Minggu, 15 Maret 2026

Ketika Saladin Nekat Pulang Sendiri

 

 “Ma, barusan Saladin pulang sendiri dan bawa payung. Tadi dikejar pak guru tapi larinya cepat sekali!”

Sebaris WA dari bu guru membuatku kalut. Di siang yang gelap dan dingin karena hujan berangin, Saladin pulang sendiri? Bagaimana jika dia kenapa-napa di jalan?



Segera kupanggil ayahnya Saladin dan beliau langsung menyusul dengan jalan kaki. Mengapa tidak naik sepeda motor? Karena Saladin juga jalan kaki jadi beliau mikirnya akan lebih mudah bertemu di jalan. FYI jarak dari rumah ke sekolah hanya sekitar 800 meter. Jam pulangnya pukul 11:30 siang (karena ini sekolah informal).

Sambil berdoa dalam hati, kutunggu kedatangan ayahnya Saladin. Lima menit kemudian tiba-tiba pintu rumah terbuka dan ternyata….

Saladin datang sambil cengar-cengir. Baju, celana, sepatu, dan tasnya basah. Meski sudah bawa payung tapi anginnya kencang. Segera kukirim pesan ke sang ayah bahwa anak kami sudah datang.

Saat itu daku tidak memarahi Saladin. Namun menyuruhnya untuk ganti baju, cuci tangan, dan makan siang. Ketika dia asyik makan, sang ayah datang dan syukurlah tidak ikut marah juga.

Mengapa Saladin Tidak Diizinkan Pulang Sendiri?

Meski jarak dari rumah ke sekolah dekat tapi kami belum tega untuk melepas Saladin berangkat dan pulang sendiri (padahal dia sudah kelas 7). Jadi di waktu pagi, kuantar bocah ke sekolah dengan jalan kaki, dan siangnya gantian sang ayah yang menjemput dengan sepeda motor. Mengapa tidak tega? Karena….



Karena dulu waktu Saladin masih TK dia pernah hilang, kabur dari rumah dan baru ketemu beberapa kemudian di perumahan sebelah. Seminggu lalu dia juga nekat lari malam-malam ke rumah mbahnya yang berjarak 3 kilometer dari rumah. Oleh karena itu kami sebagai orang tua belum mempercayai dia untuk berangkat dan pulang sendiri, karena dia juga masih impulsive (Saladin ADHD).

Negosiasi dengan Anak

Setelah sama-sama tenang, Saladin kutanya, mengapa dia nekat pulang sendiri? Ternyataa dia lapar saudara-saudara dan sudah tidak sabaran untuk makan siang. Memang dia hanya bawa bekal kue untuk dimakan di jam istirahat (karena memang tidak mau bontot nasi).

Ternyata Saladin juga suka hujan karena suara-suara orang di sekitarnya jadi tidak terdengar (dia hipersensitif terhadap suara keras). Jadi kami bikin perjanjian. Di lain hari kalau siangnya hujan, dia boleh pulang sendiri, asal pamit baik-baik ke bapak dan ibu guru.

Beginilah rasanya punyan anak ADHD yang masih impulsive. Hampir tiap hari darderdor dan ada saja ceritanya. Tapi tidak apa-apa karena kenyataannya, punya anak istimewa seperti Saladin mengajarkanku arti sebuah kesabaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar