Jumat, 09 Agustus 2024

Sekolah kok Hanya Bakar Sate dan Bersih-Bersih?

 

Hari rabu adalah hari yang menyenangkan buat Saladin karena ada cooking class. Iyaa, semua murid diajak memasak pas rabu (3 minggu sekali) gantian dengan craft day dan sport day. Menu kali ini adalah sate ayam dan es teh susu.


 

Saladin kebagian tugas bawa dada ayam. Ada teman yang lain yang bawa kecap, bumbu, teh, dll. Para murid juga bawa bekal nasi (tapi bocahku minta dibawakan nasi goreng). Mereka makan sate dengan gembira, dan Saladin juga dengan bangga bercerita kalau dia bantu bunda gurunya mengaduk es teh susu.

Sekolah yang Aneh

Setelah kegiatan memasak selesai, di grup wali murid di-share foto dan videonya. Daku juga repost fotonya di sosmed. Namun sayang sekali ada yang berkomentar ‘sekolah kok hanya bakar sate’? Karena Saladin ada di SD, bukan di SMK jurusan tata boga.

 


Bukan sekali ini Saladin dianggap belajar di sekolah yang ‘aneh’. Memang masih ada yang belum paham konsep sekolah alam. Atau belum banyak juga sekolah yang punya kegiatan cooking class.

Pentingnya Mengajari Anak Memasak

Padahal penting banget lho mengajari anak memasak karena ini basic skill. Minimal bisa menanak nasi di rice cooker, bikin teh dan kopi, lalu masak telur mata sapi atau dadar. Kalau anak bisa masak dan didampingi oleh guru kok malah dianggap aneh?


 

Cooking class di sekolahnya Saladin sudah diadakan beberapa kali (setelah pandemi selesai). Dia pernah praktek bikin roti bakar, es markisa, dan berbagai hidangan lainnya.

Baca: Anak Laki-Laki Memasak, Emang Bisa?

Wajib Bersih—Bersih Juga dong!

Selain kelas memasak, Saladin juga dianggap ‘ajaib’ karena sekolah di tempat yang menekankan kebersihan. Ada piket tiap hari, Saladin biasanya kebagian tugas menyapu lantai mushala sekolah (meski awalnya dikawal oleh bunda guru). Kegiatan ini dinamakan ‘belajar lapangan’.

 


Bersih-bersih bukan sekadar tidak buang sampah sembarangan. Namun juga memastikan semuanya rapi dan bersih. Kalau kata Bunda Wanda (kepala sekolah), belajar lapangan itu penting untuk mengajarkan tanggung jawab ke para murid. Jadi kelak saat dewasa mereka lebih rajin dalam bekerja.

Pembelajaran di Sekolah Alam yang Berbeda dari Sekolah Konvensional

Memang pembelajaran di sekolah alam beda jauh dengan sekolah konvensional karena lebih banyak praktek daripada teori. Misalnya untuk kelas science ya yang dipegang tumbuhan yang asli, bukan foto yang ada di buku. Saladin juga pernah wisata ke pasar hewan dan tanaman lalu dijelaskan oleh bunda-bunda gurunya.

Sekolah yang Sesuai dengan Visi dan Misi Parenting Orang Tua

Jadi, kalau ada yang heran dan tanya kok sekolah hanya diajari bakar sate? Atau di sekolah malah nyapu melulu, daku senyumin aja. Karena dari kegiatan-kegiatan di sekolah sangat sesuai dengan visi dan misi parenting orang tua.


 

Selain tentang kebersihan, daku suka dengan konsep rajin beberes untuk mengarahkan anak dalam bertanggung jawab. Hasilnya, Saladin jadi memiliki inisiatif yang tinggi. Habis makan nasi goreng dan sate, dia cuci kotak bekalnya sendiri. Di lain hari dia juga tanggap dalam membantuku mengambil baju yang sudah kering di jemuran.

Sekolahnya Saladin memang berbasis karakter. Yang perlu diingat, belajar bisa dari mana saja dan dari kegiatan yang tampak ‘remeh’ seperti membakar sate. Belajar tak melulu dari buku karena anak-anak juga wajib untuk mempraktekkannya.

Rabu, 07 Agustus 2024

Membaca Kembali Ayat-Ayat Cinta dari Sudut Pandang yang Berbeda

 Ayat-ayat Cinta? Novel tahun berapa ini? Bukunya emang sudah terbit sejak lama dan sudah difilmkan juga. Namun enggak ada salahnya dibaca ulang. BTW daku suka aja sih baca buku lawas, termasuk buku-bukunya Enid Blyton yang diterbitkan tahun 50 dan 60-an.



Kembali ke Ayat-Ayat Cinta. Berkat novel ini nama Habiburrahman El Shirazy langsung viral dan bukunya sukses berkali-kali dicetak ulang. Memang isinya apaan? Jangan nonton filmnya dulu karena kemiripan hanya sekitar 75%, mending baca bukunya dulu.

Review Novel Ayat-Ayat Cinta

Ada pemuda bernama Fahri yang sedang kuliah di Mesir. Dia semangat untuk menyelesaikan thesis-nya dan masih nyambi kerja freelance jadi penerjemah buku. Kesempatan belajar di luar negeri enggak boleh disia-siakan karena orang tuanya menjual sawah warisan satu-satunya sebagai modal keberangkatannya.

                               Fahri

Fahri tinggal bersama sesama mahasiswa Indonesia dan dia bertetangga dengan Maria. Gadis ini cantik dan cerdas serta terang-terangan naksir Fahri.

                                                Maria

Akan tetapi si Fahri malah berjodoh dengan Aisha, gadis yang pernah ditolong saat hampir jadi korban bullying di kendaraan umum. Ada Nurul, mahasiswi asal Indonesia yang juga patah hati karena dia diam-diam jatuh cinta dengan Fahri.

Maria shock mendengar kabar pernikahan Fahri lalu dia sakit dan koma. Sementara Fahri sendiri berjuang untuk hidup karena menjadi korban fitnah kejam, dituduh memperkaos Noura. Padahal dia yang menolong gadis itu. Kemudian dia harus merasakan dinginnya penjara.

                           Aisha

 Ending-nya baca sendiri yaa. Yang jelas happy ending walau ada rasa nyesek.

Fahri Enggak Se-Red-Flag Itu

Entah mengapa nama Fahri viral lagi beberapa bulan ini. Dia dianggap sebagai pria red flag, playboy, gara-gara disukai banyak wanita. Tuduhan lain cari saja di mbah Google ya, yang jelas nama penulis buku ini juga kena kok.



Padahal Fahri menurutku tidak se-red flag itu. Buktinya dia mau menolong Noura malam-malam. Walau ending-nya kena fitnah. Mengapa sih kok dia malah ikut campur urusan orang? Apalagi posisinya adalah pendatang dan belum tahu hukum yang berlaku di negara lain.

Bisa jadi Fahri adalah orang yang tidak tegaan sehingga dia meminta tolong Maria untuk menolong Noura. Bagaimana jika kalian ada di posisinya? Melihat gadis menangis di pinggir jalan dan di tengah malam?

Tokoh yang Terlalu Sempurna?

Banyak juga yang bilang kalau Fahri adalah tokoh yang terlalu sempurna. Ganteng, pintar, soleh. Bagiku yaa namanya novel, fiksi, rekaan, wajar kalau penulisnya bikin karakter seperti ini. Mungkin ada Fahri di dunia nyata tapi enggak viral aja.

Jadi gimana, kalian masih mau baca novel Ayat-Ayat Cinta apa nonton filmnya?

Selasa, 06 Agustus 2024

Nak, Jangan Body Shaming ya!

 

Kemarin daku berselancar di X (Twitter) lalu baca tweet berisi curhatan dari seorang penulis novel. Beliau cerita kalau pernah lihat ulasan novelnya. Namun bikin nyesek karena yang dikomentarin bukan isi ceritanya, alurnya, tapi bentuk fisik penulisnya. Katanya, si penulis bikin cerita tentang cewek cantik karena dia terobsesi jadi cantik, sementara fisik penulis tidak seperti itu.

Hah? Kok bisa sih? Daku sudah baca banyak review novel di blog atau tempat lain, tidak ada yang melakukan body shaming. Ini gile bener sih, siapa yang sotoy dan mengomentari wajah dan kekurangan fisik si penulis? 

                                 Pexels
 

Setelah baca curhatan itu daku jadi mikir, kok bisa ya ada orang yang tega melakukan body shaming? Jangan sampai Saladin dan anak-anak lain melakukan tindakan tercela seperti ini. Tugas kita sebagai orang tua harus tegas dalam mendidik agar mereka tak body shaming dengan cara-cara ini:

Memberi Contoh yang Baik

Tahun 2017 daku pernah terpaksa pindah di sebuah rumah yang berada di perkampungan (sekarang sih udah pindah). Sayang sekali lingkungan di sana enggak banget. Anak-anak biasa dipanggil dengan sebutan yang buruk, bahkan ibu kandungnya sendiri juga nge-bully.

Ada ibu lain yang bahkan menyebut anaknya ‘hitam’ dan membandingkan dengan Saladin yang kala itu masih berkulit putih. Daku cuma bengong dan merasa enggak enak sendiri.


 

Beneran yaa lingkungan tuh berpengaruh banget dan karena circle anak terdekat adalah keluarga, kita sebagai orang tua wajib memberi contoh yang baik. Kebanyakan orang dewasa yang suka mem-bully, dia pernah jadi korban cemoohan juga. Jadi menganggap kalau bullying adalah hal biasa, sedih deh.

Apa susahnya berkata baik ke anak-anak? Bukankah Nabi pernah bersabda berkata baik atau diam. Bagaimana anak bisa ngomong yang baik kalau orang tuanya suka misuh, ngomel, emosi? Sebagai orang dewasa harusnya lebih kontrol diri.

Oleh karena itu kita tuh kudu selesai dengan diri sendiri alias menyembuhkan luka batin dan inner child. Kalau perlu pakai bantuan profesional seperti konselor keluarga / psikolog / psikiater. Kejadian buruk di alam bawah sadar bisa dihapus dan re-parenting diri sendiri, sehingga jadi orang tua yang lebih baik.

Mengajarkan Keberagaman pada Anak

Body shaming bisa terjadi ketika ada orang lain yang berbeda (baik warna kulit maupun bentuk fisiknya). Nah, oleh karena itu kita sebagai orang tua bisa mengajarkan keberagaman pada anak. Bahwa di dunia tidak hanya dihuni oleh orang yang berkulit putih dan berambut lurus. Akan tetapi ada yang kulitnya kuning langsat, cokelat tua, ada yang rambutnya keriting, dll.


 

Setelah melihat keberagaman (bisa lewat foto / video juga) maka anak juga diajari bahwa berbeda itu biasa. Jangan hanya menganggap bahwa wanita yang berkulit putih, langsing, tinggi, adalah cantik. Sementara yang lain tidak.

Belajar Menghormati Orang Lain

Anak juga wajib diajari untuk menghormati orang lain. Tak hanya guru / kepala sekolah / ustazah yang harus dihormati, tapi juga orang dewasa lain, bahkan teman-temannya juga. Jika mereka sudah tahu cara menyayangi dan menghormati pasti tidak akan mem-bully dan menghina fisik kawannya.

Jangan Terlalu Mengkritik

Pernah merasa stress karena punya orang tua yang sangat-sangat hobi mengkritik? Dikit-dikit ditegur, disalahkan, diatur warna bajunya, cara makannya, alamak! Jangan ditiru ya!


 

Anak yang punya orang tua pengkritik bisa meniru jadi pengkritik unggul. Mereka suka protes, ngomel, dan mencela orang lain. Jika menghina maka bisa berujung pada body shaming. Jangan terlalu suka mengkritik karena tidak ada manusia yang sempurna.

Nahh, jangan sampai anak jadi pelaku bullying dan body shaming dan mari asuh anak dengan penuh kasih sayang. Memang jadi orang tua itu tanggung jawabnya berat tapi dijalani saja dengan senang hati. Semoga anak-anak kelak jadi orang sukses, penuh kasih sayang, bertanggung jawab, dan tidak mudah untuk melakukan body shaming.

Jumat, 02 Agustus 2024

Cara Mengajari Anak untuk Menyelesaikan Masalah Sendiri

 Memecahkan dan menyelesaikan masalah? Eww bukan mengajari anak jadi detektif ya. Tapi kita sebagai orang tua tuh emang wajib mendidik anak-anak untuk jadi mandiri plus jadi problem solver.

Contohnya ketika anak ingin suatu jenis snack tetapi uang sakunya sudah habis. Bisa jadi kita pakai cara instan alias menambah uang sakunya. Namun kalau begini terus, anak bisa kurang kreatif dan menganggap orang tuanya adalah mesin ATM. Enggak mau kan?



Jadi memang anak wajib dilatih berpikir agar dia bisa menyelesaikan masalah. Otaknya juga kudu ‘diasah’. Begini caranya:

Uji Imajinasi

Teman-teman pernah baca rubrik uji imajinasi di sebuah majalah anak-anak? Ternyata bagus lho karena anak jadi diajak untuk memakai imajinasi dan menggunakan otaknya.

Untuk merangsang imajinasi maka salah satu caranya dengan membacakan buku, sejak anak masih bayi juga tidak apa-apa. Bahkan kalau bisa sejak dalam kandungan ya.



Jika imajinasi anak sudah terlatih maka dia bisa membayangkan, bagaimana jika dalam keadaan ‘terdesak’? Yang dimaksud ‘terdesak’ adalah misalnya ketika anak ingin beli kue tapi uangnya habis. Jadi dia bisa membayangkan bagaimana punya uang ekstra untuk mendapatkan keinginannya.

Anak bisa membayangkan uang datang dari mana? Bisa jadi dia punya ide untuk mengumpulkan uang koin yang berceceran di rumah (tapi harus izin dulu sebelum memakainya). Kemudian, dia juga punya ide lain untuk menjual jasa.



Misalnya dia bisa buka jasa menyemir sepatu, menyiram bunga, membuatkan simpul dasi, atau yang paling sederhana adalah mengantarkan barang (dengan catatan jaraknya masih relatif dekat dan terjangkau oleh sepeda). Dengan demikian anak bisa mendapatkan uang sendiri.

Membantu Permasalahan di Rumah

Apakah anak-anak selalu mager alias malas gerak saat di rumah? Mereka hanya main game atau nonton video, mumpung tidak ada PR dan ulangan. Sebaiknya diajak ya untuk membantu permasalahan di rumah.

Misalnya ketika gas habis sedangkan bunda takut memasangkan tabung gas. Maka anak diajak untuk berpikir agar bunda bisa lanjut masak. Dia bisa memberi usul, contohnya memasak menggunakan panci listrik atau magic com



Atau memanggilkan tetangga yang bisa dimintai tolong untuk memasangkan tabung gas.

Mengajari Berbagai Skill

IQ dan EQ memang wajib dijaga tapi mengajarkan keterampilan tambahan ke anak juga perlu. Kalau anaknya laki-laki bisa diajari skill memaku dan basic pertukangan, membelah kayu (untuk anak 12 tahun ke atas), mengecat tembok, dll.

Anak laki-laki juga wajib diajari skill memasak.  Minimal bisa menanak nasi, membuat mie instan, dan membuat telur ceplok / dadar. Karena memasak berguna untuk survival.


Read: Anak Laki-Laki Wajib Belajar Masak

Kalau anak perempuan? Mereka bisa diajarkan cara membuat kue, menjahit (manual alias dengan tangan), berkreasi dengan barang bekas, dll.

Jangan lupa ajarkan skill wajib (untuk anak perempuan maupun laki-laki) misalnya cara mengetik, membuat tabel dengan program di laptop, mengedit gambar pakai aplikasi, dll. Selain menambah skill juga bisa untuk killing time saat liburan.

Latihan Jualan

Kalau anak-anak sudah punya skill tambahan, saatnya latihan berjualan. Di sini enggak hanya jualan barang tapi juga jasa ya. Misalnya saat mau ke CFD, bunda beli minuman kemasan (di toko grosir) lalu dibawa dalam termos berisi es batu. Anak-anak yang berjualan keliling di sana.



Contoh lain adalah anak-anak bisa menawarkan jasa: membuatkan akun media sosial, bikin akun marketplace, atau memberi kursus privat (jika anak sudah SMP). Dengan cara ini maka mereka belajar untuk mencari uang sendiri sekaligus memecahkan masalah. Karena orang tua tidak bisa hidup selamanya, jadi memang dilatih sejak dini untuk mandiri.

Menonton Film / Baca Buku Detektif

Siapa suka baca novel detektif? Nah anak-anak selain dilatih untuk mencintai buku juga diajak untuk membaca novel atau komik bertema misteri / detektif. 



Atau, mereka diajak nonton film detektif. Gunanya untuk melatih otak agar mengetahui cara memecahkan misteri dan problem solving, serta mengasah logika.

Cara-cara untuk melatih anak bisa disesuaikan dengan usia mereka ya. Tentu untuk anak usia SD dengan SMP berbeda. Anak wajib dilatih untuk bisa problem solving agar bisa mengandalkan diri sendiri dan tidak dikit-dikit merengek. Namun, untuk kasus-kasus tertentu (misalnya saat mereka di-bully) ya diajarkan agar terbuka dan cerita ke orang tua sehingga yang menyelesaikan masalah adalah orang dewasa.