Rabu, 15 April 2026

Review Film Uptown Girls, Kisah Nanny Dadakan

 

Kalau dengar dua kata ‘uptown girls’ apa klean langsung ingat lagunya Westlife? Tapii ini bukan tentang Westlife. Melainkan film yang berjudul Uptown Girls.

Judul               : Uptown Girls

Sutradara         : Boaz Y

Pemain            : Brittany Murphy (alm), Dakota Fanning

Durasi              : 1 jam 30 menit

Tahun              : 2003

Dikisahkan seorang gadis cantik bernama Molly Gunn yang sedang berulang tahun. Dia berpesta di night club bersama teman-temannya. Di acara itu dia naksir berat vokalis yang sedang tampil, namanya Nael.



Sahabat-sahabat Molly sudah menegaskan, Nael susah dikejar karena hanya fokus bermusik. Tapi Molly tetap berusaha agar mereka bisa dekat. Akhirnya Nael mau pacaran, bahkan meminjamkan jaket kulitnya.



Namun beberapa hari setelah pesta, Molly kena surat peringatan karena belum membayar berbagai tagihan. Dia ditipu oleh akuntan mendiang ayahnya, yang melarikan uang warisannya. Molly yang bingung akhirnya tinggal bareng Ing, sahabatnya.

Akan tetapi Molly tetap butuh pekerjaan untuk bertahan hidup. Setelah nyaris gagal garage sale barang-barangnya, akhirnya dia punya pendapatan dari satu sumber: menjadi nanny alias pengasuh anak. Masalahnya si anak ini nyebelin banget!

Molly vs Rae

Rae adalah anak perempuan berusia 9 tahun. Dia pernah bertemu dengan Molly di pesta ulang tahun. Lho kok bisa anak kecil masuk ke klub malam? Soalnya dia terpaksa dititipkan ke salah satu sahabat Molly, yang merupakan karyawannya Roma (ibunya Rae). Sedangkan Roma sibuk banget dan belum punya nanny baru.



Di pertemuan pertama saja Rae sudah menyentil Molly yang mengenakan sepatu kekanak-kanakan. Dia juga terlalu cerewet, strict, rutin minum pil, dan perfeksionis banget. Sampai di rumah Roma, Molly ternganga karena kamar Rae sangat rapi dan bersih.

Kepribadian Rae tentu bertolak belakang dengan Molly. Meski dia sudah dewasa tapi sangat berantakan, childish, seenaknya sendiri gitu deh. Rae pusing menghadapi nanny yang kurang dewasa. Sementara Molly juga mumet karena Rae terlalu berharap semuanya sempurna.

Kehilangan Lagi

Molly dan Rae akhirnya perlahan-lahan mulai akrab. Apalagi ketika Rae diberi peliharaannya Molly yakni….seekor babi! Akan tetapi semua berakhir.



Ayah Rae, yang sudah lama koma, meninggal dunia. Rae tentu shock berat. Roma memecat Molly dengan sepihak (dan membuatnya mencak-mencak). Apalagi Roma tidak sedih (mungkin karena suaminya bertahun-tahun koma sehingga dianggap ‘mati’.)

Yang bikin Molly marah adalah Roma tidak memperhatikan Rae sama sekali. Rae diam saja dan itu dianggap normal. Kok bisa anak tidak dipeluk dan dihibur ketika sedih? Dia manusia, bukan robot!

Molly sudah kehilangan pekerjaan dan sekali lagi dia kehilangan pacar. Nael, yang menuduhnya berantakan, ternyata memilih untuk jadi sugar baby-nya Roma! Karena wanita itu adalah salah satu produser musik ternama. Nggilani!



Bagaimana cara Molly bertahan hidup, tanpa pacar, tanpa pekerjaan? Dia juga terancam kehilangan Ing karena sahabatnya marah, ketika Molly membatalkan janji untuk menemani ke acara minum teh. Nonton yuuk, ini komedi-drama dan mudah dicerna ceritanya.

Anak vs Pekerjaan

Di film Uptown Girls, penulis skenario memperlihatkan bahwa parenting Roma sangat salah. Memang dia menjadi wanita karir yang sukses. Tapi dia lupa kalau anak adalah permata hati dan 100 persen dipasrahkan kepada nanny.

Sesibuk-sibuknya ibu, apa susahnya membacakan cerita setiap malam? Memeluk anak dan berkata bahwa ibu sangat mencintainya? Di sini daku menyorot ke cara pengasuhan yang salah dan membuat Rae terlalu dewasa sebelum waktunya.

Molly, meski childish, lebih waras dan perhatian ke Rae. Di sini dia memang berhak marah ke Roma karena terlalu mengatur anaknya. Juga tidak mengasuh Rae seperti anak pada umumnya. Nah, klean apa pernah melihat sosok anak yang tingkahnya terlalu dewasa?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar