Senin, 05 Oktober 2026

Setelah Burnout

 

Peringatan! Ini adalah postingan curhat!

            Beban di kepala sudah mulai berkurang. Tidur sudah mulai normal (tidak kebanyakan). Daku pun mulai bisa berpikir jernih. Pun mempraktekkan saran dari konselor untuk menarik napas panjang dan mengembuskannya lewat mulut.

            Memangnya kenapa sihh? Daku habis melewati fase burnout yang terjadi selama lebih dari sebulan. Hidup dalam survival mode dan berasa di dalam labirin, ke mana-mana bingung sendiri. Lantas apa yang terjadi setelah pulih kembali?

Menyadari Penyebab Burnout

            Mengapa bisa burnout? Karena memang ada banyak badai yang harus kulewati. Orang tua sakit bersamaan, sedangkan daku tidak bisa tiap hari menengok dan menjaga mereka (karena harus bertanggung jawab di rumah sendiri). Pekerjaan belum didapat. Ada job freelance tapi berasa di-prank karena kalau mau dapat proyek harus ikut tes lagi, dan wajib bisa bahasa pemrograman.

Padahal lowongan itu boleh dimasuki oleh sarjana dari segala keilmuan. Daku sudah ikut 2 kali tes, speaking, listening, dll. Ketika lolos masih harus belajar cara kerja app chatting yang membingungkan, pakai aplikasi timer yang ternyata berbayar! Alamakkk!

Akumulasi dari beban-beban kehidupan, ditambah dengan gejolak emosi Saladin yang sudah remaja, membuatku burnout parah. Sampai harus ke konselor dan psikolog sekaligus. Beneran, enggak enak banget, mau ngapa-ngapain tidak semangat, pengen tiduran saja.

            Akhirnya daku menyadari penyebab-penyebab otak ‘konslet’ dan berusaha memperbaiki. Menyadari bahwa tidak semua hal bisa kita dapatkan. Jika dunia berasa tidak adil maka kejar akhirat terlebih dahulu.

Mengerem Ambisi

            Walau sudah tidak menjadi penulis konten seperti 2 tahun lalu, daku berusaha terus menjaga pace otak dengan mewajibkan beberapa hal yang berkaitan dengan literasi. Pertama: membaca buku / ebook minimal 50 lembar per hari. Kedua: mengisi blog setidaknya 5-6 postingan per bulan. Itupun jauh banget karena speed menulisku adalah 2.000 kata per hari.

            Apa yang terjadi saat memaksakan untuk membaca dan menulis padahal hati sedang berantakan? Akhirnya lihat aplikasi perpustakaan online saja malas. Ponsel digunakan untuk menonton saja. Membacanya kapan-kapan, apalagi menulis?

            Rupanya daku harus mengerem ambisi seperti ini. Memang ada banyak draft artikel dan naskah buku yang mau diselesaikan. Namun jika tidak bahagia saat melakukannya, buat apa??

Memberi Waktu untuk Diri Sendiri

            Ketika bertemu dengan konselor, beliau berkata bahwa yang harus diselamatkan adalah diriku sendiri. Baru ketika tenang akan bisa mengasuh Saladin dengan bahagia. Bagaimana caranya?

Salah satunya adalah dengan memberi waktu untuk diri sendiri. Sebenarnya me time tidak harus mahal. Yang penting daku bisa melepas penat sejenak, misal dengan maskeran di rumah, atau menonton film kesukaan.

Burnout bagaikan virus yang bisa merusak kebahagiaan manusia. Apalagi bagi orang tua dengan anak ADHD sepertiku, lebih mudah untuk error karena dinamika si bocah yang kadang tidak terduga. Semoga kita semua sehat secara mental, dan jangan takut untuk konsultasi ke psikolog jika memang butuh saran dan pertolongan.

Kamis, 01 Oktober 2026

Pengalaman Periksa di Puskesmas Kendalkerep Malang

 

In this economy kalau biaya berobat naik-naik ke puncak gunung, periksanya ke mana dong? Jawabannya adalah PUSKESMAS alias pusat kesehatan masyarakat. Pemerintah sudah bikin layanan kesehatan (yang jumlahnya banyak) dan bisa digunakan oleh kita-kita. Tapi bagaimana cara pendaftarannya?



Pada suatu pagi yang cerah, daku dan sohib berboncengan sepeda motor ke Puskesmas Kendalkerep yang ada di JL. Raya Sulfat. Tempatnya strategis dan gampang banget dicari, titik di GMAPS pun sudah sesuai. Setelah parkir motor akhirnya kami menuju meja pendaftaran.

Daftar Dulu Dong

Kalau mau ke Puskesmas tinggal bawa KTP dan kartu BPJS. Tapi jangan khawatir, kalau klean tidak ada BPJS bisa kok. Biaya pendaftaran pun hanya 10.000 rupiah, hah ceban doang? Kalau pakai BPJS malah gratissss. Petugas pendaftaran juga bekerja dengan cepat dan sistemnya komputerisasi.

Setelah dapat nomor antrian, kami diarahkan ke bagian kanan. Ada dua petugas yang memeriksa lagi status pasien (BPJS atau non BPJS), Tanya identitas dan nomor HP. Cuma bentar kok, lalu pindah lagi ke meja lain di bagian depan kanan untuk tes gula darah. Untung gula darahku normal (135), setelah itu kami baru masuk Puskesmas.

Suasana di Dalam Puskesmas

            Ternyata di dalam Puskesmas sudah ramee, padahal kami datang jam 8 pagi. Loket pendaftaran buka jam 7:30 dan langsung diserbu para pasien dan pendamping. Oh ya di sana kawasan wajib masker ya dan yang tidak pakai bisa minta ke petugas di bagian depan.

            Antrilah di loket, untuk beli tiket, ehhh untuk kesehatan. Semua mengantri untuk dipanggil, ada yang ke poli umum, gigi, anak-anak, dll. Kami antri ke poli umum dan akhirnya dipanggil lebih dari sejam kemudian untuk….

            Mengukur tinggi dan berat badan! Alamak, kirain langsung masuk ke ruang yang ada dokternya. Setelah itu baru diukur tekanan darahnya dan alat ukurnya sudah sangat modern. Tensiku kala itu agak tinggi (di atas 120) tapi masih dalam batas aman.

            Kemudian ngapain? Menunggu lagi baru dipanggil oleh petugas untuk masuk ke ruang poli umum, itupun butuh waktu sekitar 20 menit. Sampai di dalam ruangan, ada 4 dokter dan 1 petugas di dalam. Suasana ramai banget karena ternyata saat konsultasi langsung banyak pasien yang masuk ruangan.

Sementara kalau mau minta rujukan (faskes 1-nya Puskesmas) langsung aja ke petugas yang ada di depan computer. Baru beliau membuatkan dengan cepat dan tepat.

Dokternya Alhamdulillah baik dan sangat soft spoken. Petugas administrasi yang ada di luar maupun dalam Puskesmas juga baik. Intinya, jangan takut kalau mau berobat ke sana karena tidak ada suster / pegawai yang judes.

Kalau mau berobat di Puskesmas mending datang pagi (Sebelum jam 7:30) dan siapkan buku bacaan ya kaena antrinya lumayan panjang. Total daku butuh sekitar 2 jam baru selesai. Astagaa, menguras kesabaran banget? Tapi gakpapa, yang penting sehatttt.