Selasa, 02 Juli 2024

Anak Minta Beli Mainan, Yay or Nay?

 

Bunda, aku mau mainan! Seringkah ananda merengek-rengek minta beli mainan? Apalagi kalau pas jalan-jalan ke mall lalu ada yang jual boneka, robot-robotan, atau yang lain.

Yang paling pusing itu kalau dia sudah paham marketplace lalu paham kalau di sana ada lebih banyak mainan yang dijual. Mulai dari puzzle, kereta plastik, kuda-kudaan, dll. Kudu diproteksi aplikasinya, jangan sampai dia asal mencet lalu beli dengan cara COD, alamak!

Daku yang Pelit Kalau Belikan Mainan

Sebagai anak-anak (11 tahun) Saladin termasuk jarang kubelikan mainan, dan dia paham kalau bundanya cenderung pelit. Lah, sama anak sendiri kok medit? Memang!



Kalau masalah beli mainan daku agak garang karena dulu Saladin tipe anak aktif yang suka meremas-remas barang sampai rusak. Bayangkan saja, sebuah mainan akan berakhir nasibnya di tempat sampah, padahal usianya baru beberapa jam. Percuma dibelikan kalau ujung-ujungnya dibuang!

Beli Buku atau Baju Saja

Jadi, daripada beli mainan daku ngajarin Saladin untuk beli barang lain saja. Misalnya buku, majalah anak-anak, atau baju. Toh mainan semahal apapun akan rusak, jadi mubazir banget.



Untungnya Saladin sudah mengerti dan mulai jarang tantrum kalau permintaannya tidak dikabulkan. Kalau dulu? Aduh! Tiap ke minimarket selalu minta beli robot-robotan yang berbentuk alfabet atau nomor. Sekarang sih dia cuma lihat dan megang saja, karena paham kalau tidak akan dibelikan.

Bikin Mainan Sendiri

Nah, suatu hari Saladin minta beli robot-robotan (tokoh kartun dari Korea Selatan). Setelah kulihat harganya lumayan juga. Kurang tahu juga itu merchandise asli atau palsu.



Karena kekeuh tidak mau membelikannya mainan maka daku bikinkan sendiri. Ambil kardus bekas, lubangi bagian kanan dan kirinya, lalu dilapisi kertas warna biru. Baru dihias. Jadilah kostum robot sederhana dan saat dia memakainya…biasa saja. Biarlah dia mengerti bagaimana rasa kecewa.

Boleh Beli Mainan tapi Ada Syaratnya

Tapi ada kalanya Saladin kubelikan mainan dengan banyak syarat dan ketentuan. Misalnya, harga masih reasonable. Jadinya dia beli mainan robot plastik murahan, yang harganya cuma 5.000 rupiah.



Syarat lain adalah mainan yang dibeli harus bisa dijadikan alat stimulasi. Misalnya puzzle atau catur. Saladin jadi senang karena punya mainan baru, sekalian asah otak dan mengembangkan daya nalarnya.

Mainan Sebagai Hadiah

Kalian setuju kalau anak-anak diberi hadiah ulang tahun atau kado naik kelas berupa mainan? Sebenarnya ini kebijakan masing-masing orang tua ya. Memberi sesuatu pada anak (sebagai bentuk kasih sayang) boleh-boleh saja. Namun tetap saja harus sesuai budget dan tidak boleh berlebihan.



Berlebihan? Iyaa soalnya ada tuh mainan yang harganya sampai jutaan rupiah. Sebagai kaum mendang-mending, bukannya lebih baik uang tersebut dibelikan ensiklopedi atau laptop untuk mendukung belajar anak? Jadi harga mainannya tidak usah mahal-mahal lah, apalagi kalau anaknya mudah bosan.

Ingat ya, jangan belikan anak mainan atau barang lain hanya karena faktor balas dendam. Dulu saat kecil kita pernah hidup susah, lalu ketika mulai ada peningkatan secara ekonomi, anak-anak jadi dibelikan apa saja, termasuk mainan mahal. Lho, kok begini? Sudah tidak sehat karena termasuk pemanjaan yang berlebihan.

Negosiasi dengan Kakek dan Nenek

Satu lagi yang menjadi ganjalan saat mendisiplinkan anak dalam beli mainan adalah kakek dan nenek. Memang agak susah, apalagi kalau masih hidup serumah. Bundanya tegas tidak membelikan, eh kakeknya diam-diam membelikan mainan seharga ratusan ribu rupiah.



Jalan tengahnya adalah rayuan kepada kakek dan nenek. Coba mereka diberi pengertian kalau sebenarnya anak tidak butuh mainan mahal. Lebih baik uangnya dimasukkan tabungan.

Bagaimana, dikau setuju kalau anak tidak usah dibelikan mainan mahal atau malah sebaliknya? Intinya jangan jadi orang tua yang terlalu memanjakan dan membebaskan anak, apalagi dalam membeli barang-barang tersier seperti mainan. Kalau mainan edukasi toh bisa beli buatan lokal (yang harganya terjangkau) atau sewa saja, untuk antisipasi jika anaknya tipe pembosan.

 

6 komentar:

  1. bagus sarannya kak. memang sebaiknya kita membatasi mainan anak dan menggantinya dengan kegiatan lain juga.

    BalasHapus
  2. Betul tuh kalau tinggal sama Kakek-Nenek harus kompak, jadi anaknya gak bingung kok gak konsisten parentingnya :D Dibelikan buku, baju mainan edukatif juga ide bagus.

    Kalau pengalamanku, ortu justru melarang membeli mainan murah karena gak awet. Jadi waktu masih kecil kalau ke toko ya beli yang bagus sekalian. Setiap gaya parenting pasti ada plus minusnya. Nilai plus dari parenting ortuku sekarang setelah dewasa kerasa “manfaatnya”. Mainan-mainanku dulu sekarang masih ada dan beberapa ada yang ditawar karena sudah masuk rare. Salah satu Barbie ku ada yang nawar dengan harga jutaan.

    Jadi mau royal membelikan anak mainan atau gak, gak ada benar atau salah. Yang penting sesuaikan dengan kemampuan. Karena tujuan ortu pasti sama, gak ingin anaknya konsumtif tapi tetap punya masa kecil yang indah :)

    BalasHapus
  3. Membelikan mainan untuk anak mutlak keputusan orang tua. Tidak ada yang benar atau salah.

    BalasHapus
  4. Negoisasi dengan kakek dan nenek itu perlu banget sih. Karena biasanya, dari merekalah sebagian besar sumber mainan berasal.

    Padahal, membeli mainan juga perlu aturan main. Kayak, apakah mainannya bisa menstimulasi motorik anak atau pemikirannya.

    BalasHapus
  5. Negosiasi dengan kakek nenek tuh yang paling sulit. Mereka suka gak tegaan kalau lihat cucunya tantrum minta mainan.

    Kalau saya sebagai tantenya biasanya suka ngajakin main di kebun sambil mengajari cara menyapu dan cabut rumput sambil mengenalkan beberapa tumbuhan dan hewan ternak. Cukup ampuh buat ponakanku yang memang senang main di luar rumah.

    BalasHapus
  6. Samaa aku juga jarang belikan anakku mainan apalagi yang mahal soalnya anakku juga nggak awet sama mainan. Dipakai sekali dua kali eh hancur

    BalasHapus