Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juni 2025

Sepiring Ikan Goreng yang Dirindukan

 Bosan!

Alamanda menutup lagi tudung saji. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang tapi dia kehilangan selera makan. Lagi-lagi sang ibu memasak ikan goreng. Heran, mengapa beliau seakan terobsesi dengan seafood? Lauknya kalau tidak ikan ya kerang atau udang.

Dengan langkah gontai Alamanda berjalan ke ujung gang. Untung di sana ada warung bakso Pak Man yang terkenal seantero kampung. Semangkok bakso langsung dia habiskan, tak lupa sebotol teh dingin yang baru keluar dari kulkas.

                                                     Pexels

Sore harinya, Bu Farida hanya geleng-geleng kepala melihat lauk di meja makan masih utuh. Berarti Alamanda, putri sulungnya, lagi-lagi jajan di luar. Padahal usianya sudah 20 tahun, bukan lagi anak kecil yang ngambek lalu dibujuk dengan makan di restoran.

***

Kebiasaan buruk Alamanda berlanjut ketika dia sudah menikah. Ketika Bu Farida mengirimkan sepanci opor ke kontrakannya, dia hanya mau memakannya sedikit. Keesokan harinya masih banyak paha dan sayap ayam yang berenang di lautan santan. Hasan, suami Alamanda, yang rajin mengecek kondisi opor dan memasukkannya ke dalam kulkas agar tidak mudah basi.

                                             Pexels

“Mas Hasan, sebagian ayam di panci dikasihkan ke kucing saja ya?” bujuk Alamanda. Rasanya dia sudah bosan sekali masak opor walau masih di awal bulan Syawal.

Hasan geleng-geleng kepala. Dia paham bahwa istrinya dulu adalah gadis manja. Alih-alih marah, pria itu membujuk Alamanda untuk duduk di kursi ruang tamu. Pagi ini Hasan-lah yang menjad chef, mengubah opor menjadi ayam goreng dan nasi goreng. Pasti Alamanda senang.

***

Setelah pandemi, keluarga Hasan dan Alamanda masih tinggal di rumah kontrakan. Bedanya, jika dulu Hasan keluar rumah untuk mengajar, sekarang dia pergi untuk mencari pekerjaan. Ketika ada lay-off massal, pria itu tetap bertanggung jawab untuk keluarga kecilnya dan tak malu untuk bekerja kasar, bahkan jadi tukang batu pun dia mau.

Sementara Alamanda terpekur di depan kulkas. Hanya ada es batu, jeruk nipis, cabe, dan kubis. Tiada lagi ayam, telur, atau bahan mentah yang bergizi. Sekarang keadaan tak lagi sama. Apa lagi yang harus dia masak ketika suaminya jobless, sementara dia juga tidak bekerja?

                                             Pexels

                                  

Alamanda membuka stoples, Alhamdulillah masih ada setengah bungkus tepung bumbu serba guna. Setelah itu kubis dicincang dan dicuci bersih. Setidaknya siang ini dia dan Nanda masih bisa makan bakwan goreng isi sayur. Anaknya tidak mengeluh dan mau saja makan bakwan meski tanpa udang.

Setelah selesai menggoreng bakwan, Alamanda mengatur meja. Tak terasa air mata menetes. Dia merindukan harum aroma ikan goreng buatan ibunya. Betapa dulu dia tidak bersyukur dan mengeluh bosan, padahal beliau sudah memasak dengan penuh kasih-sayang.

                                                   Pexels

Ketika Hasan jobless maka menjadi titik balik bagi Alamanda. Titik balik untuk menjadi pribadi yang mudah bersyukur. Sepiring nasi dan sepotong lauk menjadi istimewa ketika dimakan dalam keadaan lapar. Jangan mudah mengeluh apalagi mencela makanan.

“Assalamualaikum!”

Alamanda segera membuka pintu. Ada Noor, adiknya, sedang membawa rantang  berisi ikan dan lauk-lauk lain. Sementara di tangan kiri dia membawa kresek ukuran besar. Dilihatnya tulisan di kresek, “bakery”. Alhamdulillah, ada rezeki dari adik tersayang, sehingga hari ini dan besok dia bisa makan enak. Tuhan maha baik, ketika manusia bersyukur maka kenikmatannya akan ditambah.

 

Rabu, 30 April 2025

Kolak Pisang Error

  

Sebagai seorang istri, Patime ingin menyenangkan suaminya. Sejak kemarin Parjo, sang suami, ingin berbuka puasa di hari pertama Ramadan dengan kolak pisang. Patime dengan semangat membawa dompet warna merah jambu bergambar hello kitty, berisi beberapa lembar uang warna ungu, hijau dan kuning.

 

Di depan penjual buah, Patime langsung mengambil pisang dan ditukar dengan selembar uang warna ungu. Kemudian dia bergeser ke lapak sebelah untuk beli santan instan berbentuk segitiga warna hijau (tapi dalamnya putih, nah lho!). Patime tak lupa beli sebungkus kecil vanilla bubuk dan seperempat kilogram gula merah.



 

Patime sudah menghafal resep kolak yang diberi oleh Mpok Sumi, tetangganya. Diambilnya panci dan diisi dengan air keran (bukan air terjun). Sambil menunggu air mendidih, Patime mengupas pisang dan memotongnya. Kemudian dimasukkan pisang, gula merah, vanilla bubuk, dan santan instan.

 

Tak sampai 30 menit, kolak hampir matang. Tapi Patime heran. Mengapa begini bentuknya? Ah sudahlah, nanti biar Parjo yang mencicipi.

 

Parjo datang 5 menit jelang maghrib. Dia langsung mandi, ganti baju, dan melihat panci berisi kolak.

“PATIME? INI APA?”

 

Patime sangat kaget karena selama 3 bulan menikah, sang suami tidak pernah berteriak. Apa salahnya?

 


“Maaf Bang. Ubur-ubur ikan lele. Kolak pisang sudah siap, le! Apa salahku dan apa dosaku, mengapa kau berteriak padaku? Akuu tak sanggup lagi, menerima semuanyaaa….”

 

Patime terus bernyanyi sampai Parjo pusing tujuh keliling. Dia hanya pekerja bangunan. Bukan Mas Anang yang jadi juri acara lomba nyanyi di tv.

 

“Patime, istriku sayang. Maafkan abang. Tapi, kolak apa yang kau hidangkan?” Parjo mencoba untuk bicara lebih lembut.

 

“Anu, Bang. Tadi aku bikin kolak pakai pisang yang warna hijau, habis itu yang paling murah. Lalu gula merahnya kucemplungin aja bulat-bulat, biar cepat matang.”



 

Astagaaa! Parjo langsung ngakak guling-guling. Ternyata Patime tidak bisa membedakan antara pisang tanduk dengan pisang ambon. Pantesan kolaknya error!

Sabtu, 22 Juni 2024

Balada Mahasiswa Pura-Pura Miskin

  

Brak!

 

Kubuka kenop pintu kos dan mendorong daun pintu dengan kasar. Tak peduli nanti tetangga sebelah tergnggu atau tidak. Siapa peduli mereka sedang tidur siang atau mengerjakan tugas, bodo amat! Lagipula setelah beberapa bulan tinggal di kos-kosan milik Mak Uti, aku tak begitu akrab pada mereka.

 

Paling-paling hanya Kirana yang kukenal. Itupun karena dulu ibuku pernah membawakan oleh-oleh sekotak bolu cokelat dan kubagi dua, lalu kuantar ke kamarnya. Habis yang lain juga jarang ada di kos. Apalagi kabarnya, si Tetha yang hobi utak-atik, malah tenggelam dalam kesibukannya di dalam laboratorium.

 

Ah, kuliah selama 3 jam hampir mendidihkan otakku. Salahku sendiri kurang teliti, mengira jurusan Ilmu Ekonomi dan Pendidikan Ekonomi itu sama. Padahal beda jauh! Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Yang penting aku bisa pulang kampung dengan membawa ijazah sarjana.

                                  Pexels

 

Aku duduk santai di kasur sambil membuka sepatu dan kaus kaki, lalu melemparkannya asal-asalan. Aroma keringat menguar dari kaki, ah, dilap dengan tisu basah saja. Sebenarnya aku lelah hidup begini. Pergi ke kampus naik angkot, sesekali naik ojek di awal bulan. Selalu pakai celana yang warnanya itu-itu saja, begitu juga kemejanya. Tasku juga dibeli di pasar, bukan di dalam Mall.

 

Padahal Ibu dan Bapak walau ada di kampung, tapi membekaliku dengan uang yang cukup. Malah lebih dari cukup. Sebenarnya bisa sih aku beli sepatu bermerek atau sesekali naik taksi, namun lebih baik begini. Biasa saja berpenampilan lusuh agar dikira miskin.

 

Mengapa aku harus berpura-pura miskin? Ah kayak gak tau aja kelakuan rata-rata anak kos. Tanggal muda foya-foya. Tanggal tua merana. Kalau aku ke kampus pakai sepatu Ribux atau Alatas, bisa-bisa mereka pinjam uang seenaknya. Padahal lebih baik uangnya kubuat investasi saham dan beli logam mulia. Kan sesuai prinsip ekonomi yang diajarkan di kampus, gitu looh!

 

Sayang sistem beasiswa kampus tidak bisa dikibuli, karena menggunakan pengecekan rekening listrik dan foto rumah. Jika saja sistemnya masih manual seperti beberapa tahun lalu mungkin aku bisa mendaftar beasiswa dengan modal SKTM.  

 

Ting!

 

Ada WA masuk. Rupanya dari Bu Sasmita. Beliau ingin aku pergi ke ruang dosen. Padahal jam kuliah sudah selesai. Katanya ada kelebihan nasi kotak konsumsi rapat dan aku boleh mengambilnya.

 

Baru saja mau membalas WA, ada pesan lagi yang masuk ke ponselku. Kali ini dari Pak Darmo, sang penjaga parkir fakultas. Katanya ada hadiah untukku. Hadiah apa?

 

Eits, jangan berpikiran macam-macam. Pak Darmo sudah punya anak-istri di kampung. Namun beliau sering kasihan padaku yang berpenampilan dekil. Katanya, wajahku mirip dengan almarhumah putri bungsunya. 

 

Tanpa pikir panjang segera kusambar tas, kuisi dengan dompet dan HP. Kukenakan sepatu keds, karena akan berlari ke kampus. Nasi kotak, aku datang! Hadiah, tunggulah! Kalian jangan bully aku ya, salah mereka terlalu bersimpati dan menilai seseorang dari penampilan luarnya.

 

Kamis, 20 Juni 2024

Pisang Goreng Terakhir untuk Nona Kecil

 Aroma pisang goreng menguar di dapur. Emak menaburinya dengan serpihan gula aren. Pisangnya terlihat cantik, kontras dengan keadaan rumah ini. Hanya berdinding anyaman bambu dan lantainya juga masih tanah. Mungkin satu-satunya benda berharga di rumah ini adalah jam dinding.

 

Pagi ini, seperti biasa, aku berjualan pisang goreng. Dengan hati-hati kucium tangan Emak yang sudah keriput. Beliau membantuku untuk mengangkat tampah berisi pisang ke atas kepala.




 

Kukenakan sandalku lalu berjalan ke rumah Pak Jendral. Istri beliau sudah memesan pisang goreng. Aku senang saat ke sana karena bisa bermain sejenak dengan anaknya.

 

Rumah Pak Jendral berada di di seberang kampung. Hampir semua rumahnya berwarna hijau. Untung aku sudah mengenal Pak Slamet sang penjaga kompleks sehingga tak perlu lagi meminta izin untuk memasuki kawasan tersebut.

 

“Selamat pagi, Bu! Saya mengantar pisang goreng!”

 

Seorang pembantu membukakan pintu. Bu Jendral menyambutku dengan wajah cerah. Setelah membayar pisang goreng, beliau langsung menyuruhku untuk pulang.

 

“Mengapa pulang, Bu? Saya masih ingin bermain dengan nona kecil.”

 

Bu Jendral setengah berbisik, “Sudah, langsung pulang saja. Keadaan sedang kurang aman. Kamu lihat kan di kompleks ini makin banyak penjaganya?”

 

Dalam hati aku mengiyakan. Cepat-cepat aku pulang dan membawa tampah. Sementara kantong celanaku gembung, penuh dengan uang koin pemberian Bu Jendral.

 

*****

 

Keesokan harinya aku menjajakan pisang goreng lagi. Namun sayang, penjagaan di kompleks makin diperketat, tidak boleh ada orang luar yang masuk. Akhirnya aku berjalan ke kampung lain yang jaraknya jauh sekali. Mungkin Emak akan marah saat tahu aku nekat berkeliling sampai belasan kilometer.

 

“Dik, boleh beli semua dagangannya?”

 

Seorang pemuda berkemeja putih memanggilku. Aku setengah berlari menghampirinya. Untung saja semua pisangnya tidak jatuh.

 

“Iya, Kak. Pisang gorengnya masih banyak.” Kubungkus semua pisang dengan kertas koran bekas. Sementara sang pemuda memberikanku dua genggam uang koin.

 

“Ini kebanyakan!” Namun pemuda itu memaksaku untuk menerimanya.

 

“Orang Indonesia harus makan buatan Indonesia! Lebih baik makan pisang goreng daripada roti. Supaya rakyat makmur dan ada keadilan!”

Sungguh aku tidak mengerti maksudnya. Sekolah pun aku tak pernah. Mungkin karena kasihan melihatku yang kebingungan dan kelelahan, sang pemuda mengajakku untuk masuk ke rumahnya.

 

Baru kali ini aku masuk ke rumah yang memajang bendera palu arit. Gambar apakah itu? Ahh, nanti saja kutanyakan ke Emak.

 

“Nama saya Tono. Adik namanya siapa?”

 

“Saya Nurma, Kak. Terima kasih telah memberi semua pisang goreng jualan saya.”

 

Kak Tono menepuk-nepuk bahuku. Sungguh aku malu dibuatnya. Apalagi saat ia ingin mengantarkanku pulang. Untung saat itu ada tamu sehingga ia membatalkan niatnya.

 

Kak Tono akhirnya memesan pisang goreng untuk besok. Aku senang-senang saja. Apalagi ia berjanji akan mengajariku membaca.

 

****

 

Malamnya aku  mendengarkan radio di rumah Nano. Maklum, di rumahku tidak ada radio. Aku dan keluarga Nano kaget karena ada pemberitahuan bahwa keadaan makin tidak aman. Penduduk diminta untuk tidak keluar rumah.

 

Bagaimana dengan pisang goreng jualanku? Aku juga tak bisa datang ke rumah Kak Tono. Akhirnya keesokan harinya aku nekat keluar rumah dan tidak mengindahkan larangan Emak.

 

Aku langsung menyesal saat keluar rumah. Tidak ada orang di luar. Ke mana mereka? Apa sedang antri beras di koperasi?

 

Setelah berjalan cepat ke rumah Kak Tono, aku terkesiap. Ada tanda X warna merah di pintu rumahnya. Padahal biasanya tidak pernah dikunci.

 

“Angkat tangan!”

 

Suara bariton mengagetkanku, nyaris membuat tampahku jatuh. Aku letakkan tampah di tanah lalu mengangkat tangan.

 

“Ampun, Pak! Saya hanya jualan pisang!” Lututku bergetar ketika melihat senjata yang disorongkan.

 

Bapak berseragam hijau menatapku lekat tapi tidak menurunkan senjatanya. “Kamu keluarganya Tono? Dia sudah ditangkap karena jadi penghianat negara.”

 

“Ampun, Pak! Bukan! Saya hanya penjual pisang goreng.” Rasanya aku hampir ngompol.

 

 

Namun sang bapak tampak tidak percaya. Dia hampir meringkusku, lalu….

 

“Jangan, Pak! Lepaskan anak kecil itu! Dia biasanya jualan di kompleks kita. Bu Jendral juga mengenalnya!”

 

Kutengok arah belakang. Pak Slamet! Puji syukur kepada Tuhan karena beliau membelaku. Akhirnya si bapak melepaskanku lalu menyuruhku pulang.

 

“Pak Slamet, pisang gorengnya buat Bapak ya? Tolong berikan juga kepada nona kecil.”

 

Tiba-tiba raut wajah Pak Slamet berubah. “Nona kecil ditembak oleh gerombolan tak bertanggung jawab. Mereka benar-benar kejam!”

 

Rasanya aku ingin pingsan. Nona kecil sudah meninggal. Ia tidak bisa makan pisang goreng buatan emakku. Kota jadi berasa makin suram. Kapankah keadaan ini berubah?

Sabtu, 15 Juni 2024

Kejutan di Suatu Kafe

 Jika kau tahu artinya cinta, maukah kau memberi tahuku yang sebenarnya?

 

Bagi orang kebanyakan, malam minggu adalah malam bercinta. Wakuncar alias waktu

kunjung pacar pada yang tercinta. Sabtu malam adalah momen romantis, kala sang kumbang

mendekati bunga dan mereka memadu kasih. Jika sudah bersua, maka dunia bagaikan milik

berdua. Sementara yang lain hanya mengontrak.

 

Telah kulalui puluhan, bahkan ratusan malam minggu dengan kencan-kencan yang

mendebarkan. Entah berapa kali aku mendapatkan barang-barang sebagai kejutan. Mawar

merah sudah biasa, begitu juga cokelat dengan potongan kacang mede di dalamnya.

 

Baju?

Lemariku hampir sesak dengan berbagai blus, rok, sampai hanbok pemberiannya. Ada pula

jam tangan kekinian yang modelnya sangat kusukai, karena hanya bisa didapatkan di gerai

ternama. Bahkan bulan lalu, cincin platinum bertahtakan batu rubi telah melingkar manis,

sebagai tanda keseriusannya.

 


Ah, betapa indahnya jadi wanita. Aku bukannya materialistis, namun apakah kita bisa hidup

hanya dengan makan cinta? Jika uang tak bisa memberimu kebahagiaan, maka kau telah

belanja di tempat yang salah. Itu prinsip hidupku. Seorang wanita muda yang selalu

dikelilingi oleh banyak pria.

 

Sabtu ini kulalui dengan cukup lancar, tapi rasanya aku ingin menepi sejenak dari kencan-

kencan yang mengesankan. Rasanya dicintai lebih nikmat daripada sekadar mencintai,

apalagi jika tak mendapat balasan. Namun aku ingin menghabiskan malam minggu sendirian,

tanpa ada tuntutan harus berdandan sangat molek demi sang pujaan hati.

 

Kuarahkan mobilku ke All Blinks Cafe. Di antara anak-anak muda, tempat itu sangat terkenal,

karena menyajikan berbagai hidangan. Mulai dari makanan ringan, minuman segar, sampai

masakan khas Korea Selatan.



 

Semua akan membuat pengunjung tersenyum karena

kelezatannya. Tak kupedulikan dietku pada malam minggu ini, aku hanya ingin makan dan

bersenang-senang, dan lari dari kejaran para penggemar yang menunggu dengan setia.

 

Penggemar? Kuakui, mereka amat menyenangkan untuk waktu yang singkat. Namun ketika

sudah bosan, aku melipir dan memblokir nomor mereka begitu saja. Terdengar kejam, namun

sebaga wanita yang belum menikah, wajar kan jika aku masih dalam tahap coba-coba?

 

Jika ada yang benar-benar cocok, baru kupertimbangkan untuk naik ke pelaminan. Itupun

sepertinya masih lama, karena aku juga belum lulus kuliah. Setelah itu akupun tak ingin

segera menikah, melainkan ingin berbisnis fashion, karena amat menyukai mode.

Kutargetkan untuk menikah di usia 26, tidak terlalu muda juga tidak terlalu terlambat.

 

All Blinks Cafe sepertinya nyaris penuh, hal ini terlihat dari banyaknya kendaraan yang

Ada di luar. Untung ada 1 tempat kosong di pojokan. Tukang parkir dengan sigap

mengarahkan mobilku, sehingga bisa terparkir dengan aman walau tempatnya agak sempit.

 

Kubuka pintu mobil, menyalakan alarm, lalu melempar senyum kepada sang tukang parkir. Ia

hanya menjawab dengan anggukan kepala. Tak lupa kusodorkan uang 50.000, kubayar

sekarang agar nanti saat pulang bisa langsung pergi tanpa harus mencarinya. Lalu aku segera

masuk karena perutku sudah berorkestra saking laparnya.

 

Setelah pintu terbuka, aroma bunga langsung menguar. Kurasakan sejuknya AC

yang menerpa, sesaat setelah aku melangkah masuk. Desain kafe ini minimalis-modern dan

sangat nyaman untuk dibuat tempat nongkrong. Apalagi di sini tak hanya menyediakan kopi

dan makanan ringan, namun juga ada makanan berat. Sehingga cocok disinggahi saat akan

makan malam.

 

Sesuai dugaan, kafe ini nyaris dipenuhi pengunjung yang mayoritas anak muda. Enggak gaul

kalau enggak datang ke All Blinks Cafe. Apalagi di malam minggu, makin banyak orang

yang memadati bagian dalamnya, karena mereka ingin melihat live performance dari

penyanyi bersuara emas.

 

“Mbak, pesan 1 gelas jus jeruk dan 1 porsi hotteok, juga sepiring french fries!” Pelayan itu

hanya tersenyum lalu mencatat pesananku. Sambil menunggu pesanan datang, aku

mengambil HP lalu selfie.

 

Cekrek! Dengan sekali pencet, aku memotret diriku sendiri, lalu jempolku bergulir di atas

Layar untuk mengunggahnya ke Instagram. Interior kafe ini unik dan sangat instagrammable.

Andai tidak terlalu banyak pengunjung, mungkin aku menjelajahi setiap sudutnya, mulai dari

Coffee Bar, sampai Juice Bar.

 

Aku mengagumi fotoku sendiri di Instagram. Kata orang, wajahku mirip Lisa Blackpink.

Kadang aku malah dikira orang Korea karena kulitku yang kuning langsat. Padahal Lisa

bukan asli Korea, melainkan orang Thailand.

 

Rambutku yang berwarna brunette tampak

berkilau karena tadi pagi kusempatkan untuk keramas dan mengoleskan conditioner. Meski

pendek tetapi aku harus merawatnya, karena rambut adalah

mahkota wanita.

 

Lama sekali pesananku belum datang? Mungkin karena keadaan kafe sedang ramai-ramainya.

Kulihat sosok pelayan yang tadi menanyakan pesananku, namun sepertinya ia membawa

cangkir, bukan minumanku pastinya.

 

Sebelum berdiri dan menghampirinya untuk menanyakan kapan pesananku datang, tiba-tiba....

 

“Rani! Ini kamu, ke mana saja selama ini? Pindah kuliah ya? Aku mencari di indekosmu

enggak ada! Semua medsos dan WA-mu enggak aktif!”

 

Ucapan pria itu bagaikan tembakan peluru beruntun, tepat ke dalam hatiku. Bagaimana aku

bisa menjawab, jika ia tidak memberiku kesempatan untuk berbicara? Ia, Denias, mantan

pacarku yang sekarang terlihat makin gagah dengan kulitnya yang kecokelatan.

 

“Aku, aku....”

 

Tak ada kata yang bisa terucap, lidahku kelu. Bagaimana aku bisa mengaku pada Denias,

bahwa ia hanya ban serep alias pacar cadangan? Sungguh, memutuskan untuk

menghindarinya adalah keputusan yang kusyukuri. Aku tak ingin melukainya lebih jauh lagi.

 

Tiba-tiba terdengar lagu Hope Not dari Blackpink yang sangat familiar di telingaku.

Penyanyi di kafe ini melantunkannya dengan sangat baik.

 

Naboda neunn salam manna haengboghae

 

Karena aku hanya memberimu rasa sakit saat kami bersama

 

Nal ijeul mankeum maneun anigil

 

Tapi kuharap kau tak sampai melupakanku

 

 

“Kamu tambah cantik, Rani!”

 

Ah, mengapa Denias memujiku? Apakah ia tak bisa melupakanku? Walau setahun tak

bertemu? Sepertinya lagu Hope Not sangat cocok dengan keadaanku saat ini.

 

Tiba-tiba ada tangan halus yang melingkar ke pinggangnya. Denias terpekik. Bukankah itu

Tante Mika? Jadi mereka?

 

“Kenalkan, ini Mika istriku.” Mereka tampak serasi walau perbedaan umurnya sangat jauh.

Aku heran, bagaimana bisa Tante Mika malah menikah lagi dengan brondong?

 

“Kebetulan kami sudah kenal, karena Tante Mika adalah teman mamaku. Wah dunia ini

sempit ya! Selamat atas pernikahanmu!”

 

Aku harus menguasai emosi walau sedikit tersakiti. Tak kusangka Denias berani menikah di

usia yang semuda ini. Tak usah kuteteskan air mata di hadapan mereka. Untuk apa kutangisi

pria yang telah lama kutinggalkan? Aku harus berakting dan tersenyum manis, walau dalam

hati sedikit tergores.

 

Denias hanya masa lalu. Lagipula, ia tak sekaya pacar-pacarku yang lain. Jika Andy bawa

mobil sedan, sedangkan Tony mengendarai motor sport, Denias hanya bermodal motor butut.

Mana pantas seorang Rani naik kendaraan jelek seperti itu?

 

“Rani, lama amat? Akhirnya kususul ke sini!”

 

Aku menoleh, mencari sumber suara. Ah, rupanya ia tahu aku ada di All Blinks Cafe.

Rasanya agak menyesal, mengapa harus mengunggah fotoku ke Instagram dan disertai

dengan titik koordinat terkini. Ia pasti melihatnya lalu menyusulku.

 

Tangannya yang lembut menggamit lenganku. Sosoknya masih gagah dan mampu

mengimbangi kelincahanku. Namun Denias tiba-tiba seperti melihat hantu, saat melihat

wajah kekasihku.

 

“Papa?”

 

Aku tak peduli jika ia benar-benar Papa Denias. Yang penting kekasihku bisa membuatku

nyaman. Aku taruh uang 100.000 di meja, sekadar untuk mengganti pesananku yang tak

kunjung datang. Kami melenggang, meninggalkan mereka yang masih termangu.

 

Lamat-lamat terdengar lagu Hope Not dari panggung.

 

For you, Nan apado joha

 

Demi kamu, tak apa-apa aku tersakiti

 

Hamkkehaneun dongan neoege sangcheoman namgyeojun nannika

 

Sebab aku hanya memberimu sakit semasa kita bersama

 

Walau rasanya sedikit sakit, karena kamu sudah menikah dan tak mungkin kupacari lagi, tapi

aku berusaha ikhlas Denias. berbahagialah bersama istrimu. Daripada kau terus merasa

cemburu saat aku dulu dikejar oleh para penggemarku.

 

Maafkan aku karena menjadikan papamu sebagai kekasihku. Boleh saja kau anggap aku

mengincar lelaki berkantong tebal. Namun ia memberi kenyamanan, seolah-olah sedang

dimanja oleh almarhum ayahku sendiri. Sampai jumpa Denias, semoga kita tak pernah

berjumpa lagi.