Minggu, 08 November 2026

Merayakan 14 Tahun jadi Bundanya Saladin

 

            Siapa suka lagu November Rain? Tak sekadar lagu karena iramanya mengingatkan akan salah satu bulan favoritku: November, karena saat itu Saladin Al Ayyubi Lahir. Iyaa, tahun 2026 ini dia berusia 14 tahun.



            Beneran yaa, waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin dia lahir di sebuah RSIA, hari kamis, jam 8:15 pagi. Ternyata bayi yang dulu mungil tapi bisa tengkurap di usia 1,5 bulan; sudah tumbuh besar menjadi remaja. Sekarang Saladin tingginya 164 cm, berat 45 kg (agak underweight yaa), dan ukuran sepatu 41.

Perjuangan Mengasuh Bayi

            Syukur Alhamdulillah Saladin tumbuh dengan normal, dan perkembangan fisiknya lebih cepat daripada anak lain. Makan MPASI juga lahap dan ASI juga mengucur deras sekali. Tak lupa dia sudah divaksinasi lengkap, baik di posyandu maupun di Puskesmas, sebagai usaha meningkatkan imunitasnya.



            Ketika Saladin bayi dan balita benar-benar jadi masa yang menguras tenaga dan mentalku. Daku berjuang agar dia bisa ASI 2 tahun (dan menolak tawaran sufor). MPASI juga bikin sendiri, mulai dari puree buah, bubur jagung, kentang tumbuk, dll. Satu lagi yang bikin daku jadi bunda macan: menolak keras MPASI dini dan menyembunyikan dia di kamar agar tidak disuapi pisang, saat usianya masih 3 bulan.

Masa Remaja yang Dar-Der-Dor

            Fast forward, Saladin sudah tumbuh jadi remaja yang tingginya hampir sama denganku (Selisih 1 cm saja). Di masa remaja ini sungguh berbeda dengan kanak-kanak karena daku harus lebih memperbesar rasa sabar seluasss samuderaa karena ada lonjakan emosi yang luar biasa. Ada saja yang dilakukan remaja ADHD dan bikin hidup jadi dar-der-dor.



            Karena marah dia menjadikan barang-barang korban bantingan. Seram! Terpaksa menguras dompet demi memperbaiki atau membeli lagi. Tapi memang kita harus melihat sisi positifnya: hal ini berarti Saladin punya tenaga yang begitu besar.

            Ketika energinya tinggi maka Saladin harus mengeluarkannya dengan cara olahraga. Nah, saat berangkat dan pulang sekolah dia jalan kaki, dan jaraknya 800 meter dari rumah. Sedangkan hampir tiap sore dia latihan dance sekaligus peregangan di rumah, di bawah bimbinganku.

Kemandirian Saladin

            Namun kita juga harus melihat sisi positif anak: Saladin Alhamdulillah sudah relative mandiri. Sejak TK dia bisa pulang sendiri (kebetulan gedung sekolahnya hanya berjarak 500 meter dari rumah nenek). Saking mandirinya, dia beberapa kali pergi ke rumah neneknya sendiri (dengan jalan kaki plus setengah berlari), padahal jarak dari rumah ke sana hampir 3 kilometer.



            Untuk urusan dapur, Saladin sudah bisa bikin mie instan dan teh sendiri. Bahkan pernah bikin telur dadar tapi dia lupa tidak memberi garam, wkwkw. Ayahnya yang mengajari untuk mematikan dan menyalakan kompor.

Kreativitas dan Prestasi Saladin

            Klean yang sudah beberapa kali baca blogku pasti sudah tahu kalau Saladin hyperlexia dan suspect gifted karena dia sejak usia 3,5 tahun bisa baca-tulis-hitung tanpa kuajari. Hanya dengan beberapa kali menonton video, dia praktek sendiri dan bisa alphabet plus hijaiyah. Setelah itu otaknya berkembang dengan sangat cepat, usia 5 tahun belajar huruf Rusia dan India, lanjut huruf Korea, Yunani, dll.



            Prestasi Saladin benar-benar membanggakan karena dia tidak hanya mahir di bidang bahasa. Namun dia juga suka coding (belajar via scratch). Saladin juga suka menggambar, bahkan pernah mendesain animasi sederhana pakai program power point.

Penerimaan jadi Orang Tua Anak ADHD

            Punya anak ADHD membuat hidupku berasa naik roller coaster. Di satu sisi pusing saat dia tantrum dan ngambek. Namun di sisi lain, Saladin punya prestasi yang sangat membuatku bahagia. Hal ini membuatku menerima bahwa anakku berbeda dan itu tidak apa-apa, daku akan selalu menyayanginya.



            Daku berusaha untuk tidak membandingkannya dengan anak lain yang neurotropical (normal) karena Saladin adalah anak neurodivergent (berkebutuhan khusus). Jika ada kekurangan pada anakku maka adalah hal yang biasa, manusia mana yang sempurna? Pun daku juga menahan diri untuk tidak membandingkan Saladin dengan anak neurodivergent lain (misalnya yang autism atau lambat belajar), agar dia tidak sombong.

Perayaan jadi Ibu

            Last but not least, di momen ulang tahun Saladin ini daku merayakan kebahagiaan menjadi ibu. Hei Avizena Elfazia Zen, kamu hebat karena telah membesarkan anak ADHD dengan segala dinamikanya. Kamu telah sabar dan telaten dalam mengajarinya, dan begitu menyayanginya tanpa terlalu memanjakannya.



            Ketika anak ultah maka yang harus diapresiasi adalah ibunya, bukan?

2 komentar:

  1. Barakallahu, Adin! Semoga makin bahagia, makin saleh, makin sehat, makin tinggi, makin nurut sama papa mama. Aamiin. Terus belajar Twice exceptional! Kereeeen!!!

    BalasHapus
  2. Selamat ulang tahun kelahiran buat Saladin... semoga jadi anak yang bagus buat ayah bonda. Semoga bunda Saladin juga sentiasa sihat kuat agar dapat menjaga Saladin hingga lagi dewasa

    BalasHapus