Minggu, 16 Maret 2025

Cara Mengajari Anak untuk Menerima Kegagalan

 Siapa yang tidak bangga ketika punya anak pintar? Sudah jago bahasa inggris dan matematika, sering menang lomba, ganteng / cantik, dll. Anak juga bahagia dengan hidupnya karena punya ritme hidup seperti ini: sekolah-les-pulang dan bersantai-malamnya belajar lagi. Tidak ada beban karena mereka punya masa kecil yang sangat indah.

                                               Unsplash

Akan tetapi, suatu hari ananda tersayang murung. Ternyata ia kalah dalam sebuah lomba, yang diadakan di sekolah. Dia langsung shock karena terbiasa menjadi pemenang. Tapi kali ini kalah telak. Air mata terus mengalir, dan dia jadi mengurung diri di kamar.

Peluk Anak

Sebagai orang tua, kita pasti ikut sedih ketika anak mengalami kegagalan. Apalagi ketika dia juga mengisolasi diri. Saat anak meratapi kegagalan dan tidak mau didekati, biarkan saja untuk sementara. Jangan dipaksa karena anak akan makin menolak perhatian orang tua. Nanti kalau sudah tenang pasti dia akan mau cerita sendiri.

                                       Unsplash  

Ketika anak sudah berhenti menangis, segera peluk dengan erat. Anak wajib paham bahwa orang tua akan mencintainya tanpa syarat, bahkan ketika dia mengalami kegagalan. Pelukan akan menenangkan dan membesarkan hatinya. 

Bagaimana jika anak bereaksi atas kegagalannya dengan kemarahan? Biarkan anak ngamuk lalu ketika dia sudah diam, peluk lalu usap kepalanya. Bisikkan di telinganya bahwa dia boleh bereaksi negatif saat gagal. Akan tetapi jangan marah yang berlebihan sampai menghina orang lain atau merusak barang-barang yang ada di rumah.

                                               Unsplash

Validasi emosi ini sangat penting ya. Karena ada anak yang beranjak dewasa lalu gampang trauma atau ke-trigger karena sejak kecil jarang divalidasi emosinya. Jadi, ketika anak sudah dimengerti, dia akan paham bahwa kesedihan dan kemarahan adalah jenis emosi.

Kegagalan Bukan Akhir dari Segalanya

Kalau anak sudah dipeluk, dia akan merasa nyaman. Nah, daripada sama-sama meratapi kegagalan, lebih baik makan bersama untuk menaikkan mood. Nanti habis makan anak biasanya akan lebih tegar dan mau menghapus air matanya.

Jika anak sudah kenyang maka baru dinasehati bahwa kegagalan adalah suatu hal yang wajar. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Dunia akan terus berputar walau anak belum berhasil, jadi tidak usah murung lagi.

Membesarkan Hati Anak

Anak memang awalnya bingung bagaimana cara menghadapi emosi negatif yang terjadi akibat kegagalannya. Akan tetapi lama-lama dia akan paham bahwa gagal adalah salah satu proses belajar. Jadi, tugas kita sebagai orang tua adalah membesarkan hatinya.

                                      Pexels

Sambil berduaan dengan anak, berpelukan dan cerita-cerita, maka kita bisa membesarkan hatinya dengan memberi contoh. Misalnya saat anak masih bayi dan belajar merangkak. Awalnya dia gagal untuk melakukannya, tapi lama-lama berhasil.

Anak akan takjub karena ternyata dulu dia pernah begitu tegar dalam menghadapi kegagalan. Dia belum memiliki rasa takut untuk mencoba hal baru dan mengembangkan motorik kasarnya. Jadi, ketika dia sudah agak besar, akan paham bahwa kegagalan adalah proses yang normal pada kehidupan manusia, dan tidak usah didramatisir.

Gagal? Coba Lagi

Sebagai orang tua, kita memang wajib mengajari anak untuk cepat move on dan tidak meratapi sebuah kegagalan. Penyebabnya karena kehidupan bergerak ke depan, bukan ke belakang. Jika kegagalan dibahas terus maka anak lama-lama jengah dan malas untuk ketemu orang tuanya.

Kalau gagal ya sudahlah. Toh masih ada kesempatan berikutnya. Anak wajib dimotivasi bahwa saat gagal maka dia wajib mencobanya lagi. Dia akan terus berusaha karena tidak mengenal rasa kapok (dalam konteks positif yaa).

Jangan Menyalahkan Diri Sendiri

Ketika anak belum menang maka seharusnya dia diajari untuk ikhlas. Bagaimana dengan orang tuanya? Wajib untuk legowo juga karena kekalahan ini adalah sebuah takdir. Toh sebelumnya anak sudah berusaha keras, walau hasil akhirnya belum memuaskan.

                                                 Pexels

Ingat ya ibu-ibu, jangan menyalahkan diri sendiri ketika anak gagal. Tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri karena tidak akan mengubah keputusan juri (setelah lomba selesai).

Kalau dia “hanya” dapat juara harapan atau tidak menang sama sekali di perlombaan, mau bagaimana lagi? Cukup tenangkan hati dan jangan malah self blaming lalu menganggap diri ini sebagai ibu yang tidak mampu mengurus anak.

Perasaan negatif saat menyalahkan diri sendiri ketika anak mengalami kegagalan itu enggak enak, lho! Apalagi kalau berlarut-larut. Kalau ibunya mecucu lalu marah-marah maka mood anak juga ikut jelek. Apa mau ditegur suami gara-gara galau tiap hari dan lupa memberikan senyuman manis padanya?

Jangan Terlalu Menuntut

Jika ibu sudah berhasil menepis self blaming maka jangan pula terlalu menuntut anak. Saat dia kalah lomba malah dimarahi habis-habisan dan dihukum berat. Misalnya tidak boleh pakai gadget selama beberapa bulan, uang sakunya dipotong, dll.

                                       Pexels  

Anak yang terlalu dituntut untuk selalu berhasil maka akan menjauh dari orang tua. Padahal ibu dan ayah adalah sandaran anak, bukan? Kasihan banget anaknya, harus berprestasi setiap waktu. Dia akan berpikiran bahwa jika tidak memiliki gelar juara, maka tidak akan disayang.

Anak Sudah Berani Mencoba

Saat anak sudah berani ikut lomba, walau belum menang, sebenarnya adalah sebuah prestasi karena dia berani mencoba. Lebih baik gagal daripada tidak ikut kompetisi sama sekali dengan alasan takut kalah. Yang penting maju dulu, menang atau kalah urusan belakang.

Lagipula sebuah kompetisi memiliki banyak manfaat, bukan? Ketika anak mengikuti lomba, maka dia akan mendapatkan pengalaman baru, networking dengan peserta lain dan penyelenggara, dll. Anak akan ditempa mentalnya dan tidak takut akan kekalahan.

Liburan Bersama

Dalam rangka mengurangi rasa kesal maka ibu bisa mengajak seluruh anggota keluarga untuk liburan bersama. Misalnya dengan bermain di pantai atau sekadar piknik di taman kota. Liburan bisa meredakan ketegangan pasca lomba dan merekatkan bonding antar anggota keluarga.

                                                      Pexels

Berlibur bisa jadi stress release yang ampuh dan membuat anak jadi merasa disayang. Dia jadi paham bahwa ibu dan ayah tetap mendukungnya, walau dia belum bisa mempersembahkan kemenangan. Siapa yang suka traveling walau bukan di musim liburan?

Konsultasi ke Psikolog

Jika semua jalan sudah ditempuh tetapi anak masih murung sepanjang waktu, coba konsultasi ke psikolog. Nanti akan ditelaah dan dicari jalan keluarnya. Konsultasi ini penting demi kesehatan mental ibu dan anak.

Jangan biarkan anak meratapi kegagalan berlama-lama karena akan memiliki banyak efek negatif. Dia bisa malas sekolah, tidak mau bergaul, dll. Oleh karena itu kita butuh bantuan profesional seperti psikolog, agar anak bisa move on dan ceria lagi.

                                      Pexels




Anak wajib diajari untuk menerima kegagalan karena itu adalah proses belajar. Gagal itu biasa dan wajib diterima. Manusia tidak mungkin menang terus karena kita bukan robot. Maka, sebaiknya sejak kecil si bocah wajib dididik untuk tidak takut gagal.

Saat anak sudah bisa menerima kegagalan dia akan bertumbuh dan kelak menjadi orang dewasa yang tegar. Manusia yang bisa legowo akan keadaan dan tidak shock ketika usahanya belum berhasil. Yuk peluk dan motivasi terus anak agar bisa menerima kegagalan, agar ia menjadi pribadi yang lebih baik.

13 komentar:

  1. You win some, you lose some.
    Memang setiap orang ngga bisa menang terus2an yha.
    Tips di artikel ini mantulll banget.
    Bisa dibaca sambil dengar OST film Jumbo, terutama part ini
    "Anakku ingatlah semua lelah tak akan tersiaaaaa
    Usah kau takut pada keras duniaaaa"

    BalasHapus
  2. Bener banget mbaa..setiap orang pasti pernah merasakan kegagalan dan anak juga harus dilatih untuk bisa menerimanya karena jika tidak takutnya nanti dia merasa yg paling diantara teman-teman yg lainnya...namun juga jgn sampai kegagalan membuatnya terpuruk dan tdk bisa bangkit

    BalasHapus
  3. Selain mengajarkan dedikasi, disiplin dan GRIT. Kita juga mesti mengajarkan anak untuk meregulasi emosi sih. Karena itu tuh hal yang paling penting dalam hidup dan berkehidupan.
    Belajar menerima kekalahan, dan kenyataan bahwa kita gak selalu mendapatkan apa yang kita mau adalah bentuk regulasi emosi juga.

    BalasHapus
  4. Iniii yg bener kan. Orangtua mensupport anak, walaupun saat itu kalah dalam kompetisi. Di validasi perasaannya, di ajak ngobrol ketika mood nya sudah tenang.

    Krn terkadang ada juga orangtua yg menuntut anak utk hrs selalu menang. Ga boleh kalah. Ini yg bahaya. Takutnya alsi anak akan melakukan segala cara supaya ortunya tidak marah ketika dia kalah.

    BalasHapus
  5. Setuju bahwa emosi itu juga butuh divalidasi Mbak, rasa marah dan kecewa akibat kegagalan juga butuh divalidasi. Kalau tidak jika suatu hari dia gagal pasti kaget dan tidak bisa menguasai diri. Anak tetanggaku selalu juara 1 giliran gagal masuk PTN, sedihnya tak kira-kira, karena mungkin dia tidak terbiasa gagal. Orang tua punya peran besar sih buat mengarahkan anak ketika gagal. Kalau jaman dulu cenderungnya pasti tambah dimarahi, anak yang sudah sedih makin merasa terpuruk kalau jaman sekarang harusnya ortu sudah lebih pandai ya apalagi banyak literasi yang bisa dipelajari :)

    BalasHapus
  6. bener banget. anak2 juga perlu belajar untuk menerima kegagalan supaya nggak kaget kalo udah gede nanti. untuk menyiapkan diri kalo nggak semua hal bisa sejalan dengan apa yang direncanakan

    BalasHapus
  7. Ini satu hal penting yang harus kita ajarkan juga nih ke anak, yaitu untuk menerima kegagalan dan bisa bangkit kembali.

    Bener sih, kalau kita validasikan emosi yang ada, anak berpotensi gak akan terlalu larut dalam kesedihannya. Memang agak gak nyaman juga buat kita melihat anak sedih dan merasa "gagal". Tapi memang hal itu mereka butuhkan supaya mereka bisa bertahan hidup kelak.

    BalasHapus
  8. Menang dan kalah dalam kehidupan itu sudah biasa
    Sudah hukum alam nya
    Tinggal menentukan watak anak, apakah jadi pribadi yg bisa menerima kekalahan dan memperbaiki
    Atau jadi pihak yg tidak bisa menerima dan menyalahkan pihak lain?
    Keputusan ada d tangan masing-masing... Dan menuju ke sana itu memang tidak mudah

    BalasHapus
  9. Validasi emosi ini sangat penting << setuju sekali dengan kalimat ini, karena memang membiarkan anak kecewa,sedih ketika menerima suatu kejadian yang tidak menyamankan itu respon yang wajar.

    Benar sekali apa yang ditulis kak Avi ini, peran orang tua penting untuk merangkul, menjelaskan arti kegagalan. Semoga banyak orang tua atau pendidik bertemu dengan tulisan ini, sehingga semakin banyak anak-anak penerus kehidupan memiliki jiwa yang kuat.

    BalasHapus
  10. Namanya kehidupan, tidak selamannya apa yang diinginkan anak akan tercapai. Begitu juga kegagalan. Sebenarnya hal lumrah ya, Mbak. Tapi memang peran orang tua sangat besar dalam hal ini. dan tips di atas sudah keren sekali. Bagaimana orang tua menghibur, membesarkan hati anak, terus memberi semangat, dan pastinya menjelaskan, kalau kegagalan bukan akhir segalanya. justru dari kegagalanan, kan banyak belajar untuk memenang kompetisi berikutnya.

    BalasHapus
  11. Aku dan adik bungsuku sering ditinggal orang tua kami yang merantau. Jadi, adikku tuh kayaknya lebih nyaman kalau berinteraksi denganku ketimbang dengan orang tua kami.

    Makanya, saat dia ikut pemilihan tim voly daerah kami, dia cerita ke aku. Waktu itu, aku melihat semangatnya untuk masuk tim voly daerah itu.

    Dia bilang kalau dia dapat support dari temannya. Mana temannya bilang kalau ada kemungkinan besar dia keterima.

    Tapi, ya aku cuma mendengarkan euforia dia sama support temannya. Terus pas malamnya, sebelum dia ikut seleksi, pas makan malam, aku bilang ke dia.

    Kamu cuma perlu melakukan usaha terbaikmu. Apapun hasilnya, kamu tidak akan menyesal kalau kamu lakukan itu.

    Qodarullah, dia nggak lolos seleksi. Kupikir dia akan bersedih. Tapi, ternyata nggak dong. Berarti dia sudah menerima kegagalannya sendiri. Dan aku senang sih meski dia nggak lolos seleksi juga. Hehehee

    BalasHapus
  12. Penting banget nih mba ngajarin anak buat menerima kegagalan. Jujur aja aku saat pertama merasa gagal terpuruk banget, kebayang kalau anak-anak yang merasa gagal. Memang benar harus segera dirangkul dan di yakinkan kalau gagal itu bukan akhir malah bisa ambil banyak hikmah dan pembelajaran berharga agar di masa mendatang dapat menjadi lebih baik lagi.

    Tips yang mba jabarkan sangat masuk akal dan aplikatif sekali, bermanfaat bagi para orangtua dan calon orangtua nih.

    BalasHapus
  13. Didikan dan arahan dari orangtua bagaimana agar si anak bisa bangkit dari kegagalan pastinya jadi andil besar. Dukung selalu dan bukan menuntut, yang malah jadinya si anak trauma atau terpuruk. Inspirasi yang mantap ini, karena bisa dilakukan ke anak sendiri, tetangga, keponakan, maupun peserta didik di sekolah

    BalasHapus