Apa yang ditakutkan
oleh seorang ibu? Ketika sang anak tidak ada di pelukannya, di jam yang
seharusnya. Itulah yang kurasakan minggu lalu ketika SALADIN HILANG DAN RUMAH
KOSONG. TIDAAK!
Jadi, begini ceritanya
pemirsa. Malam itu ada peringatan nisfu Sya’ban di masjid dekat rumah. Daku datang
pas maghrib (karena acaranya habis maghrib). Saladin sudah 13 tahun jadi dia
biasa jaga rumah (dan sudah sering begini). Kebetulan pas ayahnya ada acara di
luar dari sore hari.
Habis isya’ acara selesai
dan daku langsung pulang. Tapi kesenangan berubah jadi kesedihan karena Saladin
tidak ada di rumah. Bawa HP-ku pula. Alamak, di mana anakku?
Pencarian Dimulai
Memang sorenya Saladin
bilang ingin cooling down di daerah
dekat warung tetangga. Tapi kucari di sana gak ada. Keliling perumahan juga gak
ada. Di toko tetangga yang lain juga gak ada (dia hobi beli jajan di sana).
Alhamdulillah ada kabar
baik karena omnya Saladin (adikku yang kedua) datang naik sepeda motor. Dia mengabari
kalau si bocah ke rumah mbah utinya (mamaku) dengan berjalan kaki. Padahal jaraknya lumayan, hampir 3 kilometer.
Ya Tuhan!
Saladin bilang ke mbah
utinya kalau dia mau menginap. Oleh karena itu sang om datang dan ingin
mengambilkan baju ganti. Yaa jelas kutolak karena besoknya kan sekolah.
Dengan panik daku naik
ke boncengan motor sambil bertanya, bagaimana keadaan Saladin. Ternyata dia
baik-baik saja. Namun kelaparan karena habis mudik jalan (atau setengah
berlari?) lalu dengan lahap makan nugget dan mie pangsit yang dihidangkan oleh
omnya.
Bunda Saladin Mengamuk
Ketika sampai di rumah
mama, daku langsung ke lantai 2 (karena hafal, pasti Saladin lagi main game di kamar omnya. Daku langsung
ngamuk karena khawatir dia hilang. Bagaimana bisa tenang kalau anaknya lari
malam-malam, dan sepanjang jalan ada 2 kuburan yang dilewati? Jalannya ramai
pula.
Beneran gaeees jangan
kira daku orangnya sangat penyabar. Sesekali Bunda Saladin bisa ngamuk apalagi
kalau situasinya chaos. Tentu saja
kalau marah juga hanya menaikkan volume suara, tidak main tangan.
Hilang Lagi
Saladin habis kumarahi
cuma cengar-cengir lalu malah turun ke lantai 1. Lalu kemudian ada tamu, kukira
ayahnya Saladin. Ternyata bukan. Setelah itu apa yang terjadi?
Saladin lari
tunggang-langgang! Ya Allah. Apa dia mengira pulangnya jalan kaki juga? Daku langsung
menyusul naik sepeda motor tapi belum ketemu. Sampai rumah hanya ada ayahnya
Saladin dan kuceritakan ke beliau yang sebenarnya.
Kok tidak WA atau
telepon ayahnya? Jadi HP beliau lagi error saudara-saudara. Intermezzo duluuu
biar gak tegang.
Kembali ke cerita,
setelah itu ayahnya Saladin ikut bantu cari bocah dengan berjalan kaki. Sementara
daku naik motor dengan harap-harap cemas. Sekitar 10 menit kemudian mbahnya
Saladin menelepon, mengabari kalau dia sudah kembali.
ALHAMDULILLAH.
Ternyata Saladin haus
lalu dia cari minuman di luar. Tapi lupa tidak pamitan. Ya Tuhan! Masalahnya dulu
waktu dia TK pernah hilang juga dan ketemunya di toko kue di perumahan sebelah.
Read: Saladin hilang
Ketika kembali ke rumah
mama, beliau langsung memperingatkan untuk tenang, Saladin jangan dimarahi. Daku
Cuma bisa nangis sambil memeluknya. Jangan diulangi ya!
Setelah kejadian ini
daku jadi tidak bisa mempercayainya untuk jaga rumah. Meski Saladin sudah jadi
anak SMP tapi karena masuk kategori anak berkebutuhan khusus (ADHD) maka treatment-nya berbeda. Kemudian sang
guru yang kuceritakan tentang ini memberi usul: di baju dan tasnya diberi kartu
identitas berisi nama, alamat, dan nomor HP.
Memang punya anak
spesial itu sangat-sangat menguji kesabaran. Semoga ini kejadian terakhir dan
Saladin sadar kalau dia tidak boleh seenaknya kabur, atau pergi tanpa pamitan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar