Minggu, 20 November 2022

Ketika Anakku Takut Gemuk

 

“Bundaa, aku gemuk ya?”

Saladin tiba-tiba membuka kaosnya lalu menunjukkan perutnya. Sebenarnya tidak ada masalah, perutnya terlihat normal dan tak menggelembung. Namun tiba-tiba ia takut gemuk dan memutuskan untuk lebih sering berolahraga (dengan lari keliling rumah).



Oalah, setelah masuk masa pre teen, Saladin yang sekarang berusia 10 tahun punya kekhawatiran kalau badannya gemuk. Padahal berat badannya antara 24-25 KG dan masih normal untuk ukuran anak seusianya. Memang sih pipinya chubby dan sering daku gemesin, tetapi mengapa dia takut dibilang gemuk?

My Own Fault

Daku pun sadar ternyata dia takut gemuk karena kesalahanku sendiri sebagai bundanya yang kadang menggodanya dengan panggilan, NDUT. Anak chubby, anak gemes, baby bondut (bocah gendut imut-imut) adalah panggilannya di rumah.

Mengapa aku malah mem-bully anakku sendiri? Hiks.

Tanpa sadar aku merundungnya dan semoga ini terakhir kali aku memanggilnya baby chubby. Memang sewaktu bayi, Saladin badannya besar. Lahirnya sih Cuma 3,1 KG. Namun ASI-nya lancar banget, sampai saat berusia 5 bulan, BB-nya 8,3 KG.

Ketembemannya bertahan sampai balita, apalagi ia hobi ngemil. Namun saat masuk SD ia meninggi sehingga kelihatan agak kurusan. Akan tetapi aku masih iseng menyebutnya chubby walau tembemnya berkurang.

Maafkan Bunda sayang ... sebagai orang yang melahirkanmu malah tanpa sadar merundungmu, saking gemesnya.

Cara Mengembalikan Kepercayaan Dirinya

Mulai hari ini aku berjanji untuk tidak memanggilnya chubby dan panggilan lain yang membuatnya takut gemuk. Aku lebih sering meminta maaf kepadanya, terutama saat akan tidur.

Untungnya Saladin enggak terlalu lama merasa bahwa dirinya gemuk lalu menarik diri, murung, dll. Atau malah tantrum seperti dulu, sampai gulung-gulung di lantai dan membenturkan kepalanya ke ubin. Ia bergaul seperti biasa di sekolah, bermain, belajar, dan bergembira.

Namun aku harus mengembalikan kepercayaan dirinya. Dengan lebih sering mencium dan memujinya. Mengatakan bahwa ia tampan, bagaimanapun rupa dan bentuk tubuhnya.

Anak yang percaya diri berarti diberi kepercayaan oleh orang tuanya. Diberi kesadaran bahwa ia berharga, apapun kondisinya. Orang tua yang dengan tulus menerimanya, menyayanginya, mencintainya tanpa batas, dan meminta maaf atas kesalahannya.

Pernahkah anakmu merasa kurang percaya diri?

11 komentar:

  1. Anak abege udah mulai perhatian sama penampilan ya mbak. Anakku yg abege juga apalagi cewek kan setelah mens dia melebar. Tiap hari ngeluh gendut tp ngemil ga berhenti. Parahmya setelah masuk.po dok malah makin gendut geli juga sib liatnya tapi aku ga maksa yg pentinf dia happy dan jangan sampe obesitas aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya biasanya kalo udah ABG selera makannya juga bertambah

      Hapus
  2. Wah anak ABG ternyata sama ya
    Nggak cowok nggak cewek
    Sangat aware dengan penampilan
    Anakku juga gini ya sulung mbak
    Mulai jaga makanan, nggak mau gendut katanya

    BalasHapus
  3. Pernah dulu habis potong rambut, Bio berasa potongan rambutnya jelek. Udah dipuji-puji tetep aja nggak pede. Terus biar mengalihkan perhatian, kita beli es krim.

    Pas beli es krim, ga ada angin ga ada hujan, tiba2 Bio nanya ke ibu yang jual es krim, "Rambutku bagus?"

    Spontan si ibu bilang, "Oh bagusss," dan kami pun ketawa melihat polah anak ini. Giliran mak n bapaknya muji, ga percaya. Malah percayanya ama orang lain. Wkwkwkwkwk.... .

    BalasHapus
  4. Tanpa sengaja kadang orang dirumah sendiri yang menurunkan kepercayaan diri seorang anak ya. Harus bisa mengevaluasi situasi perasaan anak tidak semua nyaman dipanggil si Ndut atau panggilan lainnya di rumah. Yang merupakan panggilan sayang malah jadi menurunkan kepercayaan diri anak

    BalasHapus
  5. Wah aku malah pengen banget bisa menambah berat badanku yang tidak kunjung naik-naik ini, sudah makan berkali-kali setiap hari tapi berat badanku hanya segitu-gitu saja. Tapi mungkin yang bikin gak enaknya memang saat dipanggil seperti itu sih, jangan diulangi lagi deh pokoknya hhi

    BalasHapus
  6. Huwwaaa, kita sama mbak.
    Suka gak sadar merundung saking gemesnya dengan 'keempukan' tubuh mereka.
    Mudah-mudahan ndak kita ulangi ya.
    Percaya diri anak-anak, sumber terbesarnya ya dari kita para orang tua, yang terus menerus meyakinkan mereka, mereka yang terbaik sesuai kondisi mereka sendiri.

    BalasHapus
  7. ya Allah aku kadang juga masih memanggil anak ku begitu :(( sebenernya kata chubby, gemuk, kurus, dan ungkapan fisik juga bisa menjadi toxic untuk anak ya, hiks. bundanya harus lebih selektif memilih kata. jangan sampai kata yang terucap masuk ke pikiran anak dan mengganggu rasa perca dirinya. noted.

    BalasHapus
  8. Ini reminder juga buatku mba. Krn akupun suka manggil pake panggilan gemas ke si adek, 'ndut'. Padahal si adek itu justru msh underweight menurut dokter. Ttp aja aku salah sih kalo manggil dia begitu.

    So far memang si adek ga protes, tapi mungkin Krn dia msh kecil. Bisa jadi kalo udah seumur Saladin, dia bakal mikir. Jadi mulai skr, memang ga boleh manggil ke anak2 pake Kata2 yg memang negatif kebanyakannya.

    BalasHapus