Selasa, 10 Februari 2026

Tolong, Saladin Kabur Lagi!

 

Apa yang ditakutkan oleh seorang ibu? Ketika sang anak tidak ada di pelukannya, di jam yang seharusnya. Itulah yang kurasakan minggu lalu ketika SALADIN HILANG DAN RUMAH KOSONG. TIDAAK!



Jadi, begini ceritanya pemirsa. Malam itu ada peringatan nisfu Sya’ban di masjid dekat rumah. Daku datang pas maghrib (karena acaranya habis maghrib). Saladin sudah 13 tahun jadi dia biasa jaga rumah (dan sudah sering begini). Kebetulan pas ayahnya ada acara di luar dari sore hari.

Habis isya’ acara selesai dan daku langsung pulang. Tapi kesenangan berubah jadi kesedihan karena Saladin tidak ada di rumah. Bawa HP-ku pula. Alamak, di mana anakku?

Pencarian Dimulai

Memang sorenya Saladin bilang ingin cooling down di daerah dekat warung tetangga. Tapi kucari di sana gak ada. Keliling perumahan juga gak ada. Di toko tetangga yang lain juga gak ada (dia hobi beli jajan di sana).

Alhamdulillah ada kabar baik karena omnya Saladin (adikku yang kedua) datang naik sepeda motor. Dia mengabari kalau si bocah ke rumah mbah utinya (mamaku) dengan berjalan kaki. Padahal jaraknya lumayan, hampir 3 kilometer. Ya Tuhan!

Saladin bilang ke mbah utinya kalau dia mau menginap. Oleh karena itu sang om datang dan ingin mengambilkan baju ganti. Yaa jelas kutolak karena besoknya kan sekolah.

Dengan panik daku naik ke boncengan motor sambil bertanya, bagaimana keadaan Saladin. Ternyata dia baik-baik saja. Namun kelaparan karena habis mudik jalan (atau setengah berlari?) lalu dengan lahap makan nugget dan mie pangsit yang dihidangkan oleh omnya.

Bunda Saladin Mengamuk

Ketika sampai di rumah mama, daku langsung ke lantai 2 (karena hafal, pasti Saladin lagi main game di kamar omnya. Daku langsung ngamuk karena khawatir dia hilang. Bagaimana bisa tenang kalau anaknya lari malam-malam, dan sepanjang jalan ada 2 kuburan yang dilewati? Jalannya ramai pula.

Beneran gaeees jangan kira daku orangnya sangat penyabar. Sesekali Bunda Saladin bisa ngamuk apalagi kalau situasinya chaos. Tentu saja kalau marah juga hanya menaikkan volume suara, tidak main tangan.

Hilang Lagi

Saladin habis kumarahi cuma cengar-cengir lalu malah turun ke lantai 1. Lalu kemudian ada tamu, kukira ayahnya Saladin. Ternyata bukan. Setelah itu apa yang terjadi?

Saladin lari tunggang-langgang! Ya Allah. Apa dia mengira pulangnya jalan kaki juga? Daku langsung menyusul naik sepeda motor tapi belum ketemu. Sampai rumah hanya ada ayahnya Saladin dan kuceritakan ke beliau yang sebenarnya.

Kok tidak WA atau telepon ayahnya? Jadi HP beliau lagi error saudara-saudara. Intermezzo duluuu biar gak tegang.

Kembali ke cerita, setelah itu ayahnya Saladin ikut bantu cari bocah dengan berjalan kaki. Sementara daku naik motor dengan harap-harap cemas. Sekitar 10 menit kemudian mbahnya Saladin menelepon, mengabari kalau dia sudah kembali.

ALHAMDULILLAH.

Ternyata Saladin haus lalu dia cari minuman di luar. Tapi lupa tidak pamitan. Ya Tuhan! Masalahnya dulu waktu dia TK pernah hilang juga dan ketemunya di toko kue di perumahan sebelah.

Read: Saladin hilang

Ketika kembali ke rumah mama, beliau langsung memperingatkan untuk tenang, Saladin jangan dimarahi. Daku Cuma bisa nangis sambil memeluknya. Jangan diulangi ya!

Setelah kejadian ini daku jadi tidak bisa mempercayainya untuk jaga rumah. Meski Saladin sudah jadi anak SMP tapi karena masuk kategori anak berkebutuhan khusus (ADHD) maka treatment-nya berbeda. Kemudian sang guru yang kuceritakan tentang ini memberi usul: di baju dan tasnya diberi kartu identitas berisi nama, alamat, dan nomor HP.

Memang punya anak spesial itu sangat-sangat menguji kesabaran. Semoga ini kejadian terakhir dan Saladin sadar kalau dia tidak boleh seenaknya kabur, atau pergi tanpa pamitan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar