Sabtu, 22 Juni 2024

Balada Mahasiswa Pura-Pura Miskin

  

Brak!

 

Kubuka kenop pintu kos dan mendorong daun pintu dengan kasar. Tak peduli nanti tetangga sebelah tergnggu atau tidak. Siapa peduli mereka sedang tidur siang atau mengerjakan tugas, bodo amat! Lagipula setelah beberapa bulan tinggal di kos-kosan milik Mak Uti, aku tak begitu akrab pada mereka.

 

Paling-paling hanya Kirana yang kukenal. Itupun karena dulu ibuku pernah membawakan oleh-oleh sekotak bolu cokelat dan kubagi dua, lalu kuantar ke kamarnya. Habis yang lain juga jarang ada di kos. Apalagi kabarnya, si Tetha yang hobi utak-atik, malah tenggelam dalam kesibukannya di dalam laboratorium.

 

Ah, kuliah selama 3 jam hampir mendidihkan otakku. Salahku sendiri kurang teliti, mengira jurusan Ilmu Ekonomi dan Pendidikan Ekonomi itu sama. Padahal beda jauh! Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Yang penting aku bisa pulang kampung dengan membawa ijazah sarjana.

                                  Pexels

 

Aku duduk santai di kasur sambil membuka sepatu dan kaus kaki, lalu melemparkannya asal-asalan. Aroma keringat menguar dari kaki, ah, dilap dengan tisu basah saja. Sebenarnya aku lelah hidup begini. Pergi ke kampus naik angkot, sesekali naik ojek di awal bulan. Selalu pakai celana yang warnanya itu-itu saja, begitu juga kemejanya. Tasku juga dibeli di pasar, bukan di dalam Mall.

 

Padahal Ibu dan Bapak walau ada di kampung, tapi membekaliku dengan uang yang cukup. Malah lebih dari cukup. Sebenarnya bisa sih aku beli sepatu bermerek atau sesekali naik taksi, namun lebih baik begini. Biasa saja berpenampilan lusuh agar dikira miskin.

 

Mengapa aku harus berpura-pura miskin? Ah kayak gak tau aja kelakuan rata-rata anak kos. Tanggal muda foya-foya. Tanggal tua merana. Kalau aku ke kampus pakai sepatu Ribux atau Alatas, bisa-bisa mereka pinjam uang seenaknya. Padahal lebih baik uangnya kubuat investasi saham dan beli logam mulia. Kan sesuai prinsip ekonomi yang diajarkan di kampus, gitu looh!

 

Sayang sistem beasiswa kampus tidak bisa dikibuli, karena menggunakan pengecekan rekening listrik dan foto rumah. Jika saja sistemnya masih manual seperti beberapa tahun lalu mungkin aku bisa mendaftar beasiswa dengan modal SKTM.  

 

Ting!

 

Ada WA masuk. Rupanya dari Bu Sasmita. Beliau ingin aku pergi ke ruang dosen. Padahal jam kuliah sudah selesai. Katanya ada kelebihan nasi kotak konsumsi rapat dan aku boleh mengambilnya.

 

Baru saja mau membalas WA, ada pesan lagi yang masuk ke ponselku. Kali ini dari Pak Darmo, sang penjaga parkir fakultas. Katanya ada hadiah untukku. Hadiah apa?

 

Eits, jangan berpikiran macam-macam. Pak Darmo sudah punya anak-istri di kampung. Namun beliau sering kasihan padaku yang berpenampilan dekil. Katanya, wajahku mirip dengan almarhumah putri bungsunya. 

 

Tanpa pikir panjang segera kusambar tas, kuisi dengan dompet dan HP. Kukenakan sepatu keds, karena akan berlari ke kampus. Nasi kotak, aku datang! Hadiah, tunggulah! Kalian jangan bully aku ya, salah mereka terlalu bersimpati dan menilai seseorang dari penampilan luarnya.

 

Jumat, 21 Juni 2024

Mengapa Harus Sekolah Alam?

 Siapa pernah dengar tentang ‘Sekolah Alam’?  Saat ini makin banyak ya jenis sekolah. Ada yang negeri, madrasah ibtidaiyah, SDIT, SD nasional plus, sampai sekolah alam.



Saladin belajar di salah satu sekolah alam di Kota Malang. Tempatnya cukup jauh dari rumah kami, sekitar 5,5 kilometer. Sebenarnya yang bikin jauh tuh karena tempatnya di lereng pegunungan. Jadi kudu naik-naik dan berkelok-kelok. Kayak mau piknik, wkwkwk.

Alasan Anak Belajar di Sekolah Alam

Saladin tuh dulu sempat belajar (selama beberapa hari) di sebuah SD Negeri. Namun ternyata tidak cocok dan akhirnya pindah. Cerita lengkapnya bisa dibaca di bawah ini ya:

Cerita Saladin Dikeluarkan dari Sekolah

Alhamdulillah akhirnya dapat sekolah swasta yang sreg di hati. Infonya dari Instagram nih! Di sekolah ini Saladin betah banget sampai dia enggak mau libur, hihihihi.



Lantas mengapa harus di sekolah alam? Pertama, sekolah ini berbasis karakter. Jadi yang diajarkan bukan hanya sains, sosial, matematika, dll. Namun juga pembelajaran karakter dan adab. Misalnya anak wajib salat dhuha tiap pagi (bagi yang muslim- dan ini bukan sekolah islam ya, menerima murid dari semua agama).

Pembelajaran karakter tuh kayak gini: anak dibiasakan untuk belajar lapangan alias piket dan ada jadwalnya. Saat belajar lapangan bukan hanya bersih-bersih kelas. Namun juga mencabuti rumput, menyapu lapangan, dll. Mengapa diwajibkan? Karena murid akan belajar mencintai kebersihan dan terbiasa untuk bekerja dengan cepat, serta bertanggung-jawab.



Benar lho, kepala sekolah (Bunda Wanda) beberapa kali cerita kalau belajar lapangan dan program-program lain di sekolah akan membentuk karakter anak. Para murid juga diajari keterampilan seperti cara melipat baju, membuat batik sederhana, bikin eco print. Jika mereka rajin dan terampil maka di masa depan akan jadi orang dewasa yang rajin bekerja, sat-set, dan tidak mudah mengeluh.

Sekolah yang Cocok untuk Anak Kinestatik

Alasan utama mengapa Saladin belajar di sekolah alam adalah karena sekolah ini cocok untuk anak kinestatik. Dari usia 2 tahun, anakku memang susah diam, hobi manjat pohon, lari-larian, geraaak terus. Bahkan pernah manjat kulkas lalu kulkasnya jatuh, pintu freezer lepas, dan akhirnya kulkas kukirim ke rumah mama biar aman.



Sampai dulu tuh curiga, Saladin apa ADHD ya? Ternyata setelah konsultasi ke seorang psikolog anak, jawabannya enggak tuh, hanya over active karena masih ada pandangan matanya. Kalau dia manjat juga ada tujuannya (misalnya mengambil mainan di atas lemari).

Kalau dia ada di sekolah konvensional lalu belajar berjam-jam sambil duduk diam ya mana betah! Oleh karena itu Saladin senang belajar di sekolah alam karena pembelajarannya semi outdoor. Sampai dia enggak putih lagi, hiks, enggak apa-apa lah, anak laki-laki.

Cara Belajar Anak Kinestatik

Jadi cara belajar anak kinestatik tuh gini: setelah salat dhuha berjamaah, anak-anak belajar lapangan lalu beraktivitas di luar ruangan. Misalnya menggelindingkan ban bekas, lari-lari, dll. Setelah capek baru mereka diajak membaca buku di perpustakaan.



Anak kinestatik perlu dihabiskan dulu energinya dengan banyak aktivitas fisik. Baru mereka mau belajar di dalam kelas atau perpustakaan. Menggelindingkan ban juga ada manfaatnya karena para murid bisa lebih fokus.

Bunda Guru yang Sayang

Alasan lain Saladin betah di sekolah alam adalah para bunda guru sayang ke semua murid. Ada beberapa bunda guru, 1 bunda kepala sekolah, dan 1 bapak guru (masih baru). Bunda gurunya sabar dan telaten dalam mengajar anak-anak yang kadang tingkahnya ‘ajaib’.



Bahkan minggu lalu Saladin piknik ke Sumber Sira (nanti artikel dibuat terpisah ya). Aku sengaja enggak ikut. Alhamdulillah dia bisa mandiri dan di sana dibimbing oleh para bunda guru.

Jadii kalau mau cari sekolah buat anak, pilih yang cocok dengan kepribadiannya. Jangan memaksa anak di sekolah tertentu hanya karena di sana berprestasi. Sedangkan anaknya sendiri malah kurang sreg, jangan dipaksain atuh, kasihan!



Sekarang di usia 11 tahun Saladin lebih fokus, sabar, dan tidak lagi emosional. Sudah capek manjat juga, hobinya main lego dan catur. Rencananya nanti SMP lanjut juga di sekolah alam (yayasan yang sama). Kalian gimana, pernah masuk ke sekolah alam?

Kamis, 20 Juni 2024

Pisang Goreng Terakhir untuk Nona Kecil

 Aroma pisang goreng menguar di dapur. Emak menaburinya dengan serpihan gula aren. Pisangnya terlihat cantik, kontras dengan keadaan rumah ini. Hanya berdinding anyaman bambu dan lantainya juga masih tanah. Mungkin satu-satunya benda berharga di rumah ini adalah jam dinding.

 

Pagi ini, seperti biasa, aku berjualan pisang goreng. Dengan hati-hati kucium tangan Emak yang sudah keriput. Beliau membantuku untuk mengangkat tampah berisi pisang ke atas kepala.




 

Kukenakan sandalku lalu berjalan ke rumah Pak Jendral. Istri beliau sudah memesan pisang goreng. Aku senang saat ke sana karena bisa bermain sejenak dengan anaknya.

 

Rumah Pak Jendral berada di di seberang kampung. Hampir semua rumahnya berwarna hijau. Untung aku sudah mengenal Pak Slamet sang penjaga kompleks sehingga tak perlu lagi meminta izin untuk memasuki kawasan tersebut.

 

“Selamat pagi, Bu! Saya mengantar pisang goreng!”

 

Seorang pembantu membukakan pintu. Bu Jendral menyambutku dengan wajah cerah. Setelah membayar pisang goreng, beliau langsung menyuruhku untuk pulang.

 

“Mengapa pulang, Bu? Saya masih ingin bermain dengan nona kecil.”

 

Bu Jendral setengah berbisik, “Sudah, langsung pulang saja. Keadaan sedang kurang aman. Kamu lihat kan di kompleks ini makin banyak penjaganya?”

 

Dalam hati aku mengiyakan. Cepat-cepat aku pulang dan membawa tampah. Sementara kantong celanaku gembung, penuh dengan uang koin pemberian Bu Jendral.

 

*****

 

Keesokan harinya aku menjajakan pisang goreng lagi. Namun sayang, penjagaan di kompleks makin diperketat, tidak boleh ada orang luar yang masuk. Akhirnya aku berjalan ke kampung lain yang jaraknya jauh sekali. Mungkin Emak akan marah saat tahu aku nekat berkeliling sampai belasan kilometer.

 

“Dik, boleh beli semua dagangannya?”

 

Seorang pemuda berkemeja putih memanggilku. Aku setengah berlari menghampirinya. Untung saja semua pisangnya tidak jatuh.

 

“Iya, Kak. Pisang gorengnya masih banyak.” Kubungkus semua pisang dengan kertas koran bekas. Sementara sang pemuda memberikanku dua genggam uang koin.

 

“Ini kebanyakan!” Namun pemuda itu memaksaku untuk menerimanya.

 

“Orang Indonesia harus makan buatan Indonesia! Lebih baik makan pisang goreng daripada roti. Supaya rakyat makmur dan ada keadilan!”

Sungguh aku tidak mengerti maksudnya. Sekolah pun aku tak pernah. Mungkin karena kasihan melihatku yang kebingungan dan kelelahan, sang pemuda mengajakku untuk masuk ke rumahnya.

 

Baru kali ini aku masuk ke rumah yang memajang bendera palu arit. Gambar apakah itu? Ahh, nanti saja kutanyakan ke Emak.

 

“Nama saya Tono. Adik namanya siapa?”

 

“Saya Nurma, Kak. Terima kasih telah memberi semua pisang goreng jualan saya.”

 

Kak Tono menepuk-nepuk bahuku. Sungguh aku malu dibuatnya. Apalagi saat ia ingin mengantarkanku pulang. Untung saat itu ada tamu sehingga ia membatalkan niatnya.

 

Kak Tono akhirnya memesan pisang goreng untuk besok. Aku senang-senang saja. Apalagi ia berjanji akan mengajariku membaca.

 

****

 

Malamnya aku  mendengarkan radio di rumah Nano. Maklum, di rumahku tidak ada radio. Aku dan keluarga Nano kaget karena ada pemberitahuan bahwa keadaan makin tidak aman. Penduduk diminta untuk tidak keluar rumah.

 

Bagaimana dengan pisang goreng jualanku? Aku juga tak bisa datang ke rumah Kak Tono. Akhirnya keesokan harinya aku nekat keluar rumah dan tidak mengindahkan larangan Emak.

 

Aku langsung menyesal saat keluar rumah. Tidak ada orang di luar. Ke mana mereka? Apa sedang antri beras di koperasi?

 

Setelah berjalan cepat ke rumah Kak Tono, aku terkesiap. Ada tanda X warna merah di pintu rumahnya. Padahal biasanya tidak pernah dikunci.

 

“Angkat tangan!”

 

Suara bariton mengagetkanku, nyaris membuat tampahku jatuh. Aku letakkan tampah di tanah lalu mengangkat tangan.

 

“Ampun, Pak! Saya hanya jualan pisang!” Lututku bergetar ketika melihat senjata yang disorongkan.

 

Bapak berseragam hijau menatapku lekat tapi tidak menurunkan senjatanya. “Kamu keluarganya Tono? Dia sudah ditangkap karena jadi penghianat negara.”

 

“Ampun, Pak! Bukan! Saya hanya penjual pisang goreng.” Rasanya aku hampir ngompol.

 

 

Namun sang bapak tampak tidak percaya. Dia hampir meringkusku, lalu….

 

“Jangan, Pak! Lepaskan anak kecil itu! Dia biasanya jualan di kompleks kita. Bu Jendral juga mengenalnya!”

 

Kutengok arah belakang. Pak Slamet! Puji syukur kepada Tuhan karena beliau membelaku. Akhirnya si bapak melepaskanku lalu menyuruhku pulang.

 

“Pak Slamet, pisang gorengnya buat Bapak ya? Tolong berikan juga kepada nona kecil.”

 

Tiba-tiba raut wajah Pak Slamet berubah. “Nona kecil ditembak oleh gerombolan tak bertanggung jawab. Mereka benar-benar kejam!”

 

Rasanya aku ingin pingsan. Nona kecil sudah meninggal. Ia tidak bisa makan pisang goreng buatan emakku. Kota jadi berasa makin suram. Kapankah keadaan ini berubah?

Rabu, 19 Juni 2024

Suamiku Tidak Peka, Aku Harus Bagaimana?

 Pernah gak sih merasa suami kurang peka?

 

Sekujur badan terasa sakit, kepala pusing, perut pun begah. Rasanya tubuh rontok karena PMS. Namun, suami bukannya memijati, malah asyik main game di HP. Bunda, pernah merasakan hal ini? Lantas bertanya-tanya, mengapa suamiku tidak peka, mengapa dia enggak memahamiku?

 
                                        Pexels

 

Sebenarnya, Bunda juga wajib paham jika laki-laki itu lebih memakai logika daripada perasaan. Jadi, amat wajar kalau mayoritas suami kurang peka terhadap keadaan istrinya. Sabar ya. Daripada ngambek berhari-hari, lebih baik Bunda melakukan beberapa hal di bawah ini.

 

1. Bicara Terus Terang

 

Kalau Bunda ingin agar suami mengerti, mengapa tidak bicara apa adanya? Kalau sedang lelah, bisa minta tolong dipijit dan dibuatkan teh hangat. Sementara kalau uang belanja hampir habis, lebih baik minta baik-baik. Daripada cemberut lalu banting piring, lebih baik ngomong to the point, bukan?

 

Ingat bahwa suami bukan cenayang yang tahu mengapa istri tiba-tiba bikin sambal super pedas lalu manyun seharian. Bicara terus terang ke suami sendiri kan tidak ada salahnya. Setelah ngomong, perasaan akan lega karena Bunda sudah mengutarakan isi hati.

 

2. Cari Waktu yang Tepat untuk Bicara

 

Kapan waktu yang tepat untuk bicara dengan suami? Bunda jangan merepet saat beliau sedang buru-buru berangkat kerja atau kelelahan saat pulang lembur. Nanti bisa ada perang dunia ketiga di dalam rumah. Harus lihat-lihat situasinya, ya.

 

Bunda bisa bicara dengan suami saat dalam keadaan santai. Misalnya setelah makan malam, saat minum teh sore, atau sebelum tidur. Bicara sebelum tidur alias pillow talk ampuh untuk mengeratkan kembali hubungan antara suami dan istri. Coba deh praktekkan dan rasakan relationship yang lebih erat.

 

3. Kirim Surat

 

Kalau Bunda malas ngomong, lebih baik mengungkapkan perasaan dalam sepucuk surat. Di zaman modern ini, tidak ada salahnya menulis surat ke suami sendiri. malah dalam surat, bisa mengungkapkan apa saja yang ada di dalam lubuk hati yang terdalam. Suami akan kaget karena mendapat surat cinta dari istri tersayang dan membacanya karena penasaran.

 

4. Berbalas WA

 

Bagaimana kalau Bunda capek menulis manual? Kirim saja pesan melalui WA ke suami, nanti kan beliau baca dan membalasnya. Dengan mengirim WA, maka beliau akan tahu sebenarnya Bunda ingin apa, tidak suka hal tertentu, dll. Akhirnya jadi clear dan bebas dari miskomunikasi antara suami dan istri.

 

5. Memberi Tahu dengan Memuji Terlebih Dahulu

 

Bunda, pernah dengar istilah bahwa ‘ego laki-laki itu tinggi’? Coba bicara baik-baik dengan memujinya terlebih dahulu. Misalnya saat mesin cuci rusak dan berkali-kali diperbaiki, tetapi kumat lagi. Puji suami dengan sebutan ‘si ganteng’, baru utarakan keinginan untuk beli mesin cuci baru. Yakin deh, nanti beliau akan membelikannya dengan senang hati.

 

6. Buang Gengsi Jauh-Jauh

 

Saat akan ngomong dengan suami, Bunda wajib membuang gengsi jauh-jauh. Bicara itu untuk komunikasi, agar menjauhkan dari kesalahpahaman. Mengajak bicara terlebih dahulu bukan berarti harga diri jadi turun. Bagaimana suami tahu keinginan Bunda jika tidak diungkapkan? Gengsi? No way!

 

Sebenarnya, memiliki suami yang tidak peka itu merupakan 90% masalah dari para istri. Karena mereka memang berbeda dari wanita yang perasaanya lebih halus. Saat suami kurang peka, jangan malah banting pintu atau membuatkan kopi hitam tanpa gula. Namun, Bunda bisa mencoba untuk bicara baik-baik, atau menulis surat tentang apa saja yang mengganjal di dalam hati. Yuk kita belajar komunikasi positif.

 

 

Selasa, 18 Juni 2024

Beli Tas dan Sepatu Sekolah Baru, Yes or No?

 



Saat liburan kenaikan kelas, anak-anak pasti happy karena bisa molor bangunnya, bisa main game, nonton, ngemil, dll. Namun orang tuanya yang tetap kerja, kerja, kerja. Karena kalau anak makin besar makannya makin banyak dan kebutuhannya juga beragam, termasuk alat-alat sekolah.


Nah, kalau anak naik kelas sebenarnya butuh alat sekolah seperti tas, sepatu, seragam baru gak sih? Memang sebagai orang tua kita ingin memberi yang terbaik untuk anak. Termasuk sekolah dan peralatan pendukungnya.




Akan tetapi, enggak selamanya kondisi keuangan terus berada di atas. Kalau pas dagangan sepi (kalau orang tuanya pebisnis) atau habis di-PHK, bagaimana? Apakah harus memaksakan diri untuk membelikan anak alat sekolah yang baru, dengan cara hutang! Aku sih enggak ya.


Dihemat Saja Karena yang Lama Masih Layak


Sebenernya beli alat sekolah ini kondisional ya. Kita cek saja apa saja kebutuhan anak. Kalau sekiranya baju dan celana seragam dan sepatu masih muat ya tunda dulu pembeliannya.




Begitu pula dengan tas sekolah dan alat-alat penunjang pembelajaran yang lain. Kalau masih layak pakai (tidak sobek / rusak) ya pakai saja terus. Toh bukan suatu keharusan untuk beli baru setahun sekali.


 


Nunggu Barang Warisan Kakaknya


Kalau anak kedua biasanya punya nasib begini: nunggu barang warisan kakaknya atau sepupunya. Soalnya sama-sama masa pertumbuhan. Kalau sepatu atau seragam kakak sudah kekecilan tapi masih kayak pakai, bakal gantian dipakai adiknya.



Beli dong, Soalnya Sudah Kekecilan


Akan tetapi bagaimana jika punya anak usia sekolah yang statusnya sulung atau tunggal? Jangan ngarepin warisan deh. Mending beli baru.




Memang beda cerita bila sepatu anak sudah mulai sesak. Kalau dia murid SD-SMP tuh pesat banget pertumbuhannya. Ukuran sepatu juga nambah terus tiap tahun. 


Saladin sekarang 11 tahun dan ukuran sepatunya sudah 38 (sama seperti ukuran sepatuku). Padahal tahun lalu ukuran sepatunya masih 36-37.


Begitu juga dengan setelan seragam. Kalau sudah kependekan dan sesak ya belikan yang baru. Beli yang murah saja kalau misal dana agak mepet. Atau bandingkan harga di toko-toko di marketplace. Tapi daku kalau baju dan sepatu lebih suka beli offline sih.


Bagaimana bila Beli Alat Sekolah Second?


Jika memang alat-alat sekolah anak seperti sepatu dan seragam harus diganti, sementara uangnya agak mepet, solusinya adalah beli yang bekas aja. Hahh bekas?


Jangan bayangkan barang di pasar loak, Bun! Namun ada banyak grup jual beli barang second baik di media sosial maupun di WA. Biasanya ada saja yang jual alat sekolah saat decluttering barang-barang di rumahnya. Atau sedang BU alias butuh uang.




Beli sepatu atau tas sekolah second tidak masalah. Yang penting: minta kiriman video sehingga bisa lihat kondisinya. Atau, pilih seller yang posisinya satu kota sehingga bisa datang langsung untuk cek barang, baru bayar.


Kesimpulannya Adalah


Punya anak sekolah berarti kudu siap uang. Jer Basuki Mawa Bea. Kalau alat sekolah anak sudah tidak layak pakai ya beli aja. Kasian atuh! Tapi jangan beli keperluan anak hanya karena gengsi semata. Kalau kalian gimana, tim selalu beli baru atau tidak?

Senin, 17 Juni 2024

6 Cara Memasak Daging Kurban agar Cepat Empuk dan Enak

 Idul adha tiba, Alhamdulillah! Kalau hari raya pasti happy banget dong. Ada yang mudik ke kampung halaman tercinta? Atau di rumah saja menikmati liburan? Sambil kumpul-kumpul sambil masak dong, kan dapat daging dari panitia. Tapi bagaimana cara memasak daging kurban agar cepat empuk?

Mengolah daging kurban, terutama kambing, memang agak tricky. Untuk kambing harus dimasak dengan bumbu dan rempah yang banyak, sehingga mengurangi aromanya yang aduhai. Kemudian, daging kurban juga harus diperlakukan dengan baik agar masakannya tidak jadi alot. Begini cara-caranya:

1. Rebus dengan Api Kecil

Pernahkah keki karena daging tuh kok keras banget ya? Maklum, namanya juga daging kurban, dikasih juga Alhamdulillah dan enggak bisa milih mau sirloin, tenderloin, atau bagian sapi yang lain. Emangnya restoran steak apa?

                                     pexels

Oleh karena itu, saat merebus daging kurban sebaiknya memakai api kecil, agar benar-benar empuk dan bumbunya menyerap. Kira-kira butuh durasi sampai hampir 1 jam. Biasanya daku gini: bersihkan daging dari sisa darah, lemak, dan kotoran, baru direbus sebentar dan buang airnya (airnya pasti terlihat kotor). Baru dipotong-potong dan masak sesuai selera.

2. Gunakan Panci Presto

Lalu gimana biar daging empuk sekaligus hemat gas? Pakai saja panci presto. Masak lebih cepat dan hasilnya dijamin tidak alot. Terutama kalau di rumah ada anak kecil atau orang yang sudah sepuh (tua) ya. Pasti mereka bakal suka makan masakan daging karena tidak susah untuk dikunyah.

Read:

Resep olahan daging kurban

3. Pakai Air Cola

Kalian pengen bikin steak atau sate? Setelah daging dipotong-potong, coba direndam dengan air cola sekitar 5 menit. Air soda juga bisa mengempukkan daging lho!

                                        Pexels

Untuk bumbu steak biasanya daku pakai bumbu BBQ instan, Kalau sate: bawang merah, bawang putih, ketumbar, air asam jawa, gula merah, dan garam, plus kecap manis.

4. Kesaktian Daun Pepaya

Cara memasak daging kurban agar cepat empuk juga bisa ditempuh dengan memetik daun pepaya. Daunnya tidak direbus tetapi digunakan untuk membungkus daging. Daun pepaya mengandung zat papain yang bisa mengempukkan daging kambing maupun sapi.

5. Rebus di Dalam Magic Com

Ini solusi kalau tidak punya presto: rebus saja di dalam magic com. Beneran bisa empuk lho karena panasnya lebih merata daripada kalau memasak di dalam panci biasa. Nanti kalau sudah matang, daging dan kaldu tinggal dituang ke panci, lalu magic com dibersihkan dan bisa digunakan lagi untuk memasak nasi.

6. Haluskan Sajaaaa

Kalau masih susah memasak daging bagaimana? Gunakan chopper atau food processor lalu daging digiling di sana. Saat digiling, beri es batu atau air es secukupnya. Lalu bisa dijadikan bakso, beef patty, tahu bakso, isian kebab, atau makanan lain. Untuk resepnya ada di Google wkwkwk. Maaf ya, selama ini daku kalau masak hanya pakai ilmu kira-kira.

                                      Koleksi pribadi

Bagaimana, sudah masak apa saja untuk idul adha? Memasak daging memang butuh kesabaran dan ketelatenan. Namun bisa laah kalau kita rajin belajar dan senang berkreasi di dapur. Hari ini daku sudah bikin beef patty nih, besok tinggal nunggu mood mau masak apa lagi, hehehehehe.

Minggu, 16 Juni 2024

Cara Memotivasi Anak saat Mendapatkan Nilai Jelek

 Apa, dapat nilai 6? Rasanya daku sangat shock ketika Saladin menyerahkan lembar hasil ujian matematika. Biasanya dia mendapatkan nilai 80, minimal 75, tapi di UAS semester ini hanya 66. Dia pun agak murung karena harus remidi karena nilainya di bawah KKM.

Saladin yang akan naik ke kelas 6 langsung cemberut. Ya, bagaimana lagi. Ketika naik kelas maka soal-soal matematika (dan pelajaran lainnya) juga naik level. Apalagi setelah kulihat soalnya, lebih ke penalaran. Jadi para murid tidak sekadar menghitung keliling dan luas segitiga, kotak, dll, tetapi juga memakai logika (terutama pada soal cerita).

Daripada mumet sendiri lebih baik Bunda dan Ayahanda memotivasi anak, dengan cara-cara seperti ini:

1. Jangan Dimarahi

Masih ingat enggak adegan ketika Nobita diomeli oleh ibunya karena mendapatkan nilai nol? Atau saat Giant jadi emosi karena dimarahi juga oleh ibunya. Saat ibu selalu marah, apalagi karena penyebabnya nilai anak yang jelek, maka berdampak pula ke anak.



Oleh karena itu, anak jangan dimarahi secara berlebihan, apalagi sampai teriak-teriak bahkan main tangan. Nanti jika Bunda kelepasan emosi, bisa berakibat buruk pada mental anak. Enggak mau kan mereka jadi menjauh, bahkan saat dewasa?

Sabar ya! Nilai jelek bisa diperbaiki tapi sakit hati bisa susah disembuhkan. Apalagi jika tidak ada pertolongan dari profesional (psikolog / psikiater).

2. Peluk Erat dan Validasi Emosinya

Anak bisa punya beragam reaksi saat nilainya jelek. Ada yang cuek, ada yang marah, ada pula yang sedih. Tugas kita sebagai orang tua adalah mendekatinya, memeluk, dan memvalidasi emosinya. Biarkan dia mengeluarkan emosi negatif (asal tidak berbahaya).



Baru ketika anak sudah tenang, didekati baik-baik, diajak makan bersama, lalu ditanya bagaimana perasaannya. Dengan cara ini maka anak akan paham bahwa orang tuanya perhatian dan berusaha memvalidasi emosi.

3. Jangan Menjelek-jelekkan Pelajaran atau Gurunya

“Memang matematika itu sulit, Mama dulu enggak bisa!” Atau, anak diajak untuk membenci sang guru yang cara mengajarnya kurang enak.



Wahh jangan sampai menjelek-jelekkan pelajaran tertentu ya. Nanti anak malah semakin membenci dan beneran tidak bisa. Padahal segala sesuatu bisa dipelajari, asal kita telaten dan memiliki tekad kuat.

4. Memberi Tahu Manfaat Suatu Mata Pelajaran

Daripada menjelek-jelekkan, bukankah sebaiknya kita memberi tahu manfaat suatu pelajaran? Jadi anak akan tahu kegunaan belajar matematika, untuk menghitung uang, menakar bahan-bahan kue, menghitung luas kue yang akan dipotong, dll. Kegunaan dari pelajaran bahasa inggris adalah anak bisa lancar komunikasi dengan orang asing, asyik conversation ketika traveling ke luar negeri, dll.



Saat anak tahu manfaat suatu pelajaran maka dia akan termotivasi. Dia tak akan lagi membencinya tetapi belajar untuk mencintainya.

5. Latihan dengan Cara yang Menyenangkan

Nah, ketika anak sudah cukup termotivasi maka saatnya latihan. Bisa dengan cara yang menyenangkan, tak harus mengerjakan beragam soal di buku. Misalnya saat belanja di minimarket, anak bisa belajar mengenai satuan (gram, millimeter, dll), menghitung total belanjaan, dll. Secara tidak langsung dia akan belajar matematika.



Membesarkan hati anak memang butuh trik khusus tetapi bukan berarti tak bisa dilakukan. Yang penting kita juga harus ikhlas dan menerima bahwa anak punya kelemahan di beberapa mata pelajaran. Kemudian mencari cara agar nilainya bisa naik, misalnya dengan latihan tiap hari, atau mengundang guru les ke rumah, dll. Gimana, pernahkah anak sedih saat nilainya jelek?

Sabtu, 15 Juni 2024

Kejutan di Suatu Kafe

 Jika kau tahu artinya cinta, maukah kau memberi tahuku yang sebenarnya?

 

Bagi orang kebanyakan, malam minggu adalah malam bercinta. Wakuncar alias waktu

kunjung pacar pada yang tercinta. Sabtu malam adalah momen romantis, kala sang kumbang

mendekati bunga dan mereka memadu kasih. Jika sudah bersua, maka dunia bagaikan milik

berdua. Sementara yang lain hanya mengontrak.

 

Telah kulalui puluhan, bahkan ratusan malam minggu dengan kencan-kencan yang

mendebarkan. Entah berapa kali aku mendapatkan barang-barang sebagai kejutan. Mawar

merah sudah biasa, begitu juga cokelat dengan potongan kacang mede di dalamnya.

 

Baju?

Lemariku hampir sesak dengan berbagai blus, rok, sampai hanbok pemberiannya. Ada pula

jam tangan kekinian yang modelnya sangat kusukai, karena hanya bisa didapatkan di gerai

ternama. Bahkan bulan lalu, cincin platinum bertahtakan batu rubi telah melingkar manis,

sebagai tanda keseriusannya.

 


Ah, betapa indahnya jadi wanita. Aku bukannya materialistis, namun apakah kita bisa hidup

hanya dengan makan cinta? Jika uang tak bisa memberimu kebahagiaan, maka kau telah

belanja di tempat yang salah. Itu prinsip hidupku. Seorang wanita muda yang selalu

dikelilingi oleh banyak pria.

 

Sabtu ini kulalui dengan cukup lancar, tapi rasanya aku ingin menepi sejenak dari kencan-

kencan yang mengesankan. Rasanya dicintai lebih nikmat daripada sekadar mencintai,

apalagi jika tak mendapat balasan. Namun aku ingin menghabiskan malam minggu sendirian,

tanpa ada tuntutan harus berdandan sangat molek demi sang pujaan hati.

 

Kuarahkan mobilku ke All Blinks Cafe. Di antara anak-anak muda, tempat itu sangat terkenal,

karena menyajikan berbagai hidangan. Mulai dari makanan ringan, minuman segar, sampai

masakan khas Korea Selatan.



 

Semua akan membuat pengunjung tersenyum karena

kelezatannya. Tak kupedulikan dietku pada malam minggu ini, aku hanya ingin makan dan

bersenang-senang, dan lari dari kejaran para penggemar yang menunggu dengan setia.

 

Penggemar? Kuakui, mereka amat menyenangkan untuk waktu yang singkat. Namun ketika

sudah bosan, aku melipir dan memblokir nomor mereka begitu saja. Terdengar kejam, namun

sebaga wanita yang belum menikah, wajar kan jika aku masih dalam tahap coba-coba?

 

Jika ada yang benar-benar cocok, baru kupertimbangkan untuk naik ke pelaminan. Itupun

sepertinya masih lama, karena aku juga belum lulus kuliah. Setelah itu akupun tak ingin

segera menikah, melainkan ingin berbisnis fashion, karena amat menyukai mode.

Kutargetkan untuk menikah di usia 26, tidak terlalu muda juga tidak terlalu terlambat.

 

All Blinks Cafe sepertinya nyaris penuh, hal ini terlihat dari banyaknya kendaraan yang

Ada di luar. Untung ada 1 tempat kosong di pojokan. Tukang parkir dengan sigap

mengarahkan mobilku, sehingga bisa terparkir dengan aman walau tempatnya agak sempit.

 

Kubuka pintu mobil, menyalakan alarm, lalu melempar senyum kepada sang tukang parkir. Ia

hanya menjawab dengan anggukan kepala. Tak lupa kusodorkan uang 50.000, kubayar

sekarang agar nanti saat pulang bisa langsung pergi tanpa harus mencarinya. Lalu aku segera

masuk karena perutku sudah berorkestra saking laparnya.

 

Setelah pintu terbuka, aroma bunga langsung menguar. Kurasakan sejuknya AC

yang menerpa, sesaat setelah aku melangkah masuk. Desain kafe ini minimalis-modern dan

sangat nyaman untuk dibuat tempat nongkrong. Apalagi di sini tak hanya menyediakan kopi

dan makanan ringan, namun juga ada makanan berat. Sehingga cocok disinggahi saat akan

makan malam.

 

Sesuai dugaan, kafe ini nyaris dipenuhi pengunjung yang mayoritas anak muda. Enggak gaul

kalau enggak datang ke All Blinks Cafe. Apalagi di malam minggu, makin banyak orang

yang memadati bagian dalamnya, karena mereka ingin melihat live performance dari

penyanyi bersuara emas.

 

“Mbak, pesan 1 gelas jus jeruk dan 1 porsi hotteok, juga sepiring french fries!” Pelayan itu

hanya tersenyum lalu mencatat pesananku. Sambil menunggu pesanan datang, aku

mengambil HP lalu selfie.

 

Cekrek! Dengan sekali pencet, aku memotret diriku sendiri, lalu jempolku bergulir di atas

Layar untuk mengunggahnya ke Instagram. Interior kafe ini unik dan sangat instagrammable.

Andai tidak terlalu banyak pengunjung, mungkin aku menjelajahi setiap sudutnya, mulai dari

Coffee Bar, sampai Juice Bar.

 

Aku mengagumi fotoku sendiri di Instagram. Kata orang, wajahku mirip Lisa Blackpink.

Kadang aku malah dikira orang Korea karena kulitku yang kuning langsat. Padahal Lisa

bukan asli Korea, melainkan orang Thailand.

 

Rambutku yang berwarna brunette tampak

berkilau karena tadi pagi kusempatkan untuk keramas dan mengoleskan conditioner. Meski

pendek tetapi aku harus merawatnya, karena rambut adalah

mahkota wanita.

 

Lama sekali pesananku belum datang? Mungkin karena keadaan kafe sedang ramai-ramainya.

Kulihat sosok pelayan yang tadi menanyakan pesananku, namun sepertinya ia membawa

cangkir, bukan minumanku pastinya.

 

Sebelum berdiri dan menghampirinya untuk menanyakan kapan pesananku datang, tiba-tiba....

 

“Rani! Ini kamu, ke mana saja selama ini? Pindah kuliah ya? Aku mencari di indekosmu

enggak ada! Semua medsos dan WA-mu enggak aktif!”

 

Ucapan pria itu bagaikan tembakan peluru beruntun, tepat ke dalam hatiku. Bagaimana aku

bisa menjawab, jika ia tidak memberiku kesempatan untuk berbicara? Ia, Denias, mantan

pacarku yang sekarang terlihat makin gagah dengan kulitnya yang kecokelatan.

 

“Aku, aku....”

 

Tak ada kata yang bisa terucap, lidahku kelu. Bagaimana aku bisa mengaku pada Denias,

bahwa ia hanya ban serep alias pacar cadangan? Sungguh, memutuskan untuk

menghindarinya adalah keputusan yang kusyukuri. Aku tak ingin melukainya lebih jauh lagi.

 

Tiba-tiba terdengar lagu Hope Not dari Blackpink yang sangat familiar di telingaku.

Penyanyi di kafe ini melantunkannya dengan sangat baik.

 

Naboda neunn salam manna haengboghae

 

Karena aku hanya memberimu rasa sakit saat kami bersama

 

Nal ijeul mankeum maneun anigil

 

Tapi kuharap kau tak sampai melupakanku

 

 

“Kamu tambah cantik, Rani!”

 

Ah, mengapa Denias memujiku? Apakah ia tak bisa melupakanku? Walau setahun tak

bertemu? Sepertinya lagu Hope Not sangat cocok dengan keadaanku saat ini.

 

Tiba-tiba ada tangan halus yang melingkar ke pinggangnya. Denias terpekik. Bukankah itu

Tante Mika? Jadi mereka?

 

“Kenalkan, ini Mika istriku.” Mereka tampak serasi walau perbedaan umurnya sangat jauh.

Aku heran, bagaimana bisa Tante Mika malah menikah lagi dengan brondong?

 

“Kebetulan kami sudah kenal, karena Tante Mika adalah teman mamaku. Wah dunia ini

sempit ya! Selamat atas pernikahanmu!”

 

Aku harus menguasai emosi walau sedikit tersakiti. Tak kusangka Denias berani menikah di

usia yang semuda ini. Tak usah kuteteskan air mata di hadapan mereka. Untuk apa kutangisi

pria yang telah lama kutinggalkan? Aku harus berakting dan tersenyum manis, walau dalam

hati sedikit tergores.

 

Denias hanya masa lalu. Lagipula, ia tak sekaya pacar-pacarku yang lain. Jika Andy bawa

mobil sedan, sedangkan Tony mengendarai motor sport, Denias hanya bermodal motor butut.

Mana pantas seorang Rani naik kendaraan jelek seperti itu?

 

“Rani, lama amat? Akhirnya kususul ke sini!”

 

Aku menoleh, mencari sumber suara. Ah, rupanya ia tahu aku ada di All Blinks Cafe.

Rasanya agak menyesal, mengapa harus mengunggah fotoku ke Instagram dan disertai

dengan titik koordinat terkini. Ia pasti melihatnya lalu menyusulku.

 

Tangannya yang lembut menggamit lenganku. Sosoknya masih gagah dan mampu

mengimbangi kelincahanku. Namun Denias tiba-tiba seperti melihat hantu, saat melihat

wajah kekasihku.

 

“Papa?”

 

Aku tak peduli jika ia benar-benar Papa Denias. Yang penting kekasihku bisa membuatku

nyaman. Aku taruh uang 100.000 di meja, sekadar untuk mengganti pesananku yang tak

kunjung datang. Kami melenggang, meninggalkan mereka yang masih termangu.

 

Lamat-lamat terdengar lagu Hope Not dari panggung.

 

For you, Nan apado joha

 

Demi kamu, tak apa-apa aku tersakiti

 

Hamkkehaneun dongan neoege sangcheoman namgyeojun nannika

 

Sebab aku hanya memberimu sakit semasa kita bersama

 

Walau rasanya sedikit sakit, karena kamu sudah menikah dan tak mungkin kupacari lagi, tapi

aku berusaha ikhlas Denias. berbahagialah bersama istrimu. Daripada kau terus merasa

cemburu saat aku dulu dikejar oleh para penggemarku.

 

Maafkan aku karena menjadikan papamu sebagai kekasihku. Boleh saja kau anggap aku

mengincar lelaki berkantong tebal. Namun ia memberi kenyamanan, seolah-olah sedang

dimanja oleh almarhum ayahku sendiri. Sampai jumpa Denias, semoga kita tak pernah

berjumpa lagi.