Kamis, 08 Januari 2026

Tidak Usah Terlalu Overthinking Dalam Mendidik Anak ADHD

 

Anak ADHD besarnya mau jadi apa? Masa depannya bagaimana?

Kadang terlintas pikiran buruk seperti ini. Overthinking dan berujung pusing sendiri karena punya anak ADHD memang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Di saat yang lain bisa anteng, dia asyik lari dan memanjat. Ketika anak lain bisa berkomunikasi dengan baik, dia tantrum karena mau ngomong tapi bingung bagaimana caranya?



Saladin yang ADHD membuatku gamang, akankah hidupnya lebih baik dari hidupku? Ahh tapi seharusnya daku tidak usah terlalu overthinking karena hal-hal yang dulu kutakutkan, ternyata tidak terjadi. Alhamdulillah atas pertolongan dan perlindungan dari-Nya, Saladin tumbuh besar, sehat, dan tumbuh sesuai milestone.

Cerita Anak ADHD Sunat

Pertengahan tahun ini Saladin berani dikhitan, dan memang usianya sudah cukup (12 tahun). Proses bujuk-rayu butuh hampir setahun, lho. Apalagi dapat cerita dari ibu lain, ada anak yang kuat dan disunat tapi gagal sampai 3 kali karena berontak saat ada di depan dokter.



Mendengar cerita itu jadi ngeri banget, tapi Alhamdulillah Saladin bisa diberi pengertian. Waktu masuk ruang dokter dia tidak takut, teriak, atau berontak. Malah pas proses sunat dia tidak menangis, hanya bilang “aduh!”. Karena pakai metode laser campur manual, pasca tindakan juga cepat sembuh.

Read: Cerita Saladin Sunat, Banyak Endorse

Berani Ikut Kemping

Saladin pernah takut gelap, mungkin karena sejak bayi dia biasa tidur dengan lampu menyala. Waktu kelas 5 SD, dia ditawari ikut kemping Ramadan selama 2 hari, di halaman sekolah. Ternyata mau dan berani, malah dia sudah menyiapkan senter untuk mengantisipasi kegelapan.

Belajar Mandiri dan Percaya Diri

Sebagai anak tunggal, Saladin punya banyak privilege. Apalagi dia juga cucu pertama dari keluargaku. Dia bisa cepat di-screening oleh psikolog anak, karena utinya (mamaku) paham tanda-tanda anak ADHD (beliau dosen di jurusan bimbingan konseling).



Anak ADHD punya kekuatan ekstra dan minusnya, dia bisa menggunakannya sebagai ancaman. Misalnya saat minta kue dan tidak dituruti, Saladin menangis keras dan bergulung-gulung di lantai, lalu membenturkan kepalanya sendiri. Bagaimana tidak pusing?

Alhamdulillah seiring dengan pertumbuhan fisik dan mentalnya, Saladin sudah paham kalau tidak boleh manja dan tantrum parah. Dia jadi belajar mandiri, misalnya bikin mie sendiri, menyapu dan menyedot debu (vacuum cleaner), dll. Dengan jadi mandiri maka otomatis juga menambah rasa percaya diri.

Read: Balada Mengasuh Anak tunggal

Bersyukur ada di Lingkungan yang Tepat

Saat ini Saladin sekolah di PKBM dan Alhamdulillah guru-gurunya sudah biasa meng-handle ABK (BTW, ADHD termasuk ABK). Jadi mereka bisa mendidik dengan perpaduan kasih-sayang dan ketegasan (demi kedisiplinan). Ini adalah salah satu hal yang sangat kusyukuri karena walau ada kewajiban menerima anak ABK (di sekolah-sekolah), pada prakteknya banyak yang enggan.

Read: Cerita Saladin Mencari SMP

Fokus pada Kelebihannya

Kesimpulannya, punya anak ADHD jangan terlalu dibawa pusing sampai overthinking. Asal dididik dengan baik, dia akan tumbuh besar dan jadi anak yang membanggakan. Jangan lupa didikan untuk jadi anak yang sopan-santun dan taat pada ajaran agama.



Fokus saja pada kelebihan anak, daripada mecucu memikirkan kekurangannya. Misalnya Saladin memang masih suka muterin rumah (walau sudah jarang sekali manjat lemari). Tapi dia punya kelebihan di bidang bahasa, suka belajar huruf asing (Rusia, Korea, dll).

Punya anak ADHD adalah anugerah karena dari Saladin daku juga jadi belajar untuk lebih sabar dan belajar lagi tentang psikologi anak. Jangan terlalu overthinking atau bahkan menyalahkan-Nya, dan bertanya-tanya mengapa anakku seperti ini? Tapi ingatlah bahwa tiap anak punya keistimewaan masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar