Kamis, 04 Juni 2026

Mengapa Anakku ADHD?

Saladin berlari mengelilingi rumah, sementara temanku (yang sedang bertamu) heran dan bertanya, “Dia kenapa?” Kujelaskan kalau anak ADHD memang seperti itu, sangat aktif. Untung masa suka memanjatnya sudah hilang jadi dia hanya lincah berkeliling sambil mendengarkan lagu-lagu favoritnya.

                                          Kostum robot dari kardus

Pertanyaan seperti itu sudah biasa karena daku merasakan 13 tahun jadi ibu dari anak ADHD. Mulai dari pertanyaan yang ringan sampai pandangan mata yang merendahkan, sudah kenyang rasanya. Tapi jujur daku kadang ‘oleng’ alias merasa galau, mengapa harus punya anak ADHD yang relatif lebih ‘sulit’ daripada anak biasa? Ya Tuhan??

Balada Punya Anak ADHD

            Kita kembali ke masa Saladin masih kecil. Ada-ada saja tingkahnya, mulai dari memanjat pohon, lemari, sampai naik kulkas. Dia pernah kecepit kursi saking penasaran dengan kursi kayu buatan ayahnya.



            Yang paling sedih ketika Saladin (waktu TK) tantrum dan dulu memang sangat mengerikan. Dia menangis sambil gulung-gulung di lantai lalu…membenturkan kepalanya ke ubin! Bagaimana tidak takut kalau terluka?



Memiliki anak ADHD membuat hatiku campur-aduk. Kadang ikut marah ketika dia tantrum (karena beban emosi yang berat). Lalu malamnya menyesal dan minta maaf ke dia sambil menangis. Kadang daku juga sedih karena dia berbeda dari anak lain (walau fisiknya sama).

Melihat Kelebihan Anak, Bukan Kelemahannya

Akan tetapi kegalauan itu harus diusir jauh-jauh. Buat apa daku overthinking akan masa depannya? Tidak boleh menyesal punya anak ADHD karena yang paling penting (Sebagai orang tua) adalah melihat kelebihan anak, bukan hanya mencermati kelemahannya.



Memang Saladin ADHD, fokusnya relatif lebih pendek, tapi dia juga punya kelebihan di bidang bahasa. Dia mahir bahasa inggris sejak usia 5 tahun. Saladin suka belajar aksara dan hafal huruf-huruf Rusia, Yunani, dll.

                               Belajar bahasa dan aksara dengan menggunakan komputer

Saladin juga mau membereskan piring kotor, sudah bisa mengupas kentang dan apel (dengan peeler), bahkan inisiatif menyapu lantai saat ada semut. Dia suka memeluk dan mencium pipi bundanya. Juga sudah bisa membuat teh sendiri dan bisa dimintai tolong belanja di warung (asal ada catatan belanja).

                                                           Saladin belajar mengecat

Buat apa daku melihat ADHD sebagai sebuah kelemahan? Justru saat dia hyperactive maka fisiknya sangat kuat. Sebagai orang tua maka tugasku untuk mengarahkannya, mengajaknya olahraga dan mengajari gerakan-gerakan self defense.

Terapi Mandiri

Saat ini Saladin terapi mandiri di rumah dan alhamdulilah materi serta videonya banyak tersebar di social media. Yang panting adalah konsistensi untuk melakukannya. Jadi yang dilatih adalah keseimbangan, koordinasi tangan dan kaki, kekuatan tubuh, fokus, dll.

Pelajaran Hidup

Ada satu quote dari buku antologi yang barusan kubaca. Kurang-lebih isinya begini “kehadiran anak memberi banyak pelajaran yang membuat orang tuanya menjadi lebih baik.” Padahal buku itu sudah beberapa kali dibaca tapi setelah membaca ulang baru sadar akan quote tersebut, yang sangat pas dengan keadaan saat ini.



Ketika punya anak ADHD maka daku belajar banyak hal: gentle parenting, psikologi anak, olahraga di rumah, diet gula dan gluten, dll. Karena anak ADHD pun daku lebih sering menuliskannya di blog (dan semoga menginspirasi para pembaca). Makanya di blog Catatan Bunda Saladin niche-nya adalah parenting.

Daku akhirnya jadi banyak ditanya orang (baik secara langsung atau di sosial media) mengenai anak ADHD. Bahkan pernah menjadi objek penelitian bagi para mahasiswa psikologi yang mengambil tema skripsi anak ADHD. Senang sekali bisa membantu mereka.



Memiliki anak ADHD bukanlah sebuah ‘kutukan’ atau ‘hukuman’ dari-Nya. Namun daku sadar bahwa Saladin adalah hadiah terbesar dari sang kuasa. Daku jadi belajar banyak, terutama tentang arti kesabaran dan kasih-sayang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar