Haloo selamat lebaran semuanya! Maaf lahir batin ya. Pada mudik ke mana? Beneraan ya rasanya Ramadan cepat sekali berlalu, tahu-tahu sudah idulfitri.
Read:
Pengalaman Mudik Kepanasan
Baju Lebaran Shimmer
Nah
kalau idulfitri identik dengan baju baru Alhamdulillah, tuk dipakai di hari
raya. Eh malah jadi nyanyi, wkwk. Tren baju lebaran tahun ini adalah shimmer jadi kinclong-kinclong gituu.
Tapi
daku gak pake baju ini. Pertama, emang udah enggak terlalu mengikuti mode
(karena sudah punya style personal
sendiri). Kedua, emang enggak suka aja. Kalau klean pake baju shimmer,
splendid, glowing juga?
Mudik Lokal Aja
Lebaran
tahun ini as usual daku mudiknya ke
rumah mama dan ibu mertua. Enaknya kalau nikah ama orang yang sekota, mudiknya
dekat, hahahaha. Hemat ongkos transportasi dan hanya butuh 10 hingga 35 menit
untuk ‘pulang kampung’.
Tapii
tapi kadang kangen juga mudik ke Jepara (tempat mbah oko – kakek). Saladin juga
penasaran Jepara tuh kayak apa. Curigaku dia Cuma pengen jajan aja soalnya mbah
buyut punya toko dan jual es krim juga.
Persiapan Mudik Super Rempong
Walau
mudiknya dekat tetapi persiapannya tetap rempoong. Pertama packing baju, beberes rumah, ngecek persediaan di dapur, isi
kulkas, dll. Kedua persiapan mental karena daku tim satu anak jadi pas unjung-unjung mesti ditanya, “Kapan
Saladin punya adik?” Lalu daku biasanya Cuma cengengesan.
Lebaran Super Slow
Sejak
pandemi maka daku merasa lebaran super
slow. Biasanya kan heboh ya pengen beli ini dan itu. Namun kok lama-lama
mager. Dahlah, buat apa beli baju baru? Lagian baju lebaran juga jarang
dipakai. Tiap hari ‘baju dinas’ di rumah adalah daster huakakka, maklum daku
IRT yang WFH.
Idulfitri Tak Harus Mewah
Idulfitri
hanya sehari dan memang tidak harus bermewah-mewah. Sejak menikah (tahun 2011)
paksuami yang mengajari sih. Beliau mau makan lauk apa saja (yang penting tidak
pedas).
Jadi
lebaran ya masak biasa saja, tidak harus ada opor ayam atau rendang daging
sapi. Merayakan idulfitri dengan sederhana juga tidak apa-apa. Yang penting ada
stok bahan mentah di kulkas (lebih banyak sayuran) dan Saladin dibelikan 1
setel baju. Udaaaaaah.
Saladin Bukan Pemalu
Nah
di hari idulfitri, setelah sungkeman sekeluarga maka kami keliling ke tetangga
satu RW. Saladin masih mau diajak unjung-unjung,
Alhamdulillah. Apalagi kalau nerima angpao langsung dikasihkan ke bundanya,
wwkkw.
Tapi
waktu bertamu ke rumah salah satu tetangga eh dia lari dong, balik ke rumah.
Kupikir dia malu karena ada banyak orang. Ternyata di halaman rumah beliau ada
tanaman monstera. Lahh, takut dia
(habis ini ke psikolog deh, biar tahu dia hanya takut, trauma, atau yang lain).
Menerima Jika Tak Sesuai dengan
Rencana
Satu
lagi pelajaran hidup di lebaran 2024: menerima jika kenyataan tidak sesuai
dengan rencana. Pertama, jadwal mudik dimajukan dan daku jadi gelagapan, tetapi
malah ada hikmah dan rezekinya.
Kedua,
ada kakak sepupu yang ngabarin kalau mau berkunjung di liburan idulfitri.
Beliau kerja di Jateng tapi istrinya orang Jatim, jadi pas mudik sekalian mau
main ke Malang. Padahal rencananya daku mau hibernasi
berhari-hari setelah sungkeman dan unjung-unjung.
Sebagai extrovert daku juga butuh me
time kayak gini.
Yaah
tapi daku keingat ajaran seorang teman untuk memuliakan tamu. Lagipula
jarang-jarang kakak sepupu bisa ke Malang dan untungnya ngabarin dulu. Jadi
habis itu cuss belanja lagi untuk persiapan menjamu beliau sekeluarga.
Lebaran
2024 rasanya istimewa banget dan berbeda dari tahun sebelumnya. Yang penting
adalah rasa syukurnya. Kesederhanaan waktu lebaran bisa dinikmati, dan bahagia
karena bisa berkumpul bersama keluarga besar.





