“Ma, barusan Saladin pulang sendiri dan bawa
payung. Tadi dikejar pak guru tapi larinya cepat sekali!”
Sebaris WA dari bu guru
membuatku kalut. Di siang yang gelap dan dingin karena hujan berangin, Saladin
pulang sendiri? Bagaimana jika dia kenapa-napa di jalan?
Segera kupanggil
ayahnya Saladin dan beliau langsung menyusul dengan jalan kaki. Mengapa tidak
naik sepeda motor? Karena Saladin juga jalan kaki jadi beliau mikirnya akan
lebih mudah bertemu di jalan. FYI jarak dari rumah ke sekolah hanya sekitar 800
meter. Jam pulangnya pukul 11:30 siang (karena ini sekolah informal).
Sambil berdoa dalam
hati, kutunggu kedatangan ayahnya Saladin. Lima menit kemudian tiba-tiba pintu
rumah terbuka dan ternyata….
Saladin datang sambil
cengar-cengir. Baju, celana, sepatu, dan tasnya basah. Meski sudah bawa payung
tapi anginnya kencang. Segera kukirim pesan ke sang ayah bahwa anak kami sudah
datang.
Saat itu daku tidak
memarahi Saladin. Namun menyuruhnya untuk ganti baju, cuci tangan, dan makan
siang. Ketika dia asyik makan, sang ayah datang dan syukurlah tidak ikut marah
juga.
Mengapa
Saladin Tidak Diizinkan Pulang Sendiri?
Meski jarak dari rumah
ke sekolah dekat tapi kami belum tega untuk melepas Saladin berangkat dan
pulang sendiri (padahal dia sudah kelas 7). Jadi di waktu pagi, kuantar bocah
ke sekolah dengan jalan kaki, dan siangnya gantian sang ayah yang menjemput
dengan sepeda motor. Mengapa tidak tega? Karena….
Karena dulu waktu
Saladin masih TK dia pernah hilang, kabur dari rumah dan baru ketemu beberapa
kemudian di perumahan sebelah. Seminggu lalu dia juga nekat lari malam-malam ke
rumah mbahnya yang berjarak 3 kilometer dari rumah. Oleh karena itu kami
sebagai orang tua belum mempercayai dia untuk berangkat dan pulang sendiri,
karena dia juga masih impulsive (Saladin ADHD).
Negosiasi
dengan Anak
Setelah sama-sama
tenang, Saladin kutanya, mengapa dia nekat pulang sendiri? Ternyataa dia lapar
saudara-saudara dan sudah tidak sabaran untuk makan siang. Memang dia hanya
bawa bekal kue untuk dimakan di jam istirahat (karena memang tidak mau bontot nasi).
Ternyata Saladin juga
suka hujan karena suara-suara orang di sekitarnya jadi tidak terdengar (dia
hipersensitif terhadap suara keras). Jadi kami bikin perjanjian. Di lain hari kalau
siangnya hujan, dia boleh pulang sendiri, asal pamit baik-baik ke bapak dan ibu
guru.
Beginilah rasanya
punyan anak ADHD yang masih impulsive. Hampir tiap hari darderdor dan ada saja
ceritanya. Tapi tidak apa-apa karena kenyataannya, punya anak istimewa seperti
Saladin mengajarkanku arti sebuah kesabaran.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar