Sabtu, 30 Juli 2016

Cinta Dalam Sepanci Opor

"Kriing!"

Suara telepon memekik di pagi buta. Aku menggosok-gosok mata lalu menguap, masih setengah mengantuk. Tapi dering telepon memaksaku untuk bangun dari tempat tidur. Kuangkat telepon itu, apa dari Mama?

"Assalamualaikum"
"Waalaikum Salam. Mbak"
Lho, bukan suara Mama?
"Ini Bu Anto. Mbak, opornya sudah matang. Silahkan diambil ke rumah, mumpung saya belum berangkat shalat Ied"
Hah?? O....por?
"Bu, maaf, saya kan tidak pesan"
"Iya Mbak, Mama yang pesan, dan sudah dibayar"
"Baik bu, saya ambil sekarang. Assalamualaikum"
Lalu telepon terputus.

Kusambar kerudung, lalu bergegas ke luar rumah, menuju warung Bu Anto. Udara dingin yang menusuk tulang tak memperlambat langkahku. Bu Anto memberikan kresek merah, berisi opor, sambal goreng kentang ati, dan beberapa buah lontong. Aku mengucapkan terimakasih, lalu bergegas pulang. Hendak mandi dan siap-siap shalat Ied.

 Air mata merembes di sudut pipi. Ya Allah, alhamdulillah. Mungkin Mama khawatir aku tak sempat memasak opor lebaran, karena sibuk menjaga anakku Saladin yang hobi memanjat lemari. Sehingga beliau memesankan opor dan sambal goreng untukku.


                                                            gambar pinjam dari sini

Aku menangis karena di saat berjauhan, beliau masih memikirkanku. Sudah lima lebaran ini aku tak sungkem pada Mama, karena beliau berlebaran di Jepara. Sedangkan aku merayakan hari raya di rumah mertua, di Polowijen - Kota Malang. 

Bukannya aku tak mau mudik ke tempat Kakekku di Jepara, tapi  kekhawatiranku akan Saladin membuatku tertahan di Malang. Kalau mudik, kami harus melewati jalur pantura yang panas dan macet, takutnya Saladin kegerahan dan bosan di jalan. Lebih aman lebaran di Malang, karena rumah mertua hanya berbeda kecamatan dengan rumahku. Jika naik sepeda motor, hanya butuh 30 menit perjalanan. Lagipula, berlebaran di Malang membuatku bebas dari omelan Mama. 

Dulu aku menganggap Mama lebih sayang pada adik laki-lakiku. Kini ia sudah bekerja di sebuah perusahaan BUMN di Jakarta. Sedangkan aku memilih untuk jadi ibu rumah tangga.  Berkali-kali beliau menawariku, apa mau kuliah S2 lalu berkarir jadi dosen. Tapi semua rayuannya tak membuatku tertarik, aku hanya ingin mengurus keluarga kecilku. Jadi hubungan kami memanas, seperti tikus dan kucing.

Aku tebak, beliau lebih bangga dan sayang pada anak keduanya daripada aku yang cuma mengurus suami dan bocah kecil di rumah. Tapi tengah gema takbir lebaran, semua prasangka jadi hilang. Terbakar oleh cinta di dalam sepanci opor. Mama juga menyayangiku, meskipun beliau jarang mengatakannya di depanku. Ya, mungkin beliau bisa menelepon atau aku wa, dengan android #4GinAja.

Usai shalat Ied, kupotong lontong, kuguyur kuah opor di atasnya. Sambil makan, aku mendengar lagu "Kasih Ibu" yang terekam dalam ingatanku

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya, menyinari dunia

Ibu hanya berniat memberi cinta, walau dalam bentuk yang tidak dimengerti oleh anaknya. Lebaran ini berasa segurih opor, karena semua pikiran jelekku tentang Mama luluh, oleh perhatian dan kejutan dari Mama.

Tiba-tiba aku teringat almarhumah Nenek, beliau meninggal april lalu. Jadi tahun ini adalah lebaran pertama Mama tanpa ibunya. Akankah aku bisa berlebaran dengan Mama tahun depan? Ah, aku takut tak ada lagi kesempatan untuk berbakti padanya. 


                                                        Mama (kerudung biru) dan Nenek (alm)

Mulai hari itu, 1 Syawal 1437 Hijriah, aku bertekad untuk lebih menyayangi Mama. Mungkin aku belum bisa membelikan gelang emas. Tapi aku akan berusaha untuk berkata "ya" pada setiap perintahnya, dan tidak membantah. Alhamdulillah, lebaran tahun ini benar-benar penuh hikmah.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Lebaran Seru 


Selasa, 19 Juli 2016

Saat Suamiku Lebih Pintar Masak

Laki laki masuk dapur? Mungkin kalau di hotel atau restoran, ada chef laki-laki. Tapi kalau di rumah? 

Apa yang anda bayangkan jika yang memasak setiap hari adalah sang suami, bukan istri? Jika ada yang menganut faham bahwa laki-laki adalah raja yang harus dilayani sebaik-baiknya, dipijat, dimasakkan, disayang, mungkin mereka akan mengernyitkan dahi.

Kali ini saya mewawancarai mba Vivian Wijaya, seorang pebisnis dari Kota Malang. Ale Wijaya, sang suami, dikenal jago masak. Beliau selalu sibuk di dapur untuk membuat menu spesial bagi istri dan kedua buah hatinya, Aisy dan Key. Sang istri bisa memasak, tapi menurutnya masakannya itu terlalu memakai perasaan, sehingga beliau mempercayakan urusan dapur kepada sang suami.


(dari kanan ) Mbak Vivi, Key, Aisy, dan Mas Ale


Dulu sebelum menikah, mba Vivi belum tahu jika sang calon suami lihai memasak. Kini mba Vivi bahagia karena belahan hatinya sangat terampil menggoreng ikan, menumis sayuran, bahkan membuat pizza! Pizza ini dijual dengan brand Key's Pizza. Saya pernah makan pizza nya dan alhamdulillah uenakk, lumer dan cheesy banget.

Pasangan yang telah menikah selama hampir 8 tahun ini juga kompak mendidik anak. Meskipun berjenis kelamin laki-laki, namun Key sudah diajarkan untuk menjaga kebersihan dengan cara menyapu. *Ya, memang betul, bagi saya tak ada yang namanya pekerjaan perempuan atau pekerjaan laki-laki--kecuali melahirkan yach :p*

Jika Key sudah agak besar, ia akan diajari memasak oleh sang ayah, dengan senang hati. Memasak akan membuat anak lebih mandiri, dan sebagai muslim, anak akan memilih makanan sehat, halal dan thoyib.

Makanan sehat seperti lumpia sayuran diolah mas Ale sebagai snack untuk putri dan putranya. Makanan rumahan lebih higienis dan terjamin, ketimbang beli di luar. Di balik hobi memasaknya, mas Ale ingin keluarganya lebih sehat dengan makan homemade food.
Walaupun ada orang yang berkomentar negatif, karena menganggap lelaki yang masuk dapur itu tabu, mas Ale bergeming. Bukankah Nabi Muhammad juga membantu istrinya di rumah? Memasak adalah caranya meringankan tugas istri dan mengekspresikan cinta untuk keluarganya.

Minggu, 17 Juli 2016

Penghargaan Hanyalah Bonus

Terik matahari mulai membakar, kerumunan orang menyemut di pinggir lapangan. Aku menajamkan telinga, lalu speaker bergema, “ juara 3 adalah peserta nomor 9, juara 2, peserta nomor 18 ”. Dua wanita sintal segera naik panggung. Aku bergumam, apakah akan gagal lagi di lomba senam kali ini? Tiba tiba juri mengumandangkan pengumuman lagi, “ juara 1 adalah..peserta nomor 27! ”. Hah? Aku melihat nomor peserta yang tersemat di baju, setengah tak percaya. Lalu berlari senang, meloncat ke atas panggung.

Akhirnya aku meraih juara 1 di lomba senam yang diselenggarakan di lapangan Rampal. Mbak Farida, salah seorang juri, menyerahkan hadiah. Sebuah amplop putih yang bertuliskan sponsor lomba, salah satu koran lokal Jawa Timur. Kuintip amplop itu, syukurlah, isinya seratus ribu. Tak percuma aku berpeluh keringat, berlaga selama hampir 90 menit.

Kemenangan ini datang setelah tiga kali menelan pil pahit bernama kekalahan. Kuharap penghargaan ini membuat Mama bangga. Sampai di rumah, kuperlihatkan hadiah lomba pada beliau. Tapi apa yang terjadi? Mama hanya mengucapkan “ selamat ”, lalu meraih koran yang tergeletak di sofa. Lalu beliau menatapku tanpa ekspresi.

Aku sudah berada di puncak gunung kesuksesan, tapi reaksi Mama membuatku tergelinding ke dalam jurang. Prestasi yang kuraih setelah berpeluh keringat di fitness center, meregangkan badan, terengah-engah mengikuti gerakan high impact, menghafal koreo, tak berarti apa-apa baginya.

Di kamar, tangisku hampir pecah. Kuremas-remas amplop hadiah, lalu “pluk!”, terlempar ke tempat sampah. Apa yang harus kulakukan agar Mama bangga padaku? Bahkan dulu beliau berpesan untuk mengurangi frekuensi latihanku. Katanya, anak perempuan tak boleh sering-sering keluar rumah. Mungkin beliau akan setuju aku sering keluar rumah untuk belanja, ketika punya Voucher Belanja Sodexo.

Saat itu aku menyambangi fitness center enam kali dalam seminggu, karena ingin sekali menang lomba. Hampir semua pusat kebugaran di Kota Malang kudatangi, untuk mendapat koreografi baru, dengan instruktur senam yang berbeda-beda. Waktu luangku kuisi dengan berolahraga, karena kala itu aku baru saja lulus kuliah dan belum mendapat pekerjaan. Daripada bengong di rumah, lebih baik berlatih fisik di gym, lalu berjalan-jalan ke Merchant Sodexo.

Tapi Mama tak melihatnya sebagai aktivitas positif. Beliau ingin aku bekerja kantoran, secepatnya. Sudah belasan surat lamaran yang kulayangkan, tapi belum ada panggilan. Pekerjaan sampinganku sebagai penerjemah lepas tak dianggap sebagai karir yang membanggakan. 

Bangga? Apa yang selama ini aku kejar? Apakah aku ingin meraih berbagai penghargaan agar Mama bangga pada anak perempuan satu-satunya? Kupejamkan mata, lalu merenung.

Malamnya aku menghela nafas, lalu Tuhan sang pemilik hati membawaku ke satu titik, ternyata penghargaan tak berarti apa-apa. Hati ini sudah ikhlas jika Mama tidak menghargai kemenanganku. Yang penting, aku sudah mengumpulkan tekad untuk mengikuti lomba, dan berlatih keras demi meraih gelar juara.  Penghargaan hanyalah simbol kesuksesan. Di balik itu, aku belajar. Lebih penting untuk menghargai proses untuk mendapat penghargaan, daripada hasilnya.

Penghargaan hanyalah bonus semata. Ada banyak keuntungan lain ketika aku masih dalam proses untuk meraih penghargaan.  Selama latihan, aku belajar disiplin waktu, harus datang jam 7:30 pagi di fitness center. Lihatlah siluet tubuhku yang terpancar di cermin! Hasil latihan membuat berat badanku stabil di angka 55. Meski perutku belum six-pack, tapi  kerampingan ini membuatku tak pusing mencari ukuran baju yang pas. Makan sebanyak apapun, tak masalah, karena esoknya aku akan membakar kalori di gym. Kakiku yang kulatih di alat bench press, tak rewel jika kubawa berjalan sejauh 2 kilometer.

Aku bersyukur di setiap hela nafas, pada tetes keringat yang mengucur di dahi pasca olahraga. Senyum akan selalu terkembang, latihan ini sudah membuatku lebih bugar, dan menikmati anugerah kesehatan yang diberikan oleh Tuhan. Semangatku untuk tetap mengikuti lomba, berkali-kali, membuatku belajar untuk pantang menyerah. Semua ini jauh lebih bermakna daripada sebuah kata bernama “penghargaan”.

Penghargaan tak berarti apa-apa ketika manusia menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Mereka bisa menyogok dewan juri atau saling jegal. Lebih baik kalah terhormat, daripada mendapatkan penghargaan dengan cara curang.