Senin, 28 November 2016

7 Resiko jadi Selebgram

Suka nongkrong di instagram? Sosial media yang satu ini memang asyik banget, jadi ajang narsis dan majang foto foto kita. Bahkan ada beberapa orang yang mendadak jadi selebgram  alias selebriti instagram, seperti dijah yellow dll. Jadi selebgram memang enak, punya ribuan follower, dipuji puji, fotonya di regram oleh banyak orang, bahkan diendorse oleh merk tertentu. Eits, jangan mikir enaknya aja! Ada juga resiko ketika kamu jadi selebgram.

1. Dibully haters

Tak semua follower adalah penggemar selebgram. Kadang mereka follow suatu akun instagram, hanya untuk stalking dan kepoin aksinya. Jika suatu selebgram melakukan kesalahan sedikit saja, haters bisa bertubi tubi mengejek, bahkan mengeluarkan kosakata kebun binatang.

Jadi selebgram memang harus tebal kuping. Jika ada yang membully, biarkan saja. Kadang mereka gak mikir saat berkomentar. Tenang saja, hater sebenarnya sangat mencintai selebgram. Buktinya, mereka selalu mengawasi setiap gerak gerik dan aktifitas sang seleb. Bisa dibilang, haters adalah lovers yang tertunda, hehhehehe.

pic pinjam dari sini 


2. Jadi Saksi Pertengkaran Hater Lover

Jika ada hater berulah, lover pasti langsung pasang badan membela selebgram idolanya. Tapi tak jarang tingkah mereka memetik api pertengkaran di kolom komen instagram. penggemar lain ajdi gerah, kokisinya betengkar melulu?

3. Jadi sasaran rasisme
Padahal ada yang setia membela negara, tapi malah dimaki-maki. Bukankah kita berprinsip bhinneka tunggal ika? Sedih deh kalau lihat aksi rasisme di dunia maya.

4. Dibilang sombong karena memprotect akun ig
Seoragn selebgram ingin memprotect ignya, dan menyeleksi siapa saja yang boleh menjadi followernya. Ya, mungkin cara ini efektif untuk mengurangi hater. Tapi nyinyinyers malah mengcapnya sombng karena dianggap pilih pilih follower, nah lho!

5. Ditanya hal pribadi
kapan nikah?
ini anaknya? blabla bla..Capek deh..


6. Diiklanin oleh os tak tau malu

Pernah mampir di akun selebgram tapi shock saat baca komen2nya? Lebih dari setengah komentator bukannya mengomentari foto, malah asyik promosi toko onlinenya. Karena di sana dianggap sebagai tempat ramai, jadi stategis untuk beriklan.


Kalau ada yang ngiklan, yasudahlah, gak usah balik di komen atau dihapus komentarnya. Doakan saja biar dagangan mereka laris, dan mereka dapat cara yang lebih elegan untuk beriklan.

7. Dicuri fotonya oleh orang tak bertanggungjawab

Masih ingat dengan kasus akun penjualan bayi? Beberapa selebgram marah karena foto anaknya dicomot tanpa izin. Foto para selebgram memang terlihat menarik dan jadi objek pencurian dan plagiasi. Solusinya, beri watermark pada setiap foto.

Masih mau jadi selebgram? Selamat, anda beranai menanggung resiko :D. Pro dan kontra itu biasa, jadi komentar negatif abaikan saja.

Jumat, 18 November 2016

Memberi Nilai Plus Pada Bisnis

"Selamat Pagi!". Tadi pagi saya ternganga ketika ada door man, eh door woman yang membukakan pintu di sebuah bank swasta. Saya menyebutnya "door woman" karena dia adalah mbak cantik, yang kemudian bertanya, "ada yang bisa dibantu?

Tak hanya membukakan pintu, ia juga sigap membantu nasabah yang ingin menarik kursi (saat akan duduk di depan CS). Lalu menunjukkan letak kamar mandi (pada nasabah lain).

Saya jadi termenung dan teringat akan dua kata, yaitu nilai plus. Bank itu menawarkan beberapa jasa plus plus (bukan pijat plus plus lho ya :p ), seperti ketersediaan atm yang sangat banyak, menabung langsung di atm, dan juga layanan penuh senyum dari petugas cantik pembuka pintu. Karena inti dari sebuah perusahaan jasa adalah LAYANAN.

Tapi bagaimana kalau bisnis saya tidak bergerak di bidang jasa? Layanan juga berperan penting, lho. Misalnya, jika anda membuka rumah makan, beri tag "gratis nasi". InsyaAllah laris. Rugi dong, beras satu kilogram harganya berapa? Bukan rugi, tapi pakai trik subsidi silang, jadi ada beberapa menu yang harganya sedikit dinaikkan, dan keuntungannya untuk beli beras. Ada juga tempat lain yang menawarkan free flow tea atau cola.

Ada juga salah satu owner usaha pizza yang memberi layanan berupa mesin EDC. Jadi saat dia mengantar pesanan, customer yang tidak ada cash / kurang cash, bisa menggesek kartu di mesin itu.

Bagaimana menurut anda?