Hari rabu adalah hari yang menyenangkan buat Saladin karena ada cooking class. Iyaa, semua murid diajak memasak pas rabu (3 minggu sekali) gantian dengan craft day dan sport day. Menu kali ini adalah sate ayam dan es teh susu.
Saladin kebagian tugas bawa dada ayam. Ada teman yang lain yang bawa kecap, bumbu, teh, dll. Para murid juga bawa bekal nasi (tapi bocahku minta dibawakan nasi goreng). Mereka makan sate dengan gembira, dan Saladin juga dengan bangga bercerita kalau dia bantu bunda gurunya mengaduk es teh susu.
Sekolah yang Aneh
Setelah kegiatan memasak selesai, di grup wali murid di-share foto dan videonya. Daku juga repost fotonya di sosmed. Namun sayang sekali ada yang berkomentar ‘sekolah kok hanya bakar sate’? Karena Saladin ada di SD, bukan di SMK jurusan tata boga.
Bukan sekali ini Saladin dianggap belajar di sekolah yang ‘aneh’. Memang masih ada yang belum paham konsep sekolah alam. Atau belum banyak juga sekolah yang punya kegiatan cooking class.
Pentingnya Mengajari Anak Memasak
Padahal penting banget lho mengajari anak memasak karena ini basic skill. Minimal bisa menanak nasi di rice cooker, bikin teh dan kopi, lalu masak telur mata sapi atau dadar. Kalau anak bisa masak dan didampingi oleh guru kok malah dianggap aneh?
Cooking class di sekolahnya Saladin sudah diadakan beberapa kali (setelah pandemi selesai). Dia pernah praktek bikin roti bakar, es markisa, dan berbagai hidangan lainnya.
Baca: Anak Laki-Laki Memasak, Emang Bisa?
Wajib Bersih—Bersih Juga dong!
Selain kelas memasak, Saladin juga dianggap ‘ajaib’ karena sekolah di tempat yang menekankan kebersihan. Ada piket tiap hari, Saladin biasanya kebagian tugas menyapu lantai mushala sekolah (meski awalnya dikawal oleh bunda guru). Kegiatan ini dinamakan ‘belajar lapangan’.
Bersih-bersih bukan sekadar tidak buang sampah sembarangan. Namun juga memastikan semuanya rapi dan bersih. Kalau kata Bunda Wanda (kepala sekolah), belajar lapangan itu penting untuk mengajarkan tanggung jawab ke para murid. Jadi kelak saat dewasa mereka lebih rajin dalam bekerja.
Pembelajaran di Sekolah Alam yang Berbeda dari Sekolah Konvensional
Memang pembelajaran di sekolah alam beda jauh dengan sekolah konvensional karena lebih banyak praktek daripada teori. Misalnya untuk kelas science ya yang dipegang tumbuhan yang asli, bukan foto yang ada di buku. Saladin juga pernah wisata ke pasar hewan dan tanaman lalu dijelaskan oleh bunda-bunda gurunya.
Sekolah yang Sesuai dengan Visi dan Misi Parenting Orang Tua
Jadi, kalau ada yang heran dan tanya kok sekolah hanya diajari bakar sate? Atau di sekolah malah nyapu melulu, daku senyumin aja. Karena dari kegiatan-kegiatan di sekolah sangat sesuai dengan visi dan misi parenting orang tua.
Selain tentang kebersihan, daku suka dengan konsep rajin beberes untuk mengarahkan anak dalam bertanggung jawab. Hasilnya, Saladin jadi memiliki inisiatif yang tinggi. Habis makan nasi goreng dan sate, dia cuci kotak bekalnya sendiri. Di lain hari dia juga tanggap dalam membantuku mengambil baju yang sudah kering di jemuran.
Sekolahnya Saladin memang berbasis karakter. Yang perlu diingat, belajar bisa dari mana saja dan dari kegiatan yang tampak ‘remeh’ seperti membakar sate. Belajar tak melulu dari buku karena anak-anak juga wajib untuk mempraktekkannya.




















