Selasa, 13 Januari 2026

Review Series The Makanai: Cooking for the Maiko House

 

Salah satu produk kebudayaan Jepang yang terkenal adalah geisha, tapi jujurr daku belum pernah nonton videonya. Nahh pas buka Netflix ada series The Makanai: Cooking for the Maiko House. Maiko adalah calon geiko/geisha yang magang dan harus menyelesaikan pendidikan di rumah geisha senior, selama 5 tahun.

Ini data seriesnya:

Judul               : The Makanai, Cooking for the Maiko House

Sutradara         : Hirokazu Kore-eda

Jumlah episode: 9



Dikisahkan dua sahabat bernama Kiyo dan Sumire yang berangkat ke Kyoto untuk belajar menjadi maiko. Mereka datang ke Saku House dan dididik oleh Azusa (yang berpengalaman panjang sebagai geisha). Rumahnya khas Jepang banget dengan pintu geser dan lantai tatami.

Pendidikan di Saku House

Di Saku House sudah ada beberapa maiko dan mereka menyambut Kiyo dan Sumire dengan baik. Semua serius belajar, mulai dari menari, menyanyi, sampai memainkan alat musik tradisional Jepang.



Salutnya, para Maiko setiap hari memakai kimono dan rambutnya disanggul (jadi ingat Oshin). Mereka kalau jalan juga anggun banget.

Kiyo yang Beralih Peran

Akan tetapi, Azusa membawa kabar buruk. Kiyo sudah magang selama 3 bulan tapi progress-nya lambat banget. 

                                         Kiyo

Dia harus mau pulang, dan Sumire menangis karena merasa ini tak adil. Menurutnya, Kiyo memang lambat tapi seorang pekerja keras.

                                   Sumire (paling kiri)

Di luar dugaan, Kiyo memasakkan makan malam untuk semua orang di Saku House. Ternyata rasanya lezat sekali. Azusa mengutus Kiyo untuk menjadi juru masak saja di sana, alih-alih melanjutkan magang jadi maiko.

Ryoko si Tukang Protes

Waktu Kiyo dan Sumire baru datang ada satu cewek yang ngomongnya judes banget. Ternyata dia anaknya Azusa dan masih sekolah di SMA. Dia langsung bilang, “Hati-hati kalian akan dijadikan budak!” 

                              Ryoko

Sepertinya Ryoko tidak suka akan pekerjaan dan masa lalu ibunya.

Kedatangan Yoshino

Tiba-tiba ada wanita berambut pendek (dan dicat) datang ketika Azusa dan murid-muridnya sedang keluar. Kiyo shock berat kok dia nyerocos aja, langsung minta minum dan izin tidur di sana. Ternyata dia adalah Yoshino, ex geisha saat Azusa masih aktif bekerja.

                                               Yoshino

Yoshino cerita kalau geisha biasanya berhenti kerja kalau dia menikah. Tapi sekali berhenti tidak bisa balik lagi. Ternyata dia sudah divorce. Azusa dan lain-lain pada kesel ke dia karena seenaknya datang mendahului dan menghibur tamu (padahal ngakunya sudah pensiun jadi geisha), dan pria-pria itu jadi teralihkan perhatiannya.

Beratnya Menjadi Maiko

Dari series yang merupakan adaptasi dari manga berjudul Kiyo in Kyoto, penonton bisa paham betapa beratnya masa-masa menjadi maiko. Dalam 5 tahun mereka belajar banyak hal, mulai dari menguasai beberapa kesenian tradisional Jepang, memakai geta (sandal bakiak), sampai memakai kimono yang berlapis-lapis saat akan bertemu klien. Pressure-nya tinggi sekali, menguji kesabaran dan mental.



Apalagi Azusa menerapkan aturan yang sangat ketat: para maiko tidak boleh memakai smartphone saat berada di Saku House. Namun mereka boleh menerima telepon (pakai telepon rumah). Kalau Maiko sedang latihan memakai sanggul tradisional Jepang, mereka tidak boleh keluar untuk belanja ke minimarket (padahal jaraknya dekat).

Salah Paham Tentang Profesi Geisha/Geiko

Geisha is not a prostitute! Di series ini dijelaskan bahwa geisha adalah murni penghibur dan mahir bermacam-macam kesenian tradisional Jepang. Sementara para tamu bisa booking geisha mana yang menjadi favoritnya.

Kesanku Setelah Menonton The Makanai, Cooking for the Maiko House

Jujur daku awalnya kegocek judul ‘cooking’, kirain tentang kuliner ternyata tentang maiko dan juru masaknya. Ada adegan-adegan memasak tapi tidak terlalu sering ditampilkan. Akan tetapi para penonton juga bisa belajar kalau di Jepang, mereka masih suka mengkonsumsi makanan tradisional. Misalnya sup miso, karaage, oyako don, dll.

Apa yang bisa diamati lagi dari series ini? Pertama, orang Jepang sangat pekerja keras. Kedua, laki-laki di Jepang sampai sekarang pun masih menjalankan tradisi lama, kalau pulang kantor tidak langsung ke rumah tapi minum-minum bersama teman-teman atau koleganya, sambil dihibur geisha. Loe mau kayak gini? Kalau gue kagaaak (sambil bawa golok).



Bagaimanapun, kita bisa meniru sisi positif dari series ini, terutama Kiyo yang pekerja keras. Dia tidak frustasi karena gagal menjadi maiko. Tapi bersyukur karena bisa bekerja menjadi juru masak.

Kiyo juga pernah menolong maiko yang puding caramelnya dimakan oleh orang lain (dugaanku Yoshino). Padahal maiko tidak boleh ke minimarket (untuk beli puding tersebut) karena sudah memakai sanggul. Akhirnya Kiyo membuatkan puding roti dengan sedikit caramel yang rasanya sangat mirip, dan maiko tersebut sangat berterima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar