Minggu, 29 Maret 2026

Lebaran Tanpa HP, Rasanya….

 

 “Bun, HP-nya hitam!”

Wajah Saladin memucat, dia takut kumarahin karena tidak sengaja menjatuhkan handphone. Masalahnya itu gadget kesayanganku karena memang si bocil belum punya ponsel sendiri. Sementara 2 hari sebelum lebaran layarnya malah gelap. Kang servis sudah pada mudik!

Tarik nafas panjang, hembuskan. Percuma juga memarahi Saladin (apalagi main tangan, big no buatku). Kemudian kami laporan ke ayahanda bocah dan beliau hanya geleng-geleng kepala. Sudah malam jadi HP disimpan dulu.


Keesokan harinya, alarm di ponsel berbunyi. Suamiku malah tersenyum dan bilang kalau ini tanda bahwa mesin HP masih berjalan dengan baik. Kemungkinan hanya ganti LCD. Daku pun lega banget karena memang gadget baru berumur 2 tahun dan belum ada rencana beli yang baru.

Untung Ada WIFI

Keesokan harinya daku packing kilat karena mau mudik lokal alias menginap di rumah mama yang posisinya hanya 3 kilometer dari hunian kami. Saladin jelas senang karena dia selalu suka tidur di rumah mbah uti, banyak kue dan makanan lain, plus ada WIFI. Apalagi idulfitri ini spesial karena Om Foresta (adik bungsuku) sudah membuatkan aneka kukis seperti kastengel.

Walau harus menggotong laptop (plus baju dan bawaan lain dengan total 5 tas) tapi Saladin happy banget. Berkat WIFI di rumah uti, dia bisa nonton YT dan buka beberapa web kesayangannya. Tapi ya tetap harus dibatasi screen time agar tidurnya tidak kemalaman juga.

Menjalani Hari Tanpa Internet

Akan tetapi saat balik ke rumah, tantangan dimulai. Bisakah Saladin hidup tanpa internet? Dia sudah gelisah dan ingin marah. Mau nonton film yang ada di laptop tapi audionya bermasalah dan earphone juga rusak.

Saladin bingung mau ngapain saat liburan? Akhirnya kubelikan spidol dan kami menggambar bersama. Dia takjub karena bundanya bisa menggambar cewek dengan gaya anime (yaa walau sudah beberapa tahun vakum tapi lumayan lah hasilnya).

Kemudian, untuk menggantikan suara video, Saladin menyalakan radio mini miliknya. Ia bawa radio itu sambil jalan-jalan di halaman belakang rumah (bocah ini ADHD jadi susah diam kakinya). Kalau sudah capek jalan baru masuk dan cari bundanya untuk senden.

Kegiatan lain Saladin saat libur lebaran tanpa internet adalah main catur, dibacakan buku, bantu bundanya buang sampah, dan ngisis saat malam hari. Beneran pas dia cari angin malam-malam dilihatin banyak orang karena muterin perumahan sambil bawa radio mini, plus bawa dongkrak kecil punya ayahnya. Iseng banget ini anak!

Setelah sekitar seminggu hidup tanpa HP, akhirnya benda itu bisa menyala lagi karena sudah diperbaiki di tempat servis punya teman suami. Alhamdulillah, berasa hidup kembali! Sudah ada ratusan pesan WA yang mengantri untuk dibaca.

Tapi Saladin juga belajar bahwa ternyata hidup tanpa internet itu baik-baik saja. Sementara daku jadi bisa mempraktekkan mindfulness. Menikmati makanan tanpa terdistraksi oleh video di HP, malah lebih enak dan tenang. Hidup berasa tidak diburu oleh notifikasi.

Kesimpulannya, hidup tanpa internet tidak semengerikan itu. Mungkin daku bisa coba untuk detoks HP dan gadget apapun selama 24 jam (atau lebih) untuk menghindari brain root atau potensi kecanduan ponsel. BTW pernahkah klean dengan sengaja hidup tanpa internet?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar