Hari
Rabu adalah hari yang menggembirakan bagiku karena Saladin ikut kelas offline (karena sekolahnya hybrid). Kalau dia di kelas kan bundanya
bisa me time sebentar, hehehe. Akan
tetapi Rabu tanggal 10 Juni 2026, sangat menggemparkan karena ada tragedi
listrik mati yang mengubah semua rencana.
Siang,
ketika Saladin sudah pulang sekolah, ayahnya berpamitan untuk kerja di luar
kota. Kami pun istirahat sebentar dan menikmati waktu berdua. Tapi keadaan
berubah ketika jam 16:28 tiba-tiba….
Bunda,
Saladin Takut Gelap!
BYAAR
PET! Listrik mati! Saladin langsung mewek dan daku juga jadi agak takut karena
tidak ada suami di rumah. Sebenarnya yang bikin si bocah manyun karena sinyal
internet hilang, jadi dia tidak bisa nonton, hehehhee.
Bagaimana
ini? Listrik mati tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. Mana tetangga malah
nyalain genset dan nyetel lagu-lagu dangdut, alamak! Ya sudah, daku memutuskan
untuk packing baju, laptop, HP, dan
barang-barang lain. Lantas ganti baju, pakai kerudung, sepatu, dan mengajak
Saladin untuk mudik ke rumah mama, sekalian menginap dan besoknya berangkat
sekolah dari sana.
Alhamdulillah
rumah orang tuaku masih satu kota (di Malang), hanya beda kecamatan. Jadi
mudiknya dekat banget dan jalan kaki saja (alasan akan disebutkan di bawah).
Hitung-hitung olahraga di soree hari.
Jalan
Kaki Lagi dan Lagi
Jalan kaki? Iyaa, jarak dari rumahku
ke rumah ortu sekitar 3 kilometer. Saladin sudah pernah kuajak mudik dengan
cara jalan kaki sebelumnya, sampai 2 kali. Jadi dia juga hafal rute ke rumah
uti tersayang.
Alasan lain karena sinyal internet
ambyarr, jadi tidak bisa pesan taksi online.
Mau minta tolong ke tetangga yang punya wifi (untuk memesankan) juga malu. Dan
daku kagak bisa mengendarai sepeda
motor hehehe. Yaa sudahlah, jalan kaki saja.
Kubilang jalan kaki lagi karena
paginya daku dan Saladin sudah jalan ke sekolah yang jaraknya sekitar 800 meter
dari rumah. Lanjut daku pulang dengan rute yang sama. Biasanya sih bocah bisa
pulang sendiri, tapi entah mengapa dia minta jemput siangnya. Jadilah hari itu
daku jalan sekitar hampir 6 kilometer, pagi, siang, dan hampir petang, untung
kakinya enggak rewel.
The
Power of Kepepet
Benar-benar sore itu membuktikan the power of kepepet. Setelah selesai packing dan rapi, Saladin kuajak untuk
beli susu botolan di warung tetangga. Lantas kami cepat-cepat jalan kaki karena
waktu sudah mau mepet maghrib. Targetnya sebelum adzan maghrib, kami sudah
sampai rumah ortuku (maghrib di Malang jam 17:20).
Saladin malah gembira walau mudiknya
jalan kaki, mungkin karena dia anak ADHD jadi fisiknya juga lebih kuat. Malah
daku yang jalannya harus lebih cepat, karena doi hampir lari menuju rumah
mbahnya. Untung lalu-lintas tidak terlalu ramai walau agak deg-degan saat ada
mobil boks melintas.
Tapi
karena berangkat terburu-buru, daku lupa tidak bawa bekal air putih, jadi agak
tremor waktu sampai di jembatan sulfat. Setelah melewati jembatan, daku istirahat
sebentar, sambil mengecek pesan di ponsel. Lantas Saladin malah tambah semangat
larinya, dan daku memasukkan lagi HP dengan cepat, lalu mengejarnya.
Kami
pun berjalan lurus dan lantas belok kiri, melanjutkan perjalanan di daerah
Sulfat. Sudah lumayan dekat, tapi tiba-tiba Saladin belok kiri ke…minimarket!
Benar dugaanku, bekal minumannya habis jadi dia ingin beli minuman lagi.
Aduh!
Matahari hampir tenggelam, jadi Saladin kubujuk untuk beli mie instan saja
(karena kalau dia memilih minuman, cukup lama di depan kulkas showcase). Untung dia mau dibilangin
kalau minumnya di rumah mbah uti saja. Setelah membayar baru kami melanjutkan
perjalanan, sekitar 150 meter lagi.
Tak
disangka setelah menyebrang malah ketemu sohib zaman SD, yang sedang
berboncengan dengan suaminya. Untung dia mendengar sapaanku, dan kami melambaikan
tangan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan sambil berdoa, dan tentu sambil
berlari mengejar Saladin.
Akhirnya
kami sampai di depan rumah mbah utinya Saladin, pas adzan maghrib. Perjalanan sekitar
40 menit, Alhamdulillah sampai juga. Tapi ortuku shock kok jalan kaki? Kok tidak telepon minta jemput? Yaa udahlah,
udah terlanjur jalan kaki dan kami istirahat sebentar sebelum maghriban.
Inilah
cerita mudik jalan kaki karena listrik mati, dadakan tapi seru. Yang paling
menegangkan adalah ketika mengejar Saladin padahal di sebelahnya juga banyak
sepeda motor yang lewat. Alhamdulillah, sudah terlewati, dan kalau
dipikir-pikir kalau Saladin kemarin-kemarin nekat juga niru bundanya,
hahahahahahaaaa.



