Jumat, 04 Juni 2021

Berteman dengan Anak, Mengapa Tidak?

 Hai sobat Bunda Saladin bagaimana kabarnya? Semoga sehat-sehat saja ya. Nah kali ini saya mau bahas mengenai ‘berteman dengan anak’. Menjadi orang tua memang pekerjaan yang cukup menantang, karena kita tidak bisa seenaknya dalam mengasuh.



Dua Jenis Pola Asuh

Selama ini kita hanya kenal 2 pola asuh: saklek (strict) dan memanjakan. Pola asuh yang sangat keras, terlalu disiplin, penuh perhitungan, bahkan sedihnya ada yang main tangan juga, me. Namun hasilnya menyedihkan, karena anak selalu dituntut untuk jadi sempurna. Kemungkinannya ada 2: anak jadi pribadi yang keras dan pemberontak atau kebalikannya, ia jadi cengeng, bingung dalam memilih, dan over-sensitif karena selalu ditekan oleh orang tuanya.



Sedangkan pola asuh kedua sangat berkebalikan. Anak dilayani bagai raja/ratu dan sangat dimanjakan, karena semua keinginannya terpenuhi. Sounds familiar? Bisa jadi orang tua model ini sangat sayang sampai segitunya ke anak, karena dulu ia tidak bisa mendapatkan barang yang diinginkan. Akibatnya, sekarang saat punya banyak uang, anak minta apa saja ya dikasih.

Sebenarnya pola asuh anak yang terlalu memanjakan juga gak baik, karena anak jadi terlambat untuk mandiri. Ia tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga yang sangat ringan, misalnya mencuci piring dan gelasnya sendiri. Bahkan ada lho yang menaruh piring bekas makannya di wastafel saja malas. Aduh!

Berteman dengan Anak

Nah, ada jalan tengahnya yaitu pola asuh yang demokratis. Anak tetap disayang, didengarkan pendapatnya, mendapatkan curahan perhatian, tetapi ia juga harus melakukan kewajiban seperti membantu ibu mencuci, merapikan kamar sendiri, dll. Inilah pola asuh terbaik, karena mendidik anak jadi disiplin tanpa kekerasan fisik dan verbal.



Pada pola asuh demokratis, anak diposisikan sebagai teman. Jadi ia akan percaya pada orang tuanya dan tanpa takut bercerita tentang apa saja. Mengapa harus jadi teman? Karena kita tahu sendiri pergaulan anak muda sekarang agak ngeri. Lengah sedikit saja sudah ada godaan narkoba, minuman keras, dan hal-hal negatif lainnya untuk anak.

Jika orang tua memposisikan diri sebagai teman, maka anak akan bahagia. Ia tidak akan melampiaskan kekesalannya di luar dengan cara balapan liar misalnya. Karena ia tahu bahwa sang mama dan papa bersikap demokratis dan mampu mengarahkan tanpa emosi dan marah-marah.

Sharing With Zata Ligouw

Nah beberapa hari lalu saya berkesempatan mengikuti Virtual Saturday Fest di Zoom dengan salah satu narasumber kece: Zata Ligouw. 



Mom selebgram ini menceritakan bagaimana hubungan beliau dengan anak-anaknya yang sudah remaja. Misalnya saat anak ngumpet di kamar, tidak boleh berteriak agar ia keluar, karena ia malah jadi malas. Namun ambil saja HP lalu kirim pesan WA. Biasanya anak akan mau menurut.



Zata berpesan untuk jadi orang tua gaul yang melek digital, karena anak sekarang lebih sering berinteraksi di dunia maya. Jadi mereka bisa diarahkan untuk menekuni bidangnya dan mencari hobi yang bermanfaat, dan semua bisa ditemukan dengan mudah via tutorial di internet.

Sesi Bersama Psikolog Alia Mufida

Selanjutnya ada pemaparan dari ibu Alia Mufida, seorang psikolog handal. Beliau menjelaskan tentang kesehatan mental. Jadi anak tak hanya diperhatikan fisiknya tetapi juga mentalnya. Jangan sampai anak terlihat tidak apa-apa ternyata menyimpan luka hati yang terdalam dan akhirnya trauma.

Berikut ini beberapa slide dari beliau:




Sesi Bersama Bapak Haidar Bagir

Next, ada penjelasan dari Bapak Haidar Bagir sebagai Ketua Yayasan SMA Lazuardi. Beliau berpesan bahwa every kid is special, jadi sudah tidak zamannya lagi anak harus berpikiran yang sama seperti zaman dulu. 



Justru sekarang mereka didorong untuk menunjukkan keunikan dan keistimewaan masing-masing. Tugas orang tua mengarahkan dan mencarikan sekolah yang tepat, agar mereka bisa jadi pribadi yang percaya diri dan tentu bahagia.

SMA Lazuardi

Pernah dengar nama SMA Lazurdi? Sekolah ini terkenal karena menerapkan sistem hybird, artinya murid tidak full berada di sekolah (karena masa pandemi) tetap pembelajarannya jarak jauh. Nah jangan khawatir, walau sekolah online tidak hanya berisi tugas, PR, dll. Namun tiap pengajar mentransfer ilmu dengan sepenuh hati, agar para murid makin cerdas.



Keunggulan dari SMA Lazuardi adalah murid bisa atur sendiri jadwalnya, karena kan sekolah online. Selain itu, kalau tidak sekota dengan sekolah ini, tetap bisa daftar karena belajarnya juga melalui sistem daring.

SMA Lazuardi mendorong murid agar berani dan memaksimalkan potensi terbaiknya. Jadi mereka tak hanya belajar secara akademik, tetapi juga belajar di ekstra kulikuler. Salah satu murid Lazuardi yang jadi pengisi acara adalah Segaf. Di usia muda ia sudah menang lomba story telling di Depok dan aksen British-nya bagus sekali.

Yuk, parents yang berminat bisa langsung cuss ke media sosial SMA Lazuardi di Instagram @smapintarlazuardi dan Facebook: SMA Lazuardi.

28 komentar:

  1. Aku termasuk susah sbnrnya dalam menahan emosi saat ngajarin anak mba :(. Pengeeen sih bisa JD ibu yg menempatkan dirinya sebagai teman, tp kenyataannya ga gampang. Hubunganku sendiri Ama ortu ga terlalu Deket juga soalnya.

    Tapi setelah baca ini, iya sih, aku paham harus mengubah cara mendidik anak2. Zaman skr ga mungkin lagi kita bersikap keras. Aku sendiri shrsnya sadar, mengingat aku ga bisa Deket Ama ortuku, ya Krn mereka dulu sangat2 keras dan disiplin dengan anak2. Walopun ada juga sisi dari papa mama yg aku suka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jujur saya juga agak kesusahan ngajar anak sendiri tapi ya mau gimana lagi, kalau school from home ya mamanya yg ngajarin.
      Anak zaman sekarang kalau dikerasin malah tambah keras, atau kabur.

      Hapus
  2. wah, keren banget nih kalau bisa dekat sama anak. Biasanya banyak ortu yg kesulitan untuk bisa dekat sama anak. tips yg diberikan mba zata boleh juga nih diikuti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak, kalau gak dekat ama anak bisa jadi karena sibuk banget atau pola asuhnya otoriter.

      Hapus
  3. Aku setuju sih sama berteman dg anak, dan ortu pun harus melek teknologi ya mb, karena anak2 skg hidup di era yg jauh dari kno, semua hobi harus didukung dg positif. Aku jadi terinspirasi sama pola asuh narsum Mb Zata nih. Satu lagi nih kesehatan mental anak jg penting

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak, apalagi kalau anak diam tetap diam-siam stress, kasihan. MAkanya kesehatan mental nomor 1.

      Hapus
  4. Cita-cita aku banget ingin menjadi orang tua yang bisa berteman baik dengan anak. Tidak harus berusaha menjadi sempurna di depan anak. Tapi berjuang bersama belajar tentang kehidupan dan menjemput kesuksesan dunia akhirat bersama.

    BalasHapus
  5. Makin besar anak memposisikan diri sebagai teman sebagai bagian dari pola pengasuhan memang penting. Meski harus ada batasan kapan kita ada di posisi orang tua agar mereka tidak lupa bahwa kita mesti dihotmati.
    Serupa dengan Mom Zata, aku panggil anakku di kamar dengan nelpon via WA, bukan chat...biar cepat diangkat hahaha

    BalasHapus
  6. Saya beruntung memiliki kemudahan akses terhadap materi2 pendidikan anak ketika menjadi orangtua muda, sehingga bisa menjadi orangtua sekaligus teman bagi anak2 saya

    BalasHapus
  7. Entahlah bagaimana pola asuhku kepada anak. Yang jelas cenderung santuy demokratis. Enggak otoriter gak manjain juga. Enggak terlalu jadi teman juga ...

    BalasHapus
  8. Pengalamanku, anak emang perlu dijadikan teman. agar tidak ragu untuk curhat pada kita. Kita belajar membangun komunikasi dengan anak sejak dini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Kak, yang penting komunikasi positif, jadi anak gak takut ama ortunya.

      Hapus
  9. Keren ini ilmunya, saya setuju kak, jadi orang tua lebih baik demokratis, dan harus melek teknologi supaya bisa jadi temannya anak-anak, terutama untuk anak2 yang sudah usia remaja, karena kadang sebagian kalau dikerasin atau otoriter malah bisa semakin jauh sama anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak, anak kalau dikerasin malah tambah keras kepala.

      Hapus
  10. Baca tulisan ini jadi teringat sama tetangga yang memanjakan anaknya dengan gawai, Mbak. Sekarang akhirnya sering terjadi gesekan dengan orang tua dengan nangis kencang kayak tantrum. Anak minta gawai dan ortu ga mau belajar parenting, klop deh! Memang PR banget buat jadi sahabt anak, kami juga sedang mencoba karena ga mudah. Semoga Lazuardi bisa jadi sekolah yang turut membesarkan anak yg diharapkan ya Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah banyak contoh yang kayak gitu.

      Aamiin.

      Hapus
  11. Saya belum nikah, cuma ini ilmu baru buat saya dikemudian hari bila memiliki anak. Saya ingin banget jadi teman buat anak saya kelak :) Ammin

    BalasHapus
  12. Syukurlah di keluarga besarku ini diterapkan

    Anak diperlakukan seperti sahabat

    Jadi ada komunikasi sungguhan nya
    Ada becanda nya
    Ada bertukar pendapatnya
    Ada berantemnya juga dikit kadang-kadang hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah beruntung ya KAk, keluarganya sangat hangat

      Hapus
  13. betul sekali, memang berteman dgn anak itu adalah hal pasti, jangan sampai anak terlalu dimanjakan terutama dengan pemakaian gadget. nnti akan ada saatnya sendiri si anak akan melek digital, kalo terlalu dini justru bakal merusak sosialisasi anak dengan lingkungan sekitar,

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul sekali Kak
      terima kasih kunjungannya :)

      Hapus
  14. Terimakasih untuk ulasannya. Kelak semoga bisa menjadi sahabat anakku sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, sama-sama kak, makasih kunjungannya

      Hapus