Rabu, 16 Oktober 2019

Super Busy Mom

Kemarin saya mengirim WA ke teman yang menguruskan domain blog ini dan alhamdulillah ternyata expired-nya baru Januari. Kata-kata teman masih terngiang, katanya sayang sekali blog ini sudah TLD tapi jarang diisi.

OK, saya akui memang belum jago membagi konsentrasi. BLog ini terbengkalai karena pekerjaan utama sebagai penulis di media lain, job menerjemahkan artikel, mengedit buku, dan tentu saja kerjaan utama saya adalah mengurus Saladin.

Belum lagi kalau mau nulis malah mikir dulu, keywordnya apa? Nulis apa biar viral? Akhirnya batal update blog, padahal sudah nyimpan banyak ide. Harusnya ditulis sekarang ya biar ada stok tulisan untuk blog. Eh sekarang malah wajib nulis minimal 2.000-an kata sehari buat sebuah proyek.

Kapan ngurus blognya atuh?

Blog belum beres urusannya, masih pengen nulis di Kompasiana, di media lain, wkwkwk. Banyak maunyaa. Ngerjain yang mana dulu? Belum lagi kudu beresin tugas nulis untuk 2 kelas yang diikuti.

Sabar, sabaar. Tahun depan Saladin pulang sekolah jam 2 siang. Jadi lebih banyak waktu nulis dan semoga selalu istiqamah untuk ngisi blog ini. Dulu nichenya gado-gado, sekarang mau beralih ke parenting saja. Ada banyak kejadian yang dialami Saladin yang mau dibagi di sini.

Tiba-tiba jadi ingat perkataan seorang kawan. Dia nulis di blog untuk dibaca dirinya di masa depan.

Tulisan spontan dan random gak pakai riset dan cari gambar, bikinnya cepet banget. Wkwkkww.

Cheers!


Selasa, 30 Juli 2019

Ayo Sekolah! Asyiknya Belajar di Alam Bebas


‘Mama, aku mau sekolah!’
Ucapan anakku di malam itu menarikku dari lamunan. Ah, akhirnya ia betah di sekolah barunya. Saladin belajar di tempat baru, setelah sempat dikeluarkan di sekolah lamanya – baca di sini-. Di mana sih sekolahnya, kok ia merasa betah, padahal baru masuk selama sehari? Apa harus pindah ke sekolah alam di Kota Malang, tempat kami tinggal?

Sekolah alam adalah jawaban untuk anak kinestatik seperti Saladin. Di sana, ia bisa lebih bebas belajar sambil mengeksplorasi alam sekitar. Jika ada sesi belajar di kelas, maka murid akan duduk di tempat yang tembok luarnya hanya ada setengah, jadi ruangannya semi terbuka.



Pertemuan kami dengan sekolah alam sebenarnya tidak sengaja. Awalnya, jika Saladin tidak dapat sekolah ya sudahlah, homeschooling saja di rumah. Saat buka Instagram, saya browsing dengan tagar sekolah alam, ternyata ada satu yang menarik hati. Apa nama sekolahnya?

Jawaban dari doa-doa kami itu bernama SANHIKMAH, salah satu Sekolah alam di kota Malang. Lokasinya cukup jauh dari pusat kota, kalau naik motor kira-kira butuh waktu 30 menit . SANHIKMAH berada di sebuah perumahan yang berada di lereng gunung. Kalau mau ke sana ya, anggap saja mau piknik, karena melewati sawah dan pepohonan jati.


Di hari pertama sekolah, Saladin langsung tertarik dengan ayunan dan jungkat-jungkit yang ada di sana. Ini kan gedung SD, kok ada mainannya seperti di TK? Ternyata untuk anak kinestatik, sebaiknya mereka beraktivitas dulu sebelum belajar. Setelah puas, mereka akan lebih siap menyerap pelajaran. Well, ini bukan kata saya sih, tapi kata salah satu kawan yang mengajar di sebuah SD swasta dan punya beberapa murid kinestatik.

Saladin masuk di hari rabu, jadwalnya olahraga. Ada beberapa ban mobil bekas di sekolah. Saladin belajar cara menggelindingkan ban itu, lalu ia berlomba dengan teman-temannya. Senang rasanya melihat ia kembali tersenyum. Apakah olahraganya hanya seperti itu? Ternyata tidak.

Murid-murid yang bermain di sekolah alam di Kota Malang itu,  lalu diajak untuk ke mushola, salat dhuha dulu, baru mereka berangkat ke lapangan. Kami berjalan menuju salah satu lapangan yang ada di perumahan tersebut. Bagaikan mendaki gunung lewati lembah, jalannya naik turun dan ada yang terjal. Belum pelajaran olahraga udah keringatan :D.

Semua kelelahan terbayar dengan udara sejuk yang berembus di lapangan. Pagi yang cerah, matahari bersinar malu-malu. Saladin berkeliling sambil didampingi bu guru. Murid lain ada yang bermain sepakbola, lompat tali, ada yang naik gawang. Tak ada yang melarang mereka memanjat, yah namanya juga anak alam. Saat itu, saya langsung ingat tayangan Si Bolang.

Setelah olahraga, kami kembali ke sekolah. Murid-murid langsung selonjoran, ada yang ambil air putih dari dispenser, ada yang membaca buku di perpustakaan. Dalam hati saya bertanya, kapan belajarnya?


Ternyata kurikulum di sekolah alam memang beda. Tidak sekaku sekolah konvensional. Ada saat murid belajar di kelas, ada sat belajar langsung.  Misalnya belajar membuat gelembung sabun dari bahan yang ada di sekitar, belajar mengenal abjad dengan menggoreskan sisa bata di lapangan, dan lain-lain.

Salah satu yang membuat kami tertarik untuk menyekolahkan Saladin di SANHIKMAH adalah fasilitasnya, ada aquaponik,  kambing, dan tentu saja lokasi sekolahnya yang sejuk. Selain itu, guru-gurunya sangat ramah dan perhatian, dan kadang mengirim materi parenting lewat WA.


Tebak berapa yang harus saya bayar untuk menyekolahkan Saladin ke sana? Yang jelas, jauh lebih terjangkau daripada sekolah swasta lain. Jika belum punya seragam berupa kaos olahraga, pakai baju biasa juga tidak apa-apa.

Semoga Saladin betah belajar di SANHIKMAH, Sekolah alam di Kota Malang yang keren. Semua  pengalaman baru saat belajar di alam akan memperkaya pengetahuannya.


Senin, 29 Juli 2019

Saat Anakku Dikeluarkan Dari Sekolah, Rasanya ....

“Saladin tidak bisa diam di kelas dan tidak mau menuruti perintah guru. Dia juga tidak mau diajak berdoa sebelum pulang, lalu menangis dan menggigit tangannya sendiri. Maaf Bu, saya tidak sanggup menghadapinya.” 

Perkataan bu guru itu bagai palu godam di telinga. Anakku yang usianya 6 tahun 8 bulan ternyata belum bisa tertib seperti teman-temannya di kelas 1. Apakah aku memasukkan dia ke sekolah terlalu awal? Dia sepertiku, lahir di akhir tahun,  jadi saat akan daftar sekolah, umurnya nanggung.

Kenanangan terlempar ke hari pertama sekolah, Saladin merengek untuk minta ditemani saat upacara. Dia lalu bosan, menguap, jongkok, dan ... berlari kepadaku yang berbaris di sebelahnya, minta gendong. Kepalanya dimasukkan ke dalam kerudungku. Kurasa ini hanya sindrom hari pertama sekolah, jadi wajar kalau dia manja. Sayangnya, di hari kedua dan ketiga –menurut pengakuan gurunya- dia sering menangis dan tidak mau duduk diam di bangku.

Esoknya aku bertemu dengan ibu kepala sekolah. Kepsekpun berkata, “Maaf, sepertinya ananda Saladin belum siap emosinya untuk belajar di kelas 1. Dia terlalu banyak bergerak dan suka membikin gaduh di kelas. silahkan tarik berkasnya ’ Itu adalah ucapan halus dari ‘dikeluarkan’. Oh, tidaak! 

Rencanaku, Saladin akan kukembalikan untuk bersekolah di TK, tapi kata bu guru TK-nya sepertinya kemungkinan kecil ... Apa yang harus kulakukan, masih adakah masa depan baginya? 

Kutatap seragam merah putih yang melambai di jemuran. Ah, baju itu hanya sempat dipakai selama beberapa hari. Tangisku meledak. Kulihat sosok anak perempuan yang sedang tertunduk di pojokan, ketakutan di hari pertamanya sekolah. Ia berpura-pura sakit dan ingin pulang. Masa belajar di SD bukan waktu yang menyenangkan. Anak itu adalah ... diriku sendiri.


Mengapa pengalaman ini terulang, bahkan Saladin tidak betah sekolah di tempat yang konvensional? Yah, kutarik napas dan berpikir, mungkin dia memang belum siap secara mental. Jika tidak bisa sekolah lagi di TK, homeschooling saja lah.  Awal tahun depan baru cari sekolah lain yang kiranya cocok untuk anak tunggalku.

Ada wacana juga untuk memindahkannya ke sekolah alam, tapi hampir semua sekolah swasta sudah tutup pendaftarannya. Apakah harus ditunda setahun, baru dia bisa merasakan duduk di bangku SD? Semoga ada jalan terbaik.

Minggu, 14 Juli 2019

We Don't Know If We Don't Try

Kemarin saya mencoba bumbu instan terbaru dari suatu merek dan ternyata ... opornya pedas. Selain membeli bumbu, saya juga membeli mi instan dengan bonus keripik kentang dan rasanya juga pedas. Tuntas sudah rasa penasaran saya, walau lidah ini harus menyesuaikan diri dengan cabai bubuk yang mengigit.

Saat mencoba produk baru, kita bisa punya 2 kemungkinan: enak atau zonk. Kalau zonk seperti yang saya alami ya, disyukuri saja. Alhamdulillah si kecil Saladin tidak ikut mencicip karena belum kuat makan pedas. Ada alarm di dalam tubuh yang mengatakan kalau saya harus lebih teliti atau minimal mencari ulasannya di internet, sebelum mencoba produk baru.

Apakah setelah itu saya takut untuk mencoba produk baru? Jawabannya tidak. We don't know if we don't try. Rasa "takut gak enak", "takut pedas", dan lain-lain akan menggerogoti keberanian. Bukankah hidup lebih berwarna jika kita sering mencoba hal baru?

Kenangan saat saya berolahraga di lapangan Rampal muncul lagi dalam ingatan. Saat kuliah dulu, seorang kawan mengajak saya senam pagi di sana. Minggu pagi yang biasanya saya habiskan di dapur, akhirnya berganti jadi rutinitas berpeluh keringat sambil menyegarkan pikiran. Di sana bahkan saya bisa berkenalan dengan beberapa instruktur senam yang terus menyemangati untuk berolahraga, padahal sebelumnya saya merasa tidak pintar dalam cabang olahraga apapun. Saya tidak bisa berenang, main voli, atau tenis meja.

Saat menemukan senam aerobik sebagai olahraga favorit, saya merasa "ah, akhirnya aku juga bisa berolahraga." Jika saja saya tetap menonton televisi di minggu pagi atau mencoba resep baru, dan menolak ajakan kawan itu untuk senam, mungkin hidup akan begitu-begitu saja. Statis dan membosankan.

Ketika mencoba kegiatan baru, atau produk baru, sebenarnya kita sudah menaklukkan rasa penasaran dan memperkaya pengalaman. Jangan takut untuk mencoba hal baru, karena hidup akan jadi berwarna. Akhir minggu akan tersa lebih manis jika Anda memasak resep baru atau sekadar mencoba berbelanja di minimarket yang baru dibuka di dekat rumah.

Senin, 09 Oktober 2017

Kelas Berbayar Atau Gratisan?

"Mbak saya gak jadi ikut. Ternyata kelasnya bayar"

Dengan geli saya membaca chat wa dari seorang (mantan) calon murid. Hari itu saya mengiklankan kursus bahasa inggris Ican Course di fb dan ig. Lalu ketika ada wa masuk, reaksinya seperti ini. Wkwkkw. Enaknya dibalas apa ya?

Akhirnya saya balas gini:
Maaf dear, there's no free lunch in this world. Gak ada yang gratis di dunia ini, lha ke toilet umum aja bayar.

Saya lupa ia menjawab apa. Tapi wa itu membuat saya berpikir, apa benar kelas gratisan lebih menarik? Bahkan ada yang berprinsip bahwa ilmu itu gratis karena pemberian dari-Nya. Hmmm....

 Jujur saja saya pernah ikut kelas gratis di grup fb maupun wa, beberapa kali. Ada kelas menulis dan juga marketing. Lalu endingnya gimana?

Di kelas marketing, ditawari untuk ikut kelas berbayar. Jadi yang gratisan hanya pancingan aja, uhuks!

Di kelas menulis, rup fb-nya kosong melompong, semangat dari anggotanya hanya ada di awal. Pengurusnya sibuk sendiri-sendiri. Mungkin anggotanya mikir "alah, kelas gratis aja. Gak setor tulisan juga gak ada resikonya".

Jreng jreeng, beginilah kalau gratis, jadi diremehkan. Ican Course juga beberapa kali buka kelas gratis, hasilnya juga hampir sama. Ada yang keluar grup tanpa izin, ada yang hanya menyimak kelas tanpa menyetorkan tugas akhir.

Padahal ada murid lain yang benar-benar serius dan butuh kemampuan bahasa inggris untuk kemajuan mereka. Ada seorang owner aplikasi ojek online khusus wanita yang akan kuliah ke luar negeri. Juga ada seorang pelayan rumah makan yang akan daftar kejar paket C.



Akhirnya kami menghapus kelas gratis dan menerapkan biaya 250.000 untuk 8x pertemuan. Kelasnya melalui WA, gurunya juga butuh uang untuk beli pulsa, hehehe. Harganya masih wajar kan. Dengan membuka kelas berbayar, semoga murid-murid lebih serius belajarnya.

Kalau kamu gimana, suka ikut kelas gratis atau berbayar?

Rabu, 13 September 2017

Lagi Galau? Makan Mie Galau Aja

Akhir minggu adalah momen yang dinanti-nanti. Apalagi untuk emak kurang piknik seperti saya :P. Alhamdulillah ada undangan dari teman-teman alumni SMPN 5 Malang untuk reuni di kedai Mie Galau.

Jum'at jam 16:30, saya tergopoh-gopoh naik ke atas motor. Paksuami membonceng kami (saya dan saladin) menuju Jl. Selorejo nomor 83. Sampai di Jl Mawar, lalu puter-puter, laah ada Jl Selorejo blok A dan blok B, yang mana? Muter muter lagi tapi kedainya belum ketemu. Belum sempat saya mengambil hp, akhirnya paksu pakai gps alias gunakan penduduk sekitar, wkwkwk. Dengan petunjuk dari pemilik warung sate di depan pasar tawangmangu, akhirnya kami sampai ke kedai Mie Galau.
Sampai di sana berasa adem, karena ada beberapa pohon besar yang menaungi. Ada dua bagian di kedai, outdoor dan indoor. Saya masuk untuk mencari teman-teman, rupanya sudah ada beberapa yang datang. 

Saladin asyik melihat-lihat buku menu, sedangkan saya mengamati interiornya. Dinding berlapis wallpaper dengan warna soft membuat kedai ini bernuansa homey, sangat hangat dan nyaman. Ada sebuah televisi yang menyiarkan tayangan dari luar negeri, dan juga speaker yang mengalunkan lagu-lagu kekinian.



Tak sampai 30 menit, pesanan kami sudah datang. Segelas es teler untuk meredakan haus setelah putar-putar tadi. Hmm, yummy. Segelas besar harganya 11.000 saja (include ppn). Isinya nangka, alpukat, dan nata de coco. Yang saya sukai adalah manisnya pas banget. Walau banyak es batunya, tapi manisnya gak berkurang. Ini baru es teler!

Kalau untuk makanannya saya memesan mie ramen udang. Makanan kesukaan naruto ini tersaji dengan topping beragam: setengah telur rebus, nori, serutan wortel, cacahan daun bawang, bawang goreng, dan bulet2 itu entah apa namanya, plus tiga buah udang goreng berbalut tepung roti. Haap, udangnya langsung masuk ke mulut Saladin, nyam nyam enak. Kuahnya segar dan mie-nya disajikan dengan porsi yang lumayan. Saya makan berdua dengan Saladin. Mie-nya agak tipis tapi lembut dan gampang masuk mulut, sedaap. 

Sendoknya juga ucul banget, lebih bulat dari sendok biasa, jadi gampang untuk menyeruput kuahnya. 













Mie ramen ini harganya 22.000 (exclude tax)

Ada juga ramen katsu, mirip ramen udang tapi lauknya ayam goreng.

Kamu pesan mie goreng? Bisa pakai mangkok seharga 4.000. Yang dimaksud mangkok adalah pangsit yang dibentuk mangkok dan digoreng. Jadi makan mie sekalian mangkoknya, enak..Saya kira rasanya tawar, ternyata asin dan gurih. Sayang gak sempat motoin.

siomay udang dan wonton mini











Karena pesanannya lumayan banyak (lebih dari 150 ribu), maka kami dapat bonus wonton mini, horee! Semacam siomay entah isinya ayam atau udang, tapi lipatannya beda, dan kecil2, sekali suap gitu. Karena wontonnya digoreng, memberikan sensasi gurih dan crunchy.


Terakhir, saya mencicipi siomay udang. Udangnya terasa banget dan tidak digiling terlalu halus. Jadi masih ada potongan udang yang bikin sedap. Recommended!

Di sini makannya gak cuma mie -mie an aja, tapi ada mpek mpek dan gado-gado. Harga minuman mulai 3.000 dan mie-nya kisaran 13.000-22.000 (exclude tax).

Buka mulai jam 11 siang sampai 9 malam. Kalau hari jum'at, bukanya setelah jum'atan, jam 1 siang. Eits, kalau senin libur yaa.

Bisa dipesan melalui go food, atau datang ke cabangnya di Taman Jajan Al Fatih, Sawojajar.

Sayang kemarin kami tidak bertemu dengan ownernya,. Mr Hanif dan Mrs Diajeng. Fyi, Hanif adalah kawan sekelas saya waktu SMU. Alumni Universitas Brawijaya ini memilih untuk berbisnis kuliner sejak tahun 2011.

Sukses terus ya untuk Hanif, Ajeng, dan Mie Galau. Kamu galau? Makan aja di Mie Galau, dijamin galaunya minggat.




























Senin, 07 Agustus 2017

Masak ngebut untuk sarapan? Bisaa



“Kriing!”. Jam weker berteriak, sudah jam 5 pagi. Angin dingin berhembus, menusuk tulang, ingin rasanya tidur lagi. Tapi matahari makin meninggi. Pagi hari adalah waktu paling hectic bagi mama. Setelah mandi dan berdandan, menyapu,  lalu masak sarapan untuk keluarga tercinta. 

Memasak itu asyik dan juga lumayan butuh waktu, mengupas bawang, menyiangi sayuran.Wah, anak-anak bisa terlambat karena menunggu mamanya yang tak kunjung selesai masak. Lebih baik tidak sarapan daripada disetrap bu guru. Tapi kasihan jika mereka malah masuk angin. Daripada puyeng, yuk baca tips masak ngebut ini:

1. Sediakan bawang putih bubuk di dapur
Di minimarket banyak lho ma bawang putih dalam bentuk bubuk. Jadi kalau mau bikin capcay, gak usah kupas kupas bawang lagi.Tinggal tabur di atas wortel dan sayuran lainnya.Masak deh. Praktis!

2. Kalau tidak ada bawang putih bubuk, pakai senjata lain yaitu parutan keju. Setelah bawang dikupas, cuci, baru diparut dan ditumis. Gak usah ngulek atau memblender bawang, hehehehe.
Hati-hati ma, di pagi hari kan masih mengantuk. Kalau terlalu asik mengiris bawang, jari bisa kena pisau. Jadi lebih aman pakai parutan.

3. Persiapkan bahan masakan di malam hari. Membersihkan wortel dan buncis, mengiris rapi. Paginya, saat akan masak sop, tinggal plung, matang deh. Syedaap.

4. Bikin sarapan praktis, misalnya roti bakar, atau sandwich, yang membuatnya tidak terlalu sulit dan tidak memakan banyak waktu

5. Capek masak? Langganan katering atau beli di warung, hehehehehe. Tentunya disesuaikan dengan budget kita.

Ada yang punya tips lain?

Selasa, 25 Juli 2017

Dagangan Anda Ditawar? Ini Cara Menghindarinya

"Mahal banget sih bajunya, kasih harga saudara ya!"
"Aku kalau beli 3 biji dapat diskon gak?"

Pernahkah dapat komentar seperti ini? Sebagai pedagang, tentu kita menemui berbagai macam tipe pembeli. Ada yang suka borong, sementara yang lain beli barang kecil-kecil tapi teratur tiap minggu. Salah satu jenis pembeli yang bikin makan ati adalah yang suka nawar.

Ini yang bikin garuk-garuk kepala, sudah untungnya mepet, eh masih ditawar harganya. Sadis pula. Misalnya kita jual tas bahan kanvas seharga 125.000, eh ditawar cuma 40.000, plus minta free ongkos kirim. Daripada menuruti kemauan mereka dan jadi rugi (karena bisa jadi cuma iseng menawar), yuk ikuti tips berikut ini.

-Kasih tulisan "harga pas". 

Jadi ketika ada yang menawar, tolak dengan halus dengan mengatakan "maaf ya, silakan cari toko lain". Kalau dia marah lalu mengancam akan menyebarkan berita buruk tentang kita, biarkan saja. Pembeli yang sudah jadi langganan tak akan percaya begitu saja dengan omongannya.

 -Naikkan sedikit harganya. 

Misalnya kita jual gamis dengan harga 250.000 dan mendapat keuntungan 25.000. Naikkan sedikit harganya jadi 265.000, jadi jika ada yang menawarnya jadi 250.000, kita masih dapat untung. Jika tidak ada yang menawar? Beri harga 250.000, bilang saja diskon 15.000.

-Ajak bercanda. 

Ini ampuh untuk pembeli yang sangat ngotot menawar. Jika kita menjual rainbow cake homemade seharga 200.000, lalu ada yang berkomentar begini, "Cake gituan aja kok mahal. Saya pesan tapi harganya 100.000 ya". Senyumin saja lalu bisikkan "iya, saya kasih diskon 50% tapi ukurannya juga di diskon 50%,  wkwkkwk. Dijamin dia manyun lalu ngibrit. 

Kehilangan pembeli dong? Tenang saja, saat satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka. Pasti ada pemesan lain yang mau mmbeli dengan harga pantas.

Kalau jual baju atau tas bagaimana? Caranya hampir sama. Jika pembeli datang ke toko kita dan menawar 60% dari harga jual, pegang gunting dan pura-pura saja akan memotong dagangan jadi setengahnya. Dijamin dia ngabur, hehehehe.

-Beri diskon khusus

Misalnya nih, ada yang menawar ongkos kirim, dari 15.000 jadi 5.000. Berikan jalan tengahnya, boleh ongkirnya segitu, tapi harus beli minimal satu lusin. Kalau ia gak minta diskon, tapi minta gratis ongkir bagaimana? Lagi-lagi ajak bercanda, “Boleh bu gratis ongkos kirimnya, tapi silakan ambil sendiri toko kami, lokasinya di Perumahan XYZ”. Atau sesekali ada promo free ongkir dengan syarat harus beli barang minimal seharga 400.000.

-Tawarkan win-win solution

Anda sedang merintis jasa pembuatan logo perusahaan, lalu ada yang tanya “paling murah berapa?”. Tahan dulu amarah dalam hati. Karena ada orang yang berprinsip MEA (murah-enak-akeh alias banyak—dikira kerupuk kelees). Kalau budgetnya tidak emncukupi, tawarkan saja permintaanya ke desainer lain yang mungkin memasang tarif di bawah anda. Atau kasih tahu, Pak bikin sendiri pakai aplikasi bisa lho. Tutorialnya juga banyak di google. Gratis kan.

 Jika usahanya bakery? Ngelesnya gini: misalnya dia hanya ada dana 50.000 untuk  blackforest cake, tapi ngotot dibuatkan yang besar. Kalau sudah ngempet marah di ubun-ubun karena kita menjelkaskan panjang-lebar tentang harga bahan, proses pembuatan yang tidak mudah, ya sudah. Bilang saja “Iya, tapi uang itu untuk beli telur, gula, dan tepung saja. Lalu silahkan bikin sendiri, silahkan pakai mixer dan oven saya.

Lha katanya pembeli adalah raja? Ya, tapi seorang raja tidak akan menawar dengan tega. Karena ia punya banyak uang :p.

Berdagang juga butuh skill komunikasi untuk bisa nego dengan pelanggan. Bukan siapa menang-siapa kalah. Tapi tentu ada jalan tengahnya.

Sekian tips dari saya, semoga jualan teman-teman lancar jaya dan laris manis. Anyway, ada yang punya tips lain?




Senin, 13 Februari 2017

Pekerja Serabutan Atau Multitalenta?

Peringatan! Ini adalah postingan curcol. 

Beberapa hari ini lagi galon karena gamang, mau bikin rencana kerja sampai 5-10 tahun ke depan dan ambyar. Stuck dan belum ada ide. Padahal sudah baca kalimat motivasi, sudah dapat supplier ok punya, punya teman baik di dunia nyata maupun maya. Lalu mengapa loyo?

Karena belum bisa fokus di satu bidang..

Let's say, saya seorang blogger.Tapi belum sering dapat JR. Isi blog pun masih campur aduk dan belum ditata dengan rapih, belum ada niche spesifik. Walau belakangan sering nulis tentang marketing dan bisnis online. Ada sih blog saya yang niche nya resep makanan, tapi belum tld. Selain nulis, masih ada kerjaan lain seperti..

Jualan baju. Yes, i love fashion! Bersyukur ada supplier kece yang super fast response. Terima pesanan pizza, juga jualan tepung premix pizza dan keju mozzarella. Juga jadi marketer jilbab anak, mukena, gamis, jilbab dewasa, de el el de es be.

Kalau ada yang minta tolong menerjemahkan artikel ya dikerjakan, dengan syarat jangan banyak-banyak. Karena kan ngerjainnya sambil ngasuh Saladin yang super aktif. Lalu malamnya saya masih ngajar bahasa inggris di kelas online.

Jadi pekerjaanku apa? Serabutan? Jual palugada? Barang loe mau, gue ada, kalau ga ada ntar saya tanyain ke supplier, siapa tau ada temannya yang jual. Ajaib, seharian mengerjakan beberapa macam kerjaan yang membutuhkan keterampilan, kreativitas, sekaligus tenaga. Mumet? Heheheheh.

pinjam dari sini


Lalu ada seorang teman yang mengingatkan. Gak usah galon karena kerja masih serabutan. Itu tandanya, saya punya beberapa bakat yang patut disyukuri. Karena di dunia ini ada orang yang hidupnya mengalir aja, tanpa tahu bakatnya apa.

Ihiks. Makasih ya temaan. Nasehatnya makjleb banget. Biarin deh dianggap nggak fokus, yang penting dapat duit. Matre dong? Saya masih ada tanggungan (ceritanya di sini) jadinya kerja ngejar profit juga. Nanti juga lama-lama tereliminasi dan bisa fokus hanya di 1 bidang.

Hari ini saya berjanji, tak akan melabeli diri sendiri dengan anggapan "pekerja serabutan". Saya adalah ibu rumah tangga yang berusaha dengan memaksimalkan bakat-bakatnya, menjadi ibu multitalenta, sehingga Saladin bisa tertawa karena kekenyangan pizza jualan sang Mama.

Terinspirasi dari postingan Papi Ubii, makasih yaa.

Senin, 06 Februari 2017

Enam Hoax Tentang Pengusaha

Jadi pengusaha itu asyik! Bisa punya Mall dan properti lain seperti  Pak Ciputra, mau ke luar negeri juga tinggal packing lalu pencet pencet smartphone, pesan e ticket. Hmm, enggak juga. Setelah lima tahun menekuni dunia bisnis, ternyata ada banyak kabar bohong alias hoax mengenai enaknya jadi pengusaha. Apa aja ya?

1. Semua Pengusaha itu Kaya

Pengusaha yang sukses memang terlihat mentereng, bawa gadget terbaru, pakai tas kulit, baju branded. Tapi gak semua pengusaha itu kaya. Serius! Ada pengusaha yang masih berjuang, mengatur keuangan agar tidak terlambat membayar gaji karyawan. Dia berusaha menaikkan omzet agar bisa pindah dari rumah mertua atau kontrakan.

Kok bisa ya? Karena rata-rata bisnis baru berjalan stabil di tahun keempat. Kalau bisnisnya baru mulai ya pengusaha harus pintar-pintar mengatur cashflow. Agar keuangan perusahaan dan keuangan rumah tangga tidak tercampur, dan bisnisnya berjalan lancar.

Kalau mereka punya mobil? Bisa jadi itu kredit atau pinjaman. Inilah godaan jadi pengusaha, apa bisa menghindari tekanan dari gaya hidup mewah. Keuntungan dari bisnis baru 2,5 juta, eh harus bayar kredit mobil senilai 2 juta. Padahal ia juga butuh beli beras, susu anak, dll. Jangan sampai tekor gara-gara ingin terlihat keren.

2. Punya Kebebasan Waktu
Ada yang ingin jadi pengusaha karena menurutnya pengusaha itu bisa enak-enakan ngopi jam 9 pagi, sambil baca koran di teras. Kenyataannya, pengusaha yang baru merintis bisnis harus tirakat alias mengurangi jam tidur, karena ia sibuk mempromosikan bisnisnya sambil mencatat keuangan sendiri (karena belum sanggup menggaji seorang akuntan). Jam kerjanya bisa mencapai 16-20 jam sehari.

Mengapa terkesan workaholic? Karena membangun bisnis memang butuh waktu dan komitmen serta kerja keras (dan cerdas). Bayangkan, kita tak hanya belajar mengenai marketing dan manajemen, tapi juga memahami bidang psikologi (karena karakter pembeli berbeda-beda), belajarcara packing yang rapi, efisiensi waktu, dll.

3. Tidak Pernah Dimarahi Boss

Memang pengusaha itu tidak punya boss, tapi ia juga beresiko dimarahi oleh orang lain, bisa supplier atau pembeli. Walau sudah berusaha tapi kesalahan bisa terjadi, entah karena kantuk atau faktor lain. Jadi jangan baper ya kalau dimarahi pembeli. Sabar aja.

Pembeli adalah raja, jadi wajar kalau dia marah? Hmm, pengusaha memang harus kasih servis terbaik, tapi raja yang adil dan tidak lalim lebih disayang rakyatnya kan? Menurut saya, penjual masih punya daya tawar. Jangan mau dirayu atau dimarahi agar pembeli dapat diskon plus free ongkir, kalau jadinya rugi.

4. Pengusaha itu Hebat Karena Berani

Banyak yang memuji pengusaha karena berani mengabil resiko. Apalagi kalau ia berjualan makanan, jika tidak laku, sisanya mau diapakan? Well, pengusaha juga manusia. Pasti punya rasa takut.
Misalnya saat ingin kulakan jilbab, sempat terbersit rasa takut, beli yang mana? Nanti laku atau tidak? Jadi, yang bisa dilakukan adalah meminimalisir rasa takut. Berdoa semoga semua dilancarkan jalannya oleh Tuhan.

5. Dianggap Kuat dan Tahan Banting

Katanya kalau jadi pengusaha itu harus punya tekad baja dan tebal kuping. Idealnya begitu sih. Tapi sebagai wanita, ada waktu sensitif dan baper (pms), ditegur supplier mewek, ditanya pembeli jadi cengeng, aih.

Maklum lah, kita ini manusia, bukan robot. Wajar kalau punya emosi. Tapi, setiap emosi negatif tidak boleh dibiarkan berlama-lama dipendam (nanti jadi jerawat) atau diumbar di medsos (nanti pembeli jadi takut).  Salurkan tangismu di rumah ibadah, curhatlah sepuasnya pada-Nya. Amarah jadikan bahan bakar yang bisa memangkas  lemak, di fitness center. Setelah itu lega kan, siap kerja lagi.

6. Pengusaha itu Keren

Cool! Itulah image yang dimiliki oleh pengusaha (terutama ibu ibu ol shop), karena bisa bekerja sambil mengasuh anak di rumah, sambil bersih-bersih, dll dsb. Tapi di balik anggapan itu ada tetangga yang nyinyir, menganggap pengusaha wanita itu sombong karena tidak mau diajak bergosip (karena lebih suka bekerja). Ada orangtua yang khawatir apakah anaknya bisa makan dari hasil usaha? Ada juga teman kepo yang mengira kita memelihara makhluk astral, tidak keluar rumah kok uangnya banyak? Hihihihi. Cuekin aja.

Kalau mau jadi pengusaha sukses ya harus mau kerja keras, kerja cerdas, belajar terus. Ikut pelatihan wirausaha, seminar motivasi, baca buku marketing, dll. Disertai juga dengan berdoa dan beribadah kepada-Nya, agar diridhoi.

Jadi kamu masih ingin jadi pengusaha?

Rabu, 01 Februari 2017

Lima Alasan Batal Membeli Barang di Online Shop

Harga beras, cabe, tomat, tambah naik. Sementara pendapatan suami segitu aja, stagnan. Wah, gimana nih? Sebagai ibu rumah tangga, kita memang harus kreatif untuk menambah penghasilan keluarga. Salah satu caranya adalah dengan membuka online shop.

Tapi hati-hati ya, sebagai seller alias penjual, kita diwajibkan untuk pandai-pandai mengelola toko online. Salah satunya adalah dengan membaca buku marketing, mengikuti seminar wirausaha, dll. Jadi kita bisa meminimalisir gagal closing alias batalnya transaksi oleh calon pembeli. Closing bisa batal karena beberapa alasan berikut:

1.Barang Tidak Bisa Dibeli Eceran

Jadi pengusaha tanpa modal? Bisa kok, salah satu caranya adalah dengan menjadi dropshipper. Stok barang ada di supplier, kita tinggal copas foto untuk mengiklankan produk.Saat barang terjual, dapat laba. Asyiik.

Tapi bagaimana jika barang tidak bisa dibeli eceran? Misalnya, kita jadi dropshipper kaos kaki. Supplier bilang, pembeli harus beli minimal 4 pasang. Wah, kalau ada calon buyer yang mau beli 1-2 pasang saja, terpaksa ditolak.

Solusinya? Perluas target market. Jika selama ini hanya berjualan di fb, coba maksimalkan fp. Beri materi dan konten menarik sehingga orang suka dan me-like fp dengan senang hati. Bikin website atau minimal blog jualan. Bikin akun ig khusus jualan, bisa juga dengan line@. Pilih target market yang sesuai dengan barang yang kita jual ya. Jadi mereka juga gak keberatan jika beli 4 pasang kaos kaki sekaligus (karena punya duit).

Jika ada keuntungan, simpan saja, jangan dihabiskan dulu. Kumpulkan laba dan gunakan untuk kulakan. Jadi kita bisa menjual kaos kaki itu secara eceran.

2. Stok Barang Habis

Salah satu resiko dropshipper adalah kehabisan stok. Jadi kalau mau beriklan, pastikan stok barang di supplier tersedia banyak ya. Karena pasti ada banyak dropshipper lain. Cari juga supplier yang amanah, jujur, dan fast response. Mau wa mu dibalas supplier dengan cepat? Baca doa dulu, hehehhe.

3. Ongkos Kirim Terlalu Mahal

Kebetulian kita tinggal di dekat pusat grosir, jadi bisa kulakan tas dengan harga murah. Tapi calon pembelinya jauh di ujung indonesia, ongkos kirim bisa lebih dari 50.000. Waah, batal deh.
Gak usah baper, cari saja target market lain yang tinggalnya dekat dengan daerahmu.

4. Beda Rekening Bank

Biasanya seller punya beberapa rekening bank, jadi pembeli bisa milih mau transfer ke bank mana. Tapi jika baru punya satu rekening ya tidak apa-apa, biasanya sih di bank yang besar dan punya cabang banyak, jadi rata-rata orang indonesia menggunakan jasa bank itu.

Tapi jika kita punya rekening di bank A, lalu customer punyanya rekening bank B, bagaimana?Sedangkan dia tidak mau bayar biaya transfer karena beda bank. Caranya pakai aplikasi (silakan cek di google) yang bisa transfer beda bank tanpa kena charge. Atau kita minta tolong pembeli untuk transfer ke saudara atau teman terpercaya (yang punya rekenign di bank A dan bank B), baru uangnya ditransfer oleh saudara ke kita.

5. Seller baperan dan tukang misuh

Seorang kawan pernah berpesan bahwa jangan sekalipun bikin status emosi negatif. Hmm, benar juga ya, kata Nabi kan berkata baik atau diam. Kalau ada pembeli php, cod gagal, lalu kita tulis di status, nulisnya sambil misuh dan nyumpahin segala. Waa..Calon pembeli jadi takut.
Walaupun jualan di dunia maya, tapi kan ada etikanya.Mulutmu harimaumu.

Belanja online adalah hobi yang menyenangkan. Moga transaksi onlinenya aman dan bebas dari masalah.

Senin, 30 Januari 2017

Lima Kesalahan Seller yang Membuat Buyer Batal Membeli

Wanita mana yang tak suka belanja? Apalagi belanja secara online, tinggal klik di hp atau laptop, ambil token lalu pencet, transfer dana. Barangnya sampai beberapa hari kemudian. Asyik kan! Bisa belanja sambil duduk manis, tanpa harus capek keliling mall dan antre di kasir.

Tapi gak semua proses belanja berjalan mulus. Kadang ada tindakan seller yang bikin buyer batal membeli. Ehm, saya gak mau salahin seller sih, mungkin saja mereka memang belum berpengalaman di dunia bisnis atau belum belajar nettiquete (etika berinternet). Kalau kamu jadi owner online shop, hindari hal-hal ini ya.

1. Seller Galak dan Judes

Saat jalan-jalan di timeline fb, eh ada yang jual baju bagus. Kita langsung komen "mau" dan kirim pesan ke seller via inbox. Barang sudah direkap, harga dan ongkos kirimnya berapa. 

Lalu kita lihat-lihat lagi barang dagangannya apa, wuih ada dompet imut. Saat mau nambah belanjaan, eh sellernya nyolot, "kan sudah saya rekap. Salahnya sendiri gak milih beberapa item, kan jadi harus ngitung lagi". Lah, kan kewajiban seller untuk merekap total belanjaan buyer. Kalau ada seller judes gini ya pembeli pada ngacir.

2. Aturan Aneh

Tas udah terkelupas nih, talinya juga lepas. Kebetulan ada salah satu dari friendlist yang jual tas dengan harga reasonable. Kita langsung berkomentar "mau". Lalu ada orang lain yang berkomentar "fix". Eh tasnya malah terjual ke komentator kedua. 

Begtu kita protes, seller malah bilang gini "kalau mau beli yan bilang fix, bukan mau. Dan langsung transfer. Siapa cepat dia dapat. Kamu lemot sih". Wiih rasanya pengen meremove aja seller model kayak gini.

Kalau komentar mau itu sama dengan fix ya, kok ada aturan aneh semacam ini. Dan umumnya seller online shop menerapkan peraturan batas maksimal transfer 2x24 jam, atau ada yang 3x24 jam. Karena tidak semua customer punya akun m banking atau i banking, jadi mereka tidak bisa secepatnya transfer ke atm. Mungkin masih sibuk di kantor atau mengurus anak.

Ada lagi seller yang menerapkan aturan harus deposit dulu sebelum belanja. Misalnya mau beli baju ya transfer dulu 500.000, baru bisa beli barang seharga 250.000. Iya kalau sellernya terpercaya, kalau enggak? Saya sih ogah dengan seller semacam ini, mending cari yang lain.

pinjam dari sini


3. Seller MALAS menjawab

Saya sengaja ketik dengan huruf besar karena faktanya banyak sekali seller yang malas untuk sekedar menjawab pertanyaan customer. Saat udah ngebet pengen beli kaos kaki dan tanya harganya berapa, eh jawabannya "coba scroll ke bawah ya, di foto sebelumnya ada harganya". Yah kitakan lihat foto yang ini, bukan yang sebelumnya.

Please deh! Kalau seller gak hafal harganya kan bisa nyontek dulu di daftar harga, dan membutuhkan waktu kurang dari lima menit. Calon pembeli akan kecewa dan merasa dipingpong dengan jawaban seperti ini.

Kalau seller supers ibuk karena banyak pesanan, tak ada salahnya menggaji seorang admin yang megang wa dan sosmed seller. Tugasnya untuk menjawab pertanyaan, merekap, jadi seller bisa berkonsentrasi untuk hal lain. Kalau tokonya ramai kan bisa berbagi rejeki dengan admin.

4. Seller Slow Response

Namanya berjualan online, ya harus sering online. Kalau seller tidak menjawab pertanyaan calon buyer selama lebih dari 24 jam, krik..krik..Kemana aja? 

Saya bisa nulis ini karena ada pengalaman dari seorang teman, ia ingin memesan nasi kuning pada seorang seller sekaligus owner katering online. Mau minta daftar menu saja butuh waktu 2 hari. Wah akhirnya ia cari catering lain yang responnya lebih cepat.

Jadi kalau seller mau ada acara, pasang pengumuman, maaf kami sedang sibuk, slow response. Atau tulis di fb/ig/fp, afwan hari minggu libur. Jadi tidak ada miskomunikasi.

5. Tidak faham spesifikasi barang

Ada daster imut nih, tapi takut kependekan. Jadi kita tanya penjualnya, panjangnya seberapa ya? Eh jawabannya “sebetis”. Glodak! Betis orang yang bertinggi 165 cm dengan 150 cm kan beda panjangnya. Kalaupun dia dropship , gak megang barangnya langsung, ya tanya ke suppliernya tentang detail barang. Panjang baju dan lingkar dada berapa, bahannya apa, dll. Jadi kalau ditanya calon pembeli tidak gelagapan.

Ribet ya jadi seller? Karena kita ada di dunia maya, seller dan buyer tidak bertemu langsung. Jadi intinya adalah kepercayaan. Seller yang ramah akan lebih dipercaya oleh calon buyer. Komunikasi via chatting juga tidak bisa memperlihatkan ekspresi, jadi sering sering pakai smile emoticon :).

Saya doakan semoga semua teman yang berstatus buyer maupun seller rejekinya lancar.