Apa
kepanjangan dari STMJ? Sudah tua masih jomblo! Nah ini ‘plesetan’ dari
singkatan yang tiba-tiba kuingat, karena ada seorang kawan yang share konten, tentang bullying bagi para single.
Beneran
deh, di era modern ini mengapa jomblo (single) menjadi korban olok-olok? Ketika malam
minggu bengong aja di rumah. Berteman dengan lagu-lagu di gadget dan segelas kopi panas. Saat mereka bikin utas / status di
media sosial, malah diejek karena masih sendiri. Padahal hanya menyuarakan isi
hati dan tidak mengeluh akan kejombloannya.
Memangnya
Kenapa Kalau Jomblo?
Satu pertanyaan pun terbersit di
pikiran: memangnya kenapa kalau masih jomblo? Baik masa single yang pertama maupun yang kedua. Kok sedih banget sih,
seolah-olah orang yang tidak punya suami / istri itu kesepian dan selalu
merana. Padahal tidak semuanya seperti itu.
Memang ada manusia yang masih jomblo
dan dia baik-baik saja. Tidak terlalu ngoyo kapan menikah / tunangan dll. Dia hanya
menikmati hidup sebaik-baiknya, fokus pada pekerjaannya.
Kapan
Nikah? Your Mouth
Salah satu pertanyaan yang muncul (baik
saat hari raya / momen lain) adalah: kapan nikah? Yang masih sendiri pun hanya
bisa menjawab dengan senyuman. Apalagi bagi yang jomblo untuk kedua kalinya
(janda / duda) juga sibuk ditanya kapan menikah lagi?
Akan
tetapi oknum yang melempar pertanyaan masih penasaran, mengapa tidak dijawab? Dasar
tidak sopan! (padahal dia sendiri yang enggak sopan karena bertanya tentang hal
pribadi di muka umum).
Serius,
pertanyaan ini tidak akan ada habisnya. Saat masih single ditanya ‘kapan nikah?’, ketika sudah double ehh maksudnya udah married,
ditanya kapan hamil? Punya anak satu ditanya mana adiknya, anak dua cewek
disuruh nambah anak cowok. Anak lima malah dibilang anaknya banyak amat! Capek dehhhhh.
Standar
Masyarakat yang Menyedihkan
Daku benar-benar heran karena kita
hidup di tengah standar masyarakat yang terlalu tinggi. Setelah lulus kuliah,
kerja, dapat jodoh, nikah deh. Yang sudah berusia 30 tahun (atau lebih) tapi
belum menikah dianggap sebagai ‘orang aneh’.
Mengapa ada standar seperti ini? Padahal
jalan hidup seseorang berbeda-beda. Ada yang sibuk menjaga hati karena fokus
pada studinya. Ada yang menolak lamaran karena memang tidak sesuai syarat yang
ditetapkan. Ada pula yang fokus pada kesendirian karena sibuk jadi caregiver orang tua yang sudah lansia.
Kita
Tidak Sedang Berlomba
Aneh sekali ketika ada yang ‘kepanasan’
saat melihat orang lain berprestasi, atau mengejek saat ada yang jomblo. Seolah-olah
menjadi single adalah sebuah
kekalahan besar. Apakah kita sedang berlomba menjadi yang paling setia, paling
punya pasangan, yang kaya, bla-bla-bla?
Kehidupan ini bukan sebuah
kompetisi, YGY. Jangan terbebani akan standar masyarakat dan omongan miring di
sekitarmu. Mentang-mentang jomblo jadinya asal pilih dan jadi zonk karena suami
/ istri ternyata tidak sekufu, tidak kompeten, dan sebagainya.
Menikmati
Kesendirian dan Kebebasan
Justru ketika berstatus single manfaatkan sebaik-baiknya. Misalnya
dengan traveling, belajar hal baru,
kuliah lagi, membuka bisnis, dll. Malah bebas kan, tidak usah mencucikan
bajunya, memikirkan menunya, alerginya, dll.
Menjadi
jomblo itu bukan aib. Jangan pula dianggap sebagai criminal karena kenyataannya
kita tidak mencuri atau berbuat hal negative lainnya. Tutup telinga rapat-rapat
saat ada yang mem-bully para single, atau bisa saja mereka seperti
itu karena iri: tidak bisa sebebas sang jomblowan / jomblowati.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar