Sabtu, 28 Mei 2016

Lakukan 10 Hal ini Sebelum Anda Berhutang


Siapa yang tak punya hutang? Sepintas, berhutang memang nikmat, tiba tiba kita dapat uang, tanpa harus banting tulang siang-malam. Tapi tunggu dulu! Berhutang bikin langkah kita dimulai dari minus, bukan nol. Karena kita wajib melunasi hutang, agar kestabilan finansial tetap terjaga. Sebelum berhutang, lakukan 10 hal di bawah ini.

1.Pastikan gaji atau pendapatan anda melebihi angsuran bulanan

Misalnya, anda diberi gaji 1.000.000, sedangkan beban angsuran ke Bank adalah 1.200.000. Minus 200.000, cari uang dari mana? Berhutang lagi? Ini sama seperti lagu gali lubang tutup lubang, meminjam uang untuk melunasi hutang. Tak ada habisnya, seperti lingkar labirin. Anda akan merasakan efek domino, hutang beruntun akan mengkikis habis persediaan uang, properti, dan harga diri anda.

2. Pinjaman uang digunakan untuk kegiatan produktif, bukan konsumtif.

Setelah ada pencairan hutang dari Bank, langsung bagi uang itu di dalam amplop, dan rencanakan langkah produktif selanjutnya. Misalnya, anda ingin membuka gerai es teler, gunakan uang kredit untuk beli gerobak, kelapa muda, dan lain-lain. Kalau ada sisanya, bisa ditabung untuk simpanan tak terduga.

Jika uang itu untuk beli barang konsumtif misalnya handphone android terbaru, maka langkah bisnis anda bisa terbaca, bakal tamat riwayatnya. Tapi kan bisa promosi lewat sosial media, jadi butuh handphone sebagai modal? Ya, jika anda sudah punya handphone berkamera, tak usahlah beli yang baru demi memenuhi tuntutan gaya hidup. Prioritaskan kebutuhan untuk berdagang, bukan sekedar gengsi.

3. Setelah gajian, tekadkan untuk langsung membayar angsuran

Setelah menerima gaji, ambil uang senilai hutang anda, dan bayarkan saat itu juga. Jika anda nekat berbelanja dulu, dan membayar hutang di pertengahan bulan, takutnya uang gaji ini tidak cukup untuk bertahan sampai akhir bulan. Hutang memang wajib dibayar, jadi jangan tunda pelunasannya.

4. Hitung bunga hutang dengan teliti

Misalnya anda meminjam 30.000.000 ke Bank, dan bunganya 9%. Ternyata setelah anda membaca surat perjanjian dengan Bank, bunganya adalah 9% per tahun, bukan 9% dari nilai hutang. Jadi hitung uang angsuran dan bunga yang harus anda kembalikan, secara cermat.


5 . Pastikan orang yang meminjamkan agunan sudah ikhlas

Kadang kita berhutang dengan agunan milik orangtua, atau mertua. Bermodal BPKB atau surat tanah milik mereka, anda bisa mendapatkan pinjaman uang untuk modal usaha. Tapi jika cara mendapatkan agunan itu dengan setengah memaksa atau merengek, apa membuat bisnis anda berkah? Doa negatif akan membuat bisnis tersendat sendat. Jadi, mereka harus benar benar ikhlas meminjamkan agunannya.

6. Cermati pilihan kredit yang ditawarkan oleh Bank, karena bunganya berbeda

Rata-rata, kredit untuk UKM bunganya hanya 3%, tapi uang yang bisa dipinjam maksimal hanya 20.000.000. Jika anda meminjam 30.000.000 atau 50.000.000, bunganya 9%. Jika anda hanya butuh modal sebesar 18.000.000, maka jangan memaksa untuk pinjam 25.000.000, karena bunganya akan menjadi 9%, bukan 3%. Berhutanglah sesuai kebutuhan.

7. Pikirkan lagi, apakah anda benar benar butuh hutang untuk modal usaha?

Misalnya, anda ingin berjualan kaos anak, harga per lusinnya adalah 360.000 rupiah. Janganlah berhutang
3.000.000 rupiah untuk modal. Beli satu lusin saja dulu, jika terjual habis, keuntungannya bisa diputar untuk modal selanjutnya.

Anda juga bisa mengurangi ketergantungan hutang untuk modal usaha, dengan mengadakan garage sale. Jual saja tas atau baju lama yang tergantung di lemari. Dengan catatan, barang barang itu harus layak pakai. Keuntungan penjualan bisa anda gunakan untuk belanja barang dagangan.

8. Buat surat perjanjian kepada penumpang hutang

Kadang saudara atau teman ingin menumpang atau nebeng, ikut meminjam uang saat anda akan mengajukan kredit ke Bank. Misalnya,anda pinjam 10.000.000, maka dia ikut pinjam 2.000.000, jadi totalnya 12.000.000. Beri selembar surat perjanjian beserta kuitansi, saat ia menerima uangnya.

Hitung juga bunga yang harus ia lunasi, dan durasi peminjamannya. Sama saudara kok perhitungan? Jangan lupa, uang dan hutang kadang tak mengenal hubungan darah. Justru anda memperlakukannya secara profesional.

9. Saat akan mengajukan kartu kredit, gunakan dengan bijaksana

Banyak orang punya kartu kredit karena tergiur akan diskon merchant, dan cicilan dengan bunga 0%. Tapi penggunaannya juga harus dikendalikan. Boleh tarik tunai, untuk modal usaha. Boleh belanja, asal barangnya dijual lagi, atau disewakan. Keuntungannya harus di atas bunga kartu kredit. Ingat, kartu kredit adalah kartu hutang! Bukan kartu ATM.

10. Beri target kapan harus melunasi hutang

Misalnya anda mengkredit sepeda motor, dan diangsur 36 kali. Targetkan untuk melunasinya pada cicilan ke-30. Mengapa harus ditarget? Karena sepeda motor yang gagal kredit, akan ditarik kembali oleh leasing, rugi bandar!

Lalu bagaimana cara melunasinya? Banyak jalan menuju roma, banyak cara mencari uang. Anda bisa menjadi makelar sepeda motor atau tanah, atau mencari job freelance yang banyak bertebaran di internet. Bisa juga dengan menjadi guru privat bahasa asing.

Boleh-boleh saja berhutang, asal tujuannya positif. Hutang produktif akan mensejahterakan kesehatan finansial anda. Tapi jangan sampai hutang dan tunggakan kredit, menyengsarakan hidup anda. Selamat mengatur rencana keuangan dan hitungan hutang, dengan sebaik-baiknya.

ini adalah kontes menulis cekaja.





Kamis, 26 Mei 2016

Karena Beras, Hubungan jadi Panas

"Kalau kamu bawa beras lagi, nanti aku berikan ke ayam peliharaanku!"

Dar! Kalimat itu bagai petir di siang bolong. Terlebih, diucapkan oleh ibu mertuaku. Padahal saya bermaksud meringankan bebannya.  Karena beliau adalah ibu yang melahirkan dan membesarkan suamiku.

Saya telah lima tahun menjadi menantunya. Sebenarnya, hubungan kami cukup baik. Saya menganggapnya sebagai ibu kandung, dan beliau tak segan untuk mengajari saya memasak sayur pepaya muda.

Dulu, sosok ibu mertua yang jahat seperti tergambar di sinetron, sama sekali tak tampak di raut wajahnya.  Malah saya mengagumi semangat kerjanya yang meluap luap. Walau matanya hanya berfungsi satu, karena mata kiri sudah terenggut fungsinya oleh katarak, namun beliau tak pernah mengeluh. Di usianya yang sudah 65 tahun, beliau menjadi kernet kereta kelinci. Sedangkan bapak mertua menjadi supirnya. Setiap sore, kereta kelinci mengelilingi kampung Lokgempol, di kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Sekali seminggu, saya dan suami mengunjungi rumah ibu mertua. Setiap kali melihat beliau, saya teringat nenek saya, dan merasa kasihan padanya. Lalu hati ini tergerak untuk memberi beliau uang 50.000. Tapi maksud baik ini malah ditanggap dengan kata kata sepedas cabai. "Gak usah. Simpan saja uangmu untuk biaya periksa". Ya, saat itu memang saya sedang hamil muda.

Pasca melahirkan, saya berusah menyisihkan uang lagi, khusus untuk beliau. Walau uang ini mungkin tidak cukup untuk mengganti biaya membesarkan dan merawat anaknya, suami saya. Namun lagi lagi beliau menolak. "Jangan kasih ibu duit terus. Uang itu bisa untuk membeli susu anakmu. Ibuk bisa cari uang sendiri!".

Ya, mungkin kalau makanan beliau mau menerima. Minggu berikutnya, saya membawa sepanci kare daging sapi. Namun apa yang terjadi? Ternyata ibu mertua berpantang santan. Bukan atas anjuran dokter sih, namun beliau mulai mengatur makanan yang masuk ke perutnya, sejak berusia 45. Semacam diet rendah lemak, untuk menjaga kesehatan.

Sementara itu, suami membawa kabar buruk. Ibu mertua jarang bekerja, karena kondisi kesehatan bapak mertua yang menurun. Tak ada anaknya yang bisa menyetir kereta kelinci. Well, hanya sopir yang berpengalaman mengendalikan truk gandeng yang bisa menaklukkan setir kereta kelinci. Duh, jika ibu tidak bekerja, bagaimana dengan kondisi dapur beliau, akankah masih akan mengepul?

Lalu saya inisiatif membeli beras dan meminta tolong suami untuk memberikannya pada ibu. Ternyata beliau juga menolak maksud baik saya (seperti yang sudah saya ceritakan di awal). Ternyata, ibu takut jika saya mengambil beras milik Mama, di dapur. Ya, saya memang masih menumpang di rumah Mama. Namun beliau tak tahu bahwa beras itu saya beli sendiri.

Akhirnya saya hampir menyerah, dan menitipkan uang 50.000 pada suami. Terserah bagaimana caranya, yang penting ibu mau menerima uang itu. Tiba tiba suami mendapat ide, uang itu ia belanjakan, lalu diberikan ke ibu. Seolah olah ia membelinya tanpa sepengetahuan saya. Lalu suami membeli 2 kg beras, 1 kg telur ayam, dan 3 buah tempe. akankah pemberian itu akan ditolak lagi? Entahlah, kita tunggu kabar dari suami saya ya.

Di dalam hati, saya menerka, akankah beliau tersinggung dengan tindakan saya? Ah, tidak. Mungkin beliau lebih mengutamakan cucunya, anak kandung saya. Bisa saja beliau ingin bekerja dan menghidupi dirinya sendiri, dan tak ingin membuat anak anak dan menantunya merasa direpotkan. Semoga kesalahfahaman ini bisa mencair, dan hubungan kami bisa lebih harmonis, seperti dulu kala.

Teman teman, jika ingin berbuat baik, lakukan saja. Jika ada yang mencibir atau menolak, maka bersabarlah. Mungkin cara penyampaiannya yang perlu diperbaiki.

Yuk, cerita tentang “Kebaikan Tak Selalu Baik di Mata Orang Lain”