Dengan sinis mereka menatap anak
ADHD lalu melontarkan kalimat pedas, “Dasar bocah kutukan!” Si bocah yang jadi
objek ghibah cuek saja sambil memanjat pagar dan tertawa-tawa sendiri. Dia
belum mengerti, mengapa ada banyak perempuan yang memelototinya?
Tanpa
merasa bersalah, gerombolan tukang gossip itu berlalu sambil ngakak. Sementara di teras, ada seorang
ibu yang hatinya terluka. Mengapa anaknya yang belum berdosa mendapatkan cap
jelek dari oknum seperti mereka?
Masyarakat
yang Masih Percaya Mitos
Memiliki anak ADHD berarti melewati
seribu satu tantangan, termasuk stigma buruk dari masyarakat. Saat mereka
berkomentar bahwa si bocah kena kutuk, atau ibunya kena tulah, di situlah satu
fase kesabaran lagi harus dilalui. Mengapa beginiii, begitu kejammm?
Ketika orang awam belum tahu
ilmunya, atau tidak kenal sama sekali dengan psikologi, maka mereka menggunakan
mitos-mitos untuk menjelaskan sesuatu. Klean pernah dengar kan mitos kalau anak
bayi harus dipakaikan peniti dengan bawang putih di bajunya, kalau dia keluar
rumah?
Begitu
juga dengan anak ADHD. Di mata masyarakat, bocah hiperaktif ini aneh karena
suka memanjat pohon, berlari-lari, dan tidak bisa diam. Mereka dengan stpd-nya
mengira bahwa anak ini ‘kesambet’ atau kena kutuk dari leluhur, atau ‘penghuni’
pohon tersebut. Alamaaak!
Faktor
Genetik
Padahal
faktanya, tidak ada relasi antara anak ADHD dengan kutukan atau karma di sebuah
keluarga. Anak ADHD karena salah satu (atau kedua orang tuanya) ADHD juga.
Bisa
jadi ayah yang ADHD dewasa tidak menyadarinya, karena memang dulu belum ada
sosialisasi tentang neurodivergent. Jadi saat anak diketahui ADHD, orang tua
kalau bisa juga tes ke lembaga psikologi, apakah mereka hiperaktif dewasa?
Jangan
Salahkan Diri Sendiri
Peluk erat untuk semua ibu dari anak
ADHD (dan neurodivergent lain). Jangan salahkan dirimu sendiri atas ucapan
buruk dari masyarakat. Kita tidak bisa mengendalikan omongan orang lain. Namun
bisa mengendalikan hati sendiri.
Ketika punya ADHD maka itu bukan
dosamu. Bukan pula akibat dari kebiasaan minum manis saat hamil (lalu anaknya
jadi hiperaktif akibat kebanyakan gula). Menerima bahwa punya anak neurodivergent memang butuh proses dan
kesabaran yang seluas samudera, dan diawali dengan tidak menyalahkan diri
sendiri.
Mencari
Lingkungan yang Lebih Baik
Jika
memang keadaan tidak bisa lagi ditoleransi, dan ibu terkena stress berat bahkan
depresi, lebih baik pindah. Beneran
lho, mencari rumah itu sekalian mencari lingkungan yang bagus. Lebih baik
keluar uang untuk mengontrak rumah di tempat lain, daripada terkena pandangan
buruk terus-menerus, yang menyakitkan hati.
Ingat
ya, kita pindah bukan berarti kalah. Namun untuk menyelamatkan mental seorang
ibu dari anak ADHD yang memang lebih sensitif. Jadi untuk bapak dan anggota
keluarganya harap mengerti bahwa keputusan ini demi kedamaian hati ibu, sang
pelita keluarga.
Memiliki
anak adalah anugerah dan anak ADHD juga permata keluarga. Jangan biarkan
omongan negative dari masyarakat merusak kedamaian hatimu. Biarkan saja mereka
dengan segala perspektifnya. Namun jika memang sudah mengganggu, hubungi
professional seperti psikolog atau psikiater untuk mendapatkan pertolongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar