Senin, 25 November 2019

Serunya Lomba Sains Gramedia Science Day 2019 di Malang


Udara Malang jam 8:20 pagi sudah membuat keringat meleleh. Namun ratusan anak berdiri mengelilingi gedung Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM) dengan semangat. Mereka memakai kaos ungu dan membawa papan bertuliskan Barium, Logam, dan zat kimia lainnya. Eits, bukan mau demo, tapi jadi peserta Gramedia Science Day 2019.

Apa sih Gramedia Science Day? Lomba sains yang diikuti oleh murid-murid kelas 4 hingga 6 SD. Acara ini diadakan sejak tahun 2016 dan baru tahun ini  diadakan di Malang. Selain di Malang, juga ada lombanya di Tangerang.
Peserta sangat membludak, ada 203 tim dari sekolah se-Jawa Timur. Satu tim terdiri dari 3 orang, jadi totalnya 609 murid. Woow, rame banget. Bahkan panitia juga tidak menyangka akan antusiasme dari para peserta.

Padahal untuk ikut lomba, bayarnya lumayan lho, 250.000 rupiah per tim. Biaya itu sangat worth it dengan fasilitasnya, yaitu kaos, tas, makan siang, dan buku acuan. Peserta sangat antusias karena menunggu hadiah dengan total 15 juta rupiah. Jadi ngiler nih lihat hadiahnya, eh....
Acara dimulai jam 8:30 dan setelah semua peserta masuk, langsung disambut oleh MC cantik bernama Putri. MC mempersilakan peserta berdiri sambil nyanyi lagu Indonesia Pusaka. Ada yang masih ingat liriknya? Don’t worry, ada contekannya di 3 layar raksasa :D.

Setelah peserta duduk di karpet yang sudah disekat dan dinamai berdasarkan nama tim mereka, lanjut ke pembukaan acara. Gramedia Science Day 2019 dibuka oleh Ibu Ida dari Gramedia Asri Media. Sebelumnya ada sambutan dari petinggi Bank BTN dan Meiji sebagai sponsor lomba. Itu lho, produsen cookies Hello Panda.
Acara sambutan usai, lalu dilanjutkan dengan menerbangkan pesawat mainan dan penyerahan suvenir plus foto-foto. Seremoni berakhir, lomba pun dimulai. Saat kompetisi, pemandunya bukan lagi MC, tapi 2 profesor bernama Happy dan Icha yang berceloteh riang sambil memakai jas lab warna putih. Mereka menjelaskan tentang prosedur Gramedia science Day. Bukan cerdas cermat ya, tapi konsepnya beda. Tak sekadar hafalan, tapi juga ada praktek eksperimen.
Pertama-tama, peserta mengerjakan 50 soal pilihan ganda, lalu lanjut ke tahapan eksperimen. Ada 3 jenis eksperimen, yaitu tentang listrik, kekuatan tumpuan, dan udara. Setelah itu ada tahapan presentasi, baru penjurian dan pengumuman pemenang.

Di tahap eksperimen pertama, peserta (yang dipanggil dengan sebutan future scientist oleh profesor) menyusun miniatur mobil listrik dari botol air mineral bekas. Wah, kreatif sekali ya! Satu tahap eksperimen diselesaikan dalam 30 menit, dan setelah sirine berbunyi tanda selesai, mobil kecil itu langsung dijalankan. Ada yang jalannya mundur, wah, tidak apa-apa, yang penting sudah berani mencoba.

Selanjutnya eksperimen kedua bertema jembatan. Para future scientist membuat jembatan mini dari stik es krim. Ini lomba antar tim, jadi mereka harus bekerja sama agar hasilnya bagus dan selesai tepat waktu. 

Yang paling disuka saat lomba adalah para murid enjoy banget ngerjainnya, ada yang sambil bernyanyi-nyanyi. Bahkan mereka main domikado dulu sebelum mengerjakan eksperimen.

Tahap eksperimen ketiga tentang udara dan future scientist membuat pesawat mini. Ini step paling mendebarkan karena diakhiri dengan presentasi. FYI, Semua eksperimen didahului dengan pemutaran video singkat, berasa nonton bioskop ramai-ramai :D.  

Sementara anaknya ikut lomba, para orang tua dipersilakan mengikuti parents talk show dan demo masak di luar area lomba. Talk show-nya juga tentang science. Masih ingat gak pelajaran sains di sekolah (dulu IPA), tentang udara, hukum Newton, dll. Pusing? Sama! Wkwkwkw.

Mbak Kartika Octorina, seorang penulis buku dan anggota Ilmuwan Muda Indonesia, mengatakan bahwa sains bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari. Saat mengisi talk show, beliau heran mengapa alat lab untuk eksperimen hanya jadi pajangan di sekolah? Bisa jadi karena harganya sangat mahal.
Padahal eksperimen bisa dilakukan di mana saja, gak hanya di laboratorium. Kita bisa pakai alat yang sederhana, seperti gelas plastik, balon, dan paku. Setelah menjelaskan tentang eksperimen di rumah, langsung praktek dong. Beberapa paku payung disebar di meja lalu balon yang sudah ditiup ditaruh di atasnya. Dor! Seru kan?

Setelah talk show, pasti pada lapar kan? Untungnya ada demo masak yang dipandu oleh executive chef dari Hotel Santika. Belum demo aja saya udah melongo lihat keterampilan beliau membuat fruit carving. Lalu beberapa chef lain sibuk menata roti dan menggoreng kentang. Bikin apa sih, chef?

Ternyata acaranya bukan sekadar demo masak tapi ada lomba membuat sandwich. Para mama pada pinter banget bikin plus menghias sandwich. Kreatif! Usai penilaian, sandwich itu langsung dibagi-bagikan.

Back to competition di bagian dalam gedung. Sambil menunggu pengumuman pemenang, paket makan siang dibagikan dan ada performance berupa tarian dan nyanyian. Sekitar jam 12, ada rehat lomba untuk salat zuhur dan pengumumannya baru sekitar 1 jam kemudian.  Cukup lah digunakan untuk istirahat, makan, ibadah, dan ada booth untuk foto-foto.

            Tujuan diadakannya Gramedia Science Day adalah mengadakan kreativitas dan inovasi anak melalui permainan sains. Tak heran para pemenang dinilai dari kreativitas, kecepatan, dan ketepatan alur. Kompetisi diadakan di auditorium Graha Cakrawala UM, karena TB Gramedia Matos sering bekerja sama dengan UM. Untuk tahun ini, panitia bekerja sama dengan UKMP (Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis) UM.
Aih, acara ini memang keren banget. Semoga nanti saat Saladin kelas 4, dia bisa ikut lombanya. Kalau teman-teman, anaknya apa suka belajar sains?

Rabu, 20 November 2019

Cara Menjaga Stamina Saat Bekerja dari Rumah Sembari Mengasuh Anak Aktif


“Mama, ayo lari!”
Saya segera menutup laptop setelah menulis beberapa paragraf, lalu memenuhi permintaan Saladin. Kakinya bergerak lincah di halaman belakang, sementara keringat mulai bermunculan di dahi. Nafas terasa terengah-engah, padahal kami baru bermain selama sepuluh menit. Namun Saladin tetap tersenyum dan terus mengajak untuk berlari, tak peduli pada kondisi mamanya yang mulai letih.

Setelah berlari, ia masih sanggup untuk menaiki kursi, lalu menggambar di dinding dengan arang. Lima menit kemudian, ia sudah duduk manis di atas ventilasi kamar! Tempat lain yang dia sukai adalah di atas pagar. Baterainya tidak kunjung habis. Saya hanya tertawa melihat kelincahannya, dan bersyukur karena dia bisa bergerak dengan bebas dan riang gembira.


Di malam hari, keadaan yang terjadi sebaliknya. Kaki berdenyut-denyut, kepala terasa berputar dan tenggorokan kering. Hidung buntu dan bersin-bersin. Wah, sepertinya saya akan sakit pilek. Padahal tidak kehujanan, dan bukan tertular. Mengapa saya jadi mudah sakit? Ternyata salah satu penyebab stamina menurun adalah terlalu menjaga Saladin dan selalu bermain dengannya mulai pulang sekolah hingga pukul 10 malam.

Padahal di malam hari adalah waktu tenang untuk menulis, jadi butuh deep sleep agar bisa tidur sejenak dan bekerja pada waktu malam. Saat kelelahan, malah jadi susah tidur. Sebagai active mom, seharusnya saya lebih jaga kebugaran dan pandai mengatur waktu.

Saat badan keok begini, baru sadar akan berharganya kesehatan. Mulai saat ini, saya harus melakukan hal-hal ini agar stamina terjaga dan bisa mengerjakan tugas rumah tangga sekaligus bekerja dari rumah dan mengasuh Saladin dengan maksimal.

1. Minum Air Putih
Minum air putih adalah hal yang sering terlewatkan karena terlalu asyik mengetik saat Saladin sekolah. Padahal air putih bagus untuk meluruhkan racun dan menjaga stamina tubuh. Baiknya minum 8 gelas air dalam sehari ya, dan untuk lebih praktisnya saya sediakan sebotol air di samping laptop. Jadi saat haus langsung minum.


2. Olahraga
Olah fisik sangat penting untuk mengimbangi kecepatan lari Saladin. Salah satu olahraga favorit saya adalah senam zumba, karena banyak videonya di laptop. Hanya butuh 10-15 menit sehari, namun tubuh sudah berkeringat dan daya tahan meningkat. Jika tidak sempat zumba, maka saya melakukan peregangan tubuh sebelum tidur.

3. Makan Buah dan Sayur
Sayuran sangat segar dan bervitamin, bagus untuk menjaga kesehatan. Namun masak sayur itu prosesnya cukup lama, jadi untuk mengakalinya, saya belanja sayur siap santap. Misalnya tomat, selada keriting, dan mentimun. Tinggal cuci, potong, lalu hap. Nikmat dan sehat.

Makan buah juga bukan hal yang mahal, karena kita bisa pilih buah lokal dan yang sedang musim. Mangga, jeruk, dan pepaya mengandung vitamin C yang baik untuk daya tahan tubuh. Jadi makin strong saat menemani Saladin bermain di halaman belakang rumah.

4. Relaksasi
Punya anak over aktif sering bikin stres karena ia terlalu lincah dan jadi susah ketika diajak jalan-jalan ke luar rumah. Boro-boro menikmati piknik, yang ada malah sibuk menjaga Saladin agar tidak manjat sembarangan. Jadi relaksasi itu perlu, agar tidak kena penyakit psikomatis. Saat hati bahagia, otomatis tubuh juga bahagia dan jadi sehat, bukan?Relaksasi ala saya cukup dengan jalan pagi keliling kompleks dan mengamati indahnya bunga yang bermekaran, atau mewarnai di buku coloring for adult.

5. Minum Herbadrink
Herbadrink adalah minuman yang memiliki banyak varian, di antaranya sari jahe, temulawak, kunyit asam, lidah buaya, dan beras kencur. Untuk jaga stamina, saya pilih yang varian lidah buaya, karena mengandung vitamin A dan C. Selain itu, ternyata Herbadrink lidah buaya juga bisa membantu melancarkan pencernaan. Makin sehat deh!


Herbadrink bisa dengan mudah dibeli di minimarket, dalam 1 kotak isinya 5 sachet. Cara bikinnya juga mudah, cukup tuang 150 cc air lalu aduk rata. Jadilah minuman yang segar, sehat, dan bisa membuat tubuh makin bugar. Meskipun ini minuman kesehatan dan ada label jamu di kemasannya, tapi rasanya nikmat, terasa manis alami dan agak asam. Nikmat sekali diminum di siang hari.

Saladin juga bisa minum dong dan pastinya aman karena sugar free. Tahu sendiri kan, anak aktif bisa kena sugar rush karena terlalu banyak konsumsi gula. Segelas Herbadrink lidah buaya siap menyambutnya sepulang sekolah. Ludes dalam sekali teguk, seger bener!



Nah teman-teman, sudah tahu kan cara menjaga stamina? Kita masih bisa jadi ibu yang aktif dengan olahraga, mengkonsumsi buah, sayur, dan minum Herbadrink. Mudah sekali untuk mempraktekannya, dan semoga sehat selalu ya.



Rabu, 16 Oktober 2019

Super Busy Mom

Kemarin saya mengirim WA ke teman yang menguruskan domain blog ini dan alhamdulillah ternyata expired-nya baru Januari. Kata-kata teman masih terngiang, katanya sayang sekali blog ini sudah TLD tapi jarang diisi.

OK, saya akui memang belum jago membagi konsentrasi. BLog ini terbengkalai karena pekerjaan utama sebagai penulis di media lain, job menerjemahkan artikel, mengedit buku, dan tentu saja kerjaan utama saya adalah mengurus Saladin.

Belum lagi kalau mau nulis malah mikir dulu, keywordnya apa? Nulis apa biar viral? Akhirnya batal update blog, padahal sudah nyimpan banyak ide. Harusnya ditulis sekarang ya biar ada stok tulisan untuk blog. Eh sekarang malah wajib nulis minimal 2.000-an kata sehari buat sebuah proyek.

Kapan ngurus blognya atuh?

Blog belum beres urusannya, masih pengen nulis di Kompasiana, di media lain, wkwkwk. Banyak maunyaa. Ngerjain yang mana dulu? Belum lagi kudu beresin tugas nulis untuk 2 kelas yang diikuti.

Sabar, sabaar. Tahun depan Saladin pulang sekolah jam 2 siang. Jadi lebih banyak waktu nulis dan semoga selalu istiqamah untuk ngisi blog ini. Dulu nichenya gado-gado, sekarang mau beralih ke parenting saja. Ada banyak kejadian yang dialami Saladin yang mau dibagi di sini.

Tiba-tiba jadi ingat perkataan seorang kawan. Dia nulis di blog untuk dibaca dirinya di masa depan.

Tulisan spontan dan random gak pakai riset dan cari gambar, bikinnya cepet banget. Wkwkkww.

Cheers!


Selasa, 30 Juli 2019

Ayo Sekolah! Asyiknya Belajar di Alam Bebas


‘Mama, aku mau sekolah!’
Ucapan anakku di malam itu menarikku dari lamunan. Ah, akhirnya ia betah di sekolah barunya. Saladin belajar di tempat baru, setelah sempat dikeluarkan di sekolah lamanya – baca di sini-. Di mana sih sekolahnya, kok ia merasa betah, padahal baru masuk selama sehari? Apa harus pindah ke sekolah alam di Kota Malang, tempat kami tinggal?

Sekolah alam adalah jawaban untuk anak kinestatik seperti Saladin. Di sana, ia bisa lebih bebas belajar sambil mengeksplorasi alam sekitar. Jika ada sesi belajar di kelas, maka murid akan duduk di tempat yang tembok luarnya hanya ada setengah, jadi ruangannya semi terbuka.



Pertemuan kami dengan sekolah alam sebenarnya tidak sengaja. Awalnya, jika Saladin tidak dapat sekolah ya sudahlah, homeschooling saja di rumah. Saat buka Instagram, saya browsing dengan tagar sekolah alam, ternyata ada satu yang menarik hati. Apa nama sekolahnya?

Jawaban dari doa-doa kami itu bernama SANHIKMAH, salah satu Sekolah alam di kota Malang. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota, kalau naik motor kira-kira butuh waktu 30 menit . SANHIKMAH berada di sebuah perumahan yang berada di lereng gunung. Kalau mau ke sana ya, anggap saja mau piknik, karena melewati sawah dan pepohonan jati.


Di hari pertama sekolah, Saladin langsung tertarik dengan ayunan dan jungkat-jungkit yang ada di sana. Ini kan gedung SD, kok ada mainannya seperti di TK? Ternyata untuk anak kinestatik, sebaiknya mereka beraktivitas dulu sebelum belajar. Setelah puas, mereka akan lebih siap menyerap pelajaran. Well, ini bukan kata saya sih, tapi kata salah satu kawan yang mengajar di sebuah SD swasta dan punya beberapa murid kinestatik.

Saladin masuk di hari rabu, jadwalnya olahraga. Ada beberapa ban mobil bekas di sekolah. Saladin belajar cara menggelindingkan ban itu, lalu ia berlomba dengan teman-temannya. Senang rasanya melihat ia kembali tersenyum. Apakah olahraganya hanya seperti itu? Ternyata tidak.

Murid-murid yang bermain di sekolah alam di Kota Malang itu,  lalu diajak untuk ke mushola, salat dhuha dulu, baru mereka berangkat ke lapangan. Kami berjalan menuju salah satu lapangan yang ada di perumahan tersebut. Bagaikan mendaki gunung lewati lembah, jalannya naik turun dan ada yang terjal. Belum pelajaran olahraga udah keringatan :D.

Semua kelelahan terbayar dengan udara sejuk yang berembus di lapangan. Pagi yang cerah, matahari bersinar malu-malu. Saladin berkeliling sambil didampingi bu guru. Murid lain ada yang bermain sepakbola, lompat tali, ada yang naik gawang. Tak ada yang melarang mereka memanjat, yah namanya juga anak alam. Saat itu, saya langsung ingat tayangan Si Bolang.

Setelah olahraga, kami kembali ke sekolah. Murid-murid langsung selonjoran, ada yang ambil air putih dari dispenser, ada yang membaca buku di perpustakaan. Dalam hati saya bertanya, kapan belajarnya?


Ternyata kurikulum di sekolah alam memang beda. Tidak sekaku sekolah konvensional. Ada saat murid belajar di kelas, ada sat belajar langsung.  Misalnya belajar membuat gelembung sabun dari bahan yang ada di sekitar, belajar mengenal abjad dengan menggoreskan sisa bata di lapangan, dan lain-lain.

Salah satu yang membuat kami tertarik untuk menyekolahkan Saladin di SANHIKMAH adalah fasilitasnya, ada aquaponik,  kambing, dan tentu saja lokasi sekolahnya yang sejuk. Selain itu, guru-gurunya sangat ramah dan perhatian, dan kadang mengirim materi parenting lewat WA.


Tebak berapa yang harus saya bayar untuk menyekolahkan Saladin ke sana? Yang jelas, jauh lebih terjangkau daripada sekolah swasta lain. Jika belum punya seragam berupa kaos olahraga, pakai baju biasa juga tidak apa-apa.

Semoga Saladin betah belajar di SANHIKMAH, Sekolah alam di Kota Malang yang keren. Semua  pengalaman baru saat belajar di alam akan memperkaya pengetahuannya.


Senin, 29 Juli 2019

Saat Anakku Dikeluarkan Dari Sekolah, Rasanya ....

“Saladin tidak bisa diam di kelas dan tidak mau menuruti perintah guru. Dia juga tidak mau diajak berdoa sebelum pulang, lalu menangis dan menggigit tangannya sendiri. Maaf Bu, saya tidak sanggup menghadapinya.” 

Perkataan bu guru itu bagai palu godam di telinga. Anakku yang usianya 6 tahun 8 bulan ternyata belum bisa tertib seperti teman-temannya di kelas 1. Apakah aku memasukkan dia ke sekolah terlalu awal? Dia sepertiku, lahir di akhir tahun,  jadi saat akan daftar sekolah, umurnya nanggung.

Kenanangan terlempar ke hari pertama sekolah, Saladin merengek untuk minta ditemani saat upacara. Dia lalu bosan, menguap, jongkok, dan ... berlari kepadaku yang berbaris di sebelahnya, minta gendong. Kepalanya dimasukkan ke dalam kerudungku. Kurasa ini hanya sindrom hari pertama sekolah, jadi wajar kalau dia manja. Sayangnya, di hari kedua dan ketiga –menurut pengakuan gurunya- dia sering menangis dan tidak mau duduk diam di bangku.

Esoknya aku bertemu dengan ibu kepala sekolah. Kepsekpun berkata, “Maaf, sepertinya ananda Saladin belum siap emosinya untuk belajar di kelas 1. Dia terlalu banyak bergerak dan suka membikin gaduh di kelas. silahkan tarik berkasnya ’ Itu adalah ucapan halus dari ‘dikeluarkan’. Oh, tidaak! 

Rencanaku, Saladin akan kukembalikan untuk bersekolah di TK, tapi kata bu guru TK-nya sepertinya kemungkinan kecil ... Apa yang harus kulakukan, masih adakah masa depan baginya? 

Kutatap seragam merah putih yang melambai di jemuran. Ah, baju itu hanya sempat dipakai selama beberapa hari. Tangisku meledak. Kulihat sosok anak perempuan yang sedang tertunduk di pojokan, ketakutan di hari pertamanya sekolah. Ia berpura-pura sakit dan ingin pulang. Masa belajar di SD bukan waktu yang menyenangkan. Anak itu adalah ... diriku sendiri.


Mengapa pengalaman ini terulang, bahkan Saladin tidak betah sekolah di tempat yang konvensional? Yah, kutarik napas dan berpikir, mungkin dia memang belum siap secara mental. Jika tidak bisa sekolah lagi di TK, homeschooling saja lah.  Awal tahun depan baru cari sekolah lain yang kiranya cocok untuk anak tunggalku.

Ada wacana juga untuk memindahkannya ke sekolah alam, tapi hampir semua sekolah swasta sudah tutup pendaftarannya. Apakah harus ditunda setahun, baru dia bisa merasakan duduk di bangku SD? Semoga ada jalan terbaik.

Minggu, 14 Juli 2019

We Don't Know If We Don't Try

Kemarin saya mencoba bumbu instan terbaru dari suatu merek dan ternyata ... opornya pedas. Selain membeli bumbu, saya juga membeli mi instan dengan bonus keripik kentang dan rasanya juga pedas. Tuntas sudah rasa penasaran saya, walau lidah ini harus menyesuaikan diri dengan cabai bubuk yang mengigit.

Saat mencoba produk baru, kita bisa punya 2 kemungkinan: enak atau zonk. Kalau zonk seperti yang saya alami ya, disyukuri saja. Alhamdulillah si kecil Saladin tidak ikut mencicip karena belum kuat makan pedas. Ada alarm di dalam tubuh yang mengatakan kalau saya harus lebih teliti atau minimal mencari ulasannya di internet, sebelum mencoba produk baru.

Apakah setelah itu saya takut untuk mencoba produk baru? Jawabannya tidak. We don't know if we don't try. Rasa "takut gak enak", "takut pedas", dan lain-lain akan menggerogoti keberanian. Bukankah hidup lebih berwarna jika kita sering mencoba hal baru?

Kenangan saat saya berolahraga di lapangan Rampal muncul lagi dalam ingatan. Saat kuliah dulu, seorang kawan mengajak saya senam pagi di sana. Minggu pagi yang biasanya saya habiskan di dapur, akhirnya berganti jadi rutinitas berpeluh keringat sambil menyegarkan pikiran. Di sana bahkan saya bisa berkenalan dengan beberapa instruktur senam yang terus menyemangati untuk berolahraga, padahal sebelumnya saya merasa tidak pintar dalam cabang olahraga apapun. Saya tidak bisa berenang, main voli, atau tenis meja.

Saat menemukan senam aerobik sebagai olahraga favorit, saya merasa "ah, akhirnya aku juga bisa berolahraga." Jika saja saya tetap menonton televisi di minggu pagi atau mencoba resep baru, dan menolak ajakan kawan itu untuk senam, mungkin hidup akan begitu-begitu saja. Statis dan membosankan.

Ketika mencoba kegiatan baru, atau produk baru, sebenarnya kita sudah menaklukkan rasa penasaran dan memperkaya pengalaman. Jangan takut untuk mencoba hal baru, karena hidup akan jadi berwarna. Akhir minggu akan tersa lebih manis jika Anda memasak resep baru atau sekadar mencoba berbelanja di minimarket yang baru dibuka di dekat rumah.

Kamis, 11 April 2019

Anak Saya Hanya Satu, Memangnya Kenapa?

"Kapan Saladin punya adik?"
Pertanyaan ini sering banget terlontar dari mulut tetangga, dari teman SMP, dari banyaak orang.
Saya hanya bisa mesam-mesem. Basa-basi, ah! Paling mereka juga gak serius tanyanya. Herannya,
ada yang belum pernah ketemu, hanya kenal via WA, juga bertanya hal yang sama, Gubrak!
Seolah-olah punya anak tunggal adalah sebuah dosa..
Jauh sebelum nikah, saya memang hanya ingin punya 1 anak. Untung suami juga setuju.
Naasnya, punya anak 1 saja jadi membuat sang ibu dicap macam-macam:
1. Malas Mengasuh
"Mengasuh 1 anak kan gampang, pasti ibunya malas punya anak banyak!".
Saya tertawa aja kalau ada yang berkomentar seperti itu. Mengasuh 1 anak atau 11 anak sama saja,
pasti capek. Tantangannya juga beda-beda.
2. Pelit

Ya, punya 1 anak memang bisa menghemat uang untuk beli susu, bayar SPP sekolah juga hanya untuk
1 orang, tapii...Dikatain PELIT, hahahaha! Biarin saja deh, mereka juga gak ikut bayarin uang jajannya
Saladin.
3. Terlalu Mikir Duniawi
Suatu ketika, saya bilang di sebuah grup WA, kalau punya 1 anak membuat saya bisa fokus kerja.
Kalau misalnya Saladin punya adik bayi, berarti pas dia sekolah saya gak bisa nulis dong!
Harus menggendong, mandiin endebre-endebre. Eh malah dibilang gak mikir akhirat, karena punya
anak banyak itu bisa membuat sanga ibu otomatis masuk surga. Ha, no comment wis..

Selama ini ya selow aja kalau ada yang ikutan berkomentar seperti itu. Buat apa emosi?
Toh saya yang menjalaninya. Ayah Saladin juga gak pernah nyuruh saya lepas KB. Padahal kami
berasal dari keluarga besar. Saya 4 bersaudara dan beliau malah 6 bersaudara. Punya 1 anak membuat
kami merasa...baik-baik saja.
Kalau ada ibu yang punya anak tunggal, juga pasti punya alasan masing-masing. Misalnya:
1. Sakit
Kalau ibu pas hamil sering pendarahan, apa dia mau hamil lagi? Katanya sih kondisi kehamilan anak
kedua dan pertama itu berbeda, tapi bisa jadi sang ibu ingin cari selamat, kan? Pendarahan biasanya
muncul karena ada myom dalam kandungan, dan penyakit itu bisa membesar seiring dengan
perkembangan janin. Hamil lagi berarti cari mati, ogah ah!
2. Trauma

Bisa jadi seorang ibu trauma saat melahirkan, misalnya bayi baru bisa keluar dari rahim setelah
kontraksi berjam-jam, persalinan sulit, atau air ketuban sudah hijau, dll. Rasa takut ini masih
menggelayut, dan dia jadi kapok hamil lagi. Trauma memang bisa dihilangkan, tapi kebanyakan susah
hilang karena sudah masuk ke alam bawah sadar.
3. Gak Ada yang Bantu Jaga Anak
Ada seorang teman yang berprofesi sebagai guru les, dia baru berangkat kerja jam 2 siang hingga
maghrib. Anaknya pulang sekolah (SD) pukul 2 siang. Dia sudah besar, jadi berani jaga rumah sendiri.
Kalau dia hamil dan punya bayi lagi, siapa yang mau jagain saat harus kerja? Sang ibu sudah
almarhumah, mertua ogah ngasuh bayi lagi, dan kurang percaya pada baby sitter,
sementara biaya daycare juga selangit. Punya 1 anak adalah cara aman baginya untuk membantu
suami mencari nafkah tanpa bingung harus nitip anak di mana.
Jadi, ibu-ibu yang punya 1 anak, gak usah sedih ya kalau ada komentar jahat. Tutup kuping aja,
karena mereka bisa jadi cuma basa-basi. Kita yang menjalani hidup,dan kita tahu plus minusnya
punya anak tunggal. Kalau ada yang bilang nanti anaknya manja, ya senyumin aja. Manja atau gak
manja kan tergantung pola pengasuhannya.
Bagaimana, teman-teman ingin punya anak 1 atau banyak?