Rabu, 14 Oktober 2026

Anak ADHD Adalah Kutukan?

 

            Dengan sinis mereka menatap anak ADHD lalu melontarkan kalimat pedas, “Dasar bocah kutukan!” Si bocah yang jadi objek ghibah cuek saja sambil memanjat pagar dan tertawa-tawa sendiri. Dia belum mengerti, mengapa ada banyak perempuan yang memelototinya?

Tanpa merasa bersalah, gerombolan tukang gossip itu berlalu sambil ngakak. Sementara di teras, ada seorang ibu yang hatinya terluka. Mengapa anaknya yang belum berdosa mendapatkan cap jelek dari oknum seperti mereka?

Masyarakat yang Masih Percaya Mitos

            Memiliki anak ADHD berarti melewati seribu satu tantangan, termasuk stigma buruk dari masyarakat. Saat mereka berkomentar bahwa si bocah kena kutuk, atau ibunya kena tulah, di situlah satu fase kesabaran lagi harus dilalui. Mengapa beginiii, begitu kejammm?

            Ketika orang awam belum tahu ilmunya, atau tidak kenal sama sekali dengan psikologi, maka mereka menggunakan mitos-mitos untuk menjelaskan sesuatu. Klean pernah dengar kan mitos kalau anak bayi harus dipakaikan peniti dengan bawang putih di bajunya, kalau dia keluar rumah?

Begitu juga dengan anak ADHD. Di mata masyarakat, bocah hiperaktif ini aneh karena suka memanjat pohon, berlari-lari, dan tidak bisa diam. Mereka dengan stpd-nya mengira bahwa anak ini ‘kesambet’ atau kena kutuk dari leluhur, atau ‘penghuni’ pohon tersebut. Alamaaak!

Faktor Genetik

Padahal faktanya, tidak ada relasi antara anak ADHD dengan kutukan atau karma di sebuah keluarga. Anak ADHD karena salah satu (atau kedua orang tuanya) ADHD juga.

Bisa jadi ayah yang ADHD dewasa tidak menyadarinya, karena memang dulu belum ada sosialisasi tentang neurodivergent. Jadi saat anak diketahui ADHD, orang tua kalau bisa juga tes ke lembaga psikologi, apakah mereka hiperaktif dewasa?

Jangan Salahkan Diri Sendiri

            Peluk erat untuk semua ibu dari anak ADHD (dan neurodivergent lain). Jangan salahkan dirimu sendiri atas ucapan buruk dari masyarakat. Kita tidak bisa mengendalikan omongan orang lain. Namun bisa mengendalikan hati sendiri.

            Ketika punya ADHD maka itu bukan dosamu. Bukan pula akibat dari kebiasaan minum manis saat hamil (lalu anaknya jadi hiperaktif akibat kebanyakan gula). Menerima bahwa punya anak neurodivergent memang butuh proses dan kesabaran yang seluas samudera, dan diawali dengan tidak menyalahkan diri sendiri.

Mencari Lingkungan yang Lebih Baik

Jika memang keadaan tidak bisa lagi ditoleransi, dan ibu terkena stress berat bahkan depresi, lebih baik pindah. Beneran lho, mencari rumah itu sekalian mencari lingkungan yang bagus. Lebih baik keluar uang untuk mengontrak rumah di tempat lain, daripada terkena pandangan buruk terus-menerus, yang menyakitkan hati.

Ingat ya, kita pindah bukan berarti kalah. Namun untuk menyelamatkan mental seorang ibu dari anak ADHD yang memang lebih sensitif. Jadi untuk bapak dan anggota keluarganya harap mengerti bahwa keputusan ini demi kedamaian hati ibu, sang pelita keluarga.

Memiliki anak adalah anugerah dan anak ADHD juga permata keluarga. Jangan biarkan omongan negative dari masyarakat merusak kedamaian hatimu. Biarkan saja mereka dengan segala perspektifnya. Namun jika memang sudah mengganggu, hubungi professional seperti psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pertolongan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar