“Bun, HP-nya hitam!”
Wajah Saladin memucat,
dia takut kumarahin karena tidak sengaja menjatuhkan handphone. Masalahnya itu gadget
kesayanganku karena memang si bocil belum punya ponsel sendiri. Sementara 2
hari sebelum lebaran layarnya malah gelap. Kang servis sudah pada mudik!
Tarik nafas panjang,
hembuskan. Percuma juga memarahi Saladin (apalagi main tangan, big no buatku).
Kemudian kami laporan ke ayahanda bocah dan beliau hanya geleng-geleng kepala.
Sudah malam jadi HP disimpan dulu.
Keesokan harinya, alarm
di ponsel berbunyi. Suamiku malah tersenyum dan bilang kalau ini tanda bahwa
mesin HP masih berjalan dengan baik. Kemungkinan hanya ganti LCD. Daku pun lega
banget karena memang gadget baru
berumur 2 tahun dan belum ada rencana beli yang baru.
Untung
Ada WIFI
Keesokan harinya daku packing kilat karena mau mudik lokal
alias menginap di rumah mama yang posisinya hanya 3 kilometer dari hunian kami.
Saladin jelas senang karena dia selalu suka tidur di rumah mbah uti, banyak kue
dan makanan lain, plus ada WIFI.
Apalagi idulfitri ini spesial karena Om Foresta (adik bungsuku) sudah
membuatkan aneka kukis seperti kastengel.
Walau harus menggotong
laptop (plus baju dan bawaan lain dengan total 5 tas) tapi Saladin happy banget. Berkat WIFI di rumah uti,
dia bisa nonton YT dan buka beberapa web kesayangannya. Tapi ya tetap harus
dibatasi screen time agar tidurnya
tidak kemalaman juga.
Menjalani
Hari Tanpa Internet
Akan tetapi saat balik
ke rumah, tantangan dimulai. Bisakah Saladin hidup tanpa internet? Dia sudah
gelisah dan ingin marah. Mau nonton film yang ada di laptop tapi audionya
bermasalah dan earphone juga rusak.
Saladin bingung mau
ngapain saat liburan? Akhirnya kubelikan spidol dan kami menggambar bersama.
Dia takjub karena bundanya bisa menggambar cewek dengan gaya anime (yaa walau
sudah beberapa tahun vakum tapi lumayan lah hasilnya).
Kemudian, untuk
menggantikan suara video, Saladin menyalakan radio mini miliknya. Ia bawa radio
itu sambil jalan-jalan di halaman belakang rumah (bocah ini ADHD jadi susah
diam kakinya). Kalau sudah capek jalan baru masuk dan cari bundanya untuk senden.
Kegiatan lain Saladin
saat libur lebaran tanpa internet adalah main catur, dibacakan buku, bantu
bundanya buang sampah, dan ngisis saat
malam hari. Beneran pas dia cari angin malam-malam dilihatin banyak orang
karena muterin perumahan sambil bawa radio mini, plus bawa dongkrak kecil punya
ayahnya. Iseng banget ini anak!
Setelah sekitar
seminggu hidup tanpa HP, akhirnya benda itu bisa menyala lagi karena sudah
diperbaiki di tempat servis punya teman suami. Alhamdulillah, berasa hidup
kembali! Sudah ada ratusan pesan WA yang mengantri untuk dibaca.
Tapi Saladin juga
belajar bahwa ternyata hidup tanpa internet itu baik-baik saja. Sementara daku
jadi bisa mempraktekkan mindfulness. Menikmati
makanan tanpa terdistraksi oleh video di HP, malah lebih enak dan tenang. Hidup
berasa tidak diburu oleh notifikasi.
Kesimpulannya, hidup
tanpa internet tidak semengerikan itu. Mungkin daku bisa coba untuk detoks HP dan
gadget apapun selama 24 jam (atau
lebih) untuk menghindari brain root
atau potensi kecanduan ponsel. BTW pernahkah klean dengan sengaja hidup tanpa
internet?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar