Kamis, 15 Februari 2024

Ngapain sih Anakmu Belajar di Sekolah Alam?

  “Belajar di sekolah kok hanya menggelindingkan ban bekas? Enggak ada gunanya!”

Pernyataan itu sangat menohok. Untung orang yang bilang posisinya jauh (karena hanya menyampaikan lewat DM). Kalau tidak udah kutinggal begitu saja karena takut emosi.



FYI, Saladin belajar di sebuah sekolah swasta (sekolah alam). Sekolah model ini memang baru ada di kotaku. Namanya juga sekolah alam, tentu ada banyak aktivitas di luar ruangan. Termasuk sesi menggelindingkan ban bekas.



Mengapa Harus Ban Bekas?

Ternyataa, menggelindingkan ban bekas juga ada gunanya. Pertama, anak yang ada di sekolah alam kan rata-rata kinestetik. Jadi setelah masuk gerbang lalu dhuha, mereka diajak untuk melakukan kegiatan ini agar energinya tersalurkan. Istilahnya adalah belajar lapangan.



Kalau sudah agak lelah baru mereka diajak untuk memegang buku. Beginilah cara mengatasi dan mengajari murid kinestetik. Tidak bisa disamakan dengan anak dengan metode belajar yang lain.

Baca: Asyiknya Belajar di Sekolah Alam

Metode lain dalam belajar lapangan ada bermacam-macam, jadi anak tidak akan bosan. Contohnya adalah murid diberi tugas untuk menyiram tanaman, menyapu halaman sekolah, bahkan bersama-sama membersihkan kolam ikan. 





FYI ada aquaponic di dalam sekolah, jadi ada kolam ikan sekaligus kebun sayur mini.

Perundungan Akibat Pemilihan Sekolah Anak

Jujur daku sebenarnya agak sedih ketika dirundung karena pilihan sekolah yang berbeda. Saat ini sekolah kan ada banyak ya. Ada sekolah negeri, swasta pun macam-macam. Ada yang nasional plus, berbasis agama, sekolah alam, dll.



Hari gini masih mem-bully pilihan orang lain? Sama aja tidak menegakkan demokrasi di negeri kita. Lah suka-suka orang tuanya lah mau menyekolahkan anak di mana. Yang penting cocok dengan metode belajar anak dan sesuai dengan visi dan misi keluarga.

Memang Kurikulumnya Berbeda

Di sekolah Saladin memang kurikulumnya berbeda. Bukan kurikulum merdeka atau yang lain, tetapi PIESQ. Kepanjangannya adalah physical intellectual emotional spiritual quotient.



Jika kurikulumnya berbeda maka metode pembelajarannya juga berbeda. Tidak bisa disamakan dengan sekolah konvensional.

Abaikan Saja, Jangan Emosi

Bagaimana jika ada orang lain yang merundung keputusan kita sebagai orang tua untuk memasukkan anak di sekolah tertentu? Sudahlah, tahan emosi, abaikan saja.



Sudah Betah di Sekolah Alam

Nanti setelah lulus SD, Saladin akan kusekolahkan juga di SMP alam (yayasan yang sama). Alasannya karena dia sudah betah dengan lingkungan di sana dan cocok dengan guru-gurunya. Gimana gak kerasan kalau bunda guru benar-benar mengajar dari hati, seperti anaknya sendiri.



Jadiiii, please deh! Stop merundung ibu lain yang mengirim anaknya untuk belajar di sekolah tertentu. Ada banyak pertimbangan mengapa tempat itu dipilih, selain kurikulum dan biayanya, juga lingkungannya.

Daku percaya tiap sekolah itu baik dan anak akan berkembang pesat jika ia belajar di sekolah yang tepat. Cocok-cocokan ya, jadi jangan paksakan anak harus dimasukkan ke sekolah tertentu, dengan alasan di sana semua muridnya berprestasi, bilingual or trilingual, tetapi anak malah stress sendiri karena dipaksa belajar.

Selasa, 13 Februari 2024

Bunda, Jangan Silent Treatment-kan Anakmu

 Pernah denger istilah silent treatment? Yakni keadaan ketika didiamkan oleh seseorang karena (menurutnya) kita tuh punya kesalahan. Daku baru ngerasain kena silent treatment di usia 24 tahun dan rasanya ngenezzz.

Akan tetapi gimana kalau ada anak yang di-silent treatment oleh bundanya? Ketika dia tak sengaja melakukan sesuatu (yang menurut orang tuanya salah) tidak dimarahi sih. Tapi didiamkan sampai berhari-hari.



Anak menyapa bundanya, dicuekin. Anak nggelendot malah ditepis. Anak minta uang saku malah dibentak (itu sih karena lagi bokek aja). Lantas anak menyanyi lagu kumenangiiiiis.

Anak Akan Lebih Stress

Padahal dampak dari perlakuan silent treatment dari orang tua sangat berbahaya. Emang enak dicuekin? Tidak disapa oleh bundanya selama berhari-hari.



Bagaimana bisa sebuah keluarga bahagia jika salah satu anggotanya (atau lebih) hobi melakukan silent treatment? Alasannya, anak didiamkan karena ia harus belajar mencari tahu apa salahnya (lalu meminta maaf). Lah bagaimana dia bisa tahu kalau tidak diberi tahu dan dibiarkan? Ini adalah cara komunikasi yang SANGAT BURUK.

Mencari Kesalahannya Sendiri

Saat anak kena silent treatment maka dia akan sibuk bertanya, apakah salahkuu dan apa dosakuu? Akibatnya saat dewasa dia akan takut melakukan kesalahan. BTW, melakukan kesalahan itu normal (asal tidak diulangi dan wajib diperbaiki). Akhirnya dia tidak akan berkembang dan selalu menyalahkan dirinya sendiri.

Anak Menjauh dari Orang Tua

Sudah tahu kan enggak enaknya kena silent treatment? Apalagi jika dilakukan oleh orang tua sendiri (duluu waktu kita masih kecil). Sekarang kok tega sih mendiamkan anak dengan alasan mendidik?



Salah satu dampak negatif dari perlakuan silent treatment adalah merenggangnya hubungan anak dan orang tua. Bagaimana bisa anak nurut dan selalu mendekat ke bundanya kalau didiamkan terus? Akhirnya bonding juga jadi rusak.

Padahal saat bonding antara bunda dan anaknya rusak maka bahayanya adalah anak bisa saja mencari pelampiasan di luar. Ngapain sih di rumah saja kalau bundaku diam seribu bahasa? Iya kalau lingkungannya baik. Kalau anak terseret pergaulan negatif gimana? Seraaaam.

Menjadi Tidak Enakan dan Kurang Percaya Diri

Kalau anak sudah di-silent treatment sampai berkali-kali maka efeknya adalah dia menjadi orang yang tidak enakan. Dia ingin selalu membuat semua orang bahagia, agar tidak ada yang memandang negatif kepadanya. Padahal kita tuh gak bisa bikin semuanya senang, bukan?



Kemudian, anak juga akan jadi sosok yang kurang percaya diri. Gimana bisa PD kalau salah dikit aja didiemin. Mau ikut lomba bukannya didukung malah dicemberutin. Haduuuh, kasian banget jadi anaknya.

Yuk Cari Pertolongan

Nahh makanya daku berpesan jangan pernah silent treatment ke anak! BAHAYA!

Kalau bunda udah bertekad untuk memperbaiki diri tetapi masih suka silent treatment gimana? Saat begini maka jangan diam aja. Ayo cari pertolongan dengan konsultasi ke psikolog atau psikiater. Nanti beliau akan memberi cara agar kita berhenti melakukan silent treatment.

Namun setelah konsultasi dan terapi harus dipraktekkan lho ya. Mata rantai pengasuhan yang negatif harus segera dihapus. Semuanya demi kebahagiaan anak dan harmonisasi keluarga.

Senin, 12 Februari 2024

Review Novel Resepsi, Maukah Kamu Datang ke Nikahan Mantan?

 Judul: Resepsi

Penulis: Smita Diastri

Tebal: 320 halaman

Tahun: 2021

Bisa dibaca di: aplikasi IJak

Jujur daku penasaran ama novel Resepsi karena banyak yang baca di Ijak. Beruntung pas online tengah malam bisa dapatin eh pinjam 1 ebook ini. Saking pengen tahu ending-nya, dibacanya pun cukup 2 hari.

Resepsi, siapa yang suka datang ke pesta pernikahan? Bisa makan nasi goreng, ikan asam manis, zuppa soup, wkwkkw. Makan gratis judulnya.



Namun kalau yang menikah adalah mantan pacar apa masih berani datang? Itu yang dirasakan oleh Teresia, cewek yang akrab dipanggil Resi. Mantan cowoknya, Ranu, malah nikah duluan. Padahal si Resi udah hampir 30 tahun usianya.

Kegalauan Resi

Ketika Resi sudah jadi wanita karir, kerjaannya enak, eh masih jomblo. Mantannya nikah duluan pula. Walau Ranu bukan pacar pertamanya tetapi dia cinta pertamanya.



Ranu kok tega banget sih? Apalagi sebelumnya mereka putus-sambung putus-sambung. Penyebabnya karena si Ranu kuliah di Bandung sedangkan Resi di Jakarta.

Pertemuan dengan Arga

Saat Resi sedang pelatihan, dia berkenalan dengan cowok ganteng bernama Arga. Ternyata dia adalah tetangga Intania, sahabatnya di kantor.

Dunia berasa makin sempit karena si Arga bersahabat juga dengan kakak kelas Resi, yang juga temannya Ranu. Arga sudah mulai tertarik dengan Resi, tetapi gadis itu masih belum mau membuka diri.

Flashback ke Masa Lalu

Di buku Resepsi ini alurnya maju-mundur cantik. Ada bab yang setting-nya tahun 2008. Ada yang mundur ke tahun 90-an, kala Resi dan Ranu masih jadi anak SMA di Jakarta.


                                                                   Smita

Jadi, Resi pacaran dengan Ranu setelah ia putus dari Damar. Namun cintanya berat di ongkos. Ranu sudah kuliah di Bandung sedangkan Resi masih kelas 3 SMA (Ranu lebih tua setahun). Jadilah mereka LDR selama bertahun-tahun, tapi tidak dijelaskan Ranu akhirnya kerja di Bandung atau balik ke Jakarta.

Akankah Resi Datang?

Resi kaget karena merasa di-ghosting Ranu lalu tiba-tiba menerima undangan pernikahan darinya. Padahal Arga sudah bersedia untuk menemani. Namun si Resi masih galau. Bisakah dia move on? Baca sendiri yuk!

Moral of this Story

Ada beberapa pelajaran dari novel Resepsi ini dan ceritanya tuh ngaliir (walau gak cheesy). Pertama, jangan mau long distance relationship waktu masih pacaran karena berat di ongkos dan banyak godaannya.

Kedua, sebenarnya red flag si Ranu udah kebaca dari bagian tengah buku. Jadi jangan mau ama cowok cemen yang ketemu ortu pacar aja udah keder duluan. Ketiga, biasakan move on karena air matamu terlalu mahal untuk menangisi cowok yang menyebalkan.

Kalau klean suka baca novel metropop seperti Resepsi atau lebih suka genre lain?

Sabtu, 10 Februari 2024

Siapa Bilang Istri Gak Boleh Manja?

 Kemarin daku terperanjat ketika ada berita mengenai seorang artis ehh youtuber sihh diaa. Katanya dia dijauhi karena suka manja dan ngambek ke suaminya. Siapa sih? Cari sendiri ahh di Google eh ada clue di bawah ini:



Daku bukan mau ngomongin artis itu tapi lebih menitikberatkan ke kata manja. Sepertinya yang bikin berita itu cowok deeeh dan dia anti banget lihat cewek manja. Lahh belum tahu dia kalau istri tuh BOLEH BANGET manja.

Ketika Daku Diketawain Karena Manja

Beberapa tahun lalu daku pernah diketawain ama seseorang. Penyebabnya karena saat itu daku minta tolong suami untuk membukakan rambutan. Lahh buah rambutan kan agak susah dibuka (kecuali kalau pakai pisau ya), dan jalan ninjanya adalah minta tolong ke hubby.



Kok bisa malah diketawain dan dianggap manja? Yaa sudahlah mungkin dia tidak bisa bersikap manja ke pasangannya sendiri atau lagi capek aja. Lahh daku tuh terbiasa manggil paksuami dengan sebutan sayang, bahkan di depan umum lho. Bukan berarti terlalu manja, kan?

Istri Boleh Manja, Asal….

Istri boleh manja? Boleh! Manja bukan salah satu tanda kelemahan, dear. Istri yang manja, yang minta dipeluk, suka nggelendot, bisa jadi dia punya bahasa cinta physical touch.



Istri yang manja, yang minta diantar ke mana-mana (padahal bisa bawa motor atau mobil sendiri). Yang minta ditransfer pulsa atau saldo dompet elektronik. Yang minta dibawain barang belanjaan, minta tolong diangkatin gallon air, itu SANGAT NORMAL.

Istri boleh manja asal ke suami sendiri bukan ke orang lain.

Waspada Jika Istri Hilang Kemanjaannya

Justru ketika istri sudah bisa ke mana-mana sendiri, bisa ganti gas sendiri, lalu gak pernah manja ke suaminya itu wajib diwaspadai. Haduuh, gimana?

Iyaa lah kalau suaminya gak mau bantu apa-apa di rumah, gak mau antar jemput istrinya, gak mau manjain dengan alasan istrinya sudah mandiri maka berbahayaa. Keadaan kayak gini bisa bikin ilfil lho. Buat apa punya laki kalau gak bisa dimintain tolong?



Bukaan, bukan marahin ama istri yang mandiri. Cuma sebagai wanita pasti ada sisi manjanya, pasti ada momen minta tolongnya. Please deh laki-laki kalau memang tidak bisa sensitif dengan keadaan wanita, minimal bilang IYA ketika istrinya minta tolong, saat dia gelendotan ya dicium lah. Jangan malah dimarahin dengan alasan istri gak boleh manja (minta digetok pakai palu).

What do you think?

Jumat, 09 Februari 2024

Anak Tantrum, Ibu Tantrum, Hancurlah Semuanya

 Mama jelek!

Betapa sedihnya ketika kata-kata itu terlontar dari mulut anakku sendiri. Apakah salahkuu dan apa dosakuu (yang nyanyi berarti kita seumuran). Haiyaa, Saladin, 11 tahun, lagi-lagi tantrum.



Ketika Saladin tantrum maka bagaimana? Daku berusaha keras untuk tenang lalu melipir. Namun kadang juga bisa kelepasan. Bukaan, bukan nyubit, karena daku anti sekali KDRT. Kelepasannya itu berupa ikutan teriak dan tantrum juga gitu dan suasana rumah jadi runyam.

Stay Cool

Sebenarnya saat anak tantrum, ibu wajib untuk tenang dan menarik nafas. Lantas menginvestigasi apa saja sih penyebab anak marah dan ngambek gak jelas gini? Mengenai penyebab tantrum udah pernah dibahas ya di bawah ini:

Penyebab Anak Marah

Kalau anak tantrum maka sebaiknya memang menghindar darinya. Pertama, dia bisa marah lalu melakukan kekerasan fisik. Kedua, ibu juga bisa tegoda untuk balas nyubit.



Jadi mending ngumpet dulu di kamar mandi atau di dapur, lalu cuci muka. Tarik nafas yang panjang, hembuskan, dan ulangi sampai beberapa kali. Kalau udah tenang baru deh temui anak dan semoga amarahnya juga sudah hilang.

Mengapa harus menghindar lalu menenangkan diri? Ya karena jangan sampai ibunya ikut tantrum. Setelah cuci muka pasti kita udah lebih tenang lalu siap memeluk dan meredakan amarahnya.

Jangan Ikutan Marah

Tapii mood ibu tuh kadang sedang jelek ya. Kalau anaknya tantrum maka ibunya juga ikut tantrum, teriak-teriak, bahkan menangis. Kalau sudah begini maka hancurlah dunia. Rumah terasa panas, apalagi jika tidak ada ayahnya yang menengahi.



Oleh karena itu penting bangeeet bagi ibu untuk jaga mood, salah satunya dengan meluangkan waktu me time. Ibu juga perlu mempelajari cara menangani ledakan emosinya sendiri. Karena ibu yang bahagia dan bisa mengatur emosi, maka anaknya juga akan bahagia.

Bagaimana Jika Terlanjur Marah?

Lalu gimana kalau sudah terlanjur marah bahkan kelepasan main fisik? Pasti nyesel kan? Gak mau kan kita tiap malam memandang anak yang ketiduran (setelah tantrum) lalu minta maaf sambil menangis.



Ketika anak sudah bangun, yuk dirangkul lalu meminta maaf. Jangan ada gengsi di antara kita. Orang tua bisa saja salah dan ikut marah saat anaknya tantrum. Yang penting jangan diulangi lagi, YGY.

Berpelukaaan

Salah satu cara ampuh untuk merekatkan bonding ibu dan anak adalah dengan berpelukan. Anak akan suka dipeluk, disayang, dan perlahan-lahan jarang tantrum. Apalagi bagi anak yang bahasa cintanya physical touch, ia akan minta dipeluk tiap hari, sebelum berangkat sekolah maupun saat mau tidur.

Jadiii kalau anak lagi tantrum jangan ikut emosi yaa kalau tidak mau suasana rumah jadi panas. Tetaplah tenang dan Tarik nafas panjang. Jangan ikut tantrum jika tak mau ada kekacauan di istanamu sendiri.

Selasa, 06 Februari 2024

Ketika Saladin Tinggal Serumah dengan Kakek dan Neneknya

 Siapa yang masih satu rumah dengan orang tua atau mertua? Daku pernah tinggal bareng mertua selama 18 bulan dan bareng orang tua selama beberapa tahun. Sampai akhirnya Alhamdulillah bisa pindah ke rumah sendiri tahun 2019 lalu.


                                        Saladin dan neneknya (mamaku)

Tinggal bareng orang tua atau mertua dianggap ‘enak’ karena banyak yang bantu jaga anak. Tapi ada beberapa minus eeh ralat. Ada beberapa ‘tantangan’ yang harus dihadapi. Ini ceritaku dalam mendidik Saladin saat ia serumah bareng kakek dan neneknya.

Cucu Terlalu Dimanja

Pernah gak klean dengar cerita kalau kakek dan nenek lebih sayang cucu daripada anak sendiri? Iyaa, daku mengalami sendiri. Apalagi Saladin jadi cucu pertama sekaligus cicit pertama di keluargaku. Alhamdulillah ya eyang kakung buyut Saladin masih sehat dan saat ini berusia 90 tahun (tapi beliau tinggal di Jepara).

Kalau cucu dimanja maka apa saja dibelikan. Mulai dari makanan, baju, mainan. Daku tuh agak picky kalau beli mainan, kalau beli juga yang murah aja (yang harganya 5.000-20.000). Mengapa begini? Karena nasib mainan itu akan rusak setelah diprotoli Saladin, hanya beberapa hari setelah dimiliki. Jadi mending daku belikan dia buku, ensiklopedi, atau majalah anak-anak, daripada mainan.


                                           Saladin dan kakeknya (papaku)

Akan tetapi Saladin paham kalau kakek dan neneknya cenderung memanjakan. Jadi dia nodong beli mainan ke mereka. Kalau sudah begini maka daku hanya berpesan agar mainannya dijaga baik-baik. Kebanyakan sih mainan alphabet, jadi Alhamdulillah di usia 4 tahun dia sudah bisa membaca.

Beda Gaya Pengasuhan

Namanya kakek dan nenek, mereka lebih berumur dan besar di zaman yang berbeda. Akibatnya bisa jadi ada perbedaan gaya pengasuhan. Seperti yang udah daku jelasin di atas, biasanya kakek dan nenek terlalu manjain. Sedangkan orang tuanya ingin disiplin.

                                                 Saladin dan neneknya (ibu mertuaku)

Nahh hal ini pernah jadi warning oleh salah satu psikolog anak saat daku konsultasi ke tempat praktik beliau. Harus ada jalan tengah. Jadi anaknya gak bingung, mau nurut orang tua atau kakek-neneknya.

Kakek dan Nenek Jadi Dominan

Karena memiliki kontribusi ke cucu maka kakek dan nenek jadi dominan dan menganggap si bocah menjadi miliknya. Yaaah, memang kudu tegas sih ya. Mungkin maksud mereka baik dengan membawa cucu saat piknik, jalan-jalan, dll. Namun kudu tetap diberi pesan, misalnya makanan atau minuman apa yang dilarang  (yang mengandung gula buatan).

                               Saladin dan bundanya

Nasib Anak yang Mengalah

Saat kakek dan nenek dominan maka daku sebagai anak mereka (hampir) dipaksa mengalah. Yaa gimana, asal masih dalam parenting rules yang kumiliki. Akan tetapi ada satu peristiwa yang bikin daku benar-benar jadi tiger mom, yakni saat Saladin akan diberi MPASI sebelum waktunya.



Untung saat itu ada saudara jauh yang datang dan cerita kalau ada bayi di daerahnya yang MPASI dini lalu meninggal. Saladin jadi MPASI tepat waktu (di usia 6 bulan). Saat itu juga dia lebih banyak makan puree buah sih ya di awal masa MPASI.

Solusinya Gimana?

Solusinya adalah pindah rumah. Akan tetapi kalau memang belum bisa pindah ke kontrakan atau rumah sendiri, ya sabar aja. Sambil pelan-pelan curhat kalau posisi orang tua tidak bisa digantikan oleh kakek dan neneknya. Zaman sudah berubah jadi cucu tidak bisa terlalu dimanjakan atau diberi aturan sesuai dengan keadaan di masa lalu.



Tinggal serumah dengan orang tua atau mertua emang punya tantangan tersendiri. Namun anak adalah anak yang jadi tanggung jawab kita. Kakek dan nenek bisa saja ‘ikut campur’ tetapi kita wajib punya parenting rules yang dipraktikkan. Sabar yaa dan tetap sayang anak tanpa harus memanjakannya, atau malah menjadikannya ‘anak nenek’.

Jumat, 02 Februari 2024

Mengapa Anakku Mudah Marah?

 Beberapa hari ini pusing banget ngadepin Saladin. Dikit-dikit marah. Telat makan bentar aja emosi. Daku pun mencari apa saja penyebab marah pada anak, daripada berabe.



Untung ya marahnya hanya manyun, kadang sih teriak-teriak. Kalau dulu (waktu masih balita) Saladin seram banget. Dia saat marah bisa gulung-gulung lalu membenturkan kepalanya ke lantai. Atau naik lemari lalu menjatuhkan semua buku di dalamnya.


Tenang dulu, tarik nafas. Menurut pengalamanku, ini berapa alasan mengapa anak jadi marah.


1. Cari Perhatian

Beberapa hari ini, ayahnya Saladin sedang dinas luar. Bisa jadi dia caper lalu manyun dan marah-marah. Saladin gak suka bundanya sibuk sendiri (dan dia gak bisa main dengan ayahnya), jadilah emosi negatifnya keluar.



Baca: Saat anak marah apa ibu juga boleh marah?

2. Lapar

Sebagai anak introvert (dan pendiam) Saladin pernah punya problem untuk mengemukakan isi hatinya. Jadi saat lapar dia bukannya ambil piring, malah marah gak jelas.



Nah, ini tugasku untuk mengetahui apa dia caper atau lapar. Jadi emang kudu ditawarin, apa mau makan nasi goreng atau pasta kesukaannya.


3. Kecapekan

Penyebab marah pada anak-anak yang berikutnya adalah capeeeeek. Walau sekolah hanya sampai siang (jam 12) tapi Saladin lelah juga. Dia belajar di sekolah alam yang kegiatannya banyak memerlukan ketangguhan fisik, jadi siangnya capek bo!




4. Ngantuk

Nah kalau sudah capek atau kelaparan, atau kombinasi dari keduanya, biasanya ngantuk. Jadilah Saladin gampang emosi.


5. Sakit

Daku benar-benar kudu melatih Saladin agar mengkomunikasikan kebutuhannya dan bilang maunya apa, keadaannya gimana, dll. Jangan sampai dia demam atau sakit yang lain lalu diam aja. Atau kesakitan dan mengekspresikan dengan marah-marah.


6. Kurang Merasa Dicintai

Ini yang paling gawat. Jangan sampai anak memiliki tangki cinta yang kurang diisi. Jadi, anak emang kudu sering dipeluk, dicium, disayangi, agar tangki cintanya penuh dan ia tidak mudah marah.


Nah, gimana, sudahkan memahami apa saja penyebab marah pada anak-anak? Yuk latih anak agar lebih komunikatif, jadi ia bisa bilang perasaannya tanpa harus marah berlebihan. Beri perasaan aman, nyaman, dan dicintai, agar tangki cintanya penuh kembali.

Kamis, 01 Februari 2024

Review 5 Cm, Buku yang Membuatku Serasa Kembali Ke Masa Muda

 Judul: 5 cm

Penulis: Donny Dhirgantoro

Tahun: 2007

Tebal: 389 halaman

Bisa dibaca di aplikasi Ipusnas.

 

Manusia yang enggak percaya sama Tuhan sama saja dengan manusia yang enggak punya mimpi.

 

Kutipan dari buku 5 cm itu sangat makjleb menusuk hati. Apakah mimpi itu masih kumiliki? Segera kutandaskan lembaran-lembarannya sampai habis

 

Ada 5 orang sahabat yakni Ian, Arial, Zafran, Rianti, dan Genta. Mereka sama-sama anak kuliah yang hobi nongkrong. Anak gaul Jakarta banget. Persahabatan in tetap awet walau karakternya berbeda satu sama lain.

 


Namun suatu hari mereka mengadakan perjanjian untuk tidak bertemu selama 3 bulan. Saat itu, Ian berjuang menyelesaikan skripsinya. Arial jadian dengan Indy, temannya di gym. Rianti sibuk kerja magang. Lantas apa yang terjadi setelah itu?

 

Mereka (plus Dinda, adik Aral) naik kereta api, menuju Malang. Mumpung bulan Agustus, mereka mau ikut upacara di puncak gunung. Di dalam kereta, tersaji kenyataan hidup yang menampar-nampar. Banyak manusia bekerja hingga pagi buta hanya untuk uang yang tak seberapa.

 

Sampailah mereka di Malang dan mencarter mobil angkot. Sopirnya lucu sekali, sampai bilang MU itu emyu, dll.

Saat sudah sampai, mereka senang karena akan naik gunung. Padahal belum berpengalaman. Hanya Genta yang pernah menuju puncak, itupun sudah 2 tahun lalu.


                                                                       Donny Dhirgantoro

 

Apa mereka berhasil mencapai puncaknya? Baca sendiri ya.

 

Saat pertama baca agak menjemukan sampai bingung sebelah mana 5 cm-nya? Ternyata filosofi 5 cm baru ada di bagan akhir buku. Letakkan mimpimu 5 cm di depan kening agar kamu bisa melihatnya terus. Intinya, terus berjuang dan jangan pernah menyerah.

 

Buku ini cukup menarik karena mengingatkanku pada masa muda, saat masih kuliah. Masa di mana belum ada smartphone sehingga untuk kirim kabar kudu SMS dulu.

Mahasiswa yang mau cari jodoh enggak buka dating app, tapi buka PC, ngobrol dengan stranger dan chatting iseng. Mereka yang berjuang mengetik skripsi, pasti sambil buka program yang berisi MP3, dengan lagu-lagu yang biasanya diunduh dari warnet.

Daku merekomendasikan buku ini untukmu yang kangen masa muda.

 

 

Selasa, 30 Januari 2024

Bagaimana Cara Mengajari Anak Laki-Laki agar Bertanggungjawab?

 "Laki kok gitu ah! Mokondo!

Istilah itu lagi viral ya (kepanjangannya lihat aja di Google). Heran, ada aja yang curhat. Yang istri capek kerja eh suaminya diam aja seharian di kamar. Istri kerja, suami kerja, tapi istri gak dinafkahi, alasannya karena dia punya uang sendiri. Lalu istri cari cara mengajari anak laki-laki agar bertanggungjawab dan tidak kayak bapaknya.

Bahkan ada yang terang-terangan cari calon istri yang wanita karir. Alasannya biar suami gak capek kerja lalu kasih uang belanja. Haloo, Anda sehat?

Kalau ditelisik, keberadaan pria mokondo ini karena mereka sejak kecil kurang diajari tanggung jawab. Dia jadi malas juga karena dibelain oleh keluarganya. Yuk dicegah dengan cara ini:

1. Beri Tugas di Rumah

Cara mengajari anak laki-laki agar bertanggungjawab adalah dengan memberi tugas di rumah. Misalnya menyapu, mencuci piring, mengepel, dll. Karena pekerjaan rumah tangga bukan hanya tugas perempuan, bukan?



2. Ajari Kewajiban Sampai Detail

Anak juga diajari kewajiban sampai sedetail mungkin. Pertama adalah buang sampah pada tempatnya dan kalau malam sampahnya dibuang di tong sampah depan rumah. Kedua piring dan gelas kotor langsung dicuci setelah dipakai.

Jadi gak ada lagi ya laki-laki yang habis makan malah piringnya digeletakin gitu aja. Dengan harapan istri akan mengambil lalu mencucinya.  Emangnya piring terbang?

3. Beri Kepercayaan

Mengapa ada anak pemalas? Karena tidak diberi kepercayaan oleh orang tuanya. Mau bantu masak atau siram tanaman malah dilarang dengan alasan nanti kacau dan  kotor. 



Padahal kalau dipercaya ia akan lebih percaya diri dan ini adalah salah satu cara agar anak laki-laki agar bertanggungjawab. Yuk belajar percaya pada anak, jangan dikit-dikit dilarang. Anak juga bisa dipercaya untuk ditugaskan di dapur, ini nih, baca ya:

Manfaat Memasak bagi Anak Laki-Laki

4. Jangan Dibantu Terus

Ada anak yang malas ngerjain PR lalu ortunya bantuin. Gak hanya kasih tahu jawaban tapi juga menuliskan di buku. Saat anak punya tugas juga mamanya yang rempong.



Janganlah dikit-dikit bantuin anak atas dasar rasa kasihan. Biarkan ia mandiri dan bertanggungjawab sejak dini. Lagian yang sekolah ibu atau anaknya?

Nah, udah tahu kan apa aja cara mengajarkan anak laki-laki agar bertanggungjawab? Intinya jangan biarkan mereka malas-malasan. Jangan sampai gedenya jadi mokondo, ngeri ah!

Jumat, 26 Januari 2024

Pelajaran Parenting dari Gadis Kretek the Series

 Siapa udah nonton seriesnya Gadis Kretek atau baru baca review Gadis Kretek? Emang seruu banget ya nonton aktingnya Dian Sastro dan Ario Bayu. Apalagi setting series ini tahun 60-an dan tahun 2001, serta digarap dengan sangat detail.



Gadis Kretek menceritakan tentang kegigihan Dasiyah (Jeng Yah) yang merupakan anak dari produsen rokok kretek di Kota M. Jeng Yah ingin membuat saus kretek yang baru, yang bisa membawa lebih banyak pembeli. Di tengah perjuangannya, ada Raya (Soeraja) yang membantu mewujudkannya.

Soeraja memiliki 3 anak: Tegar, Karim, dan Lebas. Si bungsu Lebas yang tengil diberi tugas oleh sang rama (ayah) untuk mencari keberadaan Jeng Yah.



Tapii kali ini daku gak mau bahas tentang cerita Gadis Kretek. BTW kalau mau baca review novel Gadis Kretek di sini:

Novel Gadis Kretek yang Ceritanya Lebih Detail

Gadis Kretek dan Parenting ala Idroes vs Djaja vs Soeraja

Menurutku Gadis Kretek versi series mengandung beberapa pelajaran parenting yang bisa kita tiru. Meski settingnya jaman dulu tetapi masih bisa diaplikasikan di era modern.

Dasiyah yang Diajari untuk Bekerja

Dasiyah (diperankan oleh Dian Sastro) adalah anak sulung dari juragan kretek, Idroes Moeria. Berbeda dari kebiasaan di tahun itu (1960-an), Pak Idroes memberi pendidikan tinggi untuk anak-anaknya. Bahkan Dasiyah diajak untuk ikut mengurusi usaha rokok kretek (meski saat itu masih skala rumahan).



Ketika Dasiyah mendapatkan pertolongan dari Seno Aji (pria yang dijodohkan dengannya - yang diperankan oleh Ibnu Jamil), awalnya ada penolakan. Dasiyah bilang kalau sejak kecil ia diajari orang tuanya untuk bekerja terlebih dahulu, baru mendapatkan keinginannya.

Nahh ini daku setuju banget ama didikan Pak Idroes. Sejak kecil anak wajib diajari kerja dan bantu orang tuanya. Karena tidak ada makan siang gratis di dunia ini.

Purwanti as a Princess



Beda jauh dengan Dasiyah, Purwanti digambarkan sebagai gadis remaja yang masih suka bermain-main. Purwanti (diperankan oleh Sheila Dara) adalah sahabat Rukayah, adik Dasiyah. Ia, yang merupakan putri dari Djaja, bagai seorang princess yang tidak perlu repot mengurusi pekerjaan atau membantu sang ayah.

Idroes yang Tidak Melarang Rukayah



Ternyata Purwanti adalah anak dari saingan bisnis Pak Idroes. Namun beliau bersikap bijak dan mempersilakan Rukayah (diperankan oleh Tissa Biani) bergaul dengan Purwanti. Pak Idroes tidak takut jika Purwanti menjadi mata-mata ayahnya.

Lebas yang Dimanja oleh Orang Tuanya



Lebas (diperankan oleh Arya Saloka) digambarkan sebagai pria yang seenaknya sendiri dan money oriented. Siapa yang mengajari? Tentu orang tuanya. Bahkan Raya pernah gemas karena Lebas minta uang melulu lalu memberinya uang tunai sebanyak 200 juta rupiah. Itu tahun 90-an lho dan besar sekali!

Bagaimana bisa seorang anak dididik dengan uang? Pemanjaan yang berlebihan tentu tidak baik, bukan?

Beban Tegar Sebagai Anak Pertama



Berbeda dengan Lebas, Tegar (diperankan oleh DJ Winky) lebih serius dan memang di-plot oleh sang ayah untuk menjadi pemimpin di perusahaan rokok. Anak pertama rata-rata menanggung beban. Dia harus jadi leader, memberi contoh untuk adiknya, dll.

Arum yang Mandiri dan Anti-Rokok



Arum (diperankan oleh Putri Marino) sangat mandiri dan berkebalikan dengan si Lebas. Bahkan ia berani mengusir tokek dan membetulkan genteng sendiri (naik tangga). Ini adalah hasil didikan Rukayah, ibu asuhnya.

Meski Rukayah dulu adalah orang berada tetapi ia tidak mau memanjakan Arum. Hasilnya, Arum sukses menjadi wanita kuat dan berkarir sebagai seorang dokter. Walau keluarga leluhurnya adalah pemilik usaha rokok, tetapi ia sangat anti-rokok. Yaa wajar lah karena ia adalah seorang tenaga kesehatan.



Gimana gaees, masih ter Jeng Yah- Jeng Yah dan belum move on dari serial Gadis Kretek? Series ini memang fiksi sejarah-roman tetapi juga memiliki pelajaran parenting yang bisa dicontoh. Jangan memanjakan anak secara berlebihan.