Anak ADHD besarnya mau
jadi apa? Masa depannya bagaimana?
Kadang terlintas
pikiran buruk seperti ini. Overthinking dan berujung pusing sendiri karena
punya anak ADHD memang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Di saat yang
lain bisa anteng, dia asyik lari dan memanjat. Ketika anak lain bisa
berkomunikasi dengan baik, dia tantrum karena mau ngomong tapi bingung
bagaimana caranya?
Saladin yang ADHD
membuatku gamang, akankah hidupnya lebih baik dari hidupku? Ahh tapi seharusnya
daku tidak usah terlalu overthinking karena hal-hal yang dulu kutakutkan,
ternyata tidak terjadi. Alhamdulillah atas pertolongan dan perlindungan
dari-Nya, Saladin tumbuh besar, sehat, dan tumbuh sesuai milestone.
Cerita
Anak ADHD Sunat
Pertengahan tahun ini
Saladin berani dikhitan, dan memang usianya sudah cukup (12 tahun). Proses
bujuk-rayu butuh hampir setahun, lho. Apalagi dapat cerita dari ibu lain, ada
anak yang kuat dan disunat tapi gagal sampai 3 kali karena berontak saat ada di
depan dokter.
Mendengar cerita itu
jadi ngeri banget, tapi Alhamdulillah Saladin bisa diberi pengertian. Waktu
masuk ruang dokter dia tidak takut, teriak, atau berontak. Malah pas proses
sunat dia tidak menangis, hanya bilang “aduh!”. Karena pakai metode laser
campur manual, pasca tindakan juga cepat sembuh.
Read: Cerita Saladin Sunat, Banyak Endorse
Berani
Ikut Kemping
Saladin pernah takut
gelap, mungkin karena sejak bayi dia biasa tidur dengan lampu menyala. Waktu
kelas 5 SD, dia ditawari ikut kemping Ramadan selama 2 hari, di halaman
sekolah. Ternyata mau dan berani, malah dia sudah menyiapkan senter untuk
mengantisipasi kegelapan.
Belajar
Mandiri dan Percaya Diri
Sebagai anak tunggal,
Saladin punya banyak privilege. Apalagi
dia juga cucu pertama dari keluargaku. Dia bisa cepat di-screening oleh psikolog anak, karena utinya (mamaku) paham
tanda-tanda anak ADHD (beliau dosen di jurusan bimbingan konseling).
Anak ADHD punya
kekuatan ekstra dan minusnya, dia bisa menggunakannya sebagai ancaman. Misalnya
saat minta kue dan tidak dituruti, Saladin menangis keras dan bergulung-gulung
di lantai, lalu membenturkan kepalanya sendiri. Bagaimana tidak pusing?
Alhamdulillah seiring
dengan pertumbuhan fisik dan mentalnya, Saladin sudah paham kalau tidak boleh
manja dan tantrum parah. Dia jadi belajar mandiri, misalnya bikin mie sendiri,
menyapu dan menyedot debu (vacuum cleaner),
dll. Dengan jadi mandiri maka otomatis juga menambah rasa percaya diri.
Read: Balada Mengasuh Anak tunggal
Bersyukur
ada di Lingkungan yang Tepat
Saat ini Saladin
sekolah di PKBM dan Alhamdulillah guru-gurunya sudah biasa meng-handle ABK (BTW, ADHD termasuk ABK).
Jadi mereka bisa mendidik dengan perpaduan kasih-sayang dan ketegasan (demi
kedisiplinan). Ini adalah salah satu hal yang sangat kusyukuri karena walau ada
kewajiban menerima anak ABK (di sekolah-sekolah), pada prakteknya banyak yang
enggan.
Read: Cerita Saladin Mencari SMP
Fokus
pada Kelebihannya
Kesimpulannya, punya
anak ADHD jangan terlalu dibawa pusing sampai overthinking. Asal dididik dengan baik, dia akan tumbuh besar dan
jadi anak yang membanggakan. Jangan lupa didikan untuk jadi anak yang
sopan-santun dan taat pada ajaran agama.
Fokus saja pada
kelebihan anak, daripada mecucu memikirkan
kekurangannya. Misalnya Saladin memang masih suka muterin rumah (walau sudah
jarang sekali manjat lemari). Tapi dia punya kelebihan di bidang bahasa, suka
belajar huruf asing (Rusia, Korea, dll).
Punya anak ADHD adalah
anugerah karena dari Saladin daku juga jadi belajar untuk lebih sabar dan
belajar lagi tentang psikologi anak. Jangan terlalu overthinking atau bahkan menyalahkan-Nya, dan bertanya-tanya
mengapa anakku seperti ini? Tapi ingatlah bahwa tiap anak punya keistimewaan
masing-masing.








































