Tanggal 29 Agustus 2029 ada satu
pertanyaan yang diberikan di grup Pause and Rebuild (yang sedang mengadakan
google meet). Pertanyaannya kurang lebih seperti ini: jika kamu bisa kembali ke
usia 25, apa voice note yang akan
dikirim ke diri sendiri? What if?
Well,
sebenarnya daku juga agak mikir, jawabannya apa ya? Rasanya baru kemarin
daku ultah ke-25. Ternyata tahun ini daku sudah masuk club forty wkwkwk, alamak!
Time
Machine
Karena ini temanya what if atau jika memang ada mesin waktu
maka daku jawab: usia 25 itu daku udah nikah! Lho, jadi kalau emang bisa balik
ke usia itu, apa mau terus lanjut alias menerima lamaran bapaknya Saladin? Atau
malah bilang ke diri sendiri: jangan!
Ini pertanyaan yang cukup berat karena
seandainya kita tuh bisa kembali ke usia itu, apa bisa mencari jalan lain.
Kalau memang menikah dengan yang lain maka hasilnya tentu berbeda. Tapi daku
akan terus bersama beliau walau akhirnya begini, dengan segala liku-likunya.
Seperti judul film India: Kabhi Khushi Kabhi Gam (kadang bahagia, kadang
sedih).
Jika
tidak bersama beliau maka tidak ada Saladin dengan segala ‘keajaiban’-nya.
Malah justru daku bersyukur karena setelah menikah dengan beliau, daku punya
anak neurodivergent (karena beliau
ADHD dewasa, jadi ini factor genetic).
Saladin
jadi anak ADHD yang istimewa, kuat, cerdas, sekaligus agak susah diatur
hahahaha. Justru dengan adanya Saladin daku jadi belajar untuk sabar.
Career
Di usia 25 daku tidak kerja kantoran
tapi bekerja macam-macam. Mulai dari guru playgroup,
nanny (karena daycare jadi satu gedung dengan sekolah itu), dan pengusaha. Jadii setelah
nikah, daku resign dan membantu suami
untuk membangun percetakan. Beliau desainernya sedangkan daku bagian marketing.
Sebenarnya kala itu daku juga ditawari
ortu untuk kuliah lagi (S2) tapi dengan berbagai pertimbangan, jawabannya: no.
Bukannya tidak mau kuliah gratis, tapi rasanya sudah capek dengan dunia
akademik. Kalaupun mau menambah ilmu, mending baca banyak buku.
Jika bisa kembali ke usia 25 apakah
daku bilang ke diri sendiri untuk kuliah lagi dan melamar jadi dosen? Karena sebenarnya
itu keinginan mama. Well, jawabannya
masih sama: no. Walau suka mengajar tapi daku lebih suka jadi gurunya anak-anak
daripada harus jadi dosen.
Read: I Don't Want to Remember My Age
Tidak ada penyesalan dalam hal karir
walau ternyata jadi pengusaha itu seperti naik roller coaster, jauh dari yang kubayangkan. Tantangan dan
lika-likunya besar sekali. Namun tidak apa-apa, anggap saja latihan mental.
Kesimpulannya
Sebagai manusia kadang kita
berandai-andai, jika kembali ke masa lalu akankah mengubah keputusan hidup dan
otomatis mengubah takdir? Ternyata jawabanku masih tetap sama. Seharusnya,
segala sesuatu yang pernah dilalui tidak usah disesali karena akan membentuk
kita menjadi lebih baik.
Sekarang daku Tanya kepada klean. Jika
bisa kembali ke usia 25, mau bilang apa ke diri sendiri? Apa mau mengubah
takdirmu dengan memilih jalan lain, atau tidak?



Tidak ada komentar:
Posting Komentar