Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2026

Liburan Kok Belajar?

 

Libur tlah tiba

Libur tlah tiba

Hore, hore, hore!

Siapa nih yang masih hafal lagunya Tasya Kamila? Ketika libur tentu senang karena tidak ada kewajiban untuk berangkat pagi-pagi ke sekolah. Biasanya anak-anak bisa istirahat sambil main di rumah, berkunjung ke tempat nenek, atau traveling bersama keluarga.



Ada satu kejadian yang membuatku bahagia karena Saladin tetap belajar ketika sedang libur. Padahal sebenarnya daku agak mellow karena belum bisa mengajaknya traveling keluar kota, atau ke pantai/tempat wisata lain. Ternyata dia malah lebih suka libur di rumah saja, dan malah antusias dalam menambah ilmu pengetahuan.

Anakku Pecinta Aksara

            Apa hal yang paling dicintai oleh Saladin? Huruf! Beneran deh, ketika dulu dia berusia 3,5 tahun, awalnya melihat tulisan yang ada di pot bunga. Daku langsung aware dan membelikan mainan alphabet plastic. Ternyata ini stimulasi yang tepat karena dia bisa membaca dan menulis di usia 4 tahun (padahal belum sekolah).



            Setelah hafal alphabet dan hijaiyah, Saladin belajar dari YT dan Alhamdulillah suka aksara Rusia (Cyrillic). Ini juga gara-gara demen serial Masha and the Bear. Lantas berlanjut lagi dia menghafal huruf Yunani, Korea, Rune kuno, dll. Kebiasaan belajar ini tetap dilakukan walau libur sekolah.

Saladin sang Pembelajar Mandiri



            Bagaimana cara belajarnya? Alhamdulillah memang Saladin suka belajar mandiri, lewat buku, video, dll. Belajar saat liburan juga tidak pernah kupaksa. Hanya kutemani prosesnya dan tentu dia dibelikan buku tulis baru, spidol, krayon, dll untuk menunjang belajarnya (dan dia juga lagi suka menggambar).

Read: Ide Kegiatan saat Liburan di Rumah Saja

Memanfaatkan Teknologi

            Ternyata belajar tidak harus dari baca buku fisik. Saladin saat liburan nonton YT tapi bukan hanya serial kartun. Dia menyimak video-video tentang phonology, sejarah bahasa Inggris, matematika (numberblocks), dll. Jadi jangan bilang kalau gadget merusak minat baca ya, karena kenyataanya kalau kita bisa memanfatkan teknologi, bisa jadi alat untuk belajar dan baca ebook.

Di Rumah Saja Tetap Bahagia

            Ternyata liburan di rumah saja tetap bahagia bagi Saladin. Yang penting ada makanan, cemilan, buku, spidol, laptop, dan akses internet. Hal itu sudah jadi kesenangan baginya (dan daku tidak usah pusing karena musim liburan tempat wisata ramai terus, karena memang anaknya lebih suka di rumah daripada keluar).

                               Belajar geografi lewat online map

Alhamdulillah, senang sekali punya anak yang hobi belajar, bahkan saat liburan, seperti Saladin. Dia mengajariku untuk tetap senang walau di rumah saja. Liburan juga bisa digunakan untuk belajar dan mengasah kreativitas.

Read: Anak Terlalu Pintar Bahasa Bikin Pusing

Lantas bagaimana cara agar anak suka belajar? Daku ulangi sekali lagi: anak tidak boleh dipaksa untuk belajar, nanti malah stress. Nanti lah selengkapnya kubuatkan artikel baru mengenai ini.

Bagaimana, anak-anak liburan ke mana saja? Atau malah enjoy di rumah saja?

Rabu, 17 Juni 2026

Ketika Ibu Tak Tahu Apa yang Dia Inginkan Karena Terbiasa Tidak Diutamakan

 

One day daku membuka akun social media. Ada satu utas yang menarik, isinya adalah sebuah pertanyaan: Jika kamu (seorang ibu) diberi uang 100.000 rupiah, apa yang akan dibeli? Syaratnya harus dihabiskan sendiri, tidak digunakan untuk keperluan anak / keluarga.

            Jawabannya sangat beragam dan bikin kaget bangeeet. Ada yang ingin makan jajanan tertentu. Ada yang mau ngebakso tapi sambil bawa anak. Ada juga yang terang-terangan ingin beli pakaian dalam, karena yang lama sudah jelek dan hampir rusak.



Astagaa, banyak yang trenyuh karena kebutuhan pokok manusia seperti sandang (underwear) bahkan tidak mampu dibeli oleh seorang ibu. Saking mereka terlalu mengutamakan keluarga. Jadi uangnya untuk kebutuhan sehari-hari dst.

Memangnya Tidak Bekerja?

Lantas muncul satu pertanyaan lagi dari netizen, memangnya sang ibu tidak bekerja? Kok uang untuk jajan saja tidak punya? Halooo, tidak semua rumah tangga sama ya! Ada wanita yang memang jadi IRT karena tak punya support system (tidak ada yang dititipi anak / daycare mahal).



Ada juga ibu yang working mom tapi gajinya mepet UMR. Jadi uang yang didapat hanya ‘numpang lewat’ karena memang kebutuhannya banyak. Di tempat lain, ada pula wanita yang bekerja tapi jadi sandwich generation alias membiayai orang tuanya.

Mengutamakan Keluarga

            Yang daku pikirkan adalah ketika ibu diberi rezeki dadakan dan disuruh jajan, tapi kok malah dibuat makan bersama anak-anak? Ternyata ini karena sejak dulu seolah-olah ada tuntutan ibu adalah makhluk yang selalu mengalah. Keluarga adalah yang utama (sampai ibu setengah menderita karena beli jajan aja susah). Aduh!



Tuntutan sosial seperti ini ngeri banget sih. Padahal jajan dan me time adalah sebuah hak ibu yang harus diberikan. Mengapa ada yang kejam dan menyuruh seorang ibu untuk terus mengalah, sampai seolah-olah me time itu terlarang?

Me Time Itu Gini Lho

Sungguh daku tak habis pikir kenapa ada yang berpendapat kalau me time itu egois. Ketika seorang ibu hanya ngopi seminggu sekali, dicela berhari-hari. Padahal di balik peristiwa itu dia sudah berusaha keras untuk mengasuh anak, merapikan rumah (tanpa asisten rumah tangga), dll.



Ada juga yang salah kaprah dan bilang kalau me time versinya adalah bisa menyeterika, mencuci, dll dengan tenang. Penyebabnya karena si anak (yang masih kecil) dijaga oleh ayahnya. Padahal me time tidak seperti itu. Kegiatan ini harus dilakukan sendirian dan dalam keadaan rileks, bukan sambil beberes.

Ketika ibu me time maka dia melakukan keinginannya sendiri. Sesederhana bisa belanja di minimarket tanpa digelandoti anak dan menikmati waktu bebas. Atau ngeteh dan makan kue dengan tenang, bisa dilakukan di teras rumah, di kafe, atau tempat lain.

Korban Patriarki

            Setelah riset ke beberapa sumber maka daku menemukan fakta bahwa wanita yang terlalu sering mengalah itu karena dia terjebak dalam tuntutan social. Kemudian ibu yang mengutamakan orang lain itu adalah korban patriarki. Karena disuruh untuk selalu mengutamakan suami (dan biasanya anak laki-laki).

Sedih sekali ketika di era teknologi informasi, masih ada korban-korban patriarki. Bahkan seorang netizen berpendapat agar wanita jangan terlalu banyak belanja alat rias dan skincare. Penyebabnya karena (menurut dia) percuma cantik tapi anak dan suami tidak terawat. Daku Cuma bisa bengong dong bacanya.

Read:  Ibu Harus Bahagia

Ada juga kisah korban patriarki di mana suami makan paket ayam goreng dengan lahap. Tapi istrinya makan satu paket bertiga (dengan anak-anaknya). Astaga, kok bisa ketelen itu ayam? Sudah suaminya patriarki, pelit lagi!

Belanja dan Jajan

Jadi, ladies, jangan terlalu sering mengalah dengan anggapan anak dan suami lebih butuh. Sesekali kita boleh kok beli lipstick baru, baju yang bagus, atau me time dengan beli kue favorit. Yang namanya kebutuhan rumah tangga bisa tiada habisnya, dan jangan merasa ‘berdosa’ ketika beli sesuatu untuk diri sendiri.

Jangan mau jadi korban patriarki dan sejak awal jangan mau dekat dengan cowok pelit. Amit-amit jabang baby! Wanita berhak untuk bahagia dan jangan dengarkan suara-suara sumbang di luar sana.

Minggu, 14 Juni 2026

Ketika Ibu Bangun Kesiangan

 “Jam berapa ini?”

Dengan segera kulihat jam di kamar. Sudah berpuluh menit setelah azan subuh. Astagaa, daku kesiangan. Tidaaaak!



Pernahkah klean kesiangan juga? Saat bangun maka langsung pusing, linglung, dan bingung mau melakukan apa. Gedubrakan rasanya, apalagi jika anak-anak juga belum bangun. Bagaimana nanti kalau mereka terlambat masuk sekolah?

Tenang duluuu, ini beberapa tips saat bangun kesiangan dan pagi berjalan dengan lancar.

Jangan Panik

Pertama, kalau kita sudah terlambat, jangan malah panik dan marah-marah. Percuma karena waktu tidak bisa diulang! Kalau mood jelek maka semua bisa jadi berantakan, mau menuang air bisa tumpah, dll. Anak-anak juga tidak mau melihat bundanya bermuka masam, bukan?



Jadi, tarik napas panjang lalu hembuskan. Coba untuk tenangkan hati dan memberi sugesti positif bahwa semua akan baik-baik saja. Karena kepanikan hanya akan membuat semuanya makin tak beraturan.

Mandi Dulu

Kalau melek mata pegang apa dulu hayooo? Jangan-jangan malah main HP. Mandi dulu ah! Mandi pagi sudah biasa, apalagi kalau bangunnya kesiangan. Jangan sampai keluar rumah tapi badan bau asem dan muka ileran karena belum mandi.

Beli Sarapan

Jika sudah kadung kesiangan maka tidak usah masak karena memang tak akan sempat. Mending beli nasi uduk, bubur ayam, atau makan roti yang dijual di supermarket. 



Tapi pastikan lapak sarapannya tidak terlalu ramai ya, jangan sampai malah makin kesiangan karena antri beli di sana.

Bangunkan Anak-Anak

Kalau sudah segar dan tenang baru bangunkan anak-anak. Tapi jangan sambil marah ya. Mereka akan makin bad mood dan bisa manyun di sekolah. Tapi bangunkan dengan lembut sambil sedikit digoncang atau digelitikin, agar mereka bisa langsung melek.

Kerja Sama Seisi Rumah

Lalu ayahnya bagaimana? Yaa namanya orang tua tuh ada 2 bukan hanya seorang ibu. Ayah setelah bangun, mandi, juga wajib bekerja sama. Setelah rapi, bisa langsung memanaskan motor dan mengantar anak-anak ke sekolah. Sedangkan anak-anak bantu cuci piring setelah makan.

Langkah Antisipasi

Setelah capek dan pusing karena bangun kesiangan maka saatnya menata langkah antisipasi. Pertama, pasang alarm di HP, berkali-kali. Kalau perlu pasang juga jam weker dan HP suami juga di-set untuk ringing di waktu pagi.



Kedua, jangan suka begadang! Pastikan tidur cukup dan minum air putih sebelum tidur. Pastikan juga anak-anak sudah menyiapkan buku, peralatan sekolah, tas, dan seragam di malam hari. Jadi paginya mereka tidak teriak-teriak Tanya ke bundanya.

Bangun kesiangan itu sangat tidak enak. Kalau memang sudah kadung terlambat maka tidak boleh panik lalu marah-marah. Lebih baik tenangkan diri, segera mandi, bersiap, dan wajib kerjasama dengan seluruh anggota keluarga.


Minggu, 29 Juni 2025

Apa Keluarga Kecil Masaknya Dikit? Bagaimana Jika Anak Picky Eater? Ini Trik Jadi Koki Rumahan

  

Siapa yang suka makanan rumahan? Alhamdulillah ya keluargaku suka hidangan rumahan yang sederhana, jadi daku yang masak juga happy karena selalu dihabiskan. Tapi bagaimana dengan porsinya? Ini ceritaku dalam berjibaku di dapur mungil berukuran 2 kali 3 meter.

Masak Dalam Jumlah Besar

Sebenarnya daku sudah bisa masak sejak usia 20-an alias sebelum menikah. Tapi baru sebatas yang gampang-gampang aja misalnya ayam ungkep, udang dan cumi goreng, nasi goreng, menanak nasi, dll. Nah pas sudah menikah baru deh skill masak teruji karena harus masak buat suami.

                                 Pisang goreng

Tahun 2011 bulan September adalah awal debutku menjadi koki keluarga tapi tidak setiap hari memasaknya. Karena kala itu, daku dan suami yang berstatus newly wed masih tinggal serumah dengan ortuku. Jadi yang memasak biasanya Emak Sum (ART mama).

Namun kadang pengen juga masak sendiri, apalagi kalau bahan-bahannya juga lengkap. Atau, pas ada kiriman bahan mentah (misalnya daging dari tante atau udang galah dari keponakannya Papa yang tinggal di pesisir pantai utara). Jadinya masak dengan semangat karena yang makan ada lebih dari 7 orang!

                                         Beef and tofu teriyaki

Iyaa, kalian tidak salah baca. Saat itu masih full team, adikku Doni belum menikah, dan masih ada 2 adik lainnya. Ada juga 1 adik sepupu yang tinggal di rumah mama karena kuliah di Malang. Jadi sekali masak nasi bisa sekaligus 500-600 gram beras, dan masaknya 2-3 kali sehari.

Bagaimana dengan lauknya? Ayam cukup sekilo karena papa lebih suka makan seafood. Kalau ikan biasanya beli 1-1,5 kg. Untuk bumbunya masih dikira-kira, misalnya saat bikin soto ayam maka butuh 10 siung bawang merah dan 5 siung bawang putih.

                          Nugget tempe campur daging




Masak untuk keluarga besar sangat menantang karena bisa saja stok lauk habis padahal masih sore. Akhirnya daku putar otak dan buka kulkas. Saat ada tahu ya bikin tahu telur. Ada tempe, bikin tempe oreg. Sayuran bisa dirajang lalu jadi snack bakwan sayur.

Bagaimana Trik Masak untuk 3 Orang?

Tahun 2019 kami bertiga pindah rumah karena sudah punya hunian sendiri. Saat di dapur malah bingung bagaimana caranya karena terbiasa memasak dengan jumlah besar, hahahaa! Akhirnya beli ayam 500 gram saja, tahu 1 buah, atau tempe yang ukuran besar. Untuk bawang merah cukup 200-250 gram seminggu, karena kadang pakai hack bumbu instan.

                                          Samosa isi kentang dan daging

Akan tetapi ketika Saladin makin besar ternyata makannya juga tambah banyak. Jadi walau kami hanya bertiga, masaknya tidak bisa dikit aja. Sekarang beli ayam harus minimal 750 gram, begitu juga kalau belanja lele. Masih ditambah harus beli terigu, telur, coklat bubuk, dll karena bocah juga doyan ngemil.

Help! Anakku Picky Eater!

Salah satu hal yang sangat kusyukuri adalah suami yang tidak pernah protes mau dimasakkan apa saja. Bahkan beliau jarang sekali request makanan tertentu. Yang penting tidak pedas, tidak ada bawang yang diiris (jadi bumbu diuleg atau diparut), dan cenderung empuk.

                                     Pizza

Akan tetapi berkebalikan dengan anaknya. Saladin sempat picky eater dan bilang bahwa nasi putih itu bau! Sempat curiga apa dia punya masalah sensory tapi belum dibawa ke psikolog anak. akhirnya untuk sementara Saladin makannya pasta, kentang, roti, dll.

                                           Roti homemade isi empal suwir

Keadaan ini berjalan selama beberapa tahun dan ternyata setelah konsultasi ke psikolog, Saladin malah disarankan untuk diet gluten. Jadi dia berhenti makan roti dan pasta, minimal dikurangi (enggak tiap hari). Jadi mau tak mau makan nasi, tapi doi request nasinya digoreng atau diberi kuah kuning (soto atau opor).

Memahami Seleran Makan Anggota Keluarga

Jadi ternyata Saladin lebih berselera makan kalau makan nasi dengan kuah kuning atau nasi goreng, yang berasa bumbunya. Butuh waktu untuk memahami selera makannya, jangan sampai picky eater-nya keterusan. Sudah mau remaja, harusnya dia paham bahwa tidak semua orang bisa menuruti selera makannya.

                                                 Bubur ayam homemade

Jadi ingat pas masih serumah dengan orang tua. Kalau sudah sepuh maka ortu juga bisa picky eater. Ditawari makan ini dan itu tidak mau, ujung-ujungnya beli lauk via gofood. Sabarrr….

Memasak untuk seluruh anggota keluarga selain harus pintar mengolah bahan mentah (dan menyesuaikan dananya) juga harus sabar. Koki rumahan tak hanya jadi tukang makan. Akan tetapi juga jadi konsultan, penerjemah bahasa hati, tukang beberes dapur, pendekor makanan, dll. Bagaimana, kalian ada pengalaman memasak untuk keluarga?

