya 2.000 kata. Bahkan libur lebaran hanya 2 hari, habis itu gas kerja lagi. Penyebabnya karena aku memang work from home di salah satu agensi kepenulisan, dan artikelnya nampang di salah satu koran online.

Akan tetapi, akhir tahun 2023 kontrak diputus secara sepihak. Habis itu kelimpungan karena belum ada pekerjaan tetap lagi. Kalaupun ada juga kepentok usia (35+).

Akhirnya aku balik ngeblog lagi tapi belakangan lelah karena fokus terpecah dan sempat kepikrian, ngapain sih nulis di blog pribadi tapi belum ada bayarannya? Lagipula job juga tidak sesering dulu. This is sad but true.

Lantas mikir, sebenarnya menulis ini hobi atau pekerjaan? Jika aku menganggapnya sebagai hobi maka lakukan saja. Namanya juga hobi, jadi happy saja.

Akan tetapi jika switch dari hobi ke pekerjaan maka ada perubahan. Tak selamanya kutuliskan topik yang kusuka. Kadang harus riset dulu dan baca artikel-artikel sumber yang njelimet. Dibayar memang tapi lebih banyak sukanya daripada dukanya.

Konsekuensinya, aku jadi money oriented dan merasa semua tulisanku harus dibayar. Padahal tidak semua artikel harus dimonetasi, bukan? Lagipula tujuan ngeblog juga bermacam-macam, selain untuk menyimpan memori juga untuk portofolio online.

Menulis Ebook

Karena merasa mentok ngeblog akhirnya aku memutuskan untuk menulis ebook. Namun membuat buku elektronik tak semudah bikin artikel. Pertama, tulisannya tentu jauh lebih banyak. Kedua, harus bisa bikin sampul dan layout ebook sendiri (biar hemat), jadi otodidak belajarnya.

Menulis ebook juga harus diiringi dengan promosi. Jadi seorang content creator yang menjual buku elektronik, wajib belajar ilmu marketing. Promosi di mana-mana, tentu dengan cara yang halus (bukan hard selling apalagi memaksa).

Pada Akhirnya

Pada akhirnya aku memutuskan untuk terus menulis, baik di blog maupun bikin ebook. Daku akan tetap menulis baik dibayar maupun tidak dibayar. Sebenarnya uang menjadi memusingkan karena ketika ditarget untuk monetasi, yang ada hanya writer’s block.

Tahukah klean? Salah satu motivasi untuk menulis lagi adalah sohibku yang tinggal di lain provinsi. Kala itu dia minta ide menu bekal untuk anaknya. Daku kebetulan punya draft ebook berisi daftar menu bekal, dan langsung kuketik ulang dan kukirim via email.

Setelah itu daku mikir lagi, ternyata menulis untuk menolong orang lain menyenangkan juga. Jadiii untuk mencari uang sebagai tujuan menulis memang bagus. Namun alangkah baiknya mindset-ku diperbaiki dulu. Menulis untuk membantu memecahkan masalah orang lain, untuk menghibur netizen, dll. Membuat karya yang bagus dan berguna, yakinlah nanti uangnya datang sendiri.

Akankah klean lanjut menulis?

Senin, 06 April 2026

Akankah Kita Mengasuh Anak Berdasarkan Ketakutan?

 

Belakangan daku nonton banyak video di sosmed, tentang mendiang Michael Jackson. Jacko the king of pop begitu lekat di hati para penggemarnya. Akan tetapi dia memiliki masa kecil yang kelam karena sang ayah, Joe Jackson, mendidik dengan kekerasan dan hukuman fisik.



Setelah menonton maka daku mendapatkan fakta lain. Joe Jackson begitu keras karena dia memiliki trauma pada masa perang. Di mana dulu keluarganya berada dalam keadaan tak punya. Kemiskinan benar-benar menjadi momok yang mengerikan. Oleh karena itu dia berusaha agar Michael dan anggota Jackson 5 lain berlatih keras agar menjadi bintang televisi nomor satu.

Trauma Orang Tua

Cerita tentang Joe dan Michael Jackson membuatku berpikir, apakah ada orang tua lain yang bersikap keras karena faktor trauma? Mereka takut terjerumus dalam kefakiran sehingga menuntut anak untuk berprestasi dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi.



Kemiskinan menjadi biang keladi untuk membuat seseorang berubah menjadi lebih baik. Akan tetapi, ketakutan akan kekurangan uang sebenarnya tidak terlalu baik. Dengan bermodal ketakutan tersebut maka anak justru merasa terbebani.

Michael pernah merasa sedih karena dulu dilatih terlalu keras oleh sang ayah sehingga dia tidak punya masa kecil yang indah. Meski sudah berdamai, tapi tentu ada rasa untuk menjaga jarak. Semua ini gara-gara satu kata bernama ‘ketakutan’.

Mental Block

Ada juga orang tua yang takut saat anaknya bermimpi tinggi. Misalnya saat si anak berimajinasi ingin traveling ke luar negeri, langsung dipatahkan dengan ucapan, “jangan, itu mahal!” Padahal kan bisa dicari caranya, misalnya cari sponsor, endorse, atau beasiswa.



Mental block bisa membuat anak trauma bahkan bertahun-tahun lamanya. Dia jadi tidak percaya diri dan takut untuk berubah menjadi lebih baik. Betapa kejamnya orang tua yang menanamkan tembok tinggi bernama mental block pada pikiran sang anak, yang bisa membuatnya jauh dari kesuksesan.

Scarcity Mindset

Kemudian, ada tipe orang tua yang takut saat melihat harga. Misalnya minuman seharga 5.000 dibilang mahal (karena biasa beli yang harga 3.000 rupiah saja). Padahal kondisi keuangannya menengah, masih bisa lah beli itu tanpa mikir besok harus makan apa.


Daku baru paham kalau ini yang dinamakan scarcity mindset. Di mana seseorang pernah menjadi orang yang tidak punya, lalu saat kehidupan membaik dia masih merasa takut miskin. Lantas harga-harga dianggap mahal. Padahal mahal dan murah itu relatif dan anak-anak wajib memahaminya, agar mereka punya mental orang kaya.

Mengapa Harus Takut?

Memang orang tua ingin agar anak menjadi lebih baik darinya. Tapi apakah mereka harus menggunakan rasa takut sebagai motivasi agar memiliki hidup yang lebih baik? Bukankah seharusnya motivasi itu berasal dari hal yang baik? Bukan dari perasaan negatif?

Ingatlah bahwa anak sebenarnya bisa merasakan hal yang dirasakan juga oleh orang tua. Ketika orang tua takut kekurangan, takut barang mahal, bisa diduplikasi oleh anak. Padahal ini berbahaya karena bisa merasuk ke alam bawah sadar dan mempengaruhi masa depannya.

Solusinya Adalah

Jadi bagaimana solusinya? Daku menyarankan agar para orang tua dan anak-anaknya berbicara dari hati ke hati (dan menatap mata secara langsung, tanpa gangguan dari gadget apapun). Dengan cara ini anak akan paham bagaimana masa lalu orang tua yang kurang manis, sehingga bersikap begini.

Selain itu, orang tua wajib melakukan konseling (malah lebih baik lagi kalau sebelum menikah melakukan trauma release dulu). Jadi dengan mental yang lebih sehat, bunda dan ayah akan menanamkan berbagai hal positif ke anak. Bukannya malah menjegal potensi mereka dengan menanamkan mental block yang berbahaya.

Jika anak diasuh dengan ketakutan, mental block, dan scarcity mindset maka dia bisa merasakan hal tersebut. Janganlah kita merusak masa depan anak dengan menanamkan pemikiran yang salah. Jika ada dinamika hidup, jangan merasa takdir ini kejam, karena manusia bisa berubah jadi lebih baik dengan perjuangan, doa, dan mindset yang positif.

Minggu, 05 April 2026

Review Film Stargirl, Kisah Gadis Unik dan Nyentrik

 

Ketika ada film Stargirl yang bisa ditonton di aplikasi Disney+ maka daku bersorak gembira. Karena apaa? Karena daku dulu pernah punya bukunya dan sudah sering re-read (sampai hafal ceritanya). Maka langsung penasaran dengan versi filmnya.

Apa sih bagusnya film Stargirl? Kekuatannya ada pada tokoh utama, Stargirl Caraway. Nama aslinya adalah Susan tapi dia minta dipanggil Stargirl. Dia adalah remaja cantik dan unik, anak baru di sekolah. Cewek ini tidak peduli akan pendapat orang lain dan cuek saja, dan belum pernah belajar di lembaga formal (karena sebelumnya homeschooling).

Keanehan Stargirl di SMU Mica

Stargirl merasa dirinya unik karena selalu membawa ukulele ke sekolah. Bukan untuk mengamen tapi karena dia hobi menyanyi. Khususnya saat ada teman yang berulang-tahun. Dia akan menyanyikan lagu happy birthday dengan sepenuh hati, padahal tidak diminta. Dan yang ultah juga tidak selalu kenal dengannya (walau mereka satu sekolah).

Akan tetapi teman-temannya menganggap Stargirl aneh, bahkan setengah gila. Mana ada anak remaja yang sekolah sambil membawa peliharaan berupa tikus! Dia dianggap terlalu sok akrab dan berbeda jauh dengan orang lain.

SMU Mica yang Membosankan

Pergaulan dan kehidupan di SMU Mica memang membosankan dan para murid banyak yang memakai baju warna gelap (di sana kan oleh sekolah pakai baju bebas). Mereka tidak pernah memenangkan kompetisi apapun. Bahkan tim football (rugby) juga sering kalah.

Oleh karena itu Stargirl langsung menjadi pusat perhatian karena dia selalu memakai baju warna-warni, secerah sinar matahari. Dia cuek saja saat memakai celana monyet warna merah ngejreng. Stargirl juga suka memakai topi.

Jadi Cheerleader

Tapi semua berubah ketika Stargirl tiba-tiba bernyanyi dengan ukulele kesayangannya di pertandingan football. Dia, yang memakai baju seragam cheers, yang dijahit sendiri, berhasil menghibur penonton. Efek positifnya, tim football SMU Mica jadi lebih percaya diri.

Sejak saat itu Stargirl diangkat jadi anggota tetap cheerleaders. Dia membawakan lagu yang diciptakan sendiri dan koreo juga sendiri. Para penonton jadi semangat karena ada Stargirl yang memanaskan pertandingan.

Leo dan Stargirl, Gita Cinta Remaja

Saat Stargirl jadi anggota cheerleader, dia dekat dengan Leo Borlock. Pemuda ini dulu juga anak pindahan. Tapi memutuskan untuk jadi remaja yang konvensional, karena trauma di-bully (dasinya dipotong oleh anak nakal). Padahal sebenarnya dia berbakat dan menggagas program Hotseat di TV sekolah, bersama sahabatnya (Kevin).

Leo yang pemalu jadi bahagia karena jatuh cinta dengan Stargirl. Mereka sering jalan bareng (benar-benar jalan kaki), meditasi bersama, dan mengobrol tentang masa depan. Diperlihatkan baju Leo saat bersama dengan Stargirl berubah menjadi warna cerah.

Popularitas yang Tidak Abadi

Akan tetapi Stargirl berubah dari bintang sekolah jadi sosok yang dibenci oleh semuanya. Penyebabnya karena dia menolong anggota football dari sekolah lain. Dia mencoba berubah, memakai baju warna gelap (agar seperti teman-temannya), lalu berjuang ikut lomba pidato. Walau Stargil menang tapi tidak ada yang bangga padanya.

Pada Akhirnya

Pada akhirnya kita mengenang masa remaja yang indah tapi bercampur dengan penyesalan. Betapa Leo menyesal mengapa dia tidak berusaha lebih keras untuk mencari Stargirl setelah cewek itu pindah rumah, atau minimal membelanya di depan banyak orang. Saat ada cinta masa remaja apakah ini cinta monyet? Atau hanya kekaguman belaka?

Kesanku Setelah Menonton Film Stargirl

Jujurr agak mengecewakan karena ending versi buku dengan yang di film berbeda! Pertama, di buku dikisahkan kalau Leo tidak ikut ke prom night (pengecut!) tapi di film dia datang, bahkan bernyanyi di hadapan teman-temannya. Gaun prom Stargirl di film juga tidak sedramatis yang digambarkan di buku. Klean nonton dan baca sendiri saja deh biar lehat perbedaan lainnya.

Anyway cerita Stargirl ini membawa pesan bahwa remaja (dan semua orang) bisa menjadi sosok yang baik dan perhatian terhadap sesama. Stargirl membuktikan bahwa dia memberi hadiah, pada tetangga yang tidak dikenal, karena suka melakukannya. Satu kebaikan akan menular dan membawa hasil positif. Terbukti setelah Leo dkk lulus, SMU Mica jadi meraih berbagai penghargaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

film Stargirl. Di mana tokoh utamanya nyentrik, lucu, bahkan datang ke sekolah sambil membawa ukulele!

Judul: Stargirl

Pemain:

Sutradara:

Tahun:

Adaptasi dari novel berjudul sama, karya Jerry Spinelli.

Dikisahkan Leo yang pindah ke sebuah kota kecil bernama Mica. Remaja cowok yang dibesarkan oleh single mother ini merasa bahwa Mica terlalu sepi, kecil, dan menyedihkan. Dia hanya terhibur oleh kado dasi pada hari ulang tahunnya, tapi entah siapa yang mengirimkan?

Hari-hari Leo begitu membosankan. Padahal dia sudah ikut ekstra kulikuler pertelevisian sekolah dan punya program bernama Hot Seat. Sampai dia bertemu dengan gadis manis bernama Stargirl Caraway.

Pertemuan Leo dan Stargirl

Kok bisa ada orang bernama Stargirl? Nama aslinya adalah Susan tapi dia mengubah nama panggilannya. Stargirl menjadi anak yang terlihat aneh tapi dia cuek dan tetap percaya diri.

Bagaimana tidak dibilang aneh kalau Stargirl bawa ukulele dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun ke temannya yang sedang birthday. Salah satu ‘korban’nya adalah Leo. Lhaa emangnya dia pengamen?

Meski sering dipandang miring tapi Sargirl tetap bergaya dan bermusik seperti biasa.