Akhir
minggu klean ngapain aja? Kalau kami tiap sabtu atau minggu selalu mudik local
alias mengunjungi rumah orang tuaku, yang masih satu kota, bahkan jaraknya
hanya 2,5 kilometer. Saking dekatnya, Saladin pernah kuajak mudik jalan kaki
dan dia enjoy aja.
Kembali
ke cerita mudik. Tanggal 1 Agustus rencananya kami berangkat naik taksi online jam 7 pagi, karena jam 9 ada
janji dengan seorang kawan. Jadi Saladin akan dititipkan sebentar ke rumah
mbahnya. Tapi ternyata perjanjian itu batal dan akhirnya berangkat mudiknya
geser jam 9:30.
Saladin
selalu antusias saat mudik karena dia adalah cucu pertama di keluarga besar,
dan selalu mendapatkan kasih-sayang yang lebih dari cukup. Malah sebenarnya dia
minta untuk menginap juga, tapi tidak kukabulkan. Nanti sajalah di pertengahan
bulan.
Mama
Sakit
Ketika
mudik kemarin maka daku shock karena
mama terbaring lemas, beliau sedang sakit. Akhirnya dengan semangat daku menuju
dapur untuk bantu masak dan menghasilkan: capcay ayam, ayam kecap, tumis
terong, dan nasi goreng. Ternyata masak terong lumayan lama yaa dan memang daku
sebenarnya tidak terlalu mahir masak sayur.
Saat
semua sudah matang maka saatnya menyapu rumah, dan jam 12:30 baru bisa
istirahat sebentar untuk makan siang. Baru saja ambil nasi eh Saladin keluar
rumah sambil bawa HP-ku. Rupanya ada tukang jual susu keliling dan ia ingin
beli, tapi….
Tapi
entah kang susu cosplay jadi
pembalap, ada suaranya tak ada orangnya. Saladin terus mengejar, berlari, dan
daku ikutan panik. Untung ada kakeknya Saladin yang langsung mengejar dengan
menggunakan sepeda motor dan Alhamdulillah nih bocah tertangkap. FYI Saladin
ADHD yaa….
Daku
mencoba untuk tetap tenang dan tidak ke-trigger
karena sebelumnya Saladin sudah beberapa kali kabur dan ‘menghilang’. Memang
punya anak ADHD itu dar-der-dor. Sejutaa
rasanya.
Dan
Terjadi Lagi
Ini
baru yang pertama karena ada lagi kelakuan Saladin di rumah kakeknya. Senja
hari saat mau packing dan pulang, dia
malah sembunyi di kamar omnya (adikku yang masih bujang). Padahal pintu kamar
lagi error (harus diganti handle-nya).
Jadi
sebenarnya pintu kamar tidak boleh ditutup rapat tapi karena kebiasaan di
rumah, Saladin jadi menutupnya. Otomatis dia terkunci di dalam. Padahal sudah
mau maghrib! Bagaimana ini?
Untung
kunci kamar omnya tergantung di pintu kamar lain jadi bisa dipakai untuk
membuka pintu. Saladin pun terselamatkan dan kami tidak jadi mendobrak pintu.
Ada-ada saja bocah! Mana sudah mau maghrib!
Akhirnya
kami pulang setelah maghrib dan Alhamdulillah Saladin tidak tantrum. Biasanya
dia tuh ngambek, tidak mau pulang. Mengapa anak-anak selalu betah di rumah
kakeknya? Ada yang tahu penyebabnya?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar