Jumat, 17 Juni 2016

Anakku Dikira Bisu Karena Kecanduan Gadget

"Lho, anaknya bisa ngomong? Aku kira dia bisu!"

Siapa yang tak sakit hati jika anaknya diledek seperti itu? Apalagi oleh tetangga sendiri. Putra saya, Saladin memang sudah berusia 3,5 tahun, tapi dia jarang sekali mengeluarkan kata -kata dari mulutnya. Paling paling hanya ayah, mama, maem, jajan. Kosakatanya tidak bertambah selama dua tahun terakhir. Saking irit ngomongnya, sampai sampai ia dikira tuna wicara!

Umumnya anak bisa berbicara lancar saat berusia 2 tahun. Namun mengapa ia belum bisa ngomong? Dulu saya kira ia adalah anak pendiam, atau memang malas berbicara, seperti ayahnya. Tapi jangan jangan ia belum bisa berkomunikasi dengan baik, karena ada masalah di pendengarannya? Atau ia adalah anak autis?

Akhirnya Saladin dibawa ke sebuah rumah sakit, menuju praktek dokter spesialis THT. Setelah diperiksa, syukurlah, ternyata tak ada kelainan apa-apa di telinganya. Tapi nenek Saladin yang masih penasaran, membujuk untuk konsultasi ke sebuah Klinik Tumbuh Kembang.

Ruangan klinik yang senyap serasa meneror hati, apa yang harus dikatakan? Tapi senyum Pak Psikolog yang mengembang benar-benar menentramkan hati. Ia mempersilahkan untuk mencurahkan isi hati. Lalu saya bercerita tentang kekhawatiran Nenek Saladin, apakah ia autis, atau hiperaktif. Mengingat hobinya memanjat pohon, suka berlari, bahkan nekat menyeberang jalan sendiri.

Satu pertanyaan yang meluncur bagai bom atom, meluncur dari mulut beliau.

"Apakah Saladin menonton televisi lebih dari satu jam dalam sehari?"

Saya hanya bisa menjawab "ya". Sambil mengingat, berapa jam dalam sehari, durasi Saladin menonton televisi? Ya Tuhan, secara tak sadar saya menjadikan anak tunggalku budak televisi, karena ia betah menonton  dari pagi hingga malam. Saya biarkan ia menonton tv karena saat itu ia bisa anteng, duduk diam dan memelototi layar. Sementara saya asyik bercengkrama dengan smartphone.



Ponsel android ini menjadi andalan saya dalam bekerja, karena ada toko online yang saya kelola. Jadi saya harus sering sering online di ig dan fb, berpromosi, membalas inbox dari pembeli dompet cantik, atau mengecek apakah ada pesanan melalui BBM. Setelah berpromosi, smartphone ini tidak saya letakkan, tapi saya malah asyik berkomentar di status teman-teman, atau ketawa ketiwi di grup wa.

Ketika Saladin bosan dengan suatu program di televisi, ia memencet mencet tombol dan mengganti channel senaknya. Lalu bocah itu merebut smartphone dari tangan saya, menyetel musik, dan belajar memotret. Saat jenuh, maka dengan sigap ia memanjat kursi sebagai tumpuan, menuju ke atas lemari yang tingginya dua meter! Di sana ia tidak menangis, malah meringis dan berdiri, lalu fashion show di atas lemari!



Dan akhirnya saya menyadari kesalahan terbesar: Saladin terlihat seperti seorang hiperaktif dan bisu karena ia mencari perhatian dari mamanya, dan kurang diberi stimulasi. Memanjat adalah caranya untuk meminta perhatian saya. Mata yang tadinya terpaku pada layar smartphone harus beralih ke Saladin, ketika ia berada di atas lemari. Ia tidak nakal, hanya kurang kasih sayang.

Lalu ketika ia menonton televisi atau menonton video di hp terlalu lama, ia asyik sendiri. Seolah olah tersedot dengan dunia di dalam layar. Komunikasi satu arah dari televisi membuatnya kesulitan berkomunikasi dua arah. Ditambah lagi, saya jarang mengajaknya mengobrol, ia asyik bercengkrama dengan tv, sementara saya tak bisa lepas dari smartphone.

Hanya satu hal yang membuat saya lega: Saladin dinyatakan bukan anak autis maupun hiperaktif. Karena tidak ada tanda tanda anak autis pada dirinya. Ia hanya overaktif, dan hal ini wajar karena anak balita memang sedang lincah lincahnya. Anak overaktif sepintas mirip dengan anak hiperaktif. Anak yang overaktif meskipun gerakannya sangat lincah masih memiliki tujuan (misalnya, ingin mengambil kue di atas lemari). Kontak matanya pun ada, sementara anak hiperaktif tidak memiliki kontak mata.

Apa yang harus saya lakukan? Kata Pak Psikolog, yang pertama adalah matikan televisi. Bermain game di smartphone, laptop, maupun pc, juga tidak boleh. Diharamkan juga menonton video di youtube. Selain berpotensi membuat matanya juling, bisa membuatnya jadi egois, susah mengimitasi kata yang saya ucapkan, dan atensinya kurang.

Anak yang kecanduan gadget (televisi, smartphone, laptop, dan PC) berpotensi jadi egois karena ia bisa mengendalikan gadget itu seenaknya. Saat bosan, tinggal mengganti channel TV. Mengganti lagu yang ingin didengar dari smartphone juga mudah sekali, tinggal geser geser layarnya.

Jadi anak berharap semua orang menuruti keinginannya, mengendalikan sekitar, seperti caranya menguasai gadget. Jika keinginannya tidak dituruti, tantrum menjadi senjatanya untuk mendapatkan benda yang ia dambakan.Selama ini, jika Saladin marah, maka saya atau neneknya segera memberinya permen atau mengajaknya ke minimarket untuk membeli eskrim. Ternyata perilaku kami salah besar. Anak jadi berpikir, dengan amarah, ia mendapatkan hadiah, tak usah berkomunikasi untuk meminta makanan.

Semua orang yang ada di rumah juga harus bekerja sama, jadi televisi dimatikan ketika ia terjaga. Ketika Saladin bangun, ia tidak boleh meminjam hp dan laptop. Dua hari tidak menonton televisi membuat saya merasa aneh, tapi lama lama biasa. Saladin akhirnya mau diajak bermain menyusun balok dan puzzle. Sementara kelincahannya bisa disalurkan ke bidang olahraga, misalnya berlari, berenang dan bersepeda.

Jalan untuk terapi Saladin dipermudah setelah smartphone saya rusak. Inilah cara Tuhan untuk meredakan kecanduan gadget (nomophobia-no mobile phone phobia) yang bertahun tahun saya idap.Saya bisa fokus mengobrol dan membacakan cerita untuk Saladin.

Lalu saya membuat keputusan ekstrim: menutup toko online. Barang dagangan yang tersisa didiskon habis-habisan, dan saya hanya boleh online di PC selama anak tidur. Uang bisa dicari, tapi kesempatan untuk mendidik anak tidak bisa diulang. Apalagi Saladin memasuki masa golden age, masa keemasan dimana ia mudah sekali menyerap ilmu pengetahuan dari lingkungan sekitarnya.

Syukurlah sekarang Saladin mulai bisa mengimitasi kata kata yang saya ajarkan. Kami sering menyanyi dan membaca majalah anak-anak bersama. Jika ada orang lain yang ketahuan menonton tv, langsung ia matikan :D.

Saya tidak anti pada kemajuan teknologi televisi dan smartphone. Melalui televisi, kita bisa dapat hiburan dan mengetahui berita dari dalam maupun luar negeri. Jika ada smartphone tentu mempermudah komunikasi dan membuat pemilik toko online terbantu dengan fasilitas bbm, wa, dan sosial media. Bahkan ada tukang sayur yang siap mengirim pesanan melalui wa.

Tapi tentu saja semua itu harus dikendalikan. Balita boleh menonton televisi tapi maksimal satu jam dalam sehari. Biarkan mereka bermain di lapangan atau bersepeda di samping rumah.

Jangan sampai smartphone dan gadget menguasai kita, membuat kita terpaku berjam-jam menatap layar. Pernahkah anda melihat kumpulan orang yang makan di restoran? Mereka tidak mengobrol tapi asyik dengan hp masing masing. Smartphone bisa mendekatkan teman yang jauh, tapi juga bisa menjauhkan yang dekat. Janganlah kita diperbudak gadget dan kehilangan momen kebersamaan bersama keluarga tercinta.







Minggu, 05 Juni 2016

Sayonara Grandma

Malam ini aku bertemu dengan nenek dalam mimpi. Untuk ketiga kalinya. Ya, aku hanya bisa menemuinya dalam mimpi, karena kini ia telah tiada.

15 April 2016 adalah hari paling haru sekaligus menyedihkan dalam hidupku. Jam 7:30 pagi, tiba tiba mama yang baru saja masuk kantor, menelepon Papa. Mengabarkan kalau nenek meninggal dunia. Padahal nenek tidak sakit apa-apa. Memang beliau mengidap diabetes, tapi gula darahnya relatif normal dan pola makannya terkontrol.


Aku dan Nenek

Aku tak percaya

Nenek, yang kuanggap sebagai ibu kedua, meninggal dunia?

BRAKKKK !!

Dunia seakan runtuh. Oh Tuhan, bagaimana dengan perasaan Mama? Pasti beliau lebih sedih lagi.
Dan akhirnya kenangan akan nenek mulai membanjiri ingatan. Beliau yang memberikunama panggilan "vina", mungkin karena "avizena" susah diucapkan. Beliau juga yangmemberiku anting emas pertama, yang memberikan seekor kambing saat aqiqah Saladin, cicit pertamanya.


Nenek hanya dua kali bertemu Saladin, saat Adin aqiqah dan di akhir tahun 2014 lalu. Alhamdulillah Saladin sempat berfoto dengan mbah buyutnya.



Sekarang saat sedih aku hanya bisa membacakan surat yasin untuknya. Atau mengenang memori manis tentangnya. Meskipun nenek tinggal di Jepara, dan aku tinggal di Malang, namun beliau tak pernah lupa dan selalu mencurahkan perhatiannya.

Tahun 2004 saat aku akan kuliah, tiba tiba ada paket dari Jepara, ternyata Nenek emngirim sebuah pena yang bagus sekali. Tahun 2002, ketika adik bungsuku lahir, Nenek "terbang" dari Jepara ke Malang. Aku masih ingat, saat itu rumah sepi. Mama masih ada di rumah sakit, pasca operasi cesar. Namun Nenek menghangatkan suasana rumah dengan lumpia yang entah beliau beli di mana. Esoknya, ada paket berisi sepuluh buku tulis , bergambar personel F4, untukku dan Dek Doni.

Beberapa kali beliau menginap di rumah kami, dan memilih untuk tidur di kamar lantai 2. Padahal dilantai 1 ada kamar tamu, namun beliau memilih untuk tidur di atas. Karena lebih dekatdengan mushalla rumah.

Pernah sekali beliau bercanda "di sini uangku gak laku". Oh, tenryata karena Mama sibuk membayarkan ini dan itu, untuk keperluan Nenek.

Nenek selaluhadir di saat saat penting dalam hidupku. Ketika aku dilamar, ketika aku menikah, lalu saat Saladin aqiqah. Beliau selalu berpesan "sabar", ketika mengasuh Saladin.Memang Saladin adalah anak istimewa yang selalu berputar putar dan berlari di sekeliling rumah, sehingga menjaga dan mengasuhnya selalu membuat kakiku berasa remuk. 

Nenek, kau akan selalu hidup dalam hatiku. Akan kuingat sosokmu yang mengoleskan lipstik Revlon di bibir indahmu, kelincahanmu dalam mengikuti senam jantung sehat. Aku merindukanmu. Semoga Allah memasukkanmu ke dalam Surga.

Kamis, 02 Juni 2016

Bangkit dan Bersinar, Setegar Ebony

Apa yang kau rasakan ketika dicerai, padahal sedang hamil muda? Mungkin kau tenggelam dalam kesedihan, mungkin kau berpikir untuk bunuh diri. Tapi Karin mencoba untuk bertahan.

Karin alias Asih Karina adalah penulis buku Setegar Ebony, buku favorit saya tahun ini. Setegar Ebony bukanlah novel, melainkan sebuah autobiografi. Kisah kehancuran rumahtangganya yang berlangsung hanya beberapa bulan. Cuma seumur jagung!


Padahal Karin dan Ardhan (mantan suaminya) telah memadu kasih selama lima tahun, sebelum menikah. Apa yang membuat Ardhan menjadi berpaling? Apakah ia sadar bahwa pernikahan adalah suatu penjara baginya, yang memuja kebebasan? Atau ia menyesal dan berkata "terlanjur", sudah kadung menikah, tapi hati berkata lain?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini yang ada di hati Karin. Hanya lima bulan setelah menikah, Ardhan mengucapkan talak padanya. Padahal mereka pernah bulan madu ke Bali, dan di sana Ardhan menunjukkan cintanya yang sangat besar. 

Karin terus bertanya, "apa salahku?". Apakah Karin bukan istri yang sepadan untuknya? Apakah Ardhan sudah cukup puas mengambil keperawanannya, lalu menghempaskannya begitu saja? 
Sebenarnya gelagat Ardhan sudah tercium beberapa bulan lalu. Hanya 2 minggu setelah mereka menikah, sorot matanya lain. Ia mulai sering pulang malam, bahkan pergi ke Madura bersama teman-temannya tanpa pamit. 

Karin, yang tinggal bersama mertua dan iparnya, selalu gelisah menanti kepulangan sang suami. Tak jarang ia menunda makan malam, karena ingin menemani Ardhan makan. Tapi ternyata ia sudah makan di luar, bersama rekan kerjanya.

Apakah Karin terlalu posesif dan melarang Ardhan untuk bergaul? Ketika Karin menanyakan, apakah ia akan terus aktif dengan kegiatannya di luar rumah, jawab Ardhan,

"Aku nggak akan berhenti, aku bukan tipe orang yang bisa di rumah terus"

(halaman 35)

Hati istri mana yang tidak hancur ketika mendengar kata kata itu, dari suami yang baru saja menikahinya? Sebagai pengantin baru, wajar saja kalau istri menuntut perhatian lebih,  berduaan saja bersama suaminya. Tapi apa yang membuat sang suami menjadi berubah drastis seperti ini?

Akhirnya Karin mengiyakan ajakan sang ibu untuk pergi ke seorang paranormal. Lalu ada seseorang yang merekomendasikan seorang Kyai muda, yang bisa memecahkan masalahnya. Kyai Yassin namanya. Dengan mobil carteran, Karin menemui kyai itu dan menceritakan masalahnya. Sebotol air doa dan wirid yang harus ia doakan setiap malam adalah bekal dari sang Kyai untuk Karin.

Limpahan doa dan harapan yang Karin ucapkan setiap hari akhirnya membuat Ardhan kembali. Karin sangat bersyukur karena sang suami hadir lagi di pelukannya. Namun keromantisan itu hanya datang dalam beberapa hari. Ardhan seolah tak mau kembali, bahkan tak mau menyempatkan waktu sejenak untuk membalas sms.

Dan puncaknya ketika Ardhan mengucapkan talak di depan Karin. Tapi Karin ingin ia dan keluarganya berpamitan dan mengucapkan perpisahan secara resmi, di depan keluarganya. Datang baik-baik, berpisah dengan baik-baik pula. Ayah Karin tak sanggup menghadiri pertemuan itu, karena turut merasakan sakit hati yang dialami oleh anak bungsunya. Sang ayah memang sudah berpisah dengan ibu Karin, dan tinggal di Jakarta.

Di pertemuan itu, tiba-tiba Ardhan bercerita bahwa ia pernah menikah lima tahun lalu di Bali, dan memiliki seorang anak. Rupanya kemalangan Karin berasal dari teluh dari mantan istri Ardhan, yang tak rela melihat mereka bahagia. Lalu Karin mengucapkan lima sumpah pada Ardhan. Ardhan akan menyesal, karena tak ada lagi wanita yang bisa mencintainya dengan sangat tulus, seperti dirinya. Ia juga akan menjalani hidup yang sangat terjal dan tak pernah bahagia, walau dengan materi berlimpah. 

Setelah acara berakhir, Karin menangis di pelukan ibunya. Dua wanita ini bernasib sama, harus menjadi single parent. Bedanya, sang ibu terpaksa menjanda karena tak terima harus dipoligami, dan harus berjuang membesarkan tiga anak, sendirian. Sedangkan Karin, di usianya yang belum genap 27 tahun, sudah menyandang status janda muda, sedang hamil pula!

Status janda tak membuat Karin dijauhi oleh tetangga. Mereka justru menunjukkan perhatian dan cinta padanya. Pada hari hari tertentu, mereka mengadakan jamuan makan pagi khusus untuk Karin. Walau menunya hanya sayur dan urap, namun ia menikmati kebersamaan ini. Karin yang sedang mengidam juga dihujani perhatian oleh teman teman dan saudaranya. Mereka seolah berebut memberikan makanan yang disukainya.

Namun ketenangan ini hanya berlangsung sekejap. Ardhan tiba tiba datang, bersama ayah mertuanya. Ia memberikan separuh uang ganti rugi yang diminta Karin. Karin memang meminta uang 55 juta rupiah sebagai ganti rugi atas sakit hati yang dideritanya. Sakit itu semakin mencekik saat Ardhan memeluknya dan berkata "aku kangen". Terlebih ketika sang ayah mertua seolah tidak membelanya, dan membiarkan anaknya bertindak semaunya.

Setelah pertemuan mengejutkan itu, Karin menyibukkan diri dengan merenung di kamar mandi. Sang ibu bahkan takut jika putrinya bunuh diri. Ia memang sempat menyinggung hal itu, namuninilah jawaban ibunda:

"Nek Adek bunuh diri, ibu melok mati ae"

(halaman 42)

Jika Karin mati bunuh diri, maka sang ibu akan mati juga. Hidup ibunya dihabiskan hanya untuk menjaga Karin, karena dua kakaknya telah menikah dan pindah rumah. 

Kini Karin sadar, ketika manusia sudah berada dalam tingkat pasrah, maka Tuhan akan menolong dan menunjukkan hikmah di balik petaka. 

"Kekuatan dari Tuhan melalui anakku kini menjadi satu-satunya alasan untukku bertahan meski aku harus menyelami nasib seorang diri seperti layang-layang"

(halaman 9)

Setelah USG, Karin melihat binar mata anaknya, detak jantungnya. Ia adalah harapan baru bagi hidupnya. Ia harus tetap bertahan, demi sang putri tercinta. Dan akhirnya, 26 maret 2013, Ebony Agna Sabria lahir di dunia. Ebony adalah jenis kayu yang sangat kuat, dan Karin ingin jadi kuat, setegar ebony.

Saya menangis tiga kali saat membaca novel ini. Betapa tidak! Sang penulis benar-benar ada dan saya mengenalnya secara pribadi, karena ia adalah adik tingkat saya. Pernah sekali ia menulis status di fb, mencari keberadaan Ardhan. Namun saya tak menyangka bahwa ia harus melewati cobaan yang begitu berliku di usianya yang masih sangat muda. 

Namun Karin berhasil mengubah tragedi menjadi sebuah tragicomedy. Ia menumpahkan perasaannya dan menulis buku Setegar Ebony ini. Baginya, menulis adalah sebuah terapi jiwa. Ia mengajarkan saya bahwa setiap emosi negatif tidak harus menjadi status fb, namun disulap menjadi puisi, cerpen, atau novel. Royalti dan honornya akan menebalkan kantong, kan? 

Karin juga membangunkan pembaca dari mimpi pernikahan impian. Tidak ada yang namanya hidup bahagia selamanya, karena pernikahan adalah sebuah permulaan, bukan akhir. Awal dari hidup baru, dan pasangan pengantin harus siap untuk menghadapi setiap masalah dan badai rumah tangga yang mendera. Laut yang tenang tak akan menghasilkan pelaut tangguh.

Cinta saja tak cukup dalam sebuah hubungan pernikahan. Namun diperlukan juga komitmen, kesetiaan, dan kepercayaan. Saat suami sudah jujur,setia, dan penyayang, itu sudah cukup untuk disebut sebagai suami ideal.

Walaupun ia tak setampan Lee Min Ho, helai rambutnya sudah memutih, dan perut six-packnya sudah membuncit, tapi ia setia menggandeng tangan anda ketika sedang menyeberang jalan. Atau ia mau membantu anda mencuci piring dan menyiapkan sarapan, padahal masih kelelahan pasca lembur. Bukankah itu adalah hadiah yang besar, melebihi kebahagiaan ketika ia memberi anda cincin emas bertahtakan berlian? Tak ada sosok suami sempurna, karena hanya Tuhan yang sempurna.

Karin juga pernah merasa hidupnya sempurna, karena mampu membantu suaminya mencari nafkah, dengan bekerja sebagai content writer. Namun pekerjaan penulis yang mengurung diri di kamar, agaknya perlu lebih disosialisasikan kepada keluarga, tetangga, dan orang lain. Mungkin mertua Karin heran, mengapa menantunya asyik sendiri di kamar, padahal ia sedang bekerja. 

Melalui Setegar Ebony, Karin juga selalu mengingatkan saya untuk bersyukur. Alhamdulillah, saya punya anak laki-laki yang sehat. Ketika ayah saya marah, saya bersyukur karena memiliki ayah. Ketika suami cemberut, saya bersyukur karena memiliki keluarga yang utuh. 

Rasa syukur ini yang seharusnya saya nikmati. Percetakan yang saya dirikan bersama suami memang limbung dan terpaksa harus ditutup, karena tertipu rekan bisnis. Tak tanggung tanggung, kerugiannya senilai limabelas juta rupiah. 

Kesehatan finansial keluarga merosot drastis, dan kami memulai hidup dari nol lagi. Setelah membaca buku ini, saya bersyukur karena memang Allah tidak akan memberikan ujian melebihi kekuatan hamba-Nya. Alhamdulillah bukan saya yang menipu. Alhamdulillah Allah segera memperingatkan saya tentang dahsyatnya dosa riba, karena uang itu memang hasil pinjaman dari Bank. 

Tak usah menggerutu ketika ada masalah, karena masalah adalah salah satu cara Allah untuk memanggil hamba-Nya. Saat ada masalah, baru saya sadar bahwa selama ini ibadah sunnah saya kurang dijaga, membaca qur'an pun sesempatnya. Kini saya tobat dan berusaha beribadah dengan lebih tekun.

Sesungguhnya manusia harus bersabar, karena di balik kesulitan, ada kemudahan. Seperti tercantum dalam surat Al Insyirah ayat 5 dan 6.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan"

Saya harap semoga Karin dan Agna selalu bahagia. Terimakasih telah menulis buku Setegar Ebony, semoga seluruh pembaca bisa mendapatkan hikmah setelah membacanya.














Sabtu, 28 Mei 2016

Lakukan 10 Hal ini Sebelum Anda Berhutang


Siapa yang tak punya hutang? Sepintas, berhutang memang nikmat, tiba tiba kita dapat uang, tanpa harus banting tulang siang-malam. Tapi tunggu dulu! Berhutang bikin langkah kita dimulai dari minus, bukan nol. Karena kita wajib melunasi hutang, agar kestabilan finansial tetap terjaga. Sebelum berhutang, lakukan 10 hal di bawah ini.

1.Pastikan gaji atau pendapatan anda melebihi angsuran bulanan

Misalnya, anda diberi gaji 1.000.000, sedangkan beban angsuran ke Bank adalah 1.200.000. Minus 200.000, cari uang dari mana? Berhutang lagi? Ini sama seperti lagu gali lubang tutup lubang, meminjam uang untuk melunasi hutang. Tak ada habisnya, seperti lingkar labirin. Anda akan merasakan efek domino, hutang beruntun akan mengkikis habis persediaan uang, properti, dan harga diri anda.

2. Pinjaman uang digunakan untuk kegiatan produktif, bukan konsumtif.

Setelah ada pencairan hutang dari Bank, langsung bagi uang itu di dalam amplop, dan rencanakan langkah produktif selanjutnya. Misalnya, anda ingin membuka gerai es teler, gunakan uang kredit untuk beli gerobak, kelapa muda, dan lain-lain. Kalau ada sisanya, bisa ditabung untuk simpanan tak terduga.

Jika uang itu untuk beli barang konsumtif misalnya handphone android terbaru, maka langkah bisnis anda bisa terbaca, bakal tamat riwayatnya. Tapi kan bisa promosi lewat sosial media, jadi butuh handphone sebagai modal? Ya, jika anda sudah punya handphone berkamera, tak usahlah beli yang baru demi memenuhi tuntutan gaya hidup. Prioritaskan kebutuhan untuk berdagang, bukan sekedar gengsi.

3. Setelah gajian, tekadkan untuk langsung membayar angsuran

Setelah menerima gaji, ambil uang senilai hutang anda, dan bayarkan saat itu juga. Jika anda nekat berbelanja dulu, dan membayar hutang di pertengahan bulan, takutnya uang gaji ini tidak cukup untuk bertahan sampai akhir bulan. Hutang memang wajib dibayar, jadi jangan tunda pelunasannya.

4. Hitung bunga hutang dengan teliti

Misalnya anda meminjam 30.000.000 ke Bank, dan bunganya 9%. Ternyata setelah anda membaca surat perjanjian dengan Bank, bunganya adalah 9% per tahun, bukan 9% dari nilai hutang. Jadi hitung uang angsuran dan bunga yang harus anda kembalikan, secara cermat.


5 . Pastikan orang yang meminjamkan agunan sudah ikhlas

Kadang kita berhutang dengan agunan milik orangtua, atau mertua. Bermodal BPKB atau surat tanah milik mereka, anda bisa mendapatkan pinjaman uang untuk modal usaha. Tapi jika cara mendapatkan agunan itu dengan setengah memaksa atau merengek, apa membuat bisnis anda berkah? Doa negatif akan membuat bisnis tersendat sendat. Jadi, mereka harus benar benar ikhlas meminjamkan agunannya.

6. Cermati pilihan kredit yang ditawarkan oleh Bank, karena bunganya berbeda

Rata-rata, kredit untuk UKM bunganya hanya 3%, tapi uang yang bisa dipinjam maksimal hanya 20.000.000. Jika anda meminjam 30.000.000 atau 50.000.000, bunganya 9%. Jika anda hanya butuh modal sebesar 18.000.000, maka jangan memaksa untuk pinjam 25.000.000, karena bunganya akan menjadi 9%, bukan 3%. Berhutanglah sesuai kebutuhan.

7. Pikirkan lagi, apakah anda benar benar butuh hutang untuk modal usaha?

Misalnya, anda ingin berjualan kaos anak, harga per lusinnya adalah 360.000 rupiah. Janganlah berhutang
3.000.000 rupiah untuk modal. Beli satu lusin saja dulu, jika terjual habis, keuntungannya bisa diputar untuk modal selanjutnya.

Anda juga bisa mengurangi ketergantungan hutang untuk modal usaha, dengan mengadakan garage sale. Jual saja tas atau baju lama yang tergantung di lemari. Dengan catatan, barang barang itu harus layak pakai. Keuntungan penjualan bisa anda gunakan untuk belanja barang dagangan.

8. Buat surat perjanjian kepada penumpang hutang

Kadang saudara atau teman ingin menumpang atau nebeng, ikut meminjam uang saat anda akan mengajukan kredit ke Bank. Misalnya,anda pinjam 10.000.000, maka dia ikut pinjam 2.000.000, jadi totalnya 12.000.000. Beri selembar surat perjanjian beserta kuitansi, saat ia menerima uangnya.

Hitung juga bunga yang harus ia lunasi, dan durasi peminjamannya. Sama saudara kok perhitungan? Jangan lupa, uang dan hutang kadang tak mengenal hubungan darah. Justru anda memperlakukannya secara profesional.

9. Saat akan mengajukan kartu kredit, gunakan dengan bijaksana

Banyak orang punya kartu kredit karena tergiur akan diskon merchant, dan cicilan dengan bunga 0%. Tapi penggunaannya juga harus dikendalikan. Boleh tarik tunai, untuk modal usaha. Boleh belanja, asal barangnya dijual lagi, atau disewakan. Keuntungannya harus di atas bunga kartu kredit. Ingat, kartu kredit adalah kartu hutang! Bukan kartu ATM.

10. Beri target kapan harus melunasi hutang

Misalnya anda mengkredit sepeda motor, dan diangsur 36 kali. Targetkan untuk melunasinya pada cicilan ke-30. Mengapa harus ditarget? Karena sepeda motor yang gagal kredit, akan ditarik kembali oleh leasing, rugi bandar!

Lalu bagaimana cara melunasinya? Banyak jalan menuju roma, banyak cara mencari uang. Anda bisa menjadi makelar sepeda motor atau tanah, atau mencari job freelance yang banyak bertebaran di internet. Bisa juga dengan menjadi guru privat bahasa asing.

Boleh-boleh saja berhutang, asal tujuannya positif. Hutang produktif akan mensejahterakan kesehatan finansial anda. Tapi jangan sampai hutang dan tunggakan kredit, menyengsarakan hidup anda. Selamat mengatur rencana keuangan dan hitungan hutang, dengan sebaik-baiknya.

ini adalah kontes menulis cekaja.






Kamis, 26 Mei 2016

Karena Beras, Hubungan jadi Panas

"Kalau kamu bawa beras lagi, nanti aku berikan ke ayam peliharaanku!"

Dar! Kalimat itu bagai petir di siang bolong. Terlebih, diucapkan oleh ibu mertuaku. Padahal saya bermaksud meringankan bebannya.  Karena beliau adalah ibu yang melahirkan dan membesarkan suamiku.

Saya telah lima tahun menjadi menantunya. Sebenarnya, hubungan kami cukup baik. Saya menganggapnya sebagai ibu kandung, dan beliau tak segan untuk mengajari saya memasak sayur pepaya muda.

Dulu, sosok ibu mertua yang jahat seperti tergambar di sinetron, sama sekali tak tampak di raut wajahnya.  Malah saya mengagumi semangat kerjanya yang meluap luap. Walau matanya hanya berfungsi satu, karena mata kiri sudah terenggut fungsinya oleh katarak, namun beliau tak pernah mengeluh. Di usianya yang sudah 65 tahun, beliau menjadi kernet kereta kelinci. Sedangkan bapak mertua menjadi supirnya. Setiap sore, kereta kelinci mengelilingi kampung Lokgempol, di kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Sekali seminggu, saya dan suami mengunjungi rumah ibu mertua. Setiap kali melihat beliau, saya teringat nenek saya, dan merasa kasihan padanya. Lalu hati ini tergerak untuk memberi beliau uang 50.000. Tapi maksud baik ini malah ditanggap dengan kata kata sepedas cabai. "Gak usah. Simpan saja uangmu untuk biaya periksa". Ya, saat itu memang saya sedang hamil muda.

Pasca melahirkan, saya berusah menyisihkan uang lagi, khusus untuk beliau. Walau uang ini mungkin tidak cukup untuk mengganti biaya membesarkan dan merawat anaknya, suami saya. Namun lagi lagi beliau menolak. "Jangan kasih ibu duit terus. Uang itu bisa untuk membeli susu anakmu. Ibuk bisa cari uang sendiri!".

Ya, mungkin kalau makanan beliau mau menerima. Minggu berikutnya, saya membawa sepanci kare daging sapi. Namun apa yang terjadi? Ternyata ibu mertua berpantang santan. Bukan atas anjuran dokter sih, namun beliau mulai mengatur makanan yang masuk ke perutnya, sejak berusia 45. Semacam diet rendah lemak, untuk menjaga kesehatan.

Sementara itu, suami membawa kabar buruk. Ibu mertua jarang bekerja, karena kondisi kesehatan bapak mertua yang menurun. Tak ada anaknya yang bisa menyetir kereta kelinci. Well, hanya sopir yang berpengalaman mengendalikan truk gandeng yang bisa menaklukkan setir kereta kelinci. Duh, jika ibu tidak bekerja, bagaimana dengan kondisi dapur beliau, akankah masih akan mengepul?

Lalu saya inisiatif membeli beras dan meminta tolong suami untuk memberikannya pada ibu. Ternyata beliau juga menolak maksud baik saya (seperti yang sudah saya ceritakan di awal). Ternyata, ibu takut jika saya mengambil beras milik Mama, di dapur. Ya, saya memang masih menumpang di rumah Mama. Namun beliau tak tahu bahwa beras itu saya beli sendiri.

Akhirnya saya hampir menyerah, dan menitipkan uang 50.000 pada suami. Terserah bagaimana caranya, yang penting ibu mau menerima uang itu. Tiba tiba suami mendapat ide, uang itu ia belanjakan, lalu diberikan ke ibu. Seolah olah ia membelinya tanpa sepengetahuan saya. Lalu suami membeli 2 kg beras, 1 kg telur ayam, dan 3 buah tempe. akankah pemberian itu akan ditolak lagi? Entahlah, kita tunggu kabar dari suami saya ya.

Di dalam hati, saya menerka, akankah beliau tersinggung dengan tindakan saya? Ah, tidak. Mungkin beliau lebih mengutamakan cucunya, anak kandung saya. Bisa saja beliau ingin bekerja dan menghidupi dirinya sendiri, dan tak ingin membuat anak anak dan menantunya merasa direpotkan. Semoga kesalahfahaman ini bisa mencair, dan hubungan kami bisa lebih harmonis, seperti dulu kala.

Teman teman, jika ingin berbuat baik, lakukan saja. Jika ada yang mencibir atau menolak, maka bersabarlah. Mungkin cara penyampaiannya yang perlu diperbaiki.






Selasa, 29 Maret 2016

Jika Saya Mati, Sebentar Lagi



Jodoh yang paling pasti adalah kematian. Semua orang entah esok atau kapan saja akan meninggalkan dunia yang isinya siang dan malam.

(Sinta Ridwan - Berteman Dengan Kematian)

Pelan-pelan saya resapi kalimat yang teruntai di dalam buku. Kematian? Seringkali manusia lupa bahwa kehidupan dan kematian sudah ditakdirkan oleh-Nya, di lauful mahfudz. Tapi, apa yang akan saya lakukan ketika akan meninggal dunia, 8 hari lagi?

Tentu saja saya akan memerah asi. Saladin, anak tunggal saya, masih menyusu. Minimal ia bisa menyesap asi, walau stok yang ada mungkin hanya cukup untuk satu bulan.  Asi perah itu akan menghangatkan lambungnya. Mencurahkan kasih sayang, walau ibunya telah tiada.

Saya tak mau ia sedih walau tak ada yang menemaninya siang dan malam. Jadi akan ada kado-kado khusus untuknya, walau ia belum mengerti. Bulan depan, ia akan mendapat bantal bergambar masha and the bear. Tiga  bulan kemudian, selimut bergambar paw patrol akan menghangatkannya saat malam. Fyi, mereka adalah tokoh kartun kesukaan Saladin. November, saat ia berulang tahun, saya hadiahkan gelas plastik. Agar ia bisa minum sendiri.



Sementara di ulang tahun berikutnya, akan ada saputangan sebagai kado. Saat ia mulai tumbuh besar, sapu tangan itu akan menghapus airmata kerinduannya. Sepatu keds menjadi hadiah di tahun selanjutnya, jadi Saladin bisa berpetualang ke mana saja.

Saat ia berulang tahun ketujuh, saya memberikannya buku doa. Agar ia bisa membaca doa untuk almarhumah ibunya. Tahun berikutnya, ia bisa belajar arah mata angin dengan petunjuk dari kompas. Sebagai calon petualang cilik, ini gadget yang ia butuhkan. Di ulang tahunnya yang kesembilan, akan ada sarung sebagai hadiah. Agar ia belajar solat dengan khusyuk.

Sementara tahun berikutnya, satu set buku gambar dan krayon bisa menjadi pelampiasan emosinya. Dompet menjadi kado ulang tahunnya yang kesebelas, jadi Saladin bisa mengatur uang sakunya sendiri. Di ulang tahunnya yang keduabelas, ia bisa menenggak air putih dari botol air minum yang saya hadiahkan.

Saat ia sudah tiga belas tahun, sudah hampir aqil balig. Tasbih bisa menjadi temannya dalam perjalanan, agar ia bisa zikir setiap saat. Itu hadiah terakhir untuknya, sampai ia jelang dewasa. Nanti ayahnya akan membungkuskan barang-barang itu dan memberikannya sesuai dengan petunjuk dari saya.

Mikirnya udah jauh banget ya? Padahal waktu saya untuk tinggal di bumi tinggal sebentar. Mumpung masih ada 8 hari, saya ingin mendekatkan diri padaNya. Meningkatkan kualitas ibadah dan juga berdoa. Semoga nanti keluarga yang ditinggal akan sabar dan legawa.

Setelah salat taubat, segera menghampiri mama dan papa. Meminta maaf, karena belum bisa jadi putri yang membanggakan. Lalu segera menghadiahkan: susu kalsium untuk mama, dan setelan olahraga plus tape recorder baru untuk papa. Semoga kado kecil ini akan membuat mereka senang.

Selain orangtua, harta saya yang paling berharga adalah suami tercinta. Sejuta kata maaf terucap, mungkin ada kesalahan (yang menurut saya kecil), tapi menyakiti hatinya. Bukankah kemarahan suami adalah kemarahanNya juga? Semoga dengan maaf dan ridhonya, kelak saya bisa masuk surga.

Juga akan ada kejutan kecil untuk sang belahan hati: tiga puluh lembar surat cinta. Berisi puisi, ungkapan sayang, dan terimakasih. Karena ia telah setia mendampingi saya, hingga ajal menjelang.
Tapi ia hanya boleh membuka satu surat saja, setiap harinya. Semoga setelah membaca surat itu, ia bisa terhibur. Walau saya tak lagi ada di sisinya.

Pada salah satu surat itu, juga ada surat wasiat. Mungkin harta saya belum sebanyak Donald Trump, tapi isi dompet dan rekening wajib disedekahkan. Begitu juga dengan baju-baju, sepatu, kerudung, diberikan saja kepada fakir miskin.

Buat apa barang-barang itu, jika saya tiada? Jika suami melihatnya, ia akan terkenang, lalu berurai air mata. Jadi lebih baik untuk orang lain saja.

Kenangan manis bersama teman kuliah masih terpatri di hati. Tapi kami jarang bertemu, karena sibuk dengan pekerjaan atau urusan keluarga. Jadi setidaknya saya bisa mengunjungi rumah mereka. Membawakan brownies dan pizza buatan sendiri, bercakap-cakap dan bercanda. Mengenang masa kuliah, lalu meminta maaf. Semoga mereka mau memaafkan kesalahan dan ikhlas jika nanti saya pergi untuk selamanya.

Setelah bertemu dengan mereka, saya akan izin cuti sebentar dari kewajiban menjadi ibu rumah tangga. Menikmati kegiatan yang sudah lama tidak dilakukan: senam dan angkat beban  di fitness center, lalu sauna. Setelah itu, mandi, berganti pakaian, lalu naik angkutan kota. Menikmati kemacetan di jalan. Menuju mall yang letaknya jauh dari fitness center.

Saya tak ingin berbelanja, hanya kangen makan soto betawi di foodcourt mall. Sambil mengamati orang yang lalau lalang. Duduk sendiri, merenung, ternyata manusia lahir sendiri, mati juga sendiri. Ya, saya ingin menikmati kesendirian ini. Bertanya pada suara hati, apakah sudah siap untuk pergi?

Jika nanti saya pergi, tak ada yang disesali. Karena sebelum meninggal dunia, saya ingin mewujudkan obsesi lama: belajar merias wajah. Kebetulan ada teman perias yang mengajar privat juga.

Walau mungkin hanya sekali, setidaknya saya bisa merias muka sendiri. Lalu beranjak pulang dan memberi kejutan kepada sang suami. Berharap ia bahagia karena melihat istrinya tampil istimewa, hanya untuknya.

Bahagia? Ya, walaupun nanti suami, anak, dan orangtua sedih, tapi hati saya terasa bahagia. Karena akan bertemu dengan sang Maha Pencipta. Meninggalkan dunia dengan damai. Mengakhiri hidup dengan senyuman.

Kata orang jaman dulu, hidup hanya mampir ngombe (mampir minum). Hanya sekejap. Sebelum malaikat maut menjemput, saat nyawa masih di kerongkongan, saya berbisik: terimakasih. Walau hanya sebentar, tapi saya diberi kehidupan yang penuh cinta.

Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway




Sabtu, 19 Maret 2016

Bertukar Ibu

BRAAK! Richa menaruh kotak bekalnya keras-keras. Sinta yang sedang minum teh botol hampir tersedak.

"Lagi sariawan ya? Kok manyun? Kaget aku, sampai hampir tersedak", goda Sinta. Richa malah memajukan bibirnya empat sentimeter. Beberapa orang di kantin sekolah menertawainya.

"Lihat nih! Sandwich lagi, dan lagi!", kata Richa. Ia membuka kotak bekalnya. Ada roti berbentuk segitiga, berisi dadar, tomat, dan mentimun. Sinta menelan ludah.

"Kalau gak mau, buat aku aja! Hari ini ibu lupa tidak membuatkanku bekal. Jadi harus beli di kantin", ujar Sinta.

Lebih baik beli makanan di kantin, daripada makan roti tiap hari. Gumam Richa dalam hati.  Lalu..

"Gimana kalau kita bertukar ibu? Nanti kamu masuk rumahku, aku tinggal di rumahmu". Apa??

Richa berpikir sebentar."Oke, mulai hari ini ya!".

KRIING! Tiba-tiba bel berbunyi. Murid-murid di SD Cempaka Kuning bergegas masuk kelas. Di kelas, Richa tak bisa menyimak ajaran Bu Mamiek. Pikirannya melayang. Bertukar ibu, bertukar rumah?

Tak terasa sudah jam 1 siang. Saatnya pulang. Richa dan Sinta naik angkot yang sama. Mereka tinggal di kompleks Cahaya Hati.

"Ciit!", angkot berhenti di depan perumahan. Richa tersentak dari lamunan. Segera ia memberikan uang pada supir. Dan mengejar Sinta yang turun duluan. "Sintaa, tunggu!".

Richa bergegas menyusul Sinta. Sinta belok kanan, menuju rumah Richa.
"Kamu lupa ya? Rumahku di blok C, belok kiri!".

Kaki Richa melangkah pelan. Nomor 2, itu rumah Sinta. Bercat warna ungu, berpagar hitam.  Tingtong! Richa membunyikan bel.

Lima menit kemudian, pintu baru dibukakan. "Richa? Sinta kan belum datang. Lho biasanya dia pulang bareng kamu kan?". Tante Padmi, mama Sinta, heran.

Richa menjelaskan, "Tante, mulai hari ini saya jadi anakmu. Sinta pulang ke rumah saya. Kami bertukar ibu".


Tante Padmi menggaruk rambut. Lalu membetulkan letak kacamatanya. "Baiklah, mari masuk!".

Richa melangkah ke ruang tamu, lalu melepas sepatunya. "Maaf ya, Tante tadi masih kerja. Jadi telat bukain pintu". Richa mengangguk pelan. Ya, beliau bekerja sebagai penerjemah. Sepertinya banyak sekali artikel yang harus diterjemahkan.

Krieet..Tante Padmi membuka pintu kamar Sinta. "Setelah ganti baju, makan siang ya. Cari sendiri di meja makan. Maaf Tante harus kerja lagi"

"Terimakasih", kata Richa perlahan. Lalu ia melongok ke dalam lemari baju. Ups, Richa lupa. Sinta sangat suka warna pink. Jadi hampir semua kaosnya bergambar hello kitty atau barbie, berwarna merah muda. Sedangkan ia benci warna itu. Aah, untung ada satu kaos berwarna putih.

Setelah ganti baju dan cuci tangan, Richa membuka tudung saji. Ada dua bungkusan berwarna cokelat. Setelah dibuka, isinya nasi, ayam suwir, dan tumis buncis.

Richa berdoa lalu duduk. Ia memakan nasi bungkusnya. Pyaar! Huh, hah! Pedaas! Ternyata ada potongan cabe di dalam tumis buncis. Gluk gluk! Richa minum air banyak banyak.

Ibu tahu Richa tak suka pedas. Jadi tumis kangkung buatannya tak diberi cabe. Sebenarnya Richa ingin membuang nasi ini. Tapi demi menghormati Tante Padmi, ia menghabiskannya.

Sorenya Richa membaca buku sejarah. Besok ulangan. Rumah Sinta lengang, Tante Padmi masih bekerja di kamarnya.

Biasanya Richa menanyakan jawaban di LKS sejarah pada ayahnya. Tapi ayah Sinta tak ada. Ia bekerja di perusahaan minyak, di lepas pantai. Pulangnya hanya tiga kali dalam setahun.

Tak terasa sudah jam 9 malam. Tante Padmi masuk kamarnya. Tersenyum dan mengucapkan selamat tidur. Richa melipat selimutnya. Ia gelisah, tak bisa tidur. Membayangkan, apa yang dilakukan Sinta di rumahnya?

Kriing! Weker berbunyi. Astaga, sudah jam 6 pagi! Richa bergegas mandi dan berganti baju. Tante Padmi duduk di ruang tamu. Matanya setengah terpejam.

"Richa sayang, maaf semalam Tante lembur. Tak sempat masak bekal, apalagi sarapan. Beli di kantin saja ya!", kata beliau. Sambil menyodorkan uang dua puluh ribu.

Tiba tiba Richa ingin makan sandwich. Ia merindukan ibunya...

Tulisan ini diikutsertakan dalam #FirstGiveAwayCeritaAnak















Selasa, 15 Maret 2016

Tiga Dekade Penuh Rasa



"Tulisanmu tidak logis!" . Ucapan Bu Yayuk bergema di kelas lima, diiringi derai tawa. Oleh teman sekelas, yang menganggap tulisanku konyol. Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia. Kami disuruh menulis satu paragraf. Seingat saya, tulisannya berisi, "Tino pergi ke rumah Rina. Tino naik sepeda. Sambil bernyanyi dan bersiul-siul". Awalnya, saya kira tulisan ini brilian. Ternyata malah ditertawakan.

Itulah secuil tragedi di masa kecil saya. Perkenalkan, saya Avizena Elfazia Zen, lahir 19 desember 1986. Nama saya agak aneh, karena untuk laki-laki (Ibnu Sina).  Tapi, what is a name? Saya suka karena unik, tidak ada anak gadis di Jepara yang bernama sama.


Ya, saya numpang lahir di Jepara, lalu pindah ke Malang. Karena Mama mengajar di sebuah Universitas Negeri di kota apel ini. Lalu lahirlah tiga adik laki-laki, Oca, dan Foresta, dan Doni.

Masa kecil saya tidak bagus-bagus amat. Saya tumbuh menjadi anak minder. Karena di SD sering diejek dan dibully, hanya gara-gara tidak bisa bahasa jawa. Di rumah bahasa ibu pakai bahasa indonesia. Jadi, ketika ngomong bahasa jawa, terdengar janggal dan ditertawakan. Mereka jauh lebih tua, karena saya masuk SD di usia 5,5 tahun. Badan kurus kecil ini juga jadi bahan guyonan.

Karena tak mau bergaul dengan mereka, akhirnya saya sering mengurung diri, sepulang sekolah. Menulis buku harian. Hitung-hitung latihan menulis, kan calon wartawan. Saat itu saya ingin jadi wartawan seperti Papa. Keren sekali, liputan, menulis, lalu dimuat di koran. Tapi apa ada wartawan yang tidak percaya diri?

Rasa minder ini membuat saya tak punya prestasi apa-apa. Tapi semua berubah saat kelas lima. Seorang kepala sekolah bernama Bu Djum berkenan mengajar bahasa inggris. Wow, ternyata saya berbakat di bidang  bahasa.

Nilai ujian bahasa inggris selalu dapat 9 dong. Saat sekolah di SMPN 5 maupun di SMUN 8 Malang, bahasa inggris dan conversation selalu jadi kesukaan saya.

Namun minder saya hampir kambuh saat SMU. SMUN 8 Malang terkenal sebagai sekolah artis, karena ada banyak alumninya yang menjadi model lokal, maupun artis nasional. Di angkatan saya, yang go national adalah Andika Pratama dan Mey Chan. Murid yang bukan artis pun ikut ikutan bergaya hedonis, pakai sepatu impor, ke sekolah nyetir mobil sendiri, dll.

Sedangkan saya berangkat sekolah naik angkot, dan pakai seragam kedodoran. I was an ugly duckling. Tapi pertemuan dengan Bravo crew mengubah hidup 180 derajat. Saya direkrut di ekstra kulikuler itu, menjadi wartawan sekolah. Saat diklat, kami ditempa agar jadi orang dewasa yang pemberani dan percaya diri.

Gebrakan pertama Bravo adalah menerbitkan majalah sekolah yang vakum selama bertahun-tahun. Setelah mengantongi izin dari kepala sekolah (yang baru), kami beruntung. Karena SMUN 8 Malang dijadikan venue acara konser musik yang disponsori oleh sebuah produk sampo. Jadi kami bisa mewawancarai Jun Fan Gung Foo dan Dewi Sandra.


                                    Geng Bravo saat diwawancara oleh sebuah majalah remaja

Apakah hasil wawancara itu membuat majalah Bravo laku keras? Ternyata..Di luar ekspetasi, tak semua laku terjual. Bahkan kami harus berhutang ke percetakan.

Tapi hal itu tak membuat saya kapok menulis. Semangat literasi saya semakin menggebu saat kuliah di jurusan bahasa inggris di sebuah PTN di Malang. Saat kuliah berasa di "surga", karena bisa belajar writing, poetry, drama, lalu pentas. Asyik kan!

Saat itulah saya pertama kali kerja sambilan, jadi guru privat bahasa inggris. Sesekali menerima job menerjemahkan artikel. Seorang teman juga mengajak saya berjualan kaos secondhand.

 Walau banyak kegiatan di luar,  tapi saya menikmati "me time" dengan  menulis di rumah. Tahun 2008 saya berkenalan dengan blog (multiply), lalu kecanduan menulis di sana. Beberapa kali artikel saya juga dimuat di media massa, walau tak semua memberi honor. Minimal saya menunjukkan bahwa perkataan Bu Yayuk 10 tahun itu salah. Ternyata saya bisa menulis

Pengalaman "memegang uang" justru saya dapatkan setelah menikah. Bukan gaji suami lho, tapi keuntungan bisnis. Ya, sejak akhir 2011 saya dan suami mendirikan sebuah percetakan. Dengan bermodal bismillah dan uang 600.000 rupiah (dari amplop-an para tamu di pesta pernikahan), kami membeli sebuah mesin cetak mini.

Suami menjadi desainer sekaligus kepala bagian produksi. Sedangkan saya menjadi marketing online. Pengalaman memasarkan kaos dan jaket saat kuliah ternyata sangat membantu kelancaran bisnis ini.

Bisnis yang awalnya lancar ternyata harus tersendat di tahun 2014. Seorang partner dengan tega melarikan mesin cetak, padahal kami sudah menyewanya dengan akad 15 juta rupiah. Setelah mencoba bertahan selama hampir dua tahun, percetakan ini harus ditutup, dengan berat hati.

Lembar hitam harus dihapus, berganti dengan awal yang baru. Setelah hampir 40 hari berkabung karena melepaskan bisnis yang dibesarkan dengan keringat, darah, dan air mata, akhirnya saya berdagang lagi. Beruntung seorang tetangga mempercayai saya, beberapa dompet dan tas kulit boleh dibawa dulu, jika laku baru dibayar. Pemasaran via online pun digencarkan, dan saya mendalami copy writing dan covert selling. Hey, ternyata itu menulis juga kan, membuat kalimat iklan yang menarik dan merayu para calon customer.

Blog (yang jarang diisi) ini juga mulai dirapikan dan ditulisi lagi. Anyway, cita cita menjadi wartawan boleh kandas (karena tidak bisa mengendarai sepeda motor).  Namun saya  masih bisa menulis di blog, di iklan, di mana saja.

Kejadian pahit dan manis datang silih berganti, bittersweet. Semua bisa jadi inspirasi tulisan dan sweet memory.

Setelah ngeblog di sini, jadi tahu Mbak Ika melalui seorang teman, salam kenal ya. Banyak sekali komunitas yang diikuti. Walau baru setahun ngeblog, tapi tulisannya udah banyak banget. Happy anniversary! Makasih atas GA-nya, jadi bersyukur atas anugerah selama hampir 30 tahun saya hidup.

Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway

Senin, 14 Maret 2016

Papa, Teman Ngeblogku yang Istimewa

"Itu apa? Kok keren banget ya. Mau bikin juga ah!

Begitulah ucapan saya di tahun 2008, saat pertama kali melihat tampilan blog di layar komputer. Berwarna warni, berbinar, cantik dan rupawan. Sebuah rumah maya bernama Multiply menarik hati. Sehingga diri ini tergerak untuk registrasi. Saat mp meninggal dunia (dengan tragis), saya pindah ke blog ini dan di sono. Lalu siapa yang memperkenalkan dan memotivasi untuk ngeblog?

Ialah Papa. Beliau berprofesi sebagai wartawan televisi. Pekerjaan beliau menuntut untuk selalu update dengan situasi terkini. Jadi Papa hobi browsing di internet, dan lebih dahulu kenal dunia blogging daripada saya. Gaul banget ya!



Papa tidak pernah mengajari menulis di blog secara khusus. Beliau hanya menunjukkan bagaimana cara mendaftar, masuk ke blog, lalu selebihnya saya belajar sendiri.

 Setelah aktif menulis dan bergaul di multiply, saya jadi kenal blogger lainnya.  Ada artisnya juga lho, seperti Panji, Helvy Tiana Rosa, dan Asma Nadia. Tulisannya sudah pasti keren dan paten. Namun setelah membaca tulisan itu, kadang ada rasa minder yang terselip di dalam kalbu. Bisakah saya menulis sepanjang dan sebagus itu? 

Maklum, di awal ngeblog, isinya hanya curahan hati, omelan, dan juga puisi. Semacam buku harian online-lah. Tulisannya pendek pendek pula.

Namun rasa minder itu terbang seketika, ketika Papa memotivasi. "Ayo sayang, semangatnya mana? Baca buku lagi yuk!", bujuknya. Akhirnya saya rajin mengunjungi Perpustakaan Umum Kota Malang. Saat senggang, bisa  melahap habis 30 buku dalam sebulan. Kecepatan membaca pun meningkat drastis, jadi 200 halaman per jam.

Tapi apa yang terjadi setelah rajin membaca buku? Ternyata saya tak kunjung menang lomba menulis flash fiction dan cerpen di mp. Lagi-lagi Papa memotivasi. Beliau mengajari cara menulis lead artikel yang enak dibaca. Meyakinkan saya bahwa menulis itu harus dari hati.

Tak disangka beliau juga ikut lomba menulis di website seorang motivator terkenal. Alhamdulillah dapat juara dua. Judul tulisannya, "Menulis untuk Biaya Kuliah". Berisi pengalaman beliau saat kuliah di Jogja. Mencari uang SPP sendiri, mengumpulkan honor dari artikel dan opini yang dimuat di beberapa media massa.

Semangat blogging langsung terbakar pasca membaca tulisan itu. Namun beberapa tahun kemudian, spiritnya jadi ambruk, jatuh dan pecah berkeping-keping. Karena multiply ditutup untuk selamanya. Saat itu, saya hamil tua, sehingga gampang sedih dan lebih perasa.

Apa yang Papa lakukan? Beliau tetap semangat menulis di blog, pindah rumah maya ke sini. Akhirnya saya mengikuti jejak beliau. Walau frekuensi ngeblog jauh berkurang, tak bisa setiap hari. Karena kini waktu juga harus dibagi. Dengan mengurus bisnis, keluarga, dan juga suami.

Di blog baru ini ternyata seru juga, jadi kenal blogger lainnya yang unik-unik. Dan ternyata ada banyak sekali lomba plus giveaway. Jumlahnya jauh lebih banyak dan hadiahnya besar, dibanding dengan jaman blogging di multiply dulu. Semangat menulis pun jadi lebih terpacu.

Apakah saya langsung menang kompetisi menulis di blog baru? Ya, beberapa kali, tapi belum pernah menang lomba nasional yang hadiahnya jutaan rupiah. Kadang setelah menang lomba, ada yang berkomentar, "Oalah, hadiahnya cuma buku, percuma kamu nulis capek capek!"

Patah semangat? Ya, dulu sih begitu. Sekarang, setiap kali loyo, saya baca blog Papa. Mencari inspirasi dan suntikan motivasi. Merenung, bisakah saya melampaui prestasi Papa, bisakah saya membahagiakannya? Terimakasih banyak, Papa. Kaulah teman ngeblog sekaligus inspirasiku.


"Tulisan ini diikutkan dalam Irly & Diah's GA Collaboration: Teman Nge-Blog"





Kamis, 03 Maret 2016

Resensi Fortunata

penulis:  Ria N Badaria
penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2008
tebal: 167 halaman
genre: metropop
Rate : 13+

Layla merasa ia adalah gadis paling tidak beruntung sedunia. Kakaknya menghancurkan impiannya untuk kuliah pariwisata. Biaya kuliahnya terpaksa dipakai untuk membiayai pernikahan kakaknya yang telah menghamili pacarnya. Satu-satunya keberuntungannya adalah Irman, pacarnya, tapi mereka  terpaksa berhubungan jarak jauh . Irman berjanji akan datang ke Monas setahun kemudian.


 Di Jakarta, ia bekerja di sebuah restoran ayam goreng, jauh dari keluarganya yang tinggal di Bogor. Suatu hari, ia hampir tertabrak ambulans, ketika ada sosok asing menariknya. Sosok itu adalah roh Arta, cowok yang koma di Rumah Sakit dekat rumah Bibi Layla. Arta adalah  lulusan Fakultas Hukum Universitas di Korea.  Ia menumpang sementara di kamar Layla, karena tubuhnya menolak rohnya masuk. Ia mengalami koma setelah kecelakaan, karena terkejut  setelah tahu bahwa Fara, pacarnya, berselingkuh dengan sahabatnya, Hendra. Arta menjadi sahabat Layla. Pelan-pelan,  Arta mulai mencintai Layla. Ia membantu Layla mendapatkan uang untuk membiayai kuliahnya. Ia bujuk Layla untuk mengambil ATM nya di RS, tapi tidak berhasil. Ia menulis, merasuki tubuh Layla saat tidur, tapi malah membuat Layla terlambat. Ia membujuk Layla lagi, menyuruhnya yang gaptek untuk pergi ke rental dan mengirimkan naskah via e-mail.

Satu tahun telah berlalu, Layla tak sabar untuk menemui Irman. Layla mengorbankan separuh gajinya untuk baju dan kosmetik, dan sisanya ia gunakan untuk ongkos taksi ke Monas. Tapi di sana Irman tak kunjung datang. Saat hujan turun sore harinya, Arta membujuk Layla pulang. Di rumah, ada undangan pernikahan dari Irman! Hati Layla hancur saat Irman menulis bahwa ia masih mencintai Layla.

Layla lalu patah hati, tapi bergembira lagi saat ia mengenal Henri, rekan kerja barunya. Tapi kebahagiaan itu berubah menjadi bencana saat Hendri memaksa Layla menonton Fear Factor, padahal Layla jijik. Arta mengingatkan bahwa itu bukan cinta, lagipula ia memergoki Hendri mengantarkan perawat di Rumah Sakit yang merawatnya. Tapi Layla kukuh berpacaran dengan Hendri. Sampai akhirnya ia melihat sendiri Hendri mencium perawat yang dimaksud Arta. Ia sedih, dan memutuskan untuk pulang kampung (meskipun beresiko dipecat oleh managernya yang galak).
Di rumah, ia merasa nyaman, tapi tiba-tiba Irman datang bersama istri barunya. Irman menjelaskan bahwa ia menikahi Ella, sepupunya, karena terlanjur dihamili oleh pria yang tak bertanggung jawab. Tapi Layla menolak penawaran Irman untuk kembali setelah Irman bercerai, karena ia merasa Ella mencintai Irman. Lagipula, ia mulai kangen dengan Arta.

Tapi di Jakarta Arta menghilang! Layla tak tahu apakah ia sudah kembali ke tubuhnya atau belum. Yang ia dapat hanyalah uang 5 juta rupiah yang ditransfer Arta, sebagai biaya sewa kamarnya. Saat ia merindukan Arta, tiba-tiba Arta-dalam versi utuh, bukan rohnya- datang dan menyatakan cinta. Layla pun merasa bahwa kehidupannya sempurna. Setelah melewati berbagai derita, ia juga berhak bahagia.
    

I read this book so many years ago, and i lost the cover photograph..oh..Maaf mbak Ria..
Setelah nonton 49 days (drama korea) kok jadi ingat novel ini ya..Sama sama bercerita tentang roh yang menelusup..Jangan jangan drakornya terinspirasi dari buku ini, hehehe.




Rabu, 27 Januari 2016

Resensi Buku: Oke, Kita Bersaing !

This book was published 14 years ago..maaf telat banget resensinya mbak Leyla

Oke, Kita Bersaing !
Leyla Imtichanah
2002
ISBN: 979-561-918-7
Tebal buku: 267  halaman
Penerbit: Gema Insani Press
Juara 2 sayembara novel islami Gema Insani
Label: FikRi (Fiksi Remaja Islami)

Lisa menatap Lila, nanar. Lila Hanifa, teman SMA-nya yang terlihat cupu dan nilainya selalu pas pasan. Mengapa Lila terlihat begitu bahagia? Padahal Lisa jauh lebih pintar, disayang para guru, dan berbadan langsing. Lisa heran, mengapa Lila dikelilingi cinta dari sahabat-sahabatnya? (Aya, Cici, dan Mimi)

Kedengkian Lisa berawal dari kesepakatan mereka, untuk merebut hati Kak Rian, senior di ekskul voli. Tapi ternyata Rian sudah punya pacar.
Gantian mereka mengejar Aldi, cowok pindahan dari kelas lain. Sosoknya cool dan ramah, tetapi keramahannya ditafsirkan berbeda oleh teman-teman ceweknya.

gambar nyulik dari sini, foto punya saya tenggelam di efbe..

Hingga Lila tahu bahwa Aldi berprinsip bahwa pacaran itu haram. Tapi sayang, Aldi tak menjelaskan alasannya.
Lalu, Lila mendapatkan jawabannya dari kajian islami di sekolah. Ia datang atas undangan Aldi. Saat itu, ia bertanya, mengapa pacaran itu haram? Pak Ustad menjelaskan, pacaran itu haram karena menjurus ke zina.

Saat Lila melontarkan pertanyaan itu, semua mata tertuju pada Risma. Ia adalah anak rohis (kerohanian islam) tapi memiliki pacar, yaitu Rio, kapten tim basket sekolah.
Di luar dugaan, Lila ditarik masuk geng CCO (cantik centil oke), ekskul cheerleaders, karena ia bisa split (stretching). Maklum, ia pernah les balet.
Sementara itu, Lisa semakin dekat dengan Aldi. Karena mereka mengikuti diklat calon anggota OSIS bersama sama. Namun ketika outbond, Lisa pingsan, tipesnya kambuh.

Di sisi lain, Lila merasa tidak nyaman dengan geng CCO, dan sahabat sahabatnya (Cici, Mimi, Aya) menganggapnya sombong. Geng CCO terlalu menyepelekan pelajaran, dan lebih mementingkan latihan tari. Apalagi, mereka berprinsip bahwa cowok hanya mainan. Jadi, ketika Emi merebut Bobbi dari Reva, mereka tidak membela Reva. Ia mengurung diri di kamar, dan hanya Lila yang menengoknya.

Ketika Reva mendengarkan nasehat Lila, dan kembali latihan, ia malah diejek sebagai cewek lemah. Sontak ia bunuh diri. Kejadian ini mengguncangkan geng CCO, dan Lila semakin ingin keluar dari sana. Lagipula nilainya semakin merosot. Tapi Lila harus menyelesaikan satu lagi lomba cheers, sebelum resign.

Tanpa diduga, saat lomba basket, tim sekolah Lila kalah. Karena Rio tidak konsentrasi, pasca diputuskan cintanya oleh Risma. Tepat sebelum pertandingan basket.
Lila tak tahu hasil lomba basket karena ia ngacir duluan ka kajian. Ia memakai baju muslim pemberian adik Aldi. Lalu Lisa cemburu..

Tak diduga, ternyata Lisa sekarang sudah punya pacar, tapi putus tepat di tanggal 14 februari. Lila malah mendapat surat dari pengagum rahasia. siapa dia? Ternyata Rio, mantan pacar Risma. Olala..Kakak kelas yang tinggi dan tampan. Tapi setelah sebulan berpacaran, Lila merasa tidak nyaman. Karena Rio posesif.

Aldi emrasa kecewa mendengar Lila pacaran, lalu memperingatkan Lila. Tak sengaja ia mendengar rencana jahat Rio di kantin. Tapi Lila tidak emmperdulikan Aldi. Sabtu malam, Lila ditelepon, katanya Rio masuk Rumah Sakit. Ia bergegas ke sana diantar supir. Untung Allah masih emlindungi Lila, karena ia mendengar bisik bisik teman Rio, mereka berkomplot! Rio pura pura sakit, agar bisa mencium Lila. Sedangkan Aldi sudah tersungkur setelah dipukuli Rio.

Lila langsung berlari, keluar dari rumah sakit, dan memerintah pak supir untuk pergi ke sekolah. Untung Aldi diselamatkan oleh Lila, dan dirawat di Rumah Sakit. Ia menyesal telah mencueki Aldi. Lalu bertekad untuk putus dengan Rio.

Daan, happy ending! Lila, Lisa, dan Aldi, diterima di PTN impian mereka. Surprise, Lila memakai jilbab untuk pertama kalinya ! Lisa dan Lila akhirnya berbaikan, dan mereka semua berbahagia. Persaingan (selama dalam hal positif) mendorong mereka untuk berprestasi.

Saya pertama kali kenal Mbak Leyla dari buku ini. Buku yang sudah dibaca berkali-kali, tapi tak bosan jua. Gaya bahasa khas remaja. Novel islami, tapi tak membosankan. Ada juga kutipan lirik lagu nasyid, atau hadis, yang bikin makjleb dan termewek mewek.

Fully recommended ! Saat membaca buku ini, rasa senang, sedih, haru, bercampur jadi satu. Seperti es buah, segaar. Berasa kembali ke masa SMA yang menyenangkan. Saya membacanya hanya dalam waktu 2 jam, saat Saladin tidur siang.


Rabu, 07 Oktober 2015

Jilbab Sederhana yang Nyaman di Hati

Selembar kain bernama pashmina itu menjadi perisai, jika digunakan untuk menutup rambut, leher,dan dada. Hijab, jilbab, apapun istilahnya. Menjadi penanda bagi seorang muslimah yang ingin taat kepada perintah-Nya.

Saya berjilbab sejak desember 2005, di ulang tahun saya ke-19. Alhamdulillah, berarti sudah 10 tahun saya berjilbab. Jilbab bukan hal asing bagi saya, karena mama, tante dan nenek semua memakainya.

Dulu demen banget baca majalah remaja, ikut trend kekinian. Jadi ketika memakai jilbab, saya berpikir harus pakai jilbab ala saya.  Harus modis dong, kan fashionista.

Jilbab favorit saya yang berbentuk seperti selendang, warna pink, tapi agak tipis. Jadi harus pakai dalaman jilbab warna putih. Karena jilbabnya panjang jadi bisa dililit seperti kepangan rambut, kadang dililit bentuk bunga, dll.  Artistik! Mencorong! Hanya itu yang ada di otak, harus dandanin jilbab setiap hari.

                                                               -jilbab lilit favorit saya-

Kebiasaaan pakai jilbab modis itu terbawa sampai tahun 2009, ketika saya kerja magang di sebuah perusahaan furnitur. Bahkan ada beberapa karyawan yang ingin diajari step by step, cara menghias jilbab. Jam istirahat makan siang jadi buka salon dadakan, heheh.Waktu itu yang ada di pikiran saya, jilba ya jilbab aja. Yang penting nutup kepala. Belum terjamah istilah jilbab syar'i.

Ketika saya hamil di awal tahun 2012, baru terpikir untuk memakai jilbab yang menjulur dan menutup dada. Tidak disuruh suami, sih, tapi orang hamil kan ukuran "pd"nya lebih besar. Jilbab yang lebar bisa menutupinya. Tapi untuk urusan hias menghias jilbab teteep dong. Malah banyak yang bilang kalau ibu hamil semakin cantik, dengan dukungan jilbab lilit yang dikenakan.

Sampai di suatu hari, tahun 2014, semua berubah. Pagi itu, beberapa peniti, bros, dan jarum pentul, bergelayut dan menempel di jilbab hitam. Walau sudah punya anak, tetap modis dong. Sekilas melihat penampilan saya di cermin, cantik! Gak malu-maluin kalau ketemu ibu lain di posyandu.

Saat itu masih pukul delapan, keheningan menyapa di Balai RW, yang dijadikan lokasi posyandu. Rupanya belum ada ibu lain yang datang, hanya ada dua petugas. Segera saya masukkan Saladin, putra saya ke timbangan gantung, lalu..

"Bu nanti ada petugas puskesmas jadi tunggu dulu ya. Mau ada imunisasi pentavalen. Sekarang gratis lho, kalau dulu harus bayar 350.000". Spontan saya menjawab, "Iya Bu, petugasnya datang jam berapa?". "Sebentar lagi", kata beliau sambil tersenyum.

Hmm, duduk di kursi pojok situ saja, sambil menunggu. Tik, tik, tik, jarum jam berdetak. Sudah sepuluh menit, dua puluh menit, petugas puskesmas yang dinanti tak kunjung datang. Kemudian..

BREET!

"Aduh!". Nak, jangan tarik tarik jilbab mama! Tangan mungil Saladin asyik menarik simpul jilbab di sebelah kanan. Saat simpul itu dibetulkan eh ia malah menarik bros di sebelah kiri.Segera saya buka bros, dan jarum pentul, khawatir melukai kulit halusnya.

Ya Allah, apakah ini teguranmu? Bukankah jilbab itu sebagai pelindung, bukan pengganti hiasan kepala?

Melalui tangan kecilnya, Saladin mengingatkan, bahwa jilbab itu pelidung, bukan rambut yang bisa seenaknya dihias. Akhirnya sejak saat itu saya memakai bergo biasa, jilbab instan yang menutup dada, atau pashmina. Sederhana, yang penting serasi dengan warna baju. Lagipula, mengkreasi jilbab sendiri terlalu menyita waktu, lebih baik digunakan untuk memberi susu.

                                                            -sekarang pakai pashmina saja-

Bagi saya inilah hijab yang nyaman di hati. Menutup aurat, menjaga dari pandangan laki-laki. Semoga saya istiqamah memakai jilbab syar'i.


Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway "Hijab yang nyaman di hati".










Rabu, 06 Mei 2015

Bekerja dari Rumah: Tantangan Menjadi Dasterpreneur Profesional

Apa yang ada di pikiran anda tentang penampilan wanita karir? Berangkat ke kantor memakai blazer, bibir merah bergincu, tak lupa mengenakan sepasang sepatu. Oo itu dulu. Sekarang wanita karir bisa kerja hanya pakai daster, tanpa alas kaki. Kok bisa? Karena mereka bekerja dari rumah.

Kalau dulu, wanita yang bekerja dari rumah biasanya buka salon atau toko peracangan. Namun sekarang ada lebih banyak pilihan karir. Misalnya jadi content writer, penerjemah freelance, dropshipper, maupun buka toko online. Semua bisa dikerjakan sendiri, asal ada "peralatan perang" seperti laptop, modem, dan smartphone.

Merintis karir di rumah berarti menghemat pengeluaran transportasi, dan tak usah pusing menghadapi kemacetan di jalan. Hemat uang untuk beli  siang. Gajinya? Setiap fee akan ditransfer ke rekening. Asyik!

Kerja dari rumah memang menyenangkan, sudah hampir empat tahun saya mengerjakannya. Apa yang membuat saya memutuskan bekerja dari rumah? Karena ada pengalaman buruk di masa kecil. Seorang pengasuh pernah mencekik leher saya karena tidak mau makan siang. Saat itu saya berpikir jika besar nanti akan menjadi ibu rumah tangga saja, jika bekerja maka harus dikerjakan dari rumah. Sehingga anak akan ada di bawah pengawasan ibu kandungnya.

Bisnis percetakan menjadi ladang usaha saya -  dan suami. Mengapa percetakan? Karena dulu suami pernah magang di sebuah percetakan. Beliau bisa mendesain (walau dipelajari secara otodidak). Dan saya bertugas sebagai marketing online dan akuntan, sekaligus admin. Dengan dibantu tiga karyawan kami bahu membahu, bekerja dengan rajin.

Banyak pengusaha yang kesulitan modal, sedangkan kami memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan modal. Setelah resepsi pernikahan, seluruh uang di dalam amplop -  pemberian para tamu- dikumpulkan. Alhamdulillah bisa untuk beli mesin cetak mini. Laptop sudah ada, walau spesifikasinya standar, bukan khusus untuk mendesain. Kalau ada program Photoshop dan CorelDraw, cukuplah.

Sebagai marketing, tugas saya adalah online di berbagai social media. Online nya bukan sekedar pasang status, tapi sambil promosi terselubung. Seringnya sih pasang status dagangan di grup jualan atau fanpage, agar teman-teman tidak jengah melihat status saya yang iklan melulu.

Setelah ada klien menghampiri, baru saya catat pesanannya. Misalnya, berapa lembar undangan, mau warna apa, dll. Setelah jadi di satu folder baru diserahkan ke desainer grafis dan dibuatkan desainnya. Setelah deal, mereka transfer dp. Tugasnya bagian produksi untuk mencetak dan finishing. Setelah barang dilunasi, baru diantar ke rumah klien atau dikirim ke kota mereka via ekspedisi.

Banyak sekali kenikmatan yang didapat ketika bekerja dari rumah. Yang utama adalah saya bisa menghasilkan uang tanpa meninggalkan si kecil di rumah. Bisa bebas memandang wajahnya, bermain dengannya tanpa takut ketinggalan momen penting. Misalnya saat ia pertama kali merangkak, duduk, berjalan, dll.

Rapat dengan klien juga bisa diadakan dengan santai. Mereka datang ke rumah, dijamu di ruang tamu. Membicarakan pesanan sambil minum kopi. Melihat desain di laptop, lalu jika deal, bayar uang muka.
Soal busana? Ketika kerja di depan laptop, saya bisa bebas pakai daster. Istilahnya dasterpreneur. Toh tak ada yang tahu, saya pakai baju apa (kecuali bila mereka ingin video call, hehehe). Jadinya hemat pengeluaran untuk membeli kemeja, blazer dan bermacam baju formal yang biasanya dikenakan oleh karyawan kantoran.

Fleksibilitas juga menjadi kenikmatan bagi pekerja di rumah. Tidak harus kerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Jika hari ini sudah berencana mengisi blog jualan, tapi anak minta dikeloni, ya..Menunda dulu sampai ia tertidur pulas.Saat tengah malam pun bisa bekerja, mendata stok kertas, melayani pertanyaan calon klien, dll.
Intinya adalah manajemen waktu. Bangun tidur, beribadah, lalu cek bbm dan inbox fb. Setelah itu belanja, memasak, baru mengerjakan tugas, seperti beriklan di sosial media, menulis laporan keuangan, dll.

Keuangan pengusaha dan karyawan juga jauh berbeda. Jika karyawan gajian tiap awal bulan, pengusaha gajian tiap hari. Kok bisa? Enak banget! Ya, kalau ada klien yang transfer hari itu ya otomatis dapat uang. Besoknya, jika ada klien yang transfer lagi, meraup duit lagi.

Adanya gadget dan smartphone juga sangat membantu pekerjaan sebagai pengusaha. Bayangkan, berapa biaya yang harus dihabiskan jika klien dari luar kota menelepon interlokal? Dengan chatting di fb maupun bbm mereka bisa menyampaikan pesanan tanpa takut kehabisan pulsa. Praktis! Jika ada gambar yang dikirim via bbm, bisa dikirim ke laptop via bluetooth.

Tapi ada saja yang berpendapat miring kepada freelancer yang bekerja dari rumah. Karena kerja tanpa kantor formal dengan memanfaatkan teknologi adalah sesuatu yang baru. Seringkali freelancer dan pengusaha yang bekerja dari rumah dianggap pengangguran (karena penghasilannya naik turun dan tak punya slip gaji) . Atau dituduh punya piaraan "makhluk halus" karena tidak kelihatan kerjanya apa, tahu tahu beli kulkas baru. Beneran lho, ini salah satu cerita kawan saya yang dulu berjualan online di salah satu blog social media. Tetangganya bergunjing, dia jarang keluar rumah kok bajunya tambah bagus, perhiasannya banyak, dll.

Bekerja dari rumah juga bisa bikin wanita gemuk. Karena online di social media, bbm- an dengan klien selalu dilakukan dengan posisi duduk. Kalau lapar tinggal comot cemilan di sebelah, nyam! Atau delivery order saja. Kurangnya gerak, ditambah dengan tingginya kalori dan lemak yang dikonsumsi bisa bikin melar.

Selain itu juga rawan kena wasir. Lagi lagi karena terlalu banyak duduk dan kurang olahraga. Jadi untuk mengatasi penyakit ini sekaligus memerangi kegemukan,saya melakukan peregangan atau yoga, selama 30 menit, setiap pagi. Cemilan penuh lemak seperti roti manis diganti dengan apel dan melon. Sejam sekali bisa bolak balik ke dapur untuk mengambil air putih. Dan jika sedang offline ya jalan jalan plus mengejar anak saya yang suka berlari, hehehe. Lumayan, berat badan turun 6 kg dalam 4 bulan.

Deadline juga bisa jadi momok yang mengerikan. Bayangkan, saat tanggal merah, seisi rumah asyik berlibur atau belanja di mall (saya masih tinggal bersama ibu). Sementara saya berkutat di depan laptop, menyelesaikan pekerjaan. Atau membantu bagian produksi, memotong kertas atau finishing undangan. Jika sudah dekat dengan  deadline, otomatis waktu tidur berkurang.

Jadi jika ingin berlibur bersama keluarga harus mencermati kalender, lalu dua minggu sebelum hari-h mengurangi volume pekerjaan. Dan tak lupa memasang status (di fb dan bbm) "libur selama 2 hari", agar klien tak kecewa. Liburan menjadi penenang jiwa, untuk menghindari kebosanan. Maklum, kerjanya di rumah saja. Keluar rumah hanya untuk belanja atau jalan jalan bersama anak.

Saya tak boleh asal menerima order, lihat lihat dulu keadaan di rumah. Ketika anak sakit, padahal banyak order, harus berani menolak. Pasang status "slow response, anak sakit", agar calon klien tak salah faham. Kalau ada klien yang gak terima ya..sudahlah. Mungkin belum rejeki.

Lalu bagaimana cara menyeimbangkan antara pekerjaan dan tugas sebagai ibu rumah tangga? Di siang hari, saya online pakai hp, sambil mengasuh anak. Sambil menstimulasi motoriknya bisa curi curi waktu membalas bbm klien. Setelah ia tidur baru bisa bekerja dengan tenang.

Jika banyak order dan tidak sempat memasak ya beli lauk sajalah. Urusan beres beres rumah diserahkan pada prt. Intinya adalah manajemen waktu dan delegasi.

Mananajemen waktu berarti efisiensi waktu dan disiplin kerja. Walau saya sering berpromosi di facebook bukan berarti bisa fb-an seenaknya. Sesekali sajalah bikin status pribadi, sisanya ya beriklan di grup jualan. Kalau terlalu asyik chatting dengan teman, berapa banyak waktu yang habis di depan gadget? Lebih baik offline, bermain dan mengasuh anak. Remember, time is money!

Manajemen keuangan juga harus ditertibkan. Tulis setiap pemasukan dan pengeluaran usaha di sebuah buku, atau buat file excel-nya. Jadi bisa menghitung omzet bulan ini berapa, juga sebagai evaluasi, apakah pendapatan naik atau malah turun. Pisahkan dompet pribadi dan dompet untuk perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menjaga profesionalisme sebagai pebisnis.

Setiap malam, sengantuk ngantuknya, harus menulis evaluasi harian. Agar besok tak mengulangi kesalahan yang sama. Plus menulis rencana kerja esok hari. Tak hanya rencana harian, tapi juga ada rencana mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Agar bisnis benar benar "business" bukannya "busy-ness" (kesibukan-sekedar membunuh waktu agar tak bosan di rumah).

Saya sadar bahwa bisnis ini adalah sumber penghasilan utama keluarga. Jadi selain disiplin, harus menepati janji, semangat, dan sabar. Kalau kehilangan motivasi, malas bekerja, nanti anak makan apa? Karena masih dalam tahap merintis (lima tahun pertama), maka harus sabar untuk memetik hasilnya di kemudian hari. Saya berkaca dari pengalaman Tante yang baru sukses setelah sepuluh tahun berbisnis furnitur.

Selain itu hal yang harus diperhatikan adalah etika. Dilarang meng-add orang baru hanya untuk berpromosi, atau langsung menawarkan jasa via inbox. Atau yang lebih parah lagi, mengetag seluruh teman di fb di status promosi. Bahkan saya pernah melihat seller yang mencak mencak karena ada seller lain yang numpang jualan di page-nya atau di kolom komentar thread iklan-nya.

Walaupun bekerja di rumah, sebaiknya jaga penampilan jika ada klien yang datang ke rumah, untuk menambah kesan profesional. Tanggalkan daster sejenak, ganti dengan baju yang lebih rapi. Berikan seulas senyum yang ramah pada mereka.

Saya harus banyak belajar tentang manajemen waktu dan membangun jejaring nih. Dan semuanya bisa dibaca di buku “Sukses Bekerja dari Rumah”. Pasti disana ada tips dan trik yang bermanfaat untuk bisnis percetakan saya. Dan juga ada profil para wanita yang sukses bekerja dari rumah, mereka inspiratif.



Bekerja dari rumah memang asyik dan banyak tantangannya. Betapa nikmatnya bisa mendapat penghasilan sambil mengasuh dan mengawasi buah hati dari dekat. Jadilah pekerja profesional dan uang akan mengejar anda.