Selasa, 03 November 2026

Sudah Tua Masih Jomblo dan Standar Masyarakat yang Mencengangkan

 

Apa kepanjangan dari STMJ? Sudah tua masih jomblo! Nah ini ‘plesetan’ dari singkatan yang tiba-tiba kuingat, karena ada seorang kawan yang share konten, tentang bullying bagi para single.

Beneran deh, di era modern ini mengapa jomblo (single) menjadi korban olok-olok? Ketika malam minggu bengong aja di rumah. Berteman dengan lagu-lagu di gadget dan segelas kopi panas. Saat mereka bikin utas / status di media sosial, malah diejek karena masih sendiri. Padahal hanya menyuarakan isi hati dan tidak mengeluh akan kejombloannya.

Memangnya Kenapa Kalau Jomblo?

            Satu pertanyaan pun terbersit di pikiran: memangnya kenapa kalau masih jomblo? Baik masa single yang pertama maupun yang kedua. Kok sedih banget sih, seolah-olah orang yang tidak punya suami / istri itu kesepian dan selalu merana. Padahal tidak semuanya seperti itu.



            Memang ada manusia yang masih jomblo dan dia baik-baik saja. Tidak terlalu ngoyo kapan menikah / tunangan dll. Dia hanya menikmati hidup sebaik-baiknya, fokus pada pekerjaannya.

Kapan Nikah? Your Mouth

            Salah satu pertanyaan yang muncul (baik saat hari raya / momen lain) adalah: kapan nikah? Yang masih sendiri pun hanya bisa menjawab dengan senyuman. Apalagi bagi yang jomblo untuk kedua kalinya (janda / duda) juga sibuk ditanya kapan menikah lagi?

Akan tetapi oknum yang melempar pertanyaan masih penasaran, mengapa tidak dijawab? Dasar tidak sopan! (padahal dia sendiri yang enggak sopan karena bertanya tentang hal pribadi di muka umum).



Serius, pertanyaan ini tidak akan ada habisnya. Saat masih single ditanya ‘kapan nikah?’, ketika sudah double ehh maksudnya udah married, ditanya kapan hamil? Punya anak satu ditanya mana adiknya, anak dua cewek disuruh nambah anak cowok. Anak lima malah dibilang anaknya banyak amat! Capek dehhhhh.

Standar Masyarakat yang Menyedihkan

            Daku benar-benar heran karena kita hidup di tengah standar masyarakat yang terlalu tinggi. Setelah lulus kuliah, kerja, dapat jodoh, nikah deh. Yang sudah berusia 30 tahun (atau lebih) tapi belum menikah dianggap sebagai ‘orang aneh’.

            Mengapa ada standar seperti ini? Padahal jalan hidup seseorang berbeda-beda. Ada yang sibuk menjaga hati karena fokus pada studinya. Ada yang menolak lamaran karena memang tidak sesuai syarat yang ditetapkan. Ada pula yang fokus pada kesendirian karena sibuk jadi caregiver orang tua yang sudah lansia.

Kita Tidak Sedang Berlomba

            Aneh sekali ketika ada yang ‘kepanasan’ saat melihat orang lain berprestasi, atau mengejek saat ada yang jomblo. Seolah-olah menjadi single adalah sebuah kekalahan besar. Apakah kita sedang berlomba menjadi yang paling setia, paling punya pasangan, yang kaya, bla-bla-bla?



            Kehidupan ini bukan sebuah kompetisi, YGY. Jangan terbebani akan standar masyarakat dan omongan miring di sekitarmu. Mentang-mentang jomblo jadinya asal pilih dan jadi zonk karena suami / istri ternyata tidak sekufu, tidak kompeten, dan sebagainya.

Menikmati Kesendirian dan Kebebasan

            Justru ketika berstatus single manfaatkan sebaik-baiknya. Misalnya dengan traveling, belajar hal baru, kuliah lagi, membuka bisnis, dll. Malah bebas kan, tidak usah mencucikan bajunya, memikirkan menunya, alerginya, dll.

Menjadi jomblo itu bukan aib. Jangan pula dianggap sebagai criminal karena kenyataannya kita tidak mencuri atau berbuat hal negative lainnya. Tutup telinga rapat-rapat saat ada yang mem-bully para single, atau bisa saja mereka seperti itu karena iri: tidak bisa sebebas sang jomblowan / jomblowati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar