Rabu, 16 Oktober 2019

Super Busy Mom

Kemarin saya mengirim WA ke teman yang menguruskan domain blog ini dan alhamdulillah ternyata expired-nya baru Januari. Kata-kata teman masih terngiang, katanya sayang sekali blog ini sudah TLD tapi jarang diisi.

OK, saya akui memang belum jago membagi konsentrasi. BLog ini terbengkalai karena pekerjaan utama sebagai penulis di media lain, job menerjemahkan artikel, mengedit buku, dan tentu saja kerjaan utama saya adalah mengurus Saladin.

Belum lagi kalau mau nulis malah mikir dulu, keywordnya apa? Nulis apa biar viral? Akhirnya batal update blog, padahal sudah nyimpan banyak ide. Harusnya ditulis sekarang ya biar ada stok tulisan untuk blog. Eh sekarang malah wajib nulis minimal 2.000-an kata sehari buat sebuah proyek.

Kapan ngurus blognya atuh?

Blog belum beres urusannya, masih pengen nulis di Kompasiana, di media lain, wkwkwk. Banyak maunyaa. Ngerjain yang mana dulu? Belum lagi kudu beresin tugas nulis untuk 2 kelas yang diikuti.

Sabar, sabaar. Tahun depan Saladin pulang sekolah jam 2 siang. Jadi lebih banyak waktu nulis dan semoga selalu istiqamah untuk ngisi blog ini. Dulu nichenya gado-gado, sekarang mau beralih ke parenting saja. Ada banyak kejadian yang dialami Saladin yang mau dibagi di sini.

Tiba-tiba jadi ingat perkataan seorang kawan. Dia nulis di blog untuk dibaca dirinya di masa depan.

Tulisan spontan dan random gak pakai riset dan cari gambar, bikinnya cepet banget. Wkwkkww.

Cheers!


Selasa, 30 Juli 2019

Ayo Sekolah! Asyiknya Belajar di Alam Bebas


‘Mama, aku mau sekolah!’
Ucapan anakku di malam itu menarikku dari lamunan. Ah, akhirnya ia betah di sekolah barunya. Saladin belajar di tempat baru, setelah sempat dikeluarkan di sekolah lamanya – baca di sini-. Di mana sih sekolahnya, kok ia merasa betah, padahal baru masuk selama sehari? Apa harus pindah ke sekolah alam di Kota Malang, tempat kami tinggal?

Sekolah alam adalah jawaban untuk anak kinestatik seperti Saladin. Di sana, ia bisa lebih bebas belajar sambil mengeksplorasi alam sekitar. Jika ada sesi belajar di kelas, maka murid akan duduk di tempat yang tembok luarnya hanya ada setengah, jadi ruangannya semi terbuka.



Pertemuan kami dengan sekolah alam sebenarnya tidak sengaja. Awalnya, jika Saladin tidak dapat sekolah ya sudahlah, homeschooling saja di rumah. Saat buka Instagram, saya browsing dengan tagar sekolah alam, ternyata ada satu yang menarik hati. Apa nama sekolahnya?

Jawaban dari doa-doa kami itu bernama SANHIKMAH, salah satu Sekolah alam di kota Malang. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota, kalau naik motor kira-kira butuh waktu 30 menit . SANHIKMAH berada di sebuah perumahan yang berada di lereng gunung. Kalau mau ke sana ya, anggap saja mau piknik, karena melewati sawah dan pepohonan jati.


Di hari pertama sekolah, Saladin langsung tertarik dengan ayunan dan jungkat-jungkit yang ada di sana. Ini kan gedung SD, kok ada mainannya seperti di TK? Ternyata untuk anak kinestatik, sebaiknya mereka beraktivitas dulu sebelum belajar. Setelah puas, mereka akan lebih siap menyerap pelajaran. Well, ini bukan kata saya sih, tapi kata salah satu kawan yang mengajar di sebuah SD swasta dan punya beberapa murid kinestatik.

Saladin masuk di hari rabu, jadwalnya olahraga. Ada beberapa ban mobil bekas di sekolah. Saladin belajar cara menggelindingkan ban itu, lalu ia berlomba dengan teman-temannya. Senang rasanya melihat ia kembali tersenyum. Apakah olahraganya hanya seperti itu? Ternyata tidak.

Murid-murid yang bermain di sekolah alam di Kota Malang itu,  lalu diajak untuk ke mushola, salat dhuha dulu, baru mereka berangkat ke lapangan. Kami berjalan menuju salah satu lapangan yang ada di perumahan tersebut. Bagaikan mendaki gunung lewati lembah, jalannya naik turun dan ada yang terjal. Belum pelajaran olahraga udah keringatan :D.

Semua kelelahan terbayar dengan udara sejuk yang berembus di lapangan. Pagi yang cerah, matahari bersinar malu-malu. Saladin berkeliling sambil didampingi bu guru. Murid lain ada yang bermain sepakbola, lompat tali, ada yang naik gawang. Tak ada yang melarang mereka memanjat, yah namanya juga anak alam. Saat itu, saya langsung ingat tayangan Si Bolang.

Setelah olahraga, kami kembali ke sekolah. Murid-murid langsung selonjoran, ada yang ambil air putih dari dispenser, ada yang membaca buku di perpustakaan. Dalam hati saya bertanya, kapan belajarnya?


Ternyata kurikulum di sekolah alam memang beda. Tidak sekaku sekolah konvensional. Ada saat murid belajar di kelas, ada sat belajar langsung.  Misalnya belajar membuat gelembung sabun dari bahan yang ada di sekitar, belajar mengenal abjad dengan menggoreskan sisa bata di lapangan, dan lain-lain.

Salah satu yang membuat kami tertarik untuk menyekolahkan Saladin di SANHIKMAH adalah fasilitasnya, ada aquaponik,  kambing, dan tentu saja lokasi sekolahnya yang sejuk. Selain itu, guru-gurunya sangat ramah dan perhatian, dan kadang mengirim materi parenting lewat WA.


Tebak berapa yang harus saya bayar untuk menyekolahkan Saladin ke sana? Yang jelas, jauh lebih terjangkau daripada sekolah swasta lain. Jika belum punya seragam berupa kaos olahraga, pakai baju biasa juga tidak apa-apa.

Semoga Saladin betah belajar di SANHIKMAH, Sekolah alam di Kota Malang yang keren. Semua  pengalaman baru saat belajar di alam akan memperkaya pengetahuannya.


Senin, 29 Juli 2019

Saat Anakku Dikeluarkan Dari Sekolah, Rasanya ....

“Saladin tidak bisa diam di kelas dan tidak mau menuruti perintah guru. Dia juga tidak mau diajak berdoa sebelum pulang, lalu menangis dan menggigit tangannya sendiri. Maaf Bu, saya tidak sanggup menghadapinya.” 

Perkataan bu guru itu bagai palu godam di telinga. Anakku yang usianya 6 tahun 8 bulan ternyata belum bisa tertib seperti teman-temannya di kelas 1. Apakah aku memasukkan dia ke sekolah terlalu awal? Dia sepertiku, lahir di akhir tahun,  jadi saat akan daftar sekolah, umurnya nanggung.

Kenanangan terlempar ke hari pertama sekolah, Saladin merengek untuk minta ditemani saat upacara. Dia lalu bosan, menguap, jongkok, dan ... berlari kepadaku yang berbaris di sebelahnya, minta gendong. Kepalanya dimasukkan ke dalam kerudungku. Kurasa ini hanya sindrom hari pertama sekolah, jadi wajar kalau dia manja. Sayangnya, di hari kedua dan ketiga –menurut pengakuan gurunya- dia sering menangis dan tidak mau duduk diam di bangku.

Esoknya aku bertemu dengan ibu kepala sekolah. Kepsekpun berkata, “Maaf, sepertinya ananda Saladin belum siap emosinya untuk belajar di kelas 1. Dia terlalu banyak bergerak dan suka membikin gaduh di kelas. silahkan tarik berkasnya ’ Itu adalah ucapan halus dari ‘dikeluarkan’. Oh, tidaak! 

Rencanaku, Saladin akan kukembalikan untuk bersekolah di TK, tapi kata bu guru TK-nya sepertinya kemungkinan kecil ... Apa yang harus kulakukan, masih adakah masa depan baginya? 

Kutatap seragam merah putih yang melambai di jemuran. Ah, baju itu hanya sempat dipakai selama beberapa hari. Tangisku meledak. Kulihat sosok anak perempuan yang sedang tertunduk di pojokan, ketakutan di hari pertamanya sekolah. Ia berpura-pura sakit dan ingin pulang. Masa belajar di SD bukan waktu yang menyenangkan. Anak itu adalah ... diriku sendiri.


Mengapa pengalaman ini terulang, bahkan Saladin tidak betah sekolah di tempat yang konvensional? Yah, kutarik napas dan berpikir, mungkin dia memang belum siap secara mental. Jika tidak bisa sekolah lagi di TK, homeschooling saja lah.  Awal tahun depan baru cari sekolah lain yang kiranya cocok untuk anak tunggalku.

Ada wacana juga untuk memindahkannya ke sekolah alam, tapi hampir semua sekolah swasta sudah tutup pendaftarannya. Apakah harus ditunda setahun, baru dia bisa merasakan duduk di bangku SD? Semoga ada jalan terbaik.

Minggu, 14 Juli 2019

We Don't Know If We Don't Try

Kemarin saya mencoba bumbu instan terbaru dari suatu merek dan ternyata ... opornya pedas. Selain membeli bumbu, saya juga membeli mi instan dengan bonus keripik kentang dan rasanya juga pedas. Tuntas sudah rasa penasaran saya, walau lidah ini harus menyesuaikan diri dengan cabai bubuk yang mengigit.

Saat mencoba produk baru, kita bisa punya 2 kemungkinan: enak atau zonk. Kalau zonk seperti yang saya alami ya, disyukuri saja. Alhamdulillah si kecil Saladin tidak ikut mencicip karena belum kuat makan pedas. Ada alarm di dalam tubuh yang mengatakan kalau saya harus lebih teliti atau minimal mencari ulasannya di internet, sebelum mencoba produk baru.

Apakah setelah itu saya takut untuk mencoba produk baru? Jawabannya tidak. We don't know if we don't try. Rasa "takut gak enak", "takut pedas", dan lain-lain akan menggerogoti keberanian. Bukankah hidup lebih berwarna jika kita sering mencoba hal baru?

Kenangan saat saya berolahraga di lapangan Rampal muncul lagi dalam ingatan. Saat kuliah dulu, seorang kawan mengajak saya senam pagi di sana. Minggu pagi yang biasanya saya habiskan di dapur, akhirnya berganti jadi rutinitas berpeluh keringat sambil menyegarkan pikiran. Di sana bahkan saya bisa berkenalan dengan beberapa instruktur senam yang terus menyemangati untuk berolahraga, padahal sebelumnya saya merasa tidak pintar dalam cabang olahraga apapun. Saya tidak bisa berenang, main voli, atau tenis meja.

Saat menemukan senam aerobik sebagai olahraga favorit, saya merasa "ah, akhirnya aku juga bisa berolahraga." Jika saja saya tetap menonton televisi di minggu pagi atau mencoba resep baru, dan menolak ajakan kawan itu untuk senam, mungkin hidup akan begitu-begitu saja. Statis dan membosankan.

Ketika mencoba kegiatan baru, atau produk baru, sebenarnya kita sudah menaklukkan rasa penasaran dan memperkaya pengalaman. Jangan takut untuk mencoba hal baru, karena hidup akan jadi berwarna. Akhir minggu akan tersa lebih manis jika Anda memasak resep baru atau sekadar mencoba berbelanja di minimarket yang baru dibuka di dekat rumah.

Kamis, 11 April 2019

Anak Saya Hanya Satu, Memangnya Kenapa?

"Kapan Saladin punya adik?"
Pertanyaan ini sering banget terlontar dari mulut tetangga, dari teman SMP, dari banyaak orang.
Saya hanya bisa mesam-mesem. Basa-basi, ah! Paling mereka juga gak serius tanyanya. Herannya,
ada yang belum pernah ketemu, hanya kenal via WA, juga bertanya hal yang sama, Gubrak!
Seolah-olah punya anak tunggal adalah sebuah dosa..
Jauh sebelum nikah, saya memang hanya ingin punya 1 anak. Untung suami juga setuju.
Naasnya, punya anak 1 saja jadi membuat sang ibu dicap macam-macam:
1. Malas Mengasuh
"Mengasuh 1 anak kan gampang, pasti ibunya malas punya anak banyak!".
Saya tertawa aja kalau ada yang berkomentar seperti itu. Mengasuh 1 anak atau 11 anak sama saja,
pasti capek. Tantangannya juga beda-beda.
2. Pelit

Ya, punya 1 anak memang bisa menghemat uang untuk beli susu, bayar SPP sekolah juga hanya untuk
1 orang, tapii...Dikatain PELIT, hahahaha! Biarin saja deh, mereka juga gak ikut bayarin uang jajannya
Saladin.
3. Terlalu Mikir Duniawi
Suatu ketika, saya bilang di sebuah grup WA, kalau punya 1 anak membuat saya bisa fokus kerja.
Kalau misalnya Saladin punya adik bayi, berarti pas dia sekolah saya gak bisa nulis dong!
Harus menggendong, mandiin endebre-endebre. Eh malah dibilang gak mikir akhirat, karena punya
anak banyak itu bisa membuat sanga ibu otomatis masuk surga. Ha, no comment wis..

Selama ini ya selow aja kalau ada yang ikutan berkomentar seperti itu. Buat apa emosi?
Toh saya yang menjalaninya. Ayah Saladin juga gak pernah nyuruh saya lepas KB. Padahal kami
berasal dari keluarga besar. Saya 4 bersaudara dan beliau malah 6 bersaudara. Punya 1 anak membuat
kami merasa...baik-baik saja.
Kalau ada ibu yang punya anak tunggal, juga pasti punya alasan masing-masing. Misalnya:
1. Sakit
Kalau ibu pas hamil sering pendarahan, apa dia mau hamil lagi? Katanya sih kondisi kehamilan anak
kedua dan pertama itu berbeda, tapi bisa jadi sang ibu ingin cari selamat, kan? Pendarahan biasanya
muncul karena ada myom dalam kandungan, dan penyakit itu bisa membesar seiring dengan
perkembangan janin. Hamil lagi berarti cari mati, ogah ah!
2. Trauma

Bisa jadi seorang ibu trauma saat melahirkan, misalnya bayi baru bisa keluar dari rahim setelah
kontraksi berjam-jam, persalinan sulit, atau air ketuban sudah hijau, dll. Rasa takut ini masih
menggelayut, dan dia jadi kapok hamil lagi. Trauma memang bisa dihilangkan, tapi kebanyakan susah
hilang karena sudah masuk ke alam bawah sadar.
3. Gak Ada yang Bantu Jaga Anak
Ada seorang teman yang berprofesi sebagai guru les, dia baru berangkat kerja jam 2 siang hingga
maghrib. Anaknya pulang sekolah (SD) pukul 2 siang. Dia sudah besar, jadi berani jaga rumah sendiri.
Kalau dia hamil dan punya bayi lagi, siapa yang mau jagain saat harus kerja? Sang ibu sudah
almarhumah, mertua ogah ngasuh bayi lagi, dan kurang percaya pada baby sitter,
sementara biaya daycare juga selangit. Punya 1 anak adalah cara aman baginya untuk membantu
suami mencari nafkah tanpa bingung harus nitip anak di mana.
Jadi, ibu-ibu yang punya 1 anak, gak usah sedih ya kalau ada komentar jahat. Tutup kuping aja,
karena mereka bisa jadi cuma basa-basi. Kita yang menjalani hidup,dan kita tahu plus minusnya
punya anak tunggal. Kalau ada yang bilang nanti anaknya manja, ya senyumin aja. Manja atau gak
manja kan tergantung pola pengasuhannya.
Bagaimana, teman-teman ingin punya anak 1 atau banyak?

Senin, 09 Oktober 2017

Kelas Berbayar Atau Gratisan?

"Mbak saya gak jadi ikut. Ternyata kelasnya bayar"

Dengan geli saya membaca chat wa dari seorang (mantan) calon murid. Hari itu saya mengiklankan kursus bahasa inggris Ican Course di fb dan ig. Lalu ketika ada wa masuk, reaksinya seperti ini. Wkwkkw. Enaknya dibalas apa ya?

Akhirnya saya balas gini:
Maaf dear, there's no free lunch in this world. Gak ada yang gratis di dunia ini, lha ke toilet umum aja bayar.

Saya lupa ia menjawab apa. Tapi wa itu membuat saya berpikir, apa benar kelas gratisan lebih menarik? Bahkan ada yang berprinsip bahwa ilmu itu gratis karena pemberian dari-Nya. Hmmm....

 Jujur saja saya pernah ikut kelas gratis di grup fb maupun wa, beberapa kali. Ada kelas menulis dan juga marketing. Lalu endingnya gimana?

Di kelas marketing, ditawari untuk ikut kelas berbayar. Jadi yang gratisan hanya pancingan aja, uhuks!

Di kelas menulis, grup fb-nya kosong melompong, semangat dari anggotanya hanya ada di awal. Pengurusnya sibuk sendiri-sendiri. Mungkin anggotanya mikir "alah, kelas gratis aja. Gak setor tulisan juga gak ada resikonya".

Jreng jreeng, beginilah kalau gratis, jadi diremehkan. Ican Course juga beberapa kali buka kelas gratis, hasilnya juga hampir sama. Ada yang keluar grup tanpa izin, ada yang hanya menyimak kelas tanpa menyetorkan tugas akhir.

Padahal ada murid lain yang benar-benar serius dan butuh kemampuan bahasa inggris untuk kemajuan mereka. Ada seorang owner aplikasi ojek online khusus wanita yang akan kuliah ke luar negeri. Juga ada seorang pelayan rumah makan yang akan daftar kejar paket C.




Akhirnya kami menghapus kelas gratis dan menerapkan biaya 250.000 untuk 8x pertemuan. Kelasnya melalui WA, gurunya juga butuh uang untuk beli pulsa, hehehe. Harganya masih wajar kan. Dengan membuka kelas berbayar, semoga murid-murid lebih serius belajarnya.

Kalau kamu gimana, suka ikut kelas gratis atau berbayar?

Rabu, 13 September 2017

Lagi Galau? Makan Mie Galau Aja

Akhir minggu adalah momen yang dinanti-nanti. Apalagi untuk emak kurang piknik seperti saya :P. Alhamdulillah ada undangan dari teman-teman alumni SMPN 5 Malang untuk reuni di kedai Mie Galau.

Jum'at jam 16:30, saya tergopoh-gopoh naik ke atas motor. Paksuami membonceng kami (saya dan saladin) menuju Jl. Selorejo nomor 83. Sampai di Jl Mawar, lalu puter-puter, laah ada Jl Selorejo blok A dan blok B, yang mana? Muter muter lagi tapi kedainya belum ketemu. Belum sempat saya mengambil hp, akhirnya paksu pakai gps alias gunakan penduduk sekitar, wkwkwk. Dengan petunjuk dari pemilik warung sate di depan pasar tawangmangu, akhirnya kami sampai ke kedai Mie Galau.
Sampai di sana berasa adem, karena ada beberapa pohon besar yang menaungi. Ada dua bagian di kedai, outdoor dan indoor. Saya masuk untuk mencari teman-teman, rupanya sudah ada beberapa yang datang. 

Saladin asyik melihat-lihat buku menu, sedangkan saya mengamati interiornya. Dinding berlapis wallpaper dengan warna soft membuat kedai ini bernuansa homey, sangat hangat dan nyaman. Ada sebuah televisi yang menyiarkan tayangan dari luar negeri, dan juga speaker yang mengalunkan lagu-lagu kekinian.



Tak sampai 30 menit, pesanan kami sudah datang. Segelas es teler untuk meredakan haus setelah putar-putar tadi. Hmm, yummy. Segelas besar harganya 11.000 saja (include ppn). Isinya nangka, alpukat, dan nata de coco. Yang saya sukai adalah manisnya pas banget. Walau banyak es batunya, tapi manisnya gak berkurang. Ini baru es teler!

Kalau untuk makanannya saya memesan mie ramen udang. Makanan kesukaan naruto ini tersaji dengan topping beragam: setengah telur rebus, nori, serutan wortel, cacahan daun bawang, bawang goreng, dan bulet2 itu entah apa namanya, plus tiga buah udang goreng berbalut tepung roti. Haap, udangnya langsung masuk ke mulut Saladin, nyam nyam enak. Kuahnya segar dan mie-nya disajikan dengan porsi yang lumayan. Saya makan berdua dengan Saladin. Mie-nya agak tipis tapi lembut dan gampang masuk mulut, sedaap. 

Sendoknya juga ucul banget, lebih bulat dari sendok biasa, jadi gampang untuk menyeruput kuahnya. 













Mie ramen ini harganya 22.000 (exclude tax)

Ada juga ramen katsu, mirip ramen udang tapi lauknya ayam goreng.

Kamu pesan mie goreng? Bisa pakai mangkok seharga 4.000. Yang dimaksud mangkok adalah pangsit yang dibentuk mangkok dan digoreng. Jadi makan mie sekalian mangkoknya, enak..Saya kira rasanya tawar, ternyata asin dan gurih. Sayang gak sempat motoin.

siomay udang dan wonton mini











Karena pesanannya lumayan banyak (lebih dari 150 ribu), maka kami dapat bonus wonton mini, horee! Semacam siomay entah isinya ayam atau udang, tapi lipatannya beda, dan kecil2, sekali suap gitu. Karena wontonnya digoreng, memberikan sensasi gurih dan crunchy.


Terakhir, saya mencicipi siomay udang. Udangnya terasa banget dan tidak digiling terlalu halus. Jadi masih ada potongan udang yang bikin sedap. Recommended!

Di sini makannya gak cuma mie -mie an aja, tapi ada mpek mpek dan gado-gado. Harga minuman mulai 3.000 dan mie-nya kisaran 13.000-22.000 (exclude tax).

Buka mulai jam 11 siang sampai 9 malam. Kalau hari jum'at, bukanya setelah jum'atan, jam 1 siang. Eits, kalau senin libur yaa.

Bisa dipesan melalui go food, atau datang ke cabangnya di Taman Jajan Al Fatih, Sawojajar.

Sayang kemarin kami tidak bertemu dengan ownernya,. Mr Hanif dan Mrs Diajeng. Fyi, Hanif adalah kawan sekelas saya waktu SMU. Alumni Universitas Brawijaya ini memilih untuk berbisnis kuliner sejak tahun 2011.

Sukses terus ya untuk Hanif, Ajeng, dan Mie Galau. Kamu galau? Makan aja di Mie Galau, dijamin galaunya minggat.




























Senin, 07 Agustus 2017

Masak ngebut untuk sarapan? Bisaa



“Kriing!”. Jam weker berteriak, sudah jam 5 pagi. Angin dingin berhembus, menusuk tulang, ingin rasanya tidur lagi. Tapi matahari makin meninggi. Pagi hari adalah waktu paling hectic bagi mama. Setelah mandi dan berdandan, menyapu,  lalu masak sarapan untuk keluarga tercinta. 

Memasak itu asyik dan juga lumayan butuh waktu, mengupas bawang, menyiangi sayuran.Wah, anak-anak bisa terlambat karena menunggu mamanya yang tak kunjung selesai masak. Lebih baik tidak sarapan daripada disetrap bu guru. Tapi kasihan jika mereka malah masuk angin. Daripada puyeng, yuk baca tips masak ngebut ini:

1. Sediakan bawang putih bubuk di dapur
Di minimarket banyak lho ma bawang putih dalam bentuk bubuk. Jadi kalau mau bikin capcay, gak usah kupas kupas bawang lagi.Tinggal tabur di atas wortel dan sayuran lainnya.Masak deh. Praktis!

2. Kalau tidak ada bawang putih bubuk, pakai senjata lain yaitu parutan keju. Setelah bawang dikupas, cuci, baru diparut dan ditumis. Gak usah ngulek atau memblender bawang, hehehehe.
Hati-hati ma, di pagi hari kan masih mengantuk. Kalau terlalu asik mengiris bawang, jari bisa kena pisau. Jadi lebih aman pakai parutan.

3. Persiapkan bahan masakan di malam hari. Membersihkan wortel dan buncis, mengiris rapi. Paginya, saat akan masak sop, tinggal plung, matang deh. Syedaap.

4. Bikin sarapan praktis, misalnya roti bakar, atau sandwich, yang membuatnya tidak terlalu sulit dan tidak memakan banyak waktu

5. Capek masak? Langganan katering atau beli di warung, hehehehehe. Tentunya disesuaikan dengan budget kita.

Ada yang punya tips lain?

Selasa, 25 Juli 2017

Dagangan Anda Ditawar? Ini Cara Menghindarinya

"Mahal banget sih bajunya, kasih harga saudara ya!"
"Aku kalau beli 3 biji dapat diskon gak?"

Pernahkah dapat komentar seperti ini? Sebagai pedagang, tentu kita menemui berbagai macam tipe pembeli. Ada yang suka borong, sementara yang lain beli barang kecil-kecil tapi teratur tiap minggu. Salah satu jenis pembeli yang bikin makan ati adalah yang suka nawar.

Ini yang bikin garuk-garuk kepala, sudah untungnya mepet, eh masih ditawar harganya. Sadis pula. Misalnya kita jual tas bahan kanvas seharga 125.000, eh ditawar cuma 40.000, plus minta free ongkos kirim. Daripada menuruti kemauan mereka dan jadi rugi (karena bisa jadi cuma iseng menawar), yuk ikuti tips berikut ini.

-Kasih tulisan "harga pas". 

Jadi ketika ada yang menawar, tolak dengan halus dengan mengatakan "maaf ya, silakan cari toko lain". Kalau dia marah lalu mengancam akan menyebarkan berita buruk tentang kita, biarkan saja. Pembeli yang sudah jadi langganan tak akan percaya begitu saja dengan omongannya.

 -Naikkan sedikit harganya. 

Misalnya kita jual gamis dengan harga 250.000 dan mendapat keuntungan 25.000. Naikkan sedikit harganya jadi 265.000, jadi jika ada yang menawarnya jadi 250.000, kita masih dapat untung. Jika tidak ada yang menawar? Beri harga 250.000, bilang saja diskon 15.000.

-Ajak bercanda. 

Ini ampuh untuk pembeli yang sangat ngotot menawar. Jika kita menjual rainbow cake homemade seharga 200.000, lalu ada yang berkomentar begini, "Cake gituan aja kok mahal. Saya pesan tapi harganya 100.000 ya". Senyumin saja lalu bisikkan "iya, saya kasih diskon 50% tapi ukurannya juga di diskon 50%,  wkwkkwk. Dijamin dia manyun lalu ngibrit. 

Kehilangan pembeli dong? Tenang saja, saat satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka. Pasti ada pemesan lain yang mau mmbeli dengan harga pantas.

Kalau jual baju atau tas bagaimana? Caranya hampir sama. Jika pembeli datang ke toko kita dan menawar 60% dari harga jual, pegang gunting dan pura-pura saja akan memotong dagangan jadi setengahnya. Dijamin dia ngabur, hehehehe.

-Beri diskon khusus

Misalnya nih, ada yang menawar ongkos kirim, dari 15.000 jadi 5.000. Berikan jalan tengahnya, boleh ongkirnya segitu, tapi harus beli minimal satu lusin. Kalau ia gak minta diskon, tapi minta gratis ongkir bagaimana? Lagi-lagi ajak bercanda, “Boleh bu gratis ongkos kirimnya, tapi silakan ambil sendiri toko kami, lokasinya di Perumahan XYZ”. Atau sesekali ada promo free ongkir dengan syarat harus beli barang minimal seharga 400.000.

-Tawarkan win-win solution

Anda sedang merintis jasa pembuatan logo perusahaan, lalu ada yang tanya “paling murah berapa?”. Tahan dulu amarah dalam hati. Karena ada orang yang berprinsip MEA (murah-enak-akeh alias banyak—dikira kerupuk kelees). Kalau budgetnya tidak emncukupi, tawarkan saja permintaanya ke desainer lain yang mungkin memasang tarif di bawah anda. Atau kasih tahu, Pak bikin sendiri pakai aplikasi bisa lho. Tutorialnya juga banyak di google. Gratis kan.

 Jika usahanya bakery? Ngelesnya gini: misalnya dia hanya ada dana 50.000 untuk  blackforest cake, tapi ngotot dibuatkan yang besar. Kalau sudah ngempet marah di ubun-ubun karena kita menjelkaskan panjang-lebar tentang harga bahan, proses pembuatan yang tidak mudah, ya sudah. Bilang saja “Iya, tapi uang itu untuk beli telur, gula, dan tepung saja. Lalu silahkan bikin sendiri, silahkan pakai mixer dan oven saya.

Lha katanya pembeli adalah raja? Ya, tapi seorang raja tidak akan menawar dengan tega. Karena ia punya banyak uang :p.

Berdagang juga butuh skill komunikasi untuk bisa nego dengan pelanggan. Bukan siapa menang-siapa kalah. Tapi tentu ada jalan tengahnya.

Sekian tips dari saya, semoga jualan teman-teman lancar jaya dan laris manis. Anyway, ada yang punya tips lain?