Rabu, 28 Januari 2026

Jangan Sampai Kita Membesarkan Anak jadi Calon Kriminal

 

Tiap anak diharap akan menjadi orang sukses di masa depan. Mau jadi professor, dokter, atau yang lain boleh. Tapi pernahkah berpikir kalau anak bisa melenceng dan jadi calon kriminal? Hahhh, ngeri buangeeet.

Beneran deh, daku jadi kepikiran hal ini ketika nonton Batman, di mana dia menyelamatkan anaknya (Damian) dari serangan Joker. Sementara Joker (menurut film yang lain), jadi kriminal karena berkali-kali mengalami kegagalan, dan ditolak oleh lingkungannya. Ada juga villain yang jadi jahat karena sejak kecil disiksa oleh orang tuanya. Ketika sudah besar, dia yang mantan korban menjadi pelaku….



Apakah ini overthinking? Sebenarnya tidak karena kenyataannya anak yang nakal merupakan buah dari salah didikan orang tua dan lingkungannya. Kalau nakalnya makin tidak terkendali, lama-lama bisa naik level. Dari sekadar mencuri mangga tetangga sampai jadi maling motor. Seraaaam!

Jadi bagaimana agar anak menjadi orang yang jujur, lurus, dan tidak terbuang di lembah kejahatan? Berikut ini beberapa tipsnya:

1. Jangan Terlalu Memanjakan Anak

Jika klean punya anak dan dia minta dibelikan eskrim, apa langsung dibelikan saat itu juga? Padahal uang di dompet tinggal recehan, gajian masih besok. Kalau dia akhirnya beli eskrim dengan uang dari mbah atau saudaranya yang lain, itu namanya memanjakan.

Memberi kasih-sayang ke anak sangat diperbolehkan tapi jangan sampai terlalu memanjakan. Anak wajib mengerti bahwa tidak setiap hari keadaan orang tuanya berlebihan (dalam hal finansial). Kalau semua-mua diiyakan, nanti pas dewasa dia jadi kaget karena menerima berbagai penolakan, dan akhirnya stress berat.

Anak yang terlalu dimanjakan juga bahaya karena bisa sering tantrum tak terkendali. Tangisan jadi senjatanya agar diberi barang sesuai dengan keinginannya. Pernah mikir enggak kalau ini bahaya karena dia bisa menggunakan segala cara (termasuk yang negatif) agar punya suatu barang?

Jika anak terlalu dimanjakan dan kondisi keuangan orang tua menurun (misalnya sang ayah di-PHK) maka dia bingung bagaimana cara membeli jajan atau barang lain? Keinginannya selalu dipenuhi dan dia tak bisa mengontrol diri. Akhirnya dia mencuri karena hasrat ingin makannya sangat tinggi.

2. Menerapkan Punishment

Apakah ada anak yang manja, bebas, dan tidak pernah dihukum oleh orang tuanya? Ada! Dengan dalih ‘kasihan’ atau ‘sayang’, maka tingkah anak yang keterlaluan dibiarkan saja. Tidak pernah diberi hukuman.

Misalnya saat anak merusakkan barang milik saudaranya. Seharusnya dia disuruh meminta maaf dan diberi hukuman (seperti mengganti dengan barang serupa, dengan menggunakan uang tabungannya). Tapi jika tidak dihukum dia bisa beranggapan apapun yang dia lakukan adalah benar, padahal jika dilakukan berkali-kali akan bahaya karena bocil akan seenaknya sendiri.

Yang ingin daku fokuskan, hukuman di sini berfungsi sebagai efek jera agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Tapi hukuman tidak main fisik (misalnya cubitan atau yang lain). Hukuman bisa berupa pemotongan uang saku, tidak diberi izin keluar rumah pada saat tertentu, dll.

3. Parenting VOC yang Ketinggalan Zaman

Siapa masih suka gebukin anak kalau dia melakukan kesalahan? Dengan dalih ‘kalau anak tidak diberi pelajaran maka dia tidak akan nurut.” Beuuh, ini mah namanya parenting keras alias VOC dan sudah sangat-sangat ketinggalan zaman.

Bisa jadi dulu waktu kecil kita sering dicubit ortu atau guru karena nakal. Akibatnya jadi menormalisasi hal ini. Tapi apakah pernah berpikir kalau anak bisa sakit hati bahkan trauma? Lha kita aja yang dulu jadi korban aja juga trauma, kann?

Bayangkan kalau anak dikit-dikit dipukul. Maka dia akan menganggap kalau pukulan dan kekerasan adalah hal yang biasa. Akibatnya dia bisa meninju teman dan jadi preman di sekolah. Setelah puas, dia mencari mangsa baru, sebagai pelampiasan karena sering dikerasi di rumah. Kalau dilanjutkan, di masa dewasa dia mencari kepuasan dengan menempeleng bahkan bikin orang isdet, ngeri buangeeet.

4. Stop Menormalisasi Kesalahan dan Ketidaksopanan

Ada ungkapan “namanya juga anak-anak” misalnya saat dia terpeleset atau tidak sengaja menumpahkan minuman. Tapi kalau dia sudah melakukan kesalahan seperti masuk rumah orang tanpa izin (dan buka kulkas sembarangan), atau menendang kursi orang di depannya (saat ada di bioskop atau kendaraan umum), jangan dibilang “namanya juga anak-anak.”

Memang anak punya waktu untuk aktif-aktifnya tapi harus dididik agar punya attitude. Kesopanan itu nomor satu. Jangan bela anak saat dia melakukan kesalahan seperti mengejek orang lain atau mencomot makanan orang lain, karena menormalisasi kesalahan adalah sebuah kesalahan.

5. Beri Teladan

Jadi orang tua itu banyak tugas dan PR-nya, seperti memberi teladan. Bagaimana anak bisa berbuat baik kalau ibunya suka misuh, bergosip, bahkan memfitnah? Atau sang ayah malah terang-terangan memaki dengan kosakata kebun binatang.

Kalau mau punya anak baik ya harus dikasih contoh yang baik. Bayangkan kalau anak tiap hari mendengar kata-kata buruk. Maka dia akan belajar ngomong jelek, dan terseret ke pergaulan negatif. Di sanalah pintu kejahatan terbuka dan kalian tahu apa akhirnya.

Memang jadi orang tua itu butuh banyaaak sekali tenaga, waktu, pikiran, dan perasaan, plus harus mencegah agar masa depan anak tidak berantakan. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Jangan sampai kita berbuat yang jelek dan akibatnya anak jadi meniru, akhirnya nakal dan berakhir jadi kriminal.

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar