Jumat, 16 Desember 2016

Komitmen Pertamina Sebagai Perusahaan Berbasis Lingkungan Dalam HUT ke 59


Kampung Atas Air, kelurahan Margasari, Balikpapan ini lokasinya bersebelahan dengan kilang Pertamina refinery unit 5. Bahkan jarak antara area Pertamina dan Kampung Atas Air cuma berbataskan mangrove seluas 200 meter saja. Karena Kampung Atas Air ini menjadi model masyarakat yang berdampingan dengan kilang tanpa ada benturan dengan perusahaan, maka tempat ini terpilih sebagai lokasi program Pemberdayaan Pesisir dan Pembersihan Pantai Kampung Nelayan yang bertepatan dengan hari jadi PT Pertamina (Persero) ke 59 tanggal 10 Desember 2016 kemarin. 


 
 Taman baca di Kampung Atas Air Margasari 

              


Momen di Taman Baca Kampung Atas Air Margasari, Balikpapan.

Selain diadakan di Kampung Atas Air, program ini juga diadakan di lima lokasi secara serentak. Kelima lokasi tersebut yakni Pantai Kampung Bugis Tanjung Uban di Kepulauan Riau, Pantai Mutiara Hijau Karangsong, Balongan di Jawa Barat, Pantai Teluk Penyu di Cilacap di Jawa Tengah, juga Pantai Grand Watu Dodol di Banyuwangi di Jawa Timur. Menurut Direktur Pengolahan Pertamina Toharso, beliau menyatakan bahwa garis pantai sepanjang 90.000 kilometer dimiliki Indonesia, hanya saja penataan kawasan ini belum optimal betul. Parahnya, sebagian wilayah pesisir malah kotor akibat pengelolaan sampah yang sangat buruk. Karena itu, pantai Indonesia masuk ke dalam 10 pantai paling kotor di dunia. Maka karena itulah Pertamina pun menginisiasi pembersihan pantai kampung nelayan dalam momentum hari ulang tahun ke-59.



Setidaknya sebanyak 400 orang peserta yang terdiri dari berbagai kalangan yakni pekerja Pertamina, SKPD, nelayan, petani, dan juga relawan bersuka cita mengikuti kegiatan di Kampung Atas Air, Kelurahan Margasari dan juga Kampung Baru Tengah, Balikpapan ini. Sebab selain membersihkan sampah, di kegiatan ini juga dilakukan penanaman ribuan bibit mangrove di sekitar Kampung Atas Air. Mangrove itu kelak akan menjadi benteng paling aman untuk daerah pesisir, mengamankan ombak ganas serta mengamankan erosi pantai yang bisa merugikan pesisir. 









Program Pemberdayaan Pesisir dan Pembersihan Pantai, momentum HUT Pertamina









Turut hadir dalam acara ini antara lain Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi, General Manager Refinery Unit (GMRU) V Pertamina Yulian Dekri, Direktur Pengolahan Pertamina  Toharso, serta hadir pula Direktur Pengendalian Kerusakan Pesisir dan Pantai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Heru Waluyo, tak lupa jajaran Pemkot Balikpapan yang berwenang.

Mie dari selada yang dibuat oleh adik-adik binaan CSR Pertamina

Kegiatan ini memiliki tujuan untuk menggugah kesadaran masyarakat supaya peduli dengan kelestarian lingkungan di pesisir pantai, terutama kesadaran untuk menjaga kebersihannya. Sebab lingkungan pesisir dan kampung nelayan yang bersih akan memberikan dampak positif yang baik sekali untuk masyarakat. Program pemerintah untuk memasyarakatkan “Gemar Makan Ikan” pun lebih mudah untuk dilaksanakan sebab biota laut meningkat kualitas dan kuantitasnya. Kampanye ini juga dijadikan poin penting dalam program pemberdayaan pesisir ini, selain membersihkan lingkungan sekitar pesisir dari sampah dan berbagai limbah rumah tangga, diberikan bantuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Hal itu adalah bukti komitmen Pertamina dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat nelayan, melalui program Corporate Sosial Responsibility (CSR) maupun juga Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), apalagi kegiatan ini bertepatan dengan momentum HUT perusahaan, memberikan kebanggaan tersendiri bagi Pertamina.


Kamis, 15 Desember 2016

6 Hal yang Wajib Ditanyakan Pada Calon Suami Sebelum Menikah

Anda mau menikah? Selamat ya. Tapi kadang ada rasa takut, ada yang sudah menikah tapi bertengkar tiap hari. Ada yang umur pernikahannya tidak bertahan lama, dll.
Salah satu penyebab pertengkaran adalah miskomunikasi. Nah, mari kita kurangi miskomunikasi dengan menanyakan 6 hal ini.

1. Tinggal di mana setelah menikah?

Ini pertanyaan yang sangat sangat penting. Pengantin baru mau tinggal di mana? Mengontrak rumah,sewa apartemen, beli rumah dengan kpr, atau hidup di pondok mertua indah?
Kalau misalnya hidup bersama mertua, calon suami harus diingatkan, maksimal berapa lama tinggal di sana. Jadi sudah ada rencana menabung sekian bulan, untuk uang muka rumah  atau biaya sewa rumah. Paling asyik memang tinggal di rumah sendiri.

 Tapi, kalau memang harus serumah dengan mertua karena beliau sudah sakit sakitan atau sangat tua, butuh keikhlasan dari calon istri. Dan calon suami juga harus bisa membuat pasangannya senyaman mungkin.

2. Boleh kerja atau tidak?

Sebagian wanita ada yang melepaskan karirnya setelah menikah, karena ingin fokus mengurus keluarga. Tapi ada yang masih ingin bekerja di kantor. Kalau suami melarang istri bekerja, bagaimana dong?

Makanya, sebelum menikah, calon suami ditanya dulu. Apa boleh melanjutkan karir? Kalau perlu, bikin pernyataan di atas materai bahwa istri boleh bekerja, atau minimal direkam lah (lidah tak bertulang lho). Jika tidak boleh, berarti suami sudah siap menyediakan keamanan finansial.

gambar pinjam dari sini

3. Apa dia mengorok?

Hal ini terlihat sepele, tapi juga penting. Saat terlelap tidur, eh istri tiba-tiba terbangun, karena dengkuran suami yang luar biasa. Tanyakan juga, apa ia sering mengigau, atau berjalan dalam tidur.

Jika calon suami mengorok, batal nikah? Ya enggak segitunya lah. Cari solusi, misalnya mengunjungi dokter. Jadi kebiasaan ngoroknya bisa berhenti.

4. Apa pernah menikah sebelumnya?

Pertanyaan ini juga sangat penting. Jika menikah dengan duda, tentu harus mengenal anak-anaknya. apa mereka akan tinggal bersama ibu kandung, atau ayah?

Teliti juga surat duda-nya. Pastikan bahwa itu asli.

5. Siapa yang memegang keuangan keluarga?

Masalah uang memang sensitif, tapi harus dibicarakan. Agar tidak terjadi salah faham. Jika suami lebih hemat, lebih baik ia yang memegang keuangan keluarga. Istri tinggal minta jatah. Tapi apstikan jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagaimana jika istri dan suami sama sama bekerja? Tentukan kesepakatan, misalnya gaji istri untuk bayar tagihan listrik, air. Sementara gaji suami untuk bayar KPR, cicilan motor, spp anak, dll. Setelah emnikah, susah senang ditanggung bersama. Tak ada istilah "uang istri" atau "uang suami". Karena Tuhan memberi rejeki bisa lewat suami atau istri. 

6. Apa punya hutang / cicilan?

Last but not least, ini juga penting. KArena jika suami emninggal, bisa jadi istri yang membayar hutang-hutangnya. 

Jika suami punya cicilan motor, maka istri bisa mengatur, berapa persen dari gaji untuk cicilan, lalu sisanya untuk keperluan lain, dll.

Bagaimana, siap menanyai calon suami? Semoga pernikahannya lancar ya.
Ada pertanyaan lain?


Selasa, 13 Desember 2016

Tips Menghadapi Suami Pelit

Suatu malam..
"Pa, tas mama sudah rusak nih. Talinya lepas, kulitnya terkelupas", sambil menyodorkan tas.
Lalu suami mengambil uang di dompet, berapa hayo?


"Papaa ! Itu kan gak cukup buat beli tas baru? Cuma ceban"
Sang suami dengan santai berkata, "ya ma, itu buat servis."

Pernahkah menghadapi situasi seperti itu? Atau malah gak dikasih uang, sekedar untuk servis tas rusak? Punya suami pelit memang menyebalkan. Saat harga bahan makanan naik, eh uang belanja cuma 15.000 rupiah per hari. Daripada bete, lebih baik baca tips di bawah ini.

1. Masak Monoton

Tiap pagi masak nasi goreng (tanpa tambahan lauk). Siang goreng tempe, malam bikin sambal tempe. Kalau suami protes, berikan brosur supermarket yang isinya harga daging sapi dan ayam. Biar beliau tahu, harganya berapa. Jadi kalau uang belanja minim ya gak bisa makan enak.

2. Beli kosmetik+ skincare saat belanja mingguan/bulanan

Ada lho suami yang ga mau tau , gak kasih anggaran khusus untuk beli skincare. Tapi ingin punya pasangan yang cakep dan kinclong bagai artis korea. Eaaa. Jadi, kalau belanja bulanan atau mingguan, sekalian aja beli facial wash, krim malam, dll. Toh dia yang bayarin di kasir.

3. Menyindir

Suatu malam, suami curhat "mah, powerbank ku ketinggalan di kantor. Besoknya pas aku cari dengan teliti, kok gak ada ya?". Istri sudah memasang wajah simpati dan berkata "Lain kali hati-hati ya pa. Makanya, jangan medit ama istri. Uang untuk beli powerbank baru kan mending buat beliin tas mama ". XD

4. Menanam Cabe/tomat dan bumbu dapur lain

Suami suka makan pedas, sementara harga cabe naik terus? Daripada nggrundel karena uang belanja gak dinaikkan, lebih baik ambil pot atau bungkus minyak goreng. Plastik pembungkusnya kan bisa buat media tanam cabe dan tomat, atau bumbu lain (jahe, kunyit, dll).Cara menanamnya bisa googling sendiri ya. Jadi ga usah panik kalau mau bikin sambal.

5. Garage Sale

Saat buka IG, waah ada gamis kece. Lalu banyak friendlist yang upload jadwal midnight sale di mall. Tapi saat ngajuin proposal ke suami, dia malah bilang , "garage sale aja ma. Koleksi baju dan tas lama dijual dulu, baru beli lagi".

Apa???

Senyumin aja, lalu bisikin telinganya, "OK, tapi koleksi figurin dan sepatu boots Papa aku foto ya, buat tambahan barang di garage sale. Lumayan buat nambah ongkos taksi".
Skor 1-1. Hehehehe.

6. Berdoa

Sifat pelit bin medit adalah bukti cinta dunia yang berlebihan. Daripada dongkol dalam hati, lebih baik berdoa dengan khusyuk. Semoga Tuhan mengubah sifat jeleknya.
Ada yang punya tips lain?

Senin, 28 November 2016

7 Resiko jadi Selebgram

Suka nongkrong di instagram? Sosial media yang satu ini memang asyik banget, jadi ajang narsis dan majang foto foto kita. Bahkan ada beberapa orang yang mendadak jadi selebgram  alias selebriti instagram, seperti dijah yellow dll. Jadi selebgram memang enak, punya ribuan follower, dipuji puji, fotonya di regram oleh banyak orang, bahkan diendorse oleh merk tertentu. Eits, jangan mikir enaknya aja! Ada juga resiko ketika kamu jadi selebgram.

1. Dibully haters

Tak semua follower adalah penggemar selebgram. Kadang mereka follow suatu akun instagram, hanya untuk stalking dan kepoin aksinya. Jika suatu selebgram melakukan kesalahan sedikit saja, haters bisa bertubi tubi mengejek, bahkan mengeluarkan kosakata kebun binatang.

Jadi selebgram memang harus tebal kuping. Jika ada yang membully, biarkan saja. Kadang mereka gak mikir saat berkomentar. Tenang saja, hater sebenarnya sangat mencintai selebgram. Buktinya, mereka selalu mengawasi setiap gerak gerik dan aktifitas sang seleb. Bisa dibilang, haters adalah lovers yang tertunda, hehhehehe.

pic pinjam dari sini 


2. Jadi Saksi Pertengkaran Hater Lover

Jika ada hater berulah, lover pasti langsung pasang badan membela selebgram idolanya. Tapi tak jarang tingkah mereka memetik api pertengkaran di kolom komen instagram. penggemar lain ajdi gerah, kokisinya betengkar melulu?

3. Jadi sasaran rasisme
Padahal ada yang setia membela negara, tapi malah dimaki-maki. Bukankah kita berprinsip bhinneka tunggal ika? Sedih deh kalau lihat aksi rasisme di dunia maya.

4. Dibilang sombong karena memprotect akun ig
Seoragn selebgram ingin memprotect ignya, dan menyeleksi siapa saja yang boleh menjadi followernya. Ya, mungkin cara ini efektif untuk mengurangi hater. Tapi nyinyinyers malah mengcapnya sombng karena dianggap pilih pilih follower, nah lho!

5. Ditanya hal pribadi
kapan nikah?
ini anaknya? blabla bla..Capek deh..


6. Diiklanin oleh os tak tau malu

Pernah mampir di akun selebgram tapi shock saat baca komen2nya? Lebih dari setengah komentator bukannya mengomentari foto, malah asyik promosi toko onlinenya. Karena di sana dianggap sebagai tempat ramai, jadi stategis untuk beriklan.


Kalau ada yang ngiklan, yasudahlah, gak usah balik di komen atau dihapus komentarnya. Doakan saja biar dagangan mereka laris, dan mereka dapat cara yang lebih elegan untuk beriklan.

7. Dicuri fotonya oleh orang tak bertanggungjawab

Masih ingat dengan kasus akun penjualan bayi? Beberapa selebgram marah karena foto anaknya dicomot tanpa izin. Foto para selebgram memang terlihat menarik dan jadi objek pencurian dan plagiasi. Solusinya, beri watermark pada setiap foto.

Masih mau jadi selebgram? Selamat, anda beranai menanggung resiko :D. Pro dan kontra itu biasa, jadi komentar negatif abaikan saja.

Jumat, 18 November 2016

Memberi Nilai Plus Pada Bisnis

"Selamat Pagi!". Tadi pagi saya ternganga ketika ada door man, eh door woman yang membukakan pintu di sebuah bank swasta. Saya menyebutnya "door woman" karena dia adalah mbak cantik, yang kemudian bertanya, "ada yang bisa dibantu?

Tak hanya membukakan pintu, ia juga sigap membantu nasabah yang ingin menarik kursi (saat akan duduk di depan CS). Lalu menunjukkan letak kamar mandi (pada nasabah lain).

Saya jadi termenung dan teringat akan dua kata, yaitu nilai plus. Bank itu menawarkan beberapa jasa plus plus (bukan pijat plus plus lho ya :p ), seperti ketersediaan atm yang sangat banyak, menabung langsung di atm, dan juga layanan penuh senyum dari petugas cantik pembuka pintu. Karena inti dari sebuah perusahaan jasa adalah LAYANAN.

Tapi bagaimana kalau bisnis saya tidak bergerak di bidang jasa? Layanan juga berperan penting, lho. Misalnya, jika anda membuka rumah makan, beri tag "gratis nasi". InsyaAllah laris. Rugi dong, beras satu kilogram harganya berapa? Bukan rugi, tapi pakai trik subsidi silang, jadi ada beberapa menu yang harganya sedikit dinaikkan, dan keuntungannya untuk beli beras. Ada juga tempat lain yang menawarkan free flow tea atau cola.

Ada juga salah satu owner bisnis yang memberi layanan berupa mesin EDC. Jadi saat dia mengantar pesanan, customer yang tidak ada cash / kurang cash, bisa menggesek kartu di mesin itu.

Bagaimana menurut anda?


Minggu, 23 Oktober 2016

Mental Gratisan

"Kasihkan aku saja!"
Ha?? Saya hanya bisa menatap layar hp dengan gondok. Kemarin saya upload foto motor klasik punya suami yang akan dijual. Tapi dua komentator malah bilang "minta". Minta motor? wakakakakakakakkaka.

Komentar itu bikin saya ignin nulis tentang "mental gratisan". Sudah bukan rahasia lagi, kalau ada yang jalan-jalan, pasti banyak yang minta oleh oleh. Sampai ada anjuran, jangan lagi minta oleh-oleh kalau ada teman yang travelling, apalagi ke luar negeri. Bisa jadi barang barang di sana lebih mahal. Bisa menguras kantong dan juga nambah bagasi. Pulang liburan bukannya fresh, malah kusut, karena tekor.

Seorang penulis pernah curhat di fb, karena ada saja temannya yang minta bukunya. Kadang mereka gak mikir, kalau menulis buku itu butuh proses, bahkan sampai dua tahun. Coba kalau dibalik, saat mereka kerja, lalu hasil kerjanya diminta, apa mau?

Bukannya medit ya, tapi apakah kita bisa memberantas mental peminta minta? Mental gratisan? Teman ulang tahun, minta traktir. Ada yang dapat hadiah, minta bagian. Mau ini, minta itu (seperti di ost Doraemon). Hemmm....

Adakah yang punya pengalaman serupa?

Minggu, 07 Agustus 2016

Tips Aman Berkendara Motor Saat Pakai Gamis

Krak!
Saya meraba gamis bagian bawah. Sementara pengendara motor di sebelah kanan menghentikan lajunya. Ia memberi kode pada ayah untuk berhenti dan menepikan motor. Bisikan berhembus ke telinga pengendara, "Ayah, gamisku tersangkut jeruji ban motor". 

Dengan muka merah menahan malu, saya turun dari sepeda motor. Ya Tuhan! Hampir separuh gamisku sudah tertelan oleh jeruji. Ayah mencoba memundurkan sepeda motornya, namun terlambat. Gamis itu sudah tercengkram, tak bisa keluar begitu saja. Seorang bapak tua berhenti dan mencoba membantu kami untuk menarik gamis, tapi sia-sia. Lalu ia berinisiatif untuk meminjam pisau dari warung yang berada di dekat lokasi kejadian, dan, "breet!". Gamis warna hijau itu terpotong, hanya tersisa 5 cm di bawah lutut.

Ayah hanya bisa mengomel karena saya tidak menuruti nasihat Mama untuk duduk di boncengan menghadap ke depan. Saat itu, kami terburu-buru berangkat, hendak membeli sate ayam untuk makan malam. Saya hanya mengenakan legging selutut, jadi malu untuk duduk menghadap ke depan, karena betis saya bisa terekspos. Tapi sekarang lebih malu lagi, karena harus berjalan menuju warung sate dengan baju compang camping berlumur oli.

Matahari mulai meremang, sudah hampir maghrib. Saya bersyukur pada Tuhan karena hari sudah menggelap, tak banyak orang yang menyaksikan kejadian naas itu. Setelah membeli sate, kami segera pulang. Sampai di rumah, saya segera masuk kamar untuk mengganti baju. Sambil setengah menyesal, gamis sebagus ini berakhir dengan tragis, padahal saya baru membelinya sebulan yang lalu.

Teman-teman, hati-hati ya kalau pakai gamis dan naik sepeda motor. Jadi pengendara maupun pembonceng bergamis memang harus super waspada, agar baju tidak terjepit jeruji. Biar aman, lakukan tips-tips di bawah ini:

1. Saat dibonceng, duduk menghadap ke depan, bukan ke samping.  Jika duduk menghadap samping, resiko gamis tertelan jeruji akan lebih besar. Walaupun sudah menghadap depan, angkat sedikit gamis, agar lebih aman.

2. Gunakan legging yang panjangnya se-mata kaki atau celana panjang berwarna gelap sebelum  memakai gamis. Jadi kalau dibonceng menghadap kedepan, tetap menutup aurat, walau posisi gamis terangkat. 

3. Angkat sedikit gamis saat berada di atas sepeda motor. Walaupun kamu jadi pengendara, tetap saja ada resiko ujung gamis tertelan jeruji roda. Jadi harus super hati-hati.

4. Bacalah doa sebelum berangkat. Semoga Tuhan selalu melindungi saat berkendara.

5. Pilih-pilih koleksi baju gamis modern saat akan bersepeda motor. Sebaiknya pakai gamis klok atau model gamis yang lurus, bukan model umbrella yang melebar ke bawah. Mengapa? Karena gamis payung alias umbrella memiliki bagian bawah yang lebih lebar dan berpotensi masuk jeruji.

Bingung cari gamis di mana? Di Matahari Mall ada banyak pilihan koleksi baju gamis modern. Tak cuma gamis panjang se-mata kaki, ada gamis yang panjangnya 3/4 . Tersedia koleksi baju gamis modern yang berwarna warni, dan bisa sekalian beli legging lho. 

Gamis yang ini cakep kan? Terbuat dari kain katun yang menyerap keringat, jadi gak gerah. Warnanya juga kalem dan feminin, kamu bisa tampil cantik seperti putri.


 
 Atau lihat yang ini, terbuat dari bahan jeans. Bikin kamu terlihat modern dan gaya.



Ini juga keren, berwarna hitam, jadi terkesan melangsingkan tampilan. Warnanya membuatmu terlihat classy dan molek. 

Bulan depan kita merayakan hari raya Idul Adha. Sudah punya baju gamis untuk dipakai saat shalat ied? Borong yuuk. Tersedia dalam berbagai ukuran, dan harganya terjangkau. Ada diskon 20 -30 % pada beberapa produk baju dan bisa juga dicicil dengan bunga 0 %.

Jangan khawatir dengan ongkos kirim. Ada produk yang berlabel free ongkir lho. Nyampainya juga cepat, hanya 3-8 hari kerja.

Pilih koleksi baju gamis modern yang cocok untuk dipakai ketika bersepeda motor. Teman-teman bisa berkendara dengan aman, nyaman, dan tetap stylish.

Rabu, 03 Agustus 2016

Saat Anakku Gagal ASI Eksklusif

Tangisan bayi adalah lagu yang paling indah bagi orang tua. Saat ia menangis, pasti ibu memberinya ASI, karena ASI adalah cairan emas dan makanan terbaik untuk bayi. ASI diberikan secara eksklusif selama 6 bulan, jadi bayi hanya mendapat ASI, tanpa tambahan air putih, tajin, atau susu formula. Hal ini sesuai dengan anjuran dari WHO dan UNICEF. Anak yang mendapatkan ASI eksklusif akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat. Kajian global "The Lancet Breastfeeding Series 2016" telah membuktikan, menyusui eksklusif menurunkan angka kematian karena infeksi sebanyak 88%.

Memberi ASI adalah cita-cita saya, setelah melahirkan Saladin. Tapi sayangnya, ia gagal mendapat ASI eksklusif karena keteledoran saya. Ini cerita lengkapnya..

Jam berdentang empat kali, matahari mulai meremang, keringat bercucuran. Saya hanya tergolek lemah di ranjang Rumah Sakit. Hari itu tanggal 8 november 2012, saya melahirkan jam 8:15 pagi, tapi belum juga bertemu dengan bayi. Lima menit kemudian, seorang perawat masuk ruangan, menggendong bayi laki-laki tampan. Aih! Ini dia anakku, segera kugendong lalu ia tergolek di pangkuan, mulutnya membuka dan mencari ASI. Dibantu Mama mertua, saya belajar menyusui. Tarikan dan hisapan kuat dari mulut mungilnya membuatku geli, kata orang, bayi laki laki memang lebih banyak menyusu daripada bayi perempuan.


Lalu perawat bertanya, "nanti bayi tidur di sini atau ruang bayi?". Karena ingin tertidur lelap, akhirnya bayi itu berpindah ke gendongan perawat agar nantinya diletakkan di ruang bayi. Keesokan harinya, saya membuka hp untuk browsing tentang ASI. Saat itu saya baru sadar, dan akhirnya harus menerima kenyataan bahwa bayiku GAGAL mendapat ASI eksklusif, oh tidak!!

Bayi ini sudah terlanjur meminum susu formula setelah dilahirkan. Saya tak tahu apakah ini standar dari Rumah Sakit, atau instruksi dokter yang salah. Dari artikel yang saya baca, bayi yang baru lahir biasanya langsung didekatkan ke dada ibu untuk mendapatkan inisiasi menyusui dini (IMD). Tapi saya baru bisa menyusui 7 jam setelah melahirkan. Anakku Saladin diberi susu formula tanpa sepengetahuan saya.

Padahal menurut WHO, salah satu standar emas pemberian makan pada bayi dan anak adalah mulai segera menyusui 1 jam setelah lahir. Jika ada kesalahan seperti ini, kemana saya harus mengadu? Aih, saya juga salah karena pasrah menyerahkan bayi pada perawat dan akhirnya ia tidur di ruang bayi. Pasti semalam ia minum susu formula lagi. Seharusnya saya bertanya terlebih dahulu kepada teman-teman yang sudah pernah melahirkan.

Saya sempat khawatir, akankah Saladin mendapat kolostrum? Karena ia terlalu lama menunggu untuk menyusui. Kolostrum adalah cairan pertama yang diproduksi payudara saat produksi ASI dimulai. Cairan kolostrum berbentuk encer, manis, dan mudah dicerna. Syukurlah, menurut artikel yang saya baca, kolostrum keluar dari payudara sejak ibu melahirkan sampai bayi berusia 4-7 hari. Mengapa kolostrum sampai sepenting itu? Karena kolostrum mengandung zat kekebalan tubuh 10-17 kali lebih banyak dibandingkan susu matang ( susu formula) yang berfungsi melindungi bayi dari diare dan infeksi.

Jadi, agar bayi mendapat ASI eksklusif, sebaiknya melakukan hal-hal berikut ini:

1. Sebelum melahirkan, survei Rumah Sakit dulu, mana yang pro ASI, mana yang tidak. Kadang ibu hamil sudah gampang lelah, jadi delegasikan tugas ini pada suami atau saudara. Survei juga bisa dilakukan melalui internet, cek website rumah sakitnya, atau bertanya pada teman lain di media sosial.

2. Pastikan bayi tidur satu ruangan dengan ibu, di rumah sakit. Jika bayi terpaksa tidur di ruang bayi, komunikasikan dengan suster, bayi jangan diberi susu botol. Jika perlu, buat surat perjanjian yang isinya "suster dilarang memberi susu formula" dan beri materai dan tanda tangan. Perahlah ASI untuk stok minum bayi, jadi sebelum melahirkan, sudah mempersiapkan peralatan seperti: pompa ASI, botol steril,  panci penghangat, dan cooler box.

3. Yakinkan diri bahwa ASI akan keluar dengan lancar. Anak akan sehat dengan ASI ekslusif, jadi tidak usah ditambah dengan susu formula. Penambahan susu formula hanya akan mengganggu jadwal keluarnya ASI. Jika bayi minum ASI 2 jam sekali, dan diganti susu formula, maka ASI akan keluar 2 jam setelahnya. Jeda keluarnya ASI berubah dari 2 jam menjadi 4 jam sekali.  Jika jedanya semakin banyak, lama lama ASI akan jarang keluar, lalu seret, kering, tak keluar sama sekali.

4. Makan makanan bergizi agar ASI lancar. Selain daun katuk, daun pepaya dan daun singkong juga bagus untuk menambah produksi ASI. Sekarang sudah banyak tablet dan suplemen lancar ASI, jadi lebih praktis. Rata-rata ibu menyusui mengeluarkan 500 kalori per hari, jadi gampang lapar dan ingin ngemil. Sebaiknya makan camilan bergizi ya, misalnya buah segar dan bubur kacang hijau. 

5.Banyak banyak membaca buku, artikel majalah dan berbagai referensi tentang ASI. Jika kurang membaca, bisa bisa termakan mitos seperti "ASI sudah basi dan harus dibuang", padahal mengandung kolostrum. 

Alhamdulillah walau Saladin gagal mendapat ASI eksklusif, namun saya bisa menyusuinya hingga 2 tahun ++. Ternyata benar, anak ASI lebih sehat dan jarang sakit. Saladin tak pernah opname di rumah sakit, jika sakit paling hanya demam-batuk-pilek, atau diare ringan. Perkembangan fisiknya juga sangat bagus, di usia 1,5 bulan ia bisa tengkurap, dan bisa berjalan pada usia 13 bulan. Sekarang ia berusia 3 tahun 8 bulan, dan hobi memanjat pohon mangga :D. 

Jika anak sudah mendapat ASI eksklusif, sebaiknya ia juga disusui sampai ia berusia 24 bulan. Hal ini sesuai dengan standar WHO, bahkan di dalam Al Qur'an juga ada anjuran untuk menyusui anak sampai usianya 2 tahun. Sesuai juga dengan tema pekan ASI dunia tahun ini, "Ibu menyusui sampai 2 tahun lebih hemat, anak sehat dan cerdas, dalam rangka mewujudkan keluarga sejahtera". 



Menyusui memang butuh banyak pengorbanan, puting digigit bayi, harus makan banyak sayur, daster jadi bau ASI. Tapi yakinlah, di balik kerepotan itu, akan terbentuk anak yang sehat dan cerdas karena ASI yang bergizi tinggi. Rayakan pekan ASI dunia, tanggal 1-7 agustus ini dengan menyusui atau menyokong para ibu menyusui. Mari teriakkan slogannya, "Ayo dukung ibu menyusui!".



Sumber: 

gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2016/07/Pedoman_PAS_2016.pdf

https://bundanyaarzachel.wordpress.com/2013/02/06/7/


Sabtu, 30 Juli 2016

Cinta Dalam Sepanci Opor

"Kriing!"

Suara telepon memekik di pagi buta. Aku menggosok-gosok mata lalu menguap, masih setengah mengantuk. Tapi dering telepon memaksaku untuk bangun dari tempat tidur. Kuangkat telepon itu, apa dari Mama?

"Assalamualaikum"
"Waalaikum Salam. Mbak"
Lho, bukan suara Mama?
"Ini Bu Anto. Mbak, opornya sudah matang. Silahkan diambil ke rumah, mumpung saya belum berangkat shalat Ied"
Hah?? O....por?
"Bu, maaf, saya kan tidak pesan"
"Iya Mbak, Mama yang pesan, dan sudah dibayar"
"Baik bu, saya ambil sekarang. Assalamualaikum"
Lalu telepon terputus.

Kusambar kerudung, lalu bergegas ke luar rumah, menuju warung Bu Anto. Udara dingin yang menusuk tulang tak memperlambat langkahku. Bu Anto memberikan kresek merah, berisi opor, sambal goreng kentang ati, dan beberapa buah lontong. Aku mengucapkan terimakasih, lalu bergegas pulang. Hendak mandi dan siap-siap shalat Ied.

 Air mata merembes di sudut pipi. Ya Allah, alhamdulillah. Mungkin Mama khawatir aku tak sempat memasak opor lebaran, karena sibuk menjaga anakku Saladin yang hobi memanjat lemari. Sehingga beliau memesankan opor dan sambal goreng untukku.


                                                      

Aku menangis karena di saat berjauhan, beliau masih memikirkanku. Sudah lima lebaran ini aku tak sungkem pada Mama, karena beliau berlebaran di Jepara. Sedangkan aku merayakan hari raya di rumah mertua, di Polowijen - Kota Malang. 

Bukannya aku tak mau mudik ke tempat Kakekku di Jepara, tapi  kekhawatiranku akan Saladin membuatku tertahan di Malang. Kalau mudik, kami harus melewati jalur pantura yang panas dan macet, takutnya Saladin kegerahan dan bosan di jalan. Lebih aman lebaran di Malang, karena rumah mertua hanya berbeda kecamatan dengan rumahku. Jika naik sepeda motor, hanya butuh 30 menit perjalanan. Lagipula, berlebaran di Malang membuatku bebas dari omelan Mama. 

Dulu aku menganggap Mama lebih sayang pada adik laki-lakiku. Kini ia sudah bekerja di sebuah perusahaan BUMN di Jakarta. Sedangkan aku memilih untuk jadi ibu rumah tangga.  Berkali-kali beliau menawariku, apa mau kuliah S2 lalu berkarir jadi dosen. Tapi semua rayuannya tak membuatku tertarik, aku hanya ingin mengurus keluarga kecilku. Jadi hubungan kami memanas, seperti tikus dan kucing.

Aku tebak, beliau lebih bangga dan sayang pada anak keduanya daripada aku yang cuma mengurus suami dan bocah kecil di rumah. Tapi tengah gema takbir lebaran, semua prasangka jadi hilang. Terbakar oleh cinta di dalam sepanci opor. Mama juga menyayangiku, meskipun beliau jarang mengatakannya di depanku. Ya, mungkin beliau bisa menelepon atau aku wa, dengan android #4GinAja.

Usai shalat Ied, kupotong lontong, kuguyur kuah opor di atasnya. Sambil makan, aku mendengar lagu "Kasih Ibu" yang terekam dalam ingatanku

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya, menyinari dunia

Ibu hanya berniat memberi cinta, walau dalam bentuk yang tidak dimengerti oleh anaknya. Lebaran ini berasa segurih opor, karena semua pikiran jelekku tentang Mama luluh, oleh perhatian dan kejutan dari Mama.

Tiba-tiba aku teringat almarhumah Nenek, beliau meninggal april lalu. Jadi tahun ini adalah lebaran pertama Mama tanpa ibunya. Akankah aku bisa berlebaran dengan Mama tahun depan? Ah, aku takut tak ada lagi kesempatan untuk berbakti padanya. 


                                                        Mama (kerudung biru) dan Nenek (alm)

Mulai hari itu, 1 Syawal 1437 Hijriah, aku bertekad untuk lebih menyayangi Mama. Mungkin aku belum bisa membelikan gelang emas. Tapi aku akan berusaha untuk berkata "ya" pada setiap perintahnya, dan tidak membantah. Alhamdulillah, lebaran tahun ini benar-benar penuh hikmah.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Lebaran Seru 


Selasa, 19 Juli 2016

Saat Suamiku Lebih Pintar Masak

Laki laki masuk dapur? Mungkin kalau di hotel atau restoran, ada chef laki-laki. Tapi kalau di rumah? 

Apa yang anda bayangkan jika yang memasak setiap hari adalah sang suami, bukan istri? Jika ada yang menganut faham bahwa laki-laki adalah raja yang harus dilayani sebaik-baiknya, dipijat, dimasakkan, disayang, mungkin mereka akan mengernyitkan dahi.

Kali ini saya mewawancarai mba Vivian Wijaya, seorang pebisnis dari Kota Malang. Ale Wijaya, sang suami, dikenal jago masak. Beliau selalu sibuk di dapur untuk membuat menu spesial bagi istri dan kedua buah hatinya, Aisy dan Key. Sang istri bisa memasak, tapi menurutnya masakannya itu terlalu memakai perasaan, sehingga beliau mempercayakan urusan dapur kepada sang suami.


(dari kanan ) Mbak Vivi, Key, Aisy, dan Mas Ale


Dulu sebelum menikah, mba Vivi belum tahu jika sang calon suami lihai memasak. Kini mba Vivi bahagia karena belahan hatinya sangat terampil menggoreng ikan, menumis sayuran, bahkan membuat pizza! Pizza ini dijual dengan brand Key's Pizza. Saya pernah makan pizza nya dan alhamdulillah uenakk, lumer dan cheesy banget.

Pasangan yang telah menikah selama hampir 8 tahun ini juga kompak mendidik anak. Meskipun berjenis kelamin laki-laki, namun Key sudah diajarkan untuk menjaga kebersihan dengan cara menyapu. *Ya, memang betul, bagi saya tak ada yang namanya pekerjaan perempuan atau pekerjaan laki-laki--kecuali melahirkan yach :p*

Jika Key sudah agak besar, ia akan diajari memasak oleh sang ayah, dengan senang hati. Memasak akan membuat anak lebih mandiri, dan sebagai muslim, anak akan memilih makanan sehat, halal dan thoyib.

Makanan sehat seperti lumpia sayuran diolah mas Ale sebagai snack untuk putri dan putranya. Makanan rumahan lebih higienis dan terjamin, ketimbang beli di luar. Di balik hobi memasaknya, mas Ale ingin keluarganya lebih sehat dengan makan homemade food.
Walaupun ada orang yang berkomentar negatif, karena menganggap lelaki yang masuk dapur itu tabu, mas Ale bergeming. Bukankah Nabi Muhammad juga membantu istrinya di rumah? Memasak adalah caranya meringankan tugas istri dan mengekspresikan cinta untuk keluarganya.

Minggu, 17 Juli 2016

Penghargaan Hanyalah Bonus

Terik matahari mulai membakar, kerumunan orang menyemut di pinggir lapangan. Aku menajamkan telinga, lalu speaker bergema, “ juara 3 adalah peserta nomor 9, juara 2, peserta nomor 18 ”. Dua wanita sintal segera naik panggung. Aku bergumam, apakah akan gagal lagi di lomba senam kali ini? Tiba tiba juri mengumandangkan pengumuman lagi, “ juara 1 adalah..peserta nomor 27! ”. Hah? Aku melihat nomor peserta yang tersemat di baju, setengah tak percaya. Lalu berlari senang, meloncat ke atas panggung.

Akhirnya aku meraih juara 1 di lomba senam yang diselenggarakan di lapangan Rampal. Mbak Farida, salah seorang juri, menyerahkan hadiah. Sebuah amplop putih yang bertuliskan sponsor lomba, salah satu koran lokal Jawa Timur. Kuintip amplop itu, syukurlah, isinya seratus ribu. Tak percuma aku berpeluh keringat, berlaga selama hampir 90 menit.

Kemenangan ini datang setelah tiga kali menelan pil pahit bernama kekalahan. Kuharap penghargaan ini membuat Mama bangga. Sampai di rumah, kuperlihatkan hadiah lomba pada beliau. Tapi apa yang terjadi? Mama hanya mengucapkan “ selamat ”, lalu meraih koran yang tergeletak di sofa. Lalu beliau menatapku tanpa ekspresi.

Aku sudah berada di puncak gunung kesuksesan, tapi reaksi Mama membuatku tergelinding ke dalam jurang. Prestasi yang kuraih setelah berpeluh keringat di fitness center, meregangkan badan, terengah-engah mengikuti gerakan high impact, menghafal koreo, tak berarti apa-apa baginya.

Di kamar, tangisku hampir pecah. Kuremas-remas amplop hadiah, lalu “pluk!”, terlempar ke tempat sampah. Apa yang harus kulakukan agar Mama bangga padaku? Bahkan dulu beliau berpesan untuk mengurangi frekuensi latihanku. Katanya, anak perempuan tak boleh sering-sering keluar rumah. Mungkin beliau akan setuju aku sering keluar rumah untuk belanja, ketika punya voucher belanja Sodexo.

Saat itu aku menyambangi fitness center enam kali dalam seminggu, karena ingin sekali menang lomba. Hampir semua pusat kebugaran di Kota Malang kudatangi, untuk mendapat koreografi baru, dengan instruktur senam yang berbeda-beda. Waktu luangku kuisi dengan berolahraga, karena kala itu aku baru saja lulus kuliah dan belum mendapat pekerjaan. Daripada bengong di rumah, lebih baik berlatih fisik di gym, lalu berjalan-jalan ke Merchant Sodexo.

Tapi Mama tak melihatnya sebagai aktivitas positif. Beliau ingin aku bekerja kantoran, secepatnya. Sudah belasan surat lamaran yang kulayangkan, tapi belum ada panggilan. Pekerjaan sampinganku sebagai penerjemah lepas tak dianggap sebagai karir yang membanggakan. 

Bangga? Apa yang selama ini aku kejar? Apakah aku ingin meraih berbagai penghargaan agar Mama bangga pada anak perempuan satu-satunya? Kupejamkan mata, lalu merenung.

Malamnya aku menghela nafas, lalu Tuhan sang pemilik hati membawaku ke satu titik, ternyata penghargaan tak berarti apa-apa. Hati ini sudah ikhlas jika Mama tidak menghargai kemenanganku. Yang penting, aku sudah mengumpulkan tekad untuk mengikuti lomba, dan berlatih keras demi meraih gelar juara.  Penghargaan hanyalah simbol kesuksesan. Di balik itu, aku belajar. Lebih penting untuk menghargai proses untuk mendapat penghargaan, daripada hasilnya.

Penghargaan hanyalah bonus semata. Ada banyak keuntungan lain ketika aku masih dalam proses untuk meraih penghargaan.  Selama latihan, aku belajar disiplin waktu, harus datang jam 7:30 pagi di fitness center. Lihatlah siluet tubuhku yang terpancar di cermin! Hasil latihan membuat berat badanku stabil di angka 55. Meski perutku belum six-pack, tapi  kerampingan ini membuatku tak pusing mencari ukuran baju yang pas. Makan sebanyak apapun, tak masalah, karena esoknya aku akan membakar kalori di gym. Kakiku yang kulatih di alat bench press, tak rewel jika kubawa berjalan sejauh 2 kilometer.

Aku bersyukur di setiap hela nafas, pada tetes keringat yang mengucur di dahi pasca olahraga. Senyum akan selalu terkembang, latihan ini sudah membuatku lebih bugar, dan menikmati anugerah kesehatan yang diberikan oleh Tuhan. Semangatku untuk tetap mengikuti lomba, berkali-kali, membuatku belajar untuk pantang menyerah. Semua ini jauh lebih bermakna daripada sebuah kata bernama “penghargaan”.

Penghargaan tak berarti apa-apa ketika manusia menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Mereka bisa menyogok dewan juri atau saling jegal. Lebih baik kalah terhormat, daripada mendapatkan penghargaan dengan cara curang.



Sabtu, 25 Juni 2016

Arti Sebuah Kata Maaf

Breng!
Aku memeluk pinggangnya erat-erat. Motor dilarikan menembus gang-gang kecil di jalan Tlogomas. "Sabar ya nak, ayahmu sedang menundukkan izazil di dalam hatinya", bisikku pada janin yang ada di rahim. Kami baru saja berkunjung ke rumah Budhe, di hari pertama Lebaran. Di sana tak ada candaan semanis nastar. Namun kami terpaksa menelan sarkasme sepahit kopi tubruk tanpa gula.

"Memangnya kamu bisa masak?", selidik Budhe. Sebagai pengantin baru, wajar jika aku sering ditanyai hal itu. Tapi suamiku tak terima ketika Budhe meneruskan kalimatnya, "Vina itu dari kecil cuma doyan baca buku. Gak becus beberes rumah, apalagi masak!". Senyumnya menguncup, lalu ia mengajakku pulang.

Lalu ia menumpahkan amarahnya di perjalanan, "Aku kapok pergi ke sana! Istriku dibilang gak bisa apa-apa!". Ketika ia meneruskan omelannya, tak terasa air mata meluncur. "Sudahlah Mas, ini malam lebaran, kok marah-marah?", isakku. Namun ia tetap berhati panas.

Ketika motor hendak belok ke arah Gang patung pesawat, aku berteriak, "Ya sudah, kita pulang saja! Tak usah pergi ke rumah ibuk!". Memang kami berencana mengunjungi rumah ibu mertua. Sebenarnya tadi pagi kami sudah sowan ke sana, tapi ibu mertua menelepon agar kami datang lagi. Karena kakak ipar yang bermukim di Jombang baru saja datang.

Tapi ucapanku malah semakin mengobarkan api di dalam hatinya. Motor dilaju lebih cepat. Sepanjang malam aku hanya bisa memandang rembulan sambil berurai air mata. Sampai rumah, ia langsung masuk ke ruang kerja, lalu merokok. Aku naik ke lantai 2, meneruskan tangisku di kamar.

Paginya aku turun dari kasur, hendak mengambil air wudhu. Seusai sholat, kulihat ia sudah terbangun.Kuberanikan diri untuk memulai percakapan, "Mas mau kopi? Atau nasi goreng?". Mulutnya masih terkunci, lalu ia pergi berwudhu dan sembahyang di musholla rumah.

Setelah beribadah tiba-tiba ia menghampiriku, walau senyumnya belum mengembang. Aku meminta maaf terlebih dahulu, "maaf ya mas, kemarin Budhe seperti itu. Ia hanya tahu kebiasaanku waktu kecil. Tapi sekarang aku sudah berusia 25 tahun, dan berubah drastis".

Tangisku pun meledak lagi. Ya Allah, mengapa aku harus sedih di hari raya? Tiba tiba tangannya yang besar memelukku dari belakang. Ia berbisik, "maaf ya sayang, semalam aku tak terkendali. Padahal sayang sedang mengandung, nanti didengar anak kita".

Kamipun berpelukan erat. Ternyata semua ini hanya salah faham. Ia marah karena membelaku. Tapi aku sedang hamil, jadi perasaanku lebih sensitif, dan menganggapnya marah padaku.

Kejadian ini membuatku sadar akan arti sebuah kata maaf. Minta maaf bukanlah hal yang dilakukan hanya saat lebaran. Tapi wajib dilakukan saat merasa bersalah. Mungkin dulu aku banyak melakukan kesalahan, tapi suamiku sudah memaafkanku dalam hati. Seringkali ego yang meraja di hati, melarang kita untuk meminta maaf. Padahal maaf adalah tanda kebesaran hati dan kebijaksanaan. 



“Tulisan ini diikutsertakandalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga”

Rabu, 22 Juni 2016

Terbangun Dari Koma Setelah Mendengar Azan Subuh

Pyar! Cahaya yang tersorot dari atas, menyilaukan mata. Udara dingin menyergap tubuh kurusku. 
Aku berjalan menuju lorong putih tak berujung. Tak ada manusia, tumbuhan, maupun hewan. Membangkitkan perasaan aneh. Dimana aku?

Apa aku sudah dikubur? Atau sudah berada di surga, atau jangan jangan neraka? Mana malaikat Munkar dan Nakir? 

Tiba tiba kakiku bersentuhan dengan ranjang besi yang dingin, kulihat tembok putih yang bercampur dengan aroma kloroform. Aih, rupanya ini rumah sakit, bukan surga. Berarti aku belum mati. Tapi jika aku masih hidup, mengapa aku tak kuat berdiri, di mana ibuku?

Tiba tiba ada dua sosok bercahaya, apa itu mereka? Sosok pertama mengenakan baju biru, sedangkan sosok kedua berpakaian merah. Tampang mereka tak seperti yang kubayangkan, tak ada sayap di bahu, atau mantel gelap yang menutupi wajahnya. Rupanya wujud malaikat tak seseram yang diduga orang. Tapi apa benar mereka adalah malaikat Munkar dan Nakir?

Apa yang akan mereka lakukan? Apakah aku akan dicambuk karena bergelimang dosa? Mana tali yang akan membungkam mulutku, sehingga yang berbicara adalah tangan dan kakiku? Mengakui segala perbuatanku, tubuh ini sudah dibawa ke mana saja, ke masjid atau tempat hiburan malam?

Tapi mereka tak membawa cambuk maupun tali. Setelah mendekat, mereka bercakap dengan bahasa yang tak kuketahui. Sosok merah duduk dengan santai di ujung kaki kiri, sedangkan sosok biru berada di ujung kanan. Setelah mengobrol, si merah mengisyaratkan sang biru agar berjalan ke bangsal sebelah, sementara ia menungguiku. Dari kejauhan, sosok biru itu seolah berkata dengan ekspresi  wajahnya, "waktunya belum tiba". Seolah olah saat itu ada kesepakatan bahwa aku diberi sambungan nyawa.

"Allahu akbar..allahu akbar"
Alhamdulillah, sudah adzan. Seolah ada kekuatan yang membuka pelupuk mataku. Kulirik jam dinding, sudah jam 4:30 pagi. Udara Tenggarong di pagi hari cukup sejuk. Aku meraba pinggir ranjang, hendak turun untuk berwudu.Tapi apa yang ada di tanganku? Selang? Ah, rupanya selang infus. Aku tidak bermimpi ada di rumah sakit, ternyata aku memang diopname. 

Tapi kaki ini  seakan digelayuti beban dua ton, akhirnya aku tayamum saja, meraba-raba tiang infus untuk mencari debu. Kulirik ibuku yang tertidur di kursi. Wajahnya yang berhias keriput, tampak kuyu dan sendu. Aku sungguh tak tega untuk membangunkannya. 

Setelah shalat subuh, mata ini terasa berat kembali, hmm mungkin aku sebaiknya beristirahat lagi agar cepat sembuh. Tapi aku tak lagi menemui sosok merah dan biru itu, tak ada mimpi apa apa, hanya merasa damai.

Lalu...
"Allahu akbar..allahu akbar"
Rupanya sudah azan lagi. Bersyukur telinga dan mata ini masih berfungsi. Lalu kulirik jam dinding. Astaghfirullah, sudah jam 3 WITA! Sudah ashar, kukira azan dhuhur. Kuucapkan istighfar sekali lagi. 

Mengapa aku senang ketika dihidupkan kembali? Harusnya aku bersyukur jika sewaktu waktu malaikat maut mencabut nyawaku, karena insyaAllah akan mati syahid. Aku meninggal ketika memperjuangkan pembangunan pondok pesantren. Tapi takdir berkata lain.

"Aji..Aji". Tiba tiba ibu memelukku, air mata meluncur dari kedua sudut matanya. 
"Ibu, aku hanya tertidur seharian, mengapa menangis?"
Ibu terisak isak lalu berbisik,
"Kamu tidak tidur nak, ini di ICU. Kamu dinyatakan koma dan tidak sadarkan diri selama tujuh hari!

Aku koma? Rasanya hanya seperti mimpi. Benarkah dua sosok yang kutemui itu malaikat? Hanya Allah yang tahu, lagipula saat itu aku tak sanggup menanyai mereka. Jika aku menanyainya, apakah ia akan mengerti bahasa manusia?

"Oleh dokter kamu dinyatakan kena komplikasi, sakit malaria dan tipes."

Ingin ku tertawa terbahak-bahak, tapi kutahan karena tak ingin membuat ibuku bingung. Umurku belum 30, tapi sudah kena komplikasi? Dengan susah payah kutahan tawa di mulut

"Sudah minum dulu nak, selama seminggu kamu gak makan, nutrisi yg masuk hanya lewat infus."

Gluk..glukk..Sambil minum aku menggali memori sebelum koma. 
Aku hanya ingat masku yang segera membawa mobil sedannya, menembus jalan berlumpur, menuju pondok. Beliau menjemputku karena disuruh ibu untuk menengok keadaanku, sudah tiga hari aku tak pulang ke rumah. Saat itu, demam merajai tubuhku, aku hanya sanggup berbaring di lantai beralas tikar. Saat aku dibopong, dan pintu mobil terbuka, lalu mataku byarr..Semuanya gelap..

Padahal dua hari sebelum koma, aku masih memancing ikan di sungai Mahakam. Ikan itu akan menjadi hidangan bagi para tamu di resepsi pernikahan Andi, sahabatku. Kami sama sama merantau dari Jawa. Bedanya, aku tinggal bersama ibu di pondok kayu yang berada di tengah tanah garapan milik Kakakku. Sedangkan ia tak punya sanak keluarga di Borneo. 

Setelah memancing, aku sibuk mengambil pisau, untuk membersihkan ikan, lalu memasaknya. Rasa lelah setelah semalaman mengajar Bahasa Inggris di salah satu Pondok Pesantren di pinggiran kota Tenggarong tak kuhiraukan. Padahal hari sebelumnya, aku tak sempat tidur barang sekejap. Sepuluh santri di Pondok menjadi tanggunganku. Dengan sigap aku membawa parang, hendak mencari daun pisang dan kayu bakar, untuk ditukar dengan beras dan ikan asin.

Mungkinkah aku koma karena terkena gigitan nyamuk malaria yang bersarang di lebatnya hutan Kalimantan? Atau tubuhku ini hanya menuntut istirahat panjang, karena terlalu lelah setelah bekerja dan mengajar? Entahlah..

Esoknya aku dipindah ke ruangan perawatan biasa. Lalu ibu berjanji, setelah sembuh beliau akan mengajakku kembali ke tanah jawa. Rupanya Allah memberiku sakit ini sebagai jalan agar aku meninggalkan hijaunya Borneo. Semoga nanti kakakku mau membantu para santri di pondok, karena aku tak kuat lagi menanggung logistik mereka.

Selamat tinggal Tenggarong! Kuucapkan kalimat itu dalam hati, ketika menginjakkan bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Balikpapan. Sebelum naik pesawat, aku iseng naik ke timbangan barang. Berat badanku merosot sampai 7 kg setelah tujuh hari koma!

Sekarang aku mengabdikan diri sebagai pengajar di sebuah madrasah diniyah. Semangat anak-anak yang belajar mengaji, diselingi canda mereka, menghangatkan hatiku. Walau hanya dibayar seratus ribu rupiah per bulan, bagiku itu sudah cukup. Allah telah memberiku kesempatan kedua, setelah kesadaran ini dikembalikan lewat panggilan-Nya.

Nyawa sambungan ini tak akan kusia-siakan. Ilmu akan kutularkan pada mereka, walau aku tak pernah belajar agama secara formal. Bukankah Rasul bersabda, sampaikanlah walau satu ayat? Aku bersyukur telah mengalami kejadian yang tak bisa dirasakan oleh semua orang.

*Seperti yang diceritakan oleh Aji Narasimhamurti, suami saya