Salah satu produk kebudayaan
Jepang yang terkenal adalah geisha, tapi jujurr daku belum pernah nonton
videonya. Nahh pas buka Netflix ada
series The Makanai: Cooking for the Maiko House. Maiko adalah calon
geiko/geisha yang magang dan harus menyelesaikan pendidikan di rumah geisha
senior, selama 5 tahun.
Ini data seriesnya:
Judul : The Makanai, Cooking for the
Maiko House
Sutradara : Hirokazu Kore-eda
Jumlah episode: 9
Dikisahkan dua sahabat
bernama Kiyo dan Sumire yang berangkat ke Kyoto untuk belajar menjadi maiko.
Mereka datang ke Saku House dan dididik oleh Azusa (yang berpengalaman panjang
sebagai geisha). Rumahnya khas Jepang banget dengan pintu geser dan lantai
tatami.
Pendidikan di Saku
House
Di Saku House sudah ada
beberapa maiko dan mereka menyambut Kiyo dan Sumire dengan baik. Semua serius
belajar, mulai dari menari, menyanyi, sampai memainkan alat musik tradisional
Jepang.
Salutnya, para Maiko
setiap hari memakai kimono dan rambutnya disanggul (jadi ingat Oshin). Mereka
kalau jalan juga anggun banget.
Kiyo yang Beralih Peran
Akan tetapi, Azusa membawa kabar buruk. Kiyo sudah magang selama 3 bulan tapi progress-nya lambat banget.
KiyoDia harus mau pulang, dan Sumire
menangis karena merasa ini tak adil. Menurutnya, Kiyo memang lambat tapi
seorang pekerja keras.
Di luar dugaan, Kiyo
memasakkan makan malam untuk semua orang di Saku House. Ternyata rasanya lezat
sekali. Azusa mengutus Kiyo untuk menjadi juru masak saja di sana, alih-alih
melanjutkan magang jadi maiko.
Ryoko si Tukang Protes
Waktu Kiyo dan Sumire baru datang ada satu cewek yang ngomongnya judes banget. Ternyata dia anaknya Azusa dan masih sekolah di SMA. Dia langsung bilang, “Hati-hati kalian akan dijadikan budak!”
RyokoSepertinya Ryoko tidak suka akan pekerjaan dan masa lalu
ibunya.
Kedatangan Yoshino
Tiba-tiba ada wanita
berambut pendek (dan dicat) datang ketika Azusa dan murid-muridnya sedang
keluar. Kiyo shock berat kok dia
nyerocos aja, langsung minta minum dan izin tidur di sana. Ternyata dia adalah
Yoshino, ex geisha saat Azusa masih aktif bekerja.
Yoshino cerita kalau
geisha biasanya berhenti kerja kalau dia menikah. Tapi sekali berhenti tidak
bisa balik lagi. Ternyata dia sudah divorce.
Azusa dan lain-lain pada kesel ke dia karena seenaknya datang mendahului dan
menghibur tamu (padahal ngakunya sudah pensiun jadi geisha), dan pria-pria itu
jadi teralihkan perhatiannya.
Beratnya Menjadi Maiko
Dari series yang
merupakan adaptasi dari manga berjudul Kiyo in Kyoto, penonton bisa paham
betapa beratnya masa-masa menjadi maiko. Dalam 5 tahun mereka belajar banyak
hal, mulai dari menguasai beberapa kesenian tradisional Jepang, memakai geta
(sandal bakiak), sampai memakai kimono yang berlapis-lapis saat akan bertemu
klien. Pressure-nya tinggi sekali, menguji
kesabaran dan mental.
Apalagi Azusa
menerapkan aturan yang sangat ketat: para maiko tidak boleh memakai smartphone saat berada di Saku House.
Namun mereka boleh menerima telepon (pakai telepon rumah). Kalau Maiko sedang
latihan memakai sanggul tradisional Jepang, mereka tidak boleh keluar untuk
belanja ke minimarket (padahal jaraknya dekat).
Salah
Paham Tentang Profesi Geisha/Geiko
Geisha
is not a prostitute! Di
series ini dijelaskan bahwa geisha adalah murni penghibur dan mahir
bermacam-macam kesenian tradisional Jepang. Sementara para tamu bisa booking geisha mana yang menjadi
favoritnya.
Kesanku
Setelah Menonton The Makanai, Cooking for the Maiko House
Jujur daku awalnya
kegocek judul ‘cooking’, kirain tentang kuliner ternyata tentang maiko dan juru
masaknya. Ada adegan-adegan memasak tapi tidak terlalu sering ditampilkan. Akan
tetapi para penonton juga bisa belajar kalau di Jepang, mereka masih suka
mengkonsumsi makanan tradisional. Misalnya sup miso, karaage, oyako don, dll.
Apa yang bisa diamati
lagi dari series ini? Pertama, orang Jepang sangat pekerja keras. Kedua,
laki-laki di Jepang sampai sekarang pun masih menjalankan tradisi lama, kalau
pulang kantor tidak langsung ke rumah tapi minum-minum bersama teman-teman atau
koleganya, sambil dihibur geisha. Loe mau
kayak gini? Kalau gue kagaaak (sambil bawa golok).
Bagaimanapun, kita bisa
meniru sisi positif dari series ini,
terutama Kiyo yang pekerja keras. Dia tidak frustasi karena gagal menjadi
maiko. Tapi bersyukur karena bisa bekerja menjadi juru masak.
Kiyo juga pernah
menolong maiko yang puding caramelnya dimakan oleh orang lain (dugaanku
Yoshino). Padahal maiko tidak boleh ke minimarket (untuk beli puding tersebut)
karena sudah memakai sanggul. Akhirnya Kiyo membuatkan puding roti dengan
sedikit caramel yang rasanya sangat mirip, dan maiko tersebut sangat berterima
kasih.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar