Tiap anak diharap akan
menjadi orang sukses di masa depan. Mau jadi professor, dokter, atau yang lain
boleh. Tapi pernahkah berpikir kalau anak bisa melenceng dan jadi calon
kriminal? Hahhh, ngeri buangeeet.
Beneran deh, daku jadi
kepikiran hal ini ketika nonton Batman, di mana dia menyelamatkan anaknya
(Damian) dari serangan Joker. Sementara Joker (menurut film yang lain), jadi
kriminal karena berkali-kali mengalami kegagalan, dan ditolak oleh lingkungannya.
Ada juga villain yang jadi jahat karena sejak kecil disiksa oleh orang tuanya.
Ketika sudah besar, dia yang mantan korban menjadi pelaku….
Apakah ini overthinking? Sebenarnya tidak karena
kenyataannya anak yang nakal merupakan buah dari salah didikan orang tua dan
lingkungannya. Kalau nakalnya makin tidak terkendali, lama-lama bisa naik
level. Dari sekadar mencuri mangga tetangga sampai jadi maling motor. Seraaaam!
Jadi bagaimana agar
anak menjadi orang yang jujur, lurus, dan tidak terbuang di lembah kejahatan?
Berikut ini beberapa tipsnya:
1.
Jangan Terlalu Memanjakan Anak
Jika klean punya anak
dan dia minta dibelikan eskrim, apa langsung dibelikan saat itu juga? Padahal
uang di dompet tinggal recehan, gajian masih besok. Kalau dia akhirnya beli eskrim
dengan uang dari mbah atau saudaranya yang lain, itu namanya memanjakan.
Memberi kasih-sayang ke
anak sangat diperbolehkan tapi jangan sampai terlalu memanjakan. Anak wajib
mengerti bahwa tidak setiap hari keadaan orang tuanya berlebihan (dalam hal finansial).
Kalau semua-mua diiyakan, nanti pas dewasa dia jadi kaget karena menerima
berbagai penolakan, dan akhirnya stress berat.
Anak yang terlalu
dimanjakan juga bahaya karena bisa sering tantrum tak terkendali. Tangisan jadi
senjatanya agar diberi barang sesuai dengan keinginannya. Pernah mikir enggak
kalau ini bahaya karena dia bisa menggunakan segala cara (termasuk yang
negatif) agar punya suatu barang?
Jika anak terlalu
dimanjakan dan kondisi keuangan orang tua menurun (misalnya sang ayah di-PHK) maka
dia bingung bagaimana cara membeli jajan atau barang lain? Keinginannya selalu
dipenuhi dan dia tak bisa mengontrol diri. Akhirnya dia mencuri karena hasrat
ingin makannya sangat tinggi.
2.
Menerapkan Punishment
Apakah ada anak yang
manja, bebas, dan tidak pernah dihukum oleh orang tuanya? Ada! Dengan dalih
‘kasihan’ atau ‘sayang’, maka tingkah anak yang keterlaluan dibiarkan saja.
Tidak pernah diberi hukuman.
Misalnya saat anak
merusakkan barang milik saudaranya. Seharusnya dia disuruh meminta maaf dan
diberi hukuman (seperti mengganti dengan barang serupa, dengan menggunakan uang
tabungannya). Tapi jika tidak dihukum dia bisa beranggapan apapun yang dia
lakukan adalah benar, padahal jika dilakukan berkali-kali akan bahaya karena
bocil akan seenaknya sendiri.
Yang ingin daku
fokuskan, hukuman di sini berfungsi sebagai efek jera agar anak tidak
mengulangi kesalahannya. Tapi hukuman tidak main fisik (misalnya cubitan atau
yang lain). Hukuman bisa berupa pemotongan uang saku, tidak diberi izin keluar
rumah pada saat tertentu, dll.
3.
Parenting VOC yang Ketinggalan Zaman
Siapa masih suka
gebukin anak kalau dia melakukan kesalahan? Dengan dalih ‘kalau anak tidak
diberi pelajaran maka dia tidak akan nurut.” Beuuh, ini mah namanya parenting keras alias VOC dan sudah
sangat-sangat ketinggalan zaman.
Bisa jadi dulu waktu
kecil kita sering dicubit ortu atau guru karena nakal. Akibatnya jadi
menormalisasi hal ini. Tapi apakah pernah berpikir kalau anak bisa sakit hati
bahkan trauma? Lha kita aja yang dulu jadi korban aja juga trauma, kann?
Bayangkan kalau anak
dikit-dikit dipukul. Maka dia akan menganggap kalau pukulan dan kekerasan
adalah hal yang biasa. Akibatnya dia bisa meninju teman dan jadi preman di
sekolah. Setelah puas, dia mencari mangsa baru, sebagai pelampiasan karena
sering dikerasi di rumah. Kalau dilanjutkan, di masa dewasa dia mencari
kepuasan dengan menempeleng bahkan bikin orang isdet, ngeri buangeeet.
4.
Stop Menormalisasi Kesalahan dan Ketidaksopanan
Ada ungkapan “namanya
juga anak-anak” misalnya saat dia terpeleset atau tidak sengaja menumpahkan
minuman. Tapi kalau dia sudah melakukan kesalahan seperti masuk rumah orang
tanpa izin (dan buka kulkas sembarangan), atau menendang kursi orang di
depannya (saat ada di bioskop atau kendaraan umum), jangan dibilang “namanya
juga anak-anak.”
Memang anak punya waktu
untuk aktif-aktifnya tapi harus dididik
agar punya attitude. Kesopanan itu nomor satu. Jangan bela
anak saat dia melakukan kesalahan seperti mengejek orang lain atau mencomot
makanan orang lain, karena menormalisasi kesalahan adalah sebuah kesalahan.
5.
Beri Teladan
Jadi orang tua itu
banyak tugas dan PR-nya, seperti memberi teladan. Bagaimana anak bisa berbuat
baik kalau ibunya suka misuh,
bergosip, bahkan memfitnah? Atau sang ayah malah terang-terangan memaki dengan
kosakata kebun binatang.
Kalau mau punya anak
baik ya harus dikasih contoh yang baik. Bayangkan kalau anak tiap hari
mendengar kata-kata buruk. Maka dia akan belajar ngomong jelek, dan terseret ke
pergaulan negatif. Di sanalah pintu kejahatan terbuka dan kalian tahu apa
akhirnya.
Memang jadi orang tua
itu butuh banyaaak sekali tenaga, waktu, pikiran, dan perasaan, plus harus mencegah agar masa depan anak
tidak berantakan. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Jangan sampai kita berbuat
yang jelek dan akibatnya anak jadi meniru, akhirnya nakal dan berakhir jadi
kriminal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar