Siapa
yang suka baca novel Lima Sekawan, Seri Petualangan, Malory Towers, Pasukan Mau
Tau, dan Si Badung? Enid Blyton memang terkenal karena membuat kisah-kisah yang
seru. Para remaja jadi detektif andal dan pembaca menebak-nebak siapa pelaku
yang sebenarnya.
Selain
itu ada juga Seri Kumbang yang merupakan kumpulan cerpen untuk anak-anak.
Dengan ilustrasi yang bagus maka kalian akan juga menikmatinya. FYI, dulu daku
sempat jadi reseller buku dan berhasil
menjual banyak paket buku Seri Kumbang, karena memang popular dan banyak
peminatnya.
Akan
tetapi, ketika membaca ulang buku-buku Enid Blyton ketika sudah dewasa kok beda
rasanya. Ceritanya tetap bagus, tapi ada banyak pertanyaan di kepala. Ada juga
pelajaran-pelajaran hidup yang bisa dipetik dari kisah-kisahnya.
Dunia
yang Sudah Berubah Begitu Cepat
Buku-buku
Enid yang diterjemahkan di Indonesia ternyata pertama kali terbit puluhan tahun
lalu, jauh sebelum tahun 2000. Tak heran penggambaran pada masa itu, masyarakat
sudah menggunakan radio dan telepon rumah. Tapi tidak ada komputer ( karena
belum ada di pasaran).
Dunia
sudah berubah dengan sangat cepat. Sekarang komunikasi bisa lewat HP. Coba
kalau geng Lima Sekawan hidup di masa kini. Mereka bisa lebih cepat koordinasi
lewat WA, atau malah memecahkan kasus sambil ngonten?
Ini
juga yang jadi poin penting ketika membacakan cerita-cerita karya Enid Blyton
pada Saladin. Daku juga wajib menjelaskan keadaan pada masa itu. Di mana
masyarakat masih berkirim surat, anak-anak mengantar sendiri paket untuk nenek
dengan berjalan kaki, dll. Daku bilang ke Saladin kalau sekarang enak, tidak
usah surat-menyurat tapi bisa pakai email, dan kirim parcel bisa via ojol atau
ekspedisi.
Kebebasan
pada Geng Lima Sekawan
Yang paling mencengangkan adalah Fanny Kirrin (ibunya George) dan orang tua Dick, Julian, dan Anne, memberi kebebasan pada mereka untuk liburan tanpa ada pamong (pengawas yang sudah dewasa).
Read: Review Buku Lima Sekawan: Harta Finninston
Padahal Julian saat itu belum berusia 17 tahun lho. Jika Timmy the dog juga jadi penjaga maka juga
dirasa aman. Yaa mungkin dulu situasi masih relatif belum seramai sekarang,
tidak ada isu penculikan anak, kejahatan di jalan, etc.
Anak
Diajari Mandiri Sejak Kecil
Salah
satu yang bagus untuk ditiru dari buku-buku karya Enid Blyton adalah anak-anak
sudah diajari untuk mandiri sejak kecil. Misalnya ada tokoh yang masih SD tapi
sudah disuruh menjahit kancing sepatunya sendiri, belanja ke toko, naik bus
kota, dll. Tidak ada yang namanya anak manjaaa.
Read: Belajar Parenting dari Karya Enid Blyton
Apa
Peri Benar-benar Ada?
Enid
Blyton juga suka bikin cerita fantasi dan menghadirkan nenek sihir, peri, dll.
Biasanya sih daku skip aja bagian
ini. Soalnya peri digambarkan sebagai makhluk yang suka menghukum anak nakal.
Enid
Blyton the Brilliant Writer
Jadii
kita tuh bisa meniru kinerja Enid Blyton yang luarrr biasaa. Konon, dalam
sehari doski bisa menulis 5.000 kata, dan tidak pakai plot, outline, etc! Kata
doski, cerita di novel sudah tergambar seperti film di imajinasinya, dan
tinggal diketik saja. Tak heran buku yang dihasilkan banyaak sekali dan tentu
royaltinya juga melimpah.
Read: Review Lima Sekawan: Dalam Lorong Pencoleng
Bayangkan,
puluhan tahun lalu doski mengetik pakai mesin tik (atau mungkin dengan tangan).
Kalau salah harus mengulang lagi, memasukkan kertas, dll. Kita yang bisa
mengetik pakai laptop atau HP pasti bisa lah serajin doski, apalagi ada banyak
kemudahan dengan teknologi terkini.
Membaca
ulang buku-buku yang pernah dinikmati waktu kecil bisa jadi nostalgia dan coping mechanism yang sehat. Setelah
baca Lima Sekawan dan Seri Kumbang, daku mau baca lagi Seri Si Badung yang
kocak. Mana buku Enid Blyton favoritmu?