Rabu, 18 Juni 2025

Aku Ibu Rumah Tangga dan Aku Stress Berat

 Pagi ini kubuka mata dan melihat tumpukan mainan yang belum dibereskan oleh anakku. Rupanya dia membawa lego dan barang-barang lain ke tempat tidur. Sambil bangun, kulangkahkan kaki dengan hati-hati, takut menginjak mainan yang tajam.


                                            Freepik

Setelah mandi dan beribadah, segera kubuat kopi hitam kesukaan suamiku. Tapi gasnya habis! Setelah susah-payah mengganti gas, aku segera membuat bekal untuk makan siang anak, dan selanjutnya harus membangunkan adiknya.

Segera kulihat stoples berisi teh celup kesukaanku. Kosong. Bahkan saat belanja, daku lupa membelinya. 


                             Freepik

Yang diingat hanya sembako, keperluan suami dan anak. Acara ngeteh pagi pun batal. Diganti dengan mengepel lantai karena si bungsu ngompol lagi.

Merasa familiar dengan cerita di atas? Yaa, itu hanya fiksi, saudara-saudara. Tapi ini caraku untuk menggambarkan betapa lelah dan stressnya menjadi ibu rumah tangga.

Stress Banget Jadi Housewife

Lantas mengapa IRT stress berat? Ini beberapa penyebabnya:

Rutinitas yang Membosankan

Di pagi hari, seorang ibu rumah tangga hanya punya sedikit waktu untuk dirinya sendiri, saat mandi lalu beribadah. Lalu dia berjibaku di dapur dan lanjut mengurus anak-anak dan suami. Ketika anak sudah berangkat sekolah, dia tidak bisa rebahan, tapi masih harus beberes rumah dan mengerjakan yang lain sampai sore, bahkan malam hari.

                                      Freepik

Semua rutinitas ini dilakukan dalam waktu tak hanya sebulan atau dua bulan, tapi sampai bertahun-tahun. Tak heran IRT bisa bosan dan stress karena ‘jamuran’, di rumah saja. Apalagi kalau pas uang terbatas, double combo!

Beban Kerja yang Terlalu Berat

Tidak semua orang punya asisten rumah tangga jadi semua di-handle sendiri oleh IRT. Segunung baju harus disetrika, tumpukan cuci piring sudah menanti, dll. Padahal ketika umur bertambah maka akan lebih mudah lelah (apalagi jika jarang olahraga).

Kurang Self Love

Stress bisa datang karena tubuh yang capek dan kurangnya cinta dan perhatian pada diri sendiri. Karena apaaa? Karena ada tipe ibu yang terlalu memprioritaskan anak-anak dan suaminya. Dia sampai lupa akan kesehatan jiwanya, keadaan fisiknya, dan kewarasannya sendiri.

                             Koleksi pribadi

Padahal self love bukan egois lho. Mengisi tangki cinta itu WAJIB karena ibu yang penuh cinta akan memberi kasih dengan bahagia pada anak-anaknya. Mencintai diri sendiri dengan beli baju bagus atau creambath di salon bisa dilakukan sesekali, karena dirimu berharga wahai IRT!

Jangan lupa juga untuk makan dengan teratur sebagai bentuk cinta ke diri sendiri. Sarapan dulu biar waras, ngepel bisa belakangan. Daripada kena maag, hayo! Sesekali masak yang disukai (meski anak-anak kurang suka).

Lelah Batin

Selain capek fisik, IRT yang stress bisa jadi karena dia lelah batin. Sedih karena dinyinyirin orang lain, dimarahi orang, atau ikut marah karena anak tidak mau makan. Sudah gitu, tidak ada support system.



Kalau sudah merasa lelah, jangan ragu untuk datang ke psikolog atau konselor keluarga. Datang ke psikiater bukan berarti kita ini gila, darling. Justru dengan cara ini IRT terhindar dari ketidakwarasan.

Jadi IRT memang tak mudah karena bisa terserang stress. Nahh seharusnya keadaan ini cepat-cepat diatasi karena jika menumpuk berbahaya – bisa menyebabkan depresi. Nanti di artikel selanjutnya akan kutuliskan tentang cara mengatasi stress bagi IRT. Makasih yaa sudah setia baca blog Catatan Bunda Saladin.